Sulit Makan, Pengungsi Suriah di Turki Memikul Cemas Lebih Berat

A A

Ilustrasi tenda-tenda lusuh dan bangunan bata di sebuah permukiman bertanah merah berlumpur [Foto: Ahmed Akacha/Pexels]

  • Sebanyak 347 orang, atau 61,3 persen, masuk kelompok aman.
  • Sebanyak 73 orang lagi, 12,9 persen, rawan pangan berat.
  • Sebanyak 43 orang, atau 59 persen, mengalami kecemasan sangat berat.
  • Mereka yang lebih sulit makan justru lebih berat badannya.
  • Data diambil pada satu waktu, sehingga hanya menunjukkan kaitan dan tidak membuktikan sebab-akibat.
Daftar Isi
  1. Rumah Berisi Lima Orang
  2. Piring yang Tidak Selalu Terisi
  3. Cemas di Rumah yang Sama
  4. Timbangan yang Justru Naik
  5. Dari Lebanon sampai Ontario
  6. Tabel yang Saling Berbalik

Delapan pertanyaan tentang makan diajukan dalam bahasa Arab kepada 566 orang Suriah yang tinggal di Turki. Jawabannya hanya ya atau tidak. Tiap jawaban ya dihitung satu angka, dan angka itu menandai bahwa dalam dua belas bulan terakhir makanan pernah sulit didapat karena uang atau sumber daya lain tidak cukup. Makin banyak ya, makin sering piring di rumah itu tidak terisi sebagaimana mestinya.

Pertanyaan itu dibawa Kübra Esin dan Feride Ayyıldız, dua pengajar gizi dan dietetika dari Tokat Gaziosmanpaşa University dan Gazi University di Ankara. Hasilnya mereka tuliskan dalam Silent struggles: food insecurity and mental health among Syrian refugees in Türkiye, terbit di BMC Public Health tahun 2026 sebagai naskah yang sudah diterima dan belum diberi nomor volume.

Orang-orang yang menjawab itu bagian dari kelompok yang besar. Perang saudara Suriah yang pecah pada 2011 mengusir jutaan orang dari rumahnya, dan Turki, negara tetangga, menampung bagian terbesar. Per Juni 2025, tulis kedua peneliti, sekitar 2,7 juta orang Suriah tinggal di sana dengan status perlindungan sementara.

Rumah Berisi Lima Orang

Masuk ke rumah para penjawab, gambarnya kira-kira begini. Satu rumah tangga rata-rata berisi lima orang, dan yang bekerja rata-rata 1,4 orang. Mereka sudah tinggal di Turki rata-rata 8,3 tahun. Sebanyak 409 orang, atau 72,3 persen, berstatus perlindungan sementara. Sebanyak 112 orang lain sudah menjadi warga negara Turki.

Para penjawab itu muda dan terdidik. Usia rata-ratanya 25,3 tahun, dengan rentang 18 sampai 62 tahun. Perempuan lebih banyak, 356 orang berbanding 210 laki-laki. Menurut tabel Esin dan Ayyıldız, 430 orang berpendidikan universitas atau lebih tinggi. Lebih dari separuh menilai kemampuan bahasa Turkinya sedang sampai baik, dan 31,2 persen sangat baik.

Soal uang, jawabannya lebih berat. Para penjawab enggan menyebut pendapatan bersih mereka, sehingga kedua peneliti hanya bertanya apakah pendapatan keluarga di bawah atau di atas upah minimum. Sebanyak 53 persen mengatakan pendapatan rumahnya lebih kecil daripada pengeluaran. Hanya 10,6 persen yang pendapatannya melebihi pengeluaran.

Pencari nafkah utama di rumah-rumah itu tidak selalu punya pekerjaan tetap. Sebanyak 58 persen bekerja penuh waktu. Sisanya bekerja paruh waktu, 14,2 persen, atau baru bekerja kalau ada pekerjaan, 23 persen. Bantuan keuangan nyaris tidak sampai. Sebanyak 490 orang, atau 86,6 persen, mengatakan tidak menerima bantuan keuangan apa pun.

Baca juga Separuh Buruh Migran Myanmar di Chiang Rai Pergi Berobat

Piring yang Tidak Selalu Terisi

Dari delapan pertanyaan tadi, tiap orang mendapat angka nol sampai delapan. Angka nol sampai tiga digolongkan aman pangan, empat sampai enam rawan pangan sedang, tujuh dan delapan rawan pangan berat. Rata-rata seluruh penjawab 2,8. Sebanyak 347 orang, atau 61,3 persen, masuk kelompok aman.

Sisanya tidak. Sebanyak 146 orang, 25,8 persen, mengalami rawan pangan sedang. Sebanyak 73 orang lagi, 12,9 persen, rawan pangan berat. Kira-kira satu dari delapan penjawab menjawab ya pada tujuh atau delapan pertanyaan. Mereka rata-rata lebih tua: 28,8 tahun, dibanding 23,9 tahun pada kelompok aman.

Rumah kelompok rawan pangan berat tidak lebih sesak. Ukuran rumah tangganya rata-rata lima orang, sama dengan kelompok lain, dan lama tinggal di Turki pun sama, sekitar delapan tahun. Yang berbeda adalah jumlah orang yang bekerja. Di rumah yang aman pangan rata-rata 1,5 orang bekerja. Di rumah yang rawan pangan berat, 1,2 orang.

Pendidikan dan bahasa ikut membelah. Di kelompok aman, 83,3 persen berpendidikan universitas. Di kelompok rawan sedang angkanya 63,7 persen, di kelompok rawan berat 65,7 persen. Mereka yang bahasa Turkinya sangat baik mencapai 35,4 persen di kelompok aman, tetapi hanya 26 persen di kelompok rawan berat.

Kedua peneliti lalu menghitung apa saja yang berkaitan dengan rawan pangan. Pendapatan bulanan yang lebih tinggi dan pendidikan yang lebih tinggi berkaitan dengan peluang rawan pangan yang lebih kecil. Jumlah anak bekerja ke arah sebaliknya, dengan peluang sekitar dua kali. Abstrak naskah juga menyebut perempuan lebih terkait dengan rawan pangan.

Cemas di Rumah yang Sama

Di lembar yang sama, sesudah soal makan, datang soal batin. Para penjawab diminta menilai seberapa sering mereka merasakan gejala depresi, kecemasan, dan stres, masing-masing dengan skor nol sampai 21. Hasilnya tidak ringan. Hanya 144 orang, kira-kira satu dari empat, yang skor depresinya berada di rentang normal.

Kecemasan lebih luas lagi. Hanya 110 orang, atau 19,4 persen, yang berada di rentang normal. Sebanyak 204 orang, lebih dari sepertiga, masuk golongan kecemasan sangat berat. Stres sedikit lebih longgar: 241 orang, 42,6 persen, masih di rentang normal. Depresi berat dialami 89 orang, dan sangat berat 82 orang.

Lalu kedua daftar itu disandingkan. Skor depresi rata-rata kelompok aman pangan 7,0. Di kelompok rawan sedang 8,9, dan di kelompok rawan berat 10,6. Kecemasan naik dari 7,2 ke 8,8 lalu 11,1. Stres naik dari 8,3 ke 9,5 lalu 11,6. Tiap anak tangga rawan pangan diikuti anak tangga beban batin.

Makin sulit makan, makin berat beban batinDepresi: Pangan aman +7,0, Rawan sedang +8,9, Rawan berat +10,6; Kecemasan: Pangan aman +7,2, Rawan sedang +8,8, Rawan berat +11,1; Stres: Pangan aman +8,3, Rawan sedang +9,5, Rawan berat +11,6.Makin sulit makan, makin berat beban batinSkor rata-rata tiap kelompok, skala 0 sampai 21Pangan amanRawan sedangRawan berat48120Depresi7,08,910,6Kecemasan7,28,811,1Stres8,39,511,6347 orang pangan aman, 146 rawan sedang, 73 rawan berat.
Sumber: Kübra Esin dan Feride Ayyıldız, Silent struggles: food insecurity and mental health among Syrian refugees in Türkiye, BMC Public Health, 2026. Grafik: Cekricek.id

Angka per orang lebih telanjang. Di antara 73 orang yang rawan pangan berat, hanya dua orang yang skor depresinya normal. Dua orang pula yang kecemasannya normal. Sebanyak 43 orang, atau 59 persen, mengalami kecemasan sangat berat. Di kelompok aman pangan, kecemasan sangat berat dialami 29,2 persen.

Stres mengikuti pola yang sama. Separuh kelompok aman pangan, 50,1 persen, berada di rentang stres normal. Di kelompok rawan berat tinggal 17,8 persen. Esin dan Ayyıldız juga mengukur kesejahteraan mental dengan skor tujuh sampai 35. Kelompok aman mencatat rata-rata 22,8, kelompok rawan sedang 21,4, dan kelompok rawan berat 20,6.

Dua ujung kelompok pengungsi SuriahKelompok rawan pangan berat lebih jarang berada di rentang normal dan lebih sering cemas sangat berat.Dua ujung kelompok pengungsi SuriahPersen orang di tiap kelompokPangan amanRawan berat34,9%2,7%Depresi normal25,9%2,7%Kecemasan normal29,2%59,0%Cemas amat berat50,1%17,8%Stres normal6,9%15,1%ObesitasKelompok pangan aman 347 orang, rawan pangan berat 73 orang.
Sumber: Kübra Esin dan Feride Ayyıldız, Silent struggles: food insecurity and mental health among Syrian refugees in Türkiye, BMC Public Health, 2026. Grafik: Cekricek.id

Ketika semua ukuran dihitung bersama, dua hal bertahan. Tiap kenaikan satu angka pada skor rawan pangan berkaitan dengan turunnya skor kesejahteraan mental 0,234 poin. Tiap kenaikan satu angka skor depresi berkaitan dengan turunnya 0,324 poin. Kecemasan, stres, dan ukuran rumah tangga tidak menunjukkan kaitan yang bermakna. Seluruh ukuran itu bersama-sama hanya menerangkan 12,7 persen ragam kesejahteraan mental.

Kedua peneliti menerangkan mengapa makan dan batin bisa berjalan beriringan. “Rawan pangan tidak hanya menimbulkan tekanan psikologis, termasuk depresi, kecemasan, dan stres, tetapi juga turut menyebabkan keterasingan sosial dan rasa malu,” tulis Esin dan Ayyıldız dalam naskah yang aslinya berbahasa Inggris. Sulitnya mendapat makanan yang sesuai budaya, tulis mereka, dapat mengganggu kebiasaan dan rutinitas sehari-hari.

Baca juga Cemas Finansial Mahasiswa Berujung ke Distres Psikologis

Timbangan yang Justru Naik

Ada satu hal yang tampak berlawanan di lembar jawaban itu. Mereka yang lebih sulit makan justru lebih berat badannya. Indeks massa tubuh rata-rata kelompok aman pangan 23,4. Di kelompok rawan sedang 24,6, dan di kelompok rawan berat 25,3. Obesitas tercatat pada 6,9 persen kelompok aman, tetapi 15,1 persen kelompok rawan berat.

Esin dan Ayyıldız menyebutnya paradoks rawan pangan dan obesitas. Keterbatasan uang, tulis mereka, memaksa rumah tangga berpendapatan rendah bergantung pada makanan murah yang padat energi tetapi miskin zat gizi. Makanan seperti itu dapat menambah berat badan. Namun, berat dan tinggi badan di sini dilaporkan sendiri oleh penjawab, tidak diukur.

Dari Lebanon sampai Ontario

Keluar dari Turki, kedua peneliti menaruh angka mereka di samping angka pengungsi Suriah di tempat lain. Di Lebanon, 37 persen pengungsi menghadapi rawan pangan tingkat darurat. Di Yordania, 42 persen rawan sedang dan 36 persen rawan berat. Di Norwegia angkanya 14 persen dan 8 persen. Di Ontario, Kanada, 44,6 persen melaporkan rawan pangan.

Bahkan di dalam Turki sendiri angkanya tidak seragam. Sebuah riset di Istanbul mencatat rawan pangan sedang 19,4 persen dan berat 64,1 persen, jauh di atas 12,9 persen yang ditemukan Esin dan Ayyıldız. Keduanya menduga perbedaan itu datang dari keadaan negara penampung, latar sosial ekonomi penjawab, dan cara mengukur yang tidak sama.

Untuk beban batin, perbandingannya berbalik. Di Kanada, depresi berat tercatat pada 7,6 persen pengungsi Suriah. Di Lebanon, 9,9 persen. Angka pada penjawab di Turki lebih tinggi. Skor depresi dan kecemasan mereka juga cenderung naik seiring lamanya tinggal di Turki. Kedua peneliti menyebut trauma sebelum mengungsi dan tekanan sesudahnya sebagai kemungkinan penjelasan.

Baca juga Depresi Remaja Thailand Selatan: Keluarga Retak dan Trauma

Batas pekerjaan itu ditulis sendiri oleh keduanya. Data diambil pada satu waktu, sehingga hanya menunjukkan kaitan dan tidak membuktikan sebab-akibat. Penjawab dicari lewat jaringan kenalan, dari satu orang ke orang berikutnya, sehingga tidak mewakili seluruh pengungsi Suriah. Pengambilan data antara Februari dan Mei 2024 juga tidak menangkap perubahan antarmusim.

Dari situ saran mereka disusun dengan hati-hati. “Memantau rawan pangan dan kesehatan mental sangat penting untuk memandu kebijakan yang tepat waktu dan efektif,” tulis Esin dan Ayyıldız, diterjemahkan dari bahasa Inggris. Mereka menyebut pendidikan gizi berbahasa Arab, dukungan belajar bahasa Turki, dan layanan kesehatan mental di pusat-pusat setempat.

Tabel yang Saling Berbalik

Pembaca yang membuka tabel naskah ini akan menemukan beberapa angka yang tidak cocok. Tabel pertama mencatat 420 orang lajang dan 146 menikah. Tabel ketiga menaruh jumlah 420 pada baris menikah dan 146 pada baris lajang. Hal serupa terjadi pada baris pendapatan, sehingga kelompok rawan pangan berat tampak paling banyak berpendapatan di atas upah minimum.

Ada pula selisih kecil lain. Rentang kepercayaan untuk kaitan rawan pangan dan kesejahteraan mental ditulis berbeda di tabel dan di teks. Abstrak menyebut rumah tangga yang lebih besar terkait dengan rawan pangan, sedangkan tabelnya tidak menunjukkan kaitan bermakna. Naskah ini memang versi yang sudah diterima tetapi belum disunting akhir.

Delapan pertanyaan itu pendek, dan jawabannya hanya ya atau tidak. Tetapi di rumah yang menjawab ya tujuh atau delapan kali, hampir tidak ada orang yang lepas dari cemas dan murung. Yang tercatat di lembar jawaban itu pada akhirnya bukan hanya isi piring, melainkan juga apa yang dipikul orang yang duduk di depannya.

Bagikan

Baca Juga

Tenaga Kesehatan Palestina Masih Memandang Miring Pasien Gemuk
Batu Ginjal Lebih Sering Datang pada Tubuh Gemuk Berotot Lemah
Nyeri Haid Remaja Putri Lusaka Bukan Cuma Soal Perut yang Kram
Kredit Berkaitan dengan Sejahtera Saat Perempuan Ada di Parlemen
Kebugaran Anak Muda Makau Merosot Selama Dua Puluh Tahun
Perokok Tampak Jarang Bermata Kering, Sampai Datanya Ditimbang