- Orang Rimba di Makekal Hulu menempatkan satu Tuhan di puncak kepercayaan mereka, dan dewa berada di bawah perintah-Nya.
- Leluhur mereka, menurut cerita itu, bernama Bujang Perantau dan datang dari Pagaruyung yang sudah Islam.
- Orang Rimba hanya mengenal dua nabi, yaitu Adam sebagai manusia pertama dan Muhammad.
- Perbuatan baik membawa orang ke bilik, sedangkan pembunuhan, pencurian, dan pemerkosaan membawa orang ke nereko.
Daftar Isi
Pada 2022 Mijak Tampung menjawab pertanyaan seorang peneliti. Ia berbicara tentang kepercayaan lamanya sebagai Orang Rimba di Kabupaten Merangin, Jambi. Menurut Mijak, orang di dalam hutan sudah lama mengucap kalimat yang mirip ucapan orang Islam. Bedanya hanya pada cara membawakannya.
Jawaban itu dicatat Muhammad Rafii dari UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi dalam Islam Sinkretis: Pertemuan Islam dan Kepercayaan Orang Rimba di Provinsi Jambi. Tulisan itu terbit di jurnal Studi Multidisipliner volume 9 edisi 2 tahun 2022. Rafii mendatangi kelompok Makekal Hulu di Taman Nasional Bukit Dua Belas.
Ia mewawancarai lima Orang Rimba yang telah masuk Islam serta para pemimpin kelompok itu. Hasilnya berurutan seperti sebuah riwayat. Orang Rimba di Makekal Hulu menempatkan satu Tuhan di puncak kepercayaan mereka, dan dewa berada di bawah perintah-Nya.
Mula-mula, Bujang Perantau Lari dari Pagaruyung
Riwayat itu dimulai jauh sebelum ada hutan dalam cerita mereka. Seorang narasumber yang dicatat Rafii sebagai Penyuruk menuturkan asal nenek moyangnya. Leluhur mereka, menurut cerita itu, bernama Bujang Perantau dan datang dari Pagaruyung yang sudah Islam. Ia lari ke hutan karena tidak mau dijajah.
Penyuruk lalu menyebut arti berislam bagi kaumnya sekarang. “Ibaratnyo masuk Islam bagi orang rimbo itu mendalami kepercayoan lamoni. Islam disempurnokan lagi,” katanya. Kalimat itu menempatkan Islam bukan sebagai agama baru, melainkan sebagai kelanjutan dari kepercayaan lama.
Dari tuturan itu Rafii menarik satu bacaan. Orang Rimba, tulisnya, mengenal Islam sebelum masuk hutan. Sesudah itu pemahaman mereka terbatas dan pengajaran kitab suci terputus. Yang tersisa di tengah mereka adalah Islam yang mengamalkan rukun iman, sedangkan rukun Islam tidak mereka pahami.
Rafii juga mencatat batas dari riwayat ini. Sejarah kepercayaan Orang Rimba, menurut naskahnya, sama gelapnya dengan pertanyaan kapan dan di mana Orang Rimba pertama kali muncul. Cerita Bujang Perantau karena itu berdiri sebagai tuturan narasumber, bukan sebagai catatan bertanggal.
Baca juga Di Baduy, Bersekolah Haram tapi Toleransi ke Luar Wajib
Sesudah Menetap, Agama Berganti dan KTP Menyusul
Babak berikutnya terjadi ketika sebagian Orang Rimba keluar dari hutan. Rafii membagi mereka menjadi dua, yaitu yang sudah menetap dan yang masih tinggal di dalam hutan. Perpindahan agama terjadi pada kelompok pertama. Mereka yang mulai menetap cenderung menganut agama mayoritas di sekitarnya.
Naskah itu merujuk beberapa catatan terdahulu. Tulisan Reslawati tahun 2012 tentang Suku Anak Dalam di Mestong, Muaro Jambi, menyebut mereka memeluk Islam dan Nasrani. Kelompok yang masih berpindah-pindah tetap menganut agama nenek moyang. Layanan KTP, akta kelahiran, akta nikah, dan akta kematian belum sampai kepada mereka.
Setahun kemudian, pada 2013, Mailinar dan Bahren Nurdin menulis tentang Suku Anak Dalam di Batanghari. Warga di sana sudah Islam, tetapi tetap menjalankan ritual Basal sebagai ungkapan syukur atas kesembuhan. Untuk penyakit parah, ritual itu melibatkan Temanggung serta ayam hitam, nasi, dan bale-bale.
Catatan dari Sarolangun mencakup tahun 2005 sampai 2013. Di kabupaten itu Suku Anak Dalam berubah dalam hal pakaian, pendidikan, dan agama. Sedikit demi sedikit mereka meninggalkan kepercayaan nenek moyang dan masuk Islam. Rafii menyebut kedekatan ajaran leluhur dengan ajaran ketuhanan Islam sebagai sebab perpindahan besar-besaran itu.
Tekanan berikutnya datang dari kartu identitas. Rafii mencatat tiga pendorong perpindahan agama. Yang pertama adalah siasat menyesuaikan diri dengan kehidupan luar. Yang kedua adalah dakwah Islam atau misi Kristen. Yang ketiga adalah kewajiban mencantumkan agama pada Kartu Tanda Penduduk.
Kelompok Makekal Hulu di Merangin mengalami kegelisahan ketika harus mengisi kolom itu. Mereka, tulis Rafii, terpaksa bernegosiasi dengan agama yang diresmikan pemerintah. Pada saat yang sama mereka menjaga kepercayaan leluhur yang diwariskan kepada tiap generasi. Naskah menyebut keadaan itu sebagai bermuka dua dalam beragama.
Kompromi itu, menurut Rafii, tidak mudah. Orang Rimba yang sudah Muslim tetap harus menjalaninya bila masih ingin diakui sebagai masyarakat adat rimba. Tanah dan agama bagi mereka satu kesatuan. Bila tempat spiritual dan peribadatan hilang, hilang pula hak beribadah menurut keyakinan sendiri.
Baca juga Nalar Mistis Kebo-keboan Banyuwangi Dicari Nilai Islamnya
Pada Wawancara Itu, Tuhan Disebut Lebih Dulu
Lalu sampailah Rafii pada para pemimpin Makekal Hulu. Temenggung Pemubar, pemimpin komunitas itu, lebih dulu menyebut kedudukan Tuhan. “Kami percayo Tuhan yang kuaso. Dewo diperintah oleh Tuhan, jadi caro mintaknyo minta bae ke Tuhan,” ujar Pemubar. Permintaan, menurut dia, sampai kepada Tuhan lewat dukun.
Sesudah itu Mintel, perwakilan Temanggung Makekal Hulu, menguraikan tingkatannya. Di bawah Tuhan ada nabi, dan di bawah nabi ada malekat. Tuhan tidak bisa ditemui siapa pun, kata Mintel, tetapi suara manusia bisa sampai kepada-Nya. Nama Tuhan itu ia sebut Alah Ta’ala.
Rafii menyusun keterangan itu menjadi lima tingkat. Tuhan Yang Mahakuasa berada paling atas, disusul nabi. Di bawahnya ada Malekat Orang Meru, lalu baheulo yang mencakup dewo, jin, dan setan. Tingkat kelima ditempati orang yang disebut bek kebudi, yaitu dukun dan orang salih.
Soal nabi, jawaban Mintel pendek. “Kalau nabi sebenornyo orang rimba yang tentu cuman 2 nabi,” katanya. Orang Rimba hanya mengenal dua nabi, yaitu Adam sebagai manusia pertama dan Muhammad. Nama keduanya disebut dalam ritual, dalam bebalai, atau ketika mereka merasa terancam.
Mintel menambahkan satu keterangan lagi. Orang dalam, katanya, mengucap lailahaillallah muhammadarrasullah ketika sedang cemas. Mijak menyebut hal serupa pada 2022, yakni ucapan bismila, zikir, dan ritual besalih. Rafii mendaftar pula Salamikum, Allah Akbar, dan Ya Allah sebagai ucapan yang sama-sama dipakai.
Lalu Giliran Malekat, Dewo, dan Yang Gaib
Wawancara berlanjut ke makhluk yang tidak terlihat. Narasumber bernama Pengendum menerangkan malekat sebagai dukun yang sudah mati. Ia tidak pulang kepada dewa, melainkan ke pucuk, tempat paling tinggi. Menurut Pengendum, dialah yang sah menghadap Tuhannya. Kehadirannya dirasakan lewat tanda dan mimpi.
Kedudukan dewa bergeser sesudah orang masuk Islam. Narasumber lain, Mimbing, menjelaskan bahwa dalam kepercayaan Orang Rimba dewa adalah penolong atau pembantu. Bagi mereka yang sudah Islam, penolong yang gaib itu malaikat. “Kalau kami nyebut dewa itu biasonyo maknanya negatif,” kata Mimbing.
Mintel memberi jawaban yang lebih longgar. Ada yang baik dan ada yang jahat, katanya. Rafii kemudian memadankan baheulo dengan jin dan setan. Malekat Orang Meru ia padankan dengan yang gaib dalam ajaran Islam, yaitu pembawa perintah Tuhan melalui mimpi dan panggilan gaib.
Sesudah Mati, Perjalanan ke Bilik atau Nereko
Tahap terakhir riwayat itu menyangkut kematian. Orang Rimba di Makekal Hulu membagi keberadaan manusia menjadi lima alam. Urutannya alam perut, alam dunio, alam kematian, alam pertimbangan, lalu bilik ke henteu atau akhirat. Mintel menyebut orang yang sakit parah merasa dirinya sedang berjalan.
Tiap aturan dan larangan adat, tulis Rafii, punya akibat di alam sesudah mati. Perbuatan baik membawa orang ke bilik, sedangkan pembunuhan, pencurian, dan pemerkosaan membawa orang ke nereko. Mijak menegaskannya dalam wawancara 2022. Orang yang baik dan jujur kepada sesama manusia, katanya, amalnya diterima Tuhan.
Rafii memadankan bilik dan nereko dengan surga dan neraka. Ia juga mencatat bedanya. Dalam ajaran Islam, surga digambarkan sebagai kenikmatan mutlak dan neraka sebagai tempat pembalasan yang mengerikan. Kedua kepercayaan itu, menurut dia, sama-sama memandang akhirat sebagai hitungan atas iman manusia.
Dari seluruh urutan itu Rafii sampai pada kesimpulannya. “Orang Rimba menganut paham monoteisme, bukan animisme, politeisme, atau dinamisme seperti yang dipahami selama ini,” tulis Muhammad Rafii. Kesamaan itu, menurut dia, membantah anggapan umum bahwa kepercayaan mereka adalah agama musyrik.
Naskah itu tidak berhenti pada pujian. Rafii mengutip pandangan bahwa sinkretisme pada akhirnya bisa mengarah pada syirik. Ia juga menyebut Arat Sabulungan di Mentawai, tempat pendakwah Islam memakai pola sinkretis. Dalam urusan waris, ia merujuk riset Dian Mustika dan Wenny Dastina tahun 2020 bahwa hukum adat tampak lebih dominan daripada hukum waris Islam.
Baca juga Arat Sabulungan Bentuk Etika Ekologis Masyarakat Mentawai
Terakhir, Beberapa Catatan pada Naskah
Cakupan tulisan ini sempit. Rafii hanya mewawancarai secara mendalam lima Orang Rimba yang telah masuk Islam di satu kelompok, Makekal Hulu, ditambah para pemimpinnya. Naskah tidak memuat bagian keterbatasan. Temuannya karena itu tidak bisa dibaca sebagai gambaran semua Orang Rimba di Jambi.
Beberapa hal bisa diperiksa pembaca. Naskah memuat Gambar 2 dan Gambar 3, tetapi tidak ada Gambar 1. Kutipan panjang Mintel tentang tingkat kepercayaan diberi catatan kaki atas nama Pemubar. Dari semua wawancara, hanya wawancara Mijak Tampung yang diberi tahun.
Ada pula satu kalimat yang berlawanan dengan bagan. Teks menyebut tingkat kepercayaan tertinggi berada pada dewa atau baheulo, sedangkan bagan menaruh Tuhan di tempat teratas. Sebutan akhirat ditulis dengan dua ejaan, begitu pula gelar Temanggung dan Temenggung.
Riwayat itu berhenti pada 2022, tahun wawancara Mijak dan tahun terbit naskah. Pada titik itu Orang Rimba Makekal Hulu yang sudah Muslim masih memakai dua sebutan sekaligus. Tuhan mereka sebut Alah Ta’ala, dan surga tetap bernama bilik.














