Tenaga Kesehatan Palestina Masih Memandang Miring Pasien Gemuk

A A

Ilustrasi pintu masuk unit gawat darurat Rumah Sakit Bedah Pemerintah Rafidia di Nablus, Palestina [Foto: Ameen Rammal/Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0]

  • Sikap tenaga kesehatan terhadap orang gemuk secara umum negatif, apa pun profesinya.
  • Keyakinan terkuat ialah bahwa kebanyakan orang gemuk punya kebiasaan makan buruk, dengan skor 4,82 dari 6.
  • Skor keyakinan negatif perempuan 26,8, lebih tinggi daripada laki-laki yang 22,9.
  • Lama bekerja, bagian tempat bertugas, jabatan, dan jumlah pasien tidak berkaitan bermakna dengan sikap maupun keyakinan.
Daftar Isi
  1. Natour mengumpulkan jawaban dari ruang praktik dan apotek
  2. Shaheen dan rekan-rekannya membaca sikap yang condong negatif
  3. Najjar dan tim menelusuri apa yang dianggap penyebab gemuk
  4. Natour membandingkan laki-laki, perempuan, dan lamanya bekerja
  5. Al-Aqqad menimbang akibatnya bagi pasien di ruang periksa
  6. Catatan untuk naskah Al-Aqqad dan rekan-rekannya

Nihal Natour dan rekan-rekannya menyebarkan sebuah kuesioner tanpa nama lewat pesan Facebook dan WhatsApp sepanjang Juli 2025. Penerimanya dokter, perawat, apoteker, dan ahli gizi di wilayah Palestina yang diduduki. Pertanyaannya menyentuh hal yang jarang diucapkan di ruang periksa: apa yang sebenarnya mereka pikirkan tentang pasien bertubuh gemuk. Sebanyak 103 orang menjawab.

Jawaban itu dituliskan Natour bersama Sana Al-Aqqad, Amera Shaheen, Saja Elewi, Eman Shawahna, Sajeda Hamadi, Wafaa Najjar, Siwar Hajj, dan Hoor Abatli dalam Attitudes and beliefs of healthcare workers towards obese persons in occupied Palestinian territories: a cross-sectional study, terbit di BMC Public Health volume 26, artikel nomor 664, tahun 2026. Al-Aqqad mengajar keperawatan dan kebidanan di Nablus University for Vocational & Technical Education, sedangkan Natour dan sebagian besar rekannya bekerja di An-Najah National University, Nablus.

Al-Aqqad dan timnya berangkat dari kegelisahan yang punya angka. Mereka mengutip survei yang mencatat 19,5 persen penduduk Jalur Gaza mengalami obesitas dan 23,6 persen lainnya kelebihan berat badan. Di Tepi Barat, 26,1 persen penduduk kelebihan berat badan atau obesitas. Orang-orang inilah yang suatu hari duduk di hadapan tenaga kesehatan.

Natour mengumpulkan jawaban dari ruang praktik dan apotek

Yang menjawab kuesioner Natour umumnya masih muda. Usia rata-rata mereka 32,1 tahun, dan 47 orang baru bekerja kurang dari lima tahun. Sebanyak 61 orang perempuan dan 40 orang laki-laki. Tujuh dari sepuluh, tepatnya 73 orang, berpendidikan sarjana. Tubuh mereka sendiri tidak selalu ramping: indeks massa tubuh rata-ratanya 26,3.

Abatli, yang ikut mengumpulkan data bersama Natour, mendapati peserta dari beragam meja kerja. Kelompok terbesar ialah apoteker dan ahli gizi, 35 orang. Menyusul 20 perawat, 20 dokter magang, 18 dokter spesialis, tujuh residen, dan tiga konsultan. Sebanyak 82 orang bekerja di layanan rawat jalan atau klinik, 14 di bagian penyakit dalam, dan enam di bagian bedah.

Jumlah itu jauh dari rencana, dan Al-Aqqad menuliskannya terus terang. Tenaga kesehatan di Palestina sekitar 37.000 orang, sehingga hitungan mereka menuntut 381 peserta. Perang di Gaza dan dana yang terbatas membuat tim hanya sanggup menjangkau 103 orang, terutama lewat jejaring alumni universitas di media sosial.

Baca juga Berat Badan dan Sikap ke Obesitas Mahasiswa Kesehatan Hanoi

Shaheen dan rekan-rekannya membaca sikap yang condong negatif

Shaheen dan timnya menyodorkan dua puluh pernyataan tentang orang gemuk, lalu meminta peserta menyatakan setuju atau tidak pada enam tingkatan. Simpulan mereka lugas: sikap terhadap orang gemuk secara umum negatif, apa pun profesinya. Perawat, dokter magang, spesialis, konsultan, dan residen menunjukkan pola yang serupa.

Pernyataan yang paling disetujui, menurut catatan Elewi dan rekan-rekannya, justru terdengar ramah: orang gemuk biasanya mudah bergaul, dengan skor rata-rata 4,96 dari 6. Tidak seorang pun peserta menolaknya mentah-mentah. Namun, tepat di bawahnya berdiri anggapan yang jauh lebih tajam, yakni bahwa orang yang sangat gemuk biasanya tidak rapi. Skornya 4,11.

Shawahna dan tim merinci angka di balik skor itu. Sebanyak 30 persen peserta agak setuju bahwa orang sangat gemuk biasanya tidak rapi, 21,4 persen cukup setuju, dan 22,3 persen sangat setuju. Anggapan bahwa orang gemuk lebih emosional daripada orang lain juga mendapat skor tinggi, 3,95. Sebaliknya, pernyataan bahwa orang gemuk sama sehatnya dengan orang lain ditolak keras oleh 42,7 persen peserta.

Tidak semua stigma ikut terbawa, dan Hamadi bersama rekan-rekannya mencatat itu. Lebih dari separuh peserta, 53,3 persen, sangat tidak setuju bahwa pekerja gemuk tidak bisa sesukses pekerja lain. Hampir separuh, 48,5 persen, juga menolak keras anggapan bahwa kebanyakan orang merasa tidak nyaman bergaul dengan orang gemuk. Dua pernyataan itu mendapat skor terendah, 1,90 dan 2,05.

Penyebab gemuk di mata tenaga kesehatanKebiasaan makan buruk: Skor rata-rata persetujuan +4,82; Makan berlebihan: Skor rata-rata persetujuan +4,56; Kurang olahraga: Skor rata-rata persetujuan +4,23; Gangguan biologis: Skor rata-rata persetujuan +4,20; Makan lebih banyak: Skor rata-rata persetujuan +4,16; Kecanduan makanan: Skor rata-rata persetujuan +3,73; Kurang kasih sayang: Skor rata-rata persetujuan +3,54.Penyebab gemuk di mata tenaga kesehatanSkor rata-rata 103 tenaga kesehatan, skala 1 sampai 62460Kebiasaan makan buruk4,82Makan berlebihan4,56Kurang olahraga4,23Gangguan biologis4,20Makan lebih banyak4,16Kecanduan makanan3,73Kurang kasih sayang3,54Makin tinggi skor, makin setuju. Tujuh dari delapan pernyataan yangditanyakan.
Sumber: Sana Al-Aqqad, Nihal Natour, Amera Shaheen, Saja Elewi, Eman Shawahna, Sajeda Hamadi, Wafaa Najjar, Siwar Hajj, dan Hoor Abatli, Attitudes and beliefs of healthcare workers towards obese persons in occupied Palestinian territories: a cross-sectional study, BMC Public Health, 26(664), 2026. Grafik: Cekricek.id

Najjar dan tim menelusuri apa yang dianggap penyebab gemuk

Najjar dan rekan-rekannya lalu bertanya soal sebab. Di sini jawaban peserta paling kompak. Keyakinan terkuat ialah bahwa kebanyakan orang gemuk punya kebiasaan makan buruk, dengan skor 4,82 dari 6. Sebanyak 42,7 persen peserta cukup setuju dan 29,1 persen sangat setuju. Makan berlebihan menyusul di angka 4,56.

Daftar yang disusun Hajj dan tim berlanjut ke kurang berolahraga, skor 4,23, dan gangguan biologis, skor 4,20. Soal kecanduan makanan, 36,9 persen peserta sangat setuju bahwa orang bisa kecanduan makanan seperti orang lain kecanduan obat. Anggapan bahwa makan menjadi pengganti kasih sayang atau perhatian yang kurang mendapat skor 3,54.

Al-Aqqad dan timnya merangkum bagian ini dalam satu kalimat: lebih dari separuh peserta mengaitkan obesitas dengan faktor biologis, kurang kasih sayang, makan berlebihan, atau kecanduan makanan. Mereka mencatat hasil itu berbeda dari riset terdahulu yang menonjolkan lingkungan dan kebijakan, seperti ketersediaan makanan, pajak, label, dan iklan. Perbedaan alat ukur, menurut mereka, turut menjelaskannya.

Baca juga Satu dari Sepuluh Orang Dewasa Malaysia Gemuk dan Hipertensi

Natour membandingkan laki-laki, perempuan, dan lamanya bekerja

Natour, yang mengolah datanya, kemudian memilah peserta menurut kelompok. Skor sikap laki-laki dan perempuan hampir kembar, 60,9 dan 61,2 pada rentang 20 sampai 120. Perbedaan muncul pada keyakinan. Skor keyakinan negatif perempuan 26,8, lebih tinggi daripada laki-laki yang 22,9, dan selisih itu bermakna secara statistik.

Laki-laki dan perempuan: sikap sama, keyakinan bedaLaki-laki dan perempuan: sikap sama, keyakinan bedaLaki-laki dan perempuan: sikap sama, keyakinanbedaSkor rata-rata tenaga kesehatan di wilayah PalestinaLaki-lakiPerempuan4061Jumlah peserta60,961,2Skor sikap22,926,8Skor keyakinanSkor sikap: makin tinggi makin positif. Skor keyakinan: makin tinggimakin negatif.
Sumber: Sana Al-Aqqad, Nihal Natour, Amera Shaheen, Saja Elewi, Eman Shawahna, Sajeda Hamadi, Wafaa Najjar, Siwar Hajj, dan Hoor Abatli, Attitudes and beliefs of healthcare workers towards obese persons in occupied Palestinian territories: a cross-sectional study, BMC Public Health, 26(664), 2026. Grafik: Cekricek.id

Ketika Natour menimbang beberapa faktor sekaligus, tiga hal tampil berkaitan dengan skor sikap: jenis kelamin, indeks massa tubuh peserta sendiri, dan gelar sarjana. Usia tidak. Al-Aqqad dan rekan-rekannya menulis bahwa tenaga kesehatan perempuan, yang berpendidikan sarjana, dan yang bertubuh gemuk cenderung memegang pandangan lebih negatif.

Yang tidak berpengaruh sama menariknya bagi Shaheen dan tim. Lama bekerja, bagian tempat bertugas, jabatan, dan jumlah pasien yang ditangani sehari tidak berkaitan bermakna dengan sikap maupun keyakinan. Tiga konsultan dalam survei itu memang mencatat skor keyakinan negatif terendah, 18,3, dan perawat termasuk yang tertinggi, 27,0, tetapi selisih antarprofesi tidak cukup kuat untuk disebut bermakna.

Dari situ Al-Aqqad dan rekan-rekannya menarik pelajaran tentang batas bangku kuliah. “Namun, bertahannya stereotip negatif di berbagai tingkat pengalaman menunjukkan bahwa pendidikan saja mungkin tidak cukup untuk menghapus stigma berat badan,” tulis Al-Aqqad, Natour, dan tujuh rekannya dalam naskah berbahasa Inggris itu. Mereka menyebut bias yang tidak disadari kemungkinan memerlukan pelatihan empati dan program antistigma yang terstruktur.

Al-Aqqad menimbang akibatnya bagi pasien di ruang periksa

Bagi Al-Aqqad dan timnya, urusan ini tidak berhenti di kepala tenaga kesehatan. Mereka merujuk riset terdahulu yang menunjukkan dokter layanan primer cenderung memberi waktu lebih sedikit kepada pasien gemuk karena menganggapnya tidak patuh. Pasien yang merasakan bias itu lebih jarang mencari layanan pencegahan dan lebih sering menunda berobat.

Karena itu Elewi, Shawahna, dan rekan-rekannya merekomendasikan program pendidikan dan penyadaran bagi tenaga kesehatan untuk mengurangi bias berat badan. “Mengurangi stigma berat badan sangat penting untuk meningkatkan kepercayaan diri pasien, kepatuhan berobat, dan hasil kesehatan secara keseluruhan,” tulis mereka di bagian simpulan. Kalimat aslinya juga berbahasa Inggris.

Baca juga Ketika Kepercayaan pada Dokter Dalam Negeri Retak

Hamadi, Najjar, dan timnya mengakui sejumlah keterbatasan. Survei sesaat seperti ini tidak dapat membuktikan sebab-akibat antara ciri peserta dan sikapnya. Pesertanya berasal dari sejumlah lembaga yang terbatas, sehingga hasilnya tidak bisa begitu saja dikenakan pada wilayah atau sistem kesehatan lain.

Satu keterbatasan lagi disampaikan Al-Aqqad dan rekan-rekannya dengan nada jujur. “Persoalan stigma terhadap pasien obesitas bisa sangat sensitif untuk dibahas di kalangan tenaga kesehatan, sehingga mereka mungkin menjawab secara bias untuk menutupi sebagian perasaan negatif,” tulis mereka, diterjemahkan dari bahasa Inggris. Artinya, gambaran yang sebenarnya bisa lebih muram daripada angka di atas kertas.

Catatan untuk naskah Al-Aqqad dan rekan-rekannya

Pembaca yang membuka naskah Al-Aqqad akan menemukan beberapa bagian yang tidak seiring. Bagian hasil menyebut indeks massa tubuh sebagai penanda negatif bagi skor sikap, padahal koefisien di tabelnya bertanda positif, 0,47. Abstrak menyatakan perempuan lebih negatif, sementara bagian hasil menulis laki-laki yang berasosiasi negatif, dan skor sikap kedua kelompok nyaris sama.

Soal pendidikan, pembahasan Natour dan timnya menyebut lulusan sarjana lebih negatif, lalu pada kalimat berikutnya menyebut lulusan college dan pendidikan spesialis juga lebih negatif. Tabel perbandingan mereka sendiri menyatakan pendidikan tidak berkaitan bermakna. Simpulan menyebut keyakinan negatif lazim pada orang yang lebih tua, padahal usia tidak bermakna. Jumlah laki-laki dan perempuan pun hanya 101 dari 103 peserta.

Kuesioner yang dikirim Natour pada Juli 2025 itu akhirnya memperlihatkan dua wajah sekaligus. Tenaga kesehatan di sana menolak anggapan bahwa orang gemuk tak bisa sukses, tetapi tetap mudah menyebutnya tidak rapi dan menunjuk piring makannya sebagai sumber masalah. Natour dan rekan-rekannya berharap survei kecil dari 103 jawaban ini menjadi pijakan bagi penelitian yang lebih luas di dunia Arab.

Bagikan

Baca Juga

Batu Ginjal Lebih Sering Datang pada Tubuh Gemuk Berotot Lemah
Nyeri Haid Remaja Putri Lusaka Bukan Cuma Soal Perut yang Kram
Kredit Berkaitan dengan Sejahtera Saat Perempuan Ada di Parlemen
Kebugaran Anak Muda Makau Merosot Selama Dua Puluh Tahun
Perokok Tampak Jarang Bermata Kering, Sampai Datanya Ditimbang
Infeksi Saluran Kemih Anak Korea Berkaitan dengan Debu Halus