Perokok Tampak Jarang Bermata Kering, Sampai Datanya Ditimbang

A A

Ilustrasi alat lampu celah untuk memeriksa mata di ruang periksa klinik optometri [Foto: Issa not/Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0]

  • Dengan dua syarat itu, 344 dari 813 peserta masuk kelompok mata kering.
  • Rasio odds rokok naik dari 0,43 menjadi 0,83, dengan rentang kepercayaan 0,38 sampai 1,81 yang melewati angka satu.
  • Di kelopak bawah perokok, bagian kelenjar yang hilang bernilai tengah 0,538.
  • Di antara 344 peserta bermata kering, 229 orang atau 66,6 persen menunjukkan gejala cemas.
  • Data diambil pada satu waktu, sehingga tidak bisa dipakai untuk menyatakan sebab dan akibat.
Daftar Isi
  1. Kabar baik bagi perokok yang muncul dari hitungan pertama
  2. Ketika usia, jenis kelamin, dan suasana hati ikut dihitung, perlindungan itu lenyap
  3. Air mata perokok lebih tahan, tetapi kelenjar di kelopaknya lebih banyak hilang
  4. Cemas, murung, tempat yang panas, dan sayur di meja makan
  5. Batas yang diakui para peneliti dan beberapa hal yang janggal di dalam naskah

Di atas kertas, hasil pertama itu tampak seperti kabar baik bagi perokok. Dari 813 warga Beijing berusia 45 tahun ke atas yang matanya diperiksa, mereka yang masih merokok justru lebih jarang tercatat bermata kering. Selisihnya tidak tipis. Peluang perokok menyandang penyakit mata kering terbaca kurang dari separuh peluang orang yang tidak merokok, dan angka itu bermakna secara statistik.

Kejutan itu dicatat Yan-Lin Wei, Kai Cao, Qing Zhang, Jia-Yang Tang, Lei Tian, dan Ying Jie dari Beijing Tongren Eye Center, Beijing Tongren Hospital, Capital Medical University. Artikel mereka, Apparent protective associations between smoking, alcohol consumption, and dry eye disease: evidence from a community-based Adult Dry Eye Cohort (ADEC) in Beijing, dimuat BMC Public Health tahun 2026 sebagai naskah diterima yang belum diberi nomor volume. Pesertanya warga 15 permukiman di tiga jalan di Beijing, China, yang diperiksa pada pertengahan 2023.

Hasil semacam itu berbahaya bila dibiarkan berdiri sendiri. Keenam peneliti tahu asap tembakau membawa zat pengoksidasi dan pemicu peradangan yang dapat mengganggu lapisan air mata serta merusak kelenjar di sekitar mata. Mereka juga tahu sejumlah studi penduduk sebelumnya melaporkan hal yang sama anehnya: tidak ada kaitan, atau malah kaitan terbalik, antara rokok dan mata kering. Maka angka itu tidak dirayakan. Ia dibongkar.

Kabar baik bagi perokok yang muncul dari hitungan pertama

Penyakit mata kering dalam kajian ini tidak ditetapkan dari keluhan saja. Seorang peserta baru digolongkan sakit bila skor keluhan matanya 13 atau lebih dan lapisan air matanya pecah dalam waktu kurang dari 10 detik. Dengan dua syarat itu, 344 dari 813 peserta masuk kelompok mata kering. Itu 42,3 persen, lebih dari empat di antara setiap sepuluh orang.

Peserta kajian ini rata-rata berusia 64,84 tahun, dengan yang termuda 45 dan yang tertua 90 tahun. Dua pertiganya perempuan, 545 orang, sedangkan laki-laki 268 orang. Yang mengaku masih merokok dalam sebulan terakhir hanya 98 orang atau 12,1 persen. Peminum alkohol sedikit lebih banyak, 132 orang atau 16,2 persen.

Lalu datang titik baliknya. Di kelompok yang matanya sehat, 15,6 persen adalah perokok. Di kelompok mata kering, perokok tinggal 7,3 persen, yaitu 25 orang saja. Dihitung sebagai rasio odds, angkanya 0,43, dengan rentang kepercayaan 0,26 sampai 0,69. Alkohol bergerak ke arah serupa tetapi lebih lemah: rasio odds 0,69, dan tidak sampai bermakna secara statistik.

Mata perokok, dua arah sekaligusMata perokok, dua arah sekaligusMata perokok, dua arah sekaligusPeserta berusia 45 tahun ke atas di Beijing, nilai tengah tiap kelompokPerokokBukan perokok98 orang715 orangJumlah peserta25 orang319 orangBermata kering10,5 detik10,0 detikAir mata bertahan0,5380,441Kelenjar bawahhilangAir mata bertahan: waktu pecah lapisan air mata pada ukuran pertama.
Sumber: Yan-Lin Wei, Kai Cao, Qing Zhang, Jia-Yang Tang, Lei Tian, dan Ying Jie, Apparent protective associations between smoking, alcohol consumption, and dry eye disease: evidence from a community-based Adult Dry Eye Cohort (ADEC) in Beijing, BMC Public Health, 2026. Grafik: Cekricek.id

Angka 0,43 itulah yang oleh para penulis disebut kaitan yang tampak melindungi. Kata “tampak” dipasang sejak judul. Sebab pada tahap ini hitungan baru membandingkan dua kelompok apa adanya, tanpa menimbang bahwa perokok dan bukan perokok bisa saja berbeda dalam banyak hal lain yang juga menentukan kering tidaknya mata seseorang.

Baca juga Warga Bangkok Membeli Alkohol di Minimarket, Tembakau di Warung

Ketika usia, jenis kelamin, dan suasana hati ikut dihitung, perlindungan itu lenyap

Perbedaan lain itu memang ada. Menurut para penulis, peserta yang merokok atau minum alkohol berbeda secara sistematis dari yang tidak, mulai dari perbandingan laki-laki dan perempuan, mutu tidur, lama menatap layar, sampai keadaan psikologis. Semua faktor itu, tulis mereka, sudah berulang kali dikaitkan dengan mata kering dalam studi-studi terdahulu.

Begitu faktor-faktor tersebut dimasukkan ke dalam hitungan, kabar baik tadi runtuh. Rasio odds rokok naik dari 0,43 menjadi 0,83, dengan rentang kepercayaan 0,38 sampai 1,81 yang melewati angka satu. Artinya, hitungan itu tidak lagi bisa membedakan perokok dari bukan perokok. Kaitan yang semula tegas kini tidak bermakna.

Alkohol bahkan berbalik arah. Rasio odds yang semula 0,69 menjadi 1,22 sesudah penyesuaian, dengan rentang 0,62 sampai 2,41. Angka itu pun tidak bermakna. Para peneliti menyimpulkan bahwa minum alkohol tidak berkaitan secara mandiri dengan penyakit mata kering pada warga yang mereka periksa.

Dari sana mereka menarik tafsir yang lebih hati-hati. Rokok dan alkohol, menurut mereka, mungkin hanya penanda pola hidup yang lebih luas, bukan faktor pelindung yang berdiri sendiri. Kaitan terbalik yang pernah dilaporkan studi lain boleh jadi terutama mencerminkan perbedaan ciri penduduk, perilaku, dan keadaan psikologis, bukan perlindungan yang sesungguhnya.

Kesan melindungi yang gugurKesan melindungi yang gugurKesan melindungi yang gugurRasio odds penyakit mata kering pada 813 peserta di Beijing42,3%Bermata kering344 dari 813peserta0,43Rokok, awalrasio odds kasar0,83Rokok, akhirsesudahdisesuaikan2,31Tempat panassesudahdisesuaikanJalan risetnyaWarga 45+ BeijingPeriksa mataIsi kuesionerDi bawah 1 berarti peluang lebih rendah, di atas 1 lebih tinggi.
Sumber: Yan-Lin Wei, Kai Cao, Qing Zhang, Jia-Yang Tang, Lei Tian, dan Ying Jie, Apparent protective associations between smoking, alcohol consumption, and dry eye disease: evidence from a community-based Adult Dry Eye Cohort (ADEC) in Beijing, BMC Public Health, 2026. Grafik: Cekricek.id

Air mata perokok lebih tahan, tetapi kelenjar di kelopaknya lebih banyak hilang

Pemeriksaan mata menambah satu lapis kerumitan. Pada perokok, lapisan air mata bertahan lebih lama sebelum pecah. Nilai tengahnya 10,5 detik pada ukuran pertama, sedangkan pada bukan perokok 10,0 detik. Pada ukuran rata-rata, selisihnya 12,1 berbanding 11,1 detik. Tinggi dan luas genangan air mata di tepi kelopak mereka juga lebih besar.

Sampai di situ mata perokok terlihat lebih baik. Namun alat yang sama memotret kelenjar meibom, kelenjar di kelopak mata, dan gambarnya berkata lain. Di kelopak bawah perokok, bagian kelenjar yang hilang bernilai tengah 0,538. Pada bukan perokok angkanya 0,441. Selisih itu bermakna secara statistik, sedangkan di kelopak atas kedua kelompok tidak berbeda.

Peminum alkohol memperlihatkan pola yang mirip. Air mata mereka bertahan 11,9 detik pada ukuran rata-rata, lebih lama daripada 11,1 detik pada bukan peminum. Tetapi kelenjar meibom yang hilang di kelopak bawah mereka juga lebih banyak, 0,488 berbanding 0,447. Fungsi tampak baik. Struktur menunjukkan kebalikannya.

Baca juga Keseimbangan Pikiran Ubah Niat Berhenti Rokok Mahasiswi

Para penulis tidak membaca air mata yang lebih tahan itu sebagai tanda sehat. Mereka mengingatkan bahwa studi klinis dan percobaan terdahulu melaporkan dampak buruk asap rokok dan alkohol pada lapisan lemak air mata, kelenjar meibom, dan permukaan mata. Yang mereka duga, perubahan fungsi jangka pendek bisa hadir bersamaan dengan perubahan struktur jangka panjang.

Di titik inilah kalimat paling tegas dalam naskah itu muncul. “Temuan ini tidak mendukung merokok atau konsumsi alkohol sebagai perilaku yang melindungi; berhenti merokok dan menghindari konsumsi alkohol berlebihan tetap merupakan pesan kesehatan masyarakat yang tepat,” tulis Yan-Lin Wei dan rekan-rekannya dalam naskah yang aslinya berbahasa Inggris.

Cemas, murung, tempat yang panas, dan sayur di meja makan

Kalau bukan rokok, lalu apa yang bertahan sesudah semua faktor ditimbang bersama? Ada enam. Usia yang lebih tua, jenis kelamin perempuan, lingkungan yang panas, kecemasan, dan depresi berkaitan dengan peluang mata kering yang lebih tinggi. Satu faktor berjalan ke arah sebaliknya, yaitu makan sayur lebih sering.

Kecemasan memberi gambaran paling tajam. Di antara 344 peserta bermata kering, 229 orang atau 66,6 persen menunjukkan gejala cemas. Di antara 469 peserta yang matanya sehat, hanya 10 orang, 2,1 persen. Setiap kenaikan satu poin skor kecemasan berkaitan dengan peluang mata kering yang kira-kira dua kali lipat, dengan rasio odds 2,01.

Depresi mengikuti dari belakang. Gejalanya tercatat pada 83,7 persen peserta bermata kering, berbanding 38,8 persen pada yang sehat, dan tiap tambahan satu poin skor depresi membawa rasio odds 1,65. Para penulis menyebut faktor psikologis dapat memengaruhi cara orang merasakan dan melaporkan keluhan mata. Orang dengan tekanan psikologis lebih rendah, tulis mereka, mungkin lebih jarang menyadari atau melaporkan gejala.

Lingkungan ikut berbicara. Peserta yang lama terpapar panas memiliki rasio odds 2,31 untuk mata kering, dan perempuan 1,92 dibanding laki-laki. Sayur bekerja sebaliknya. Dari 65 peserta yang hanya sesekali makan sayur, 57 orang bermata kering dan cuma 8 yang tidak. Setiap naik satu tingkat kekerapan makan sayur, rasio odds turun menjadi 0,49.

Beberapa faktor yang mula-mula tampak penting ternyata tidak bertahan. Lingkungan berdebu, mutu tidur, lamanya menatap layar elektronik, dan makan buah semuanya berkaitan dengan mata kering pada hitungan awal. Sesudah disesuaikan, keempatnya tidak lagi bermakna. Untuk tidur, para penulis meminta pembaca berhati-hati karena mutunya hanya dinilai lewat satu pertanyaan.

Baca juga Dua Puluh Satu Tahun Diare Menular Beijing dan Ramalan 2025

Batas yang diakui para peneliti dan beberapa hal yang janggal di dalam naskah

Keenam peneliti menyebut sendiri batas kajiannya. Data diambil pada satu waktu, sehingga tidak bisa dipakai untuk menyatakan sebab dan akibat. Status merokok dan minum alkohol berasal dari pengakuan peserta dan hanya dibagi dua, masih atau tidak dalam sebulan terakhir. Tidak ada keterangan tentang jumlah, lama kebiasaan, mantan perokok, perokok pasif, atau jenis minuman.

Batas lain menyangkut siapa yang diperiksa. Semua peserta tinggal di permukiman kota Beijing dan berusia 45 tahun ke atas, sehingga hasilnya belum tentu berlaku bagi orang muda, warga desa, atau penduduk lain. Perbandingan ukuran air mata dan kelenjar antarkelompok, menurut para penulis, bersifat penjajakan dan tidak boleh dibaca sebagai bukti sebab-akibat.

Ada pula beberapa hal yang bisa diperiksa pembaca sendiri. Ringkasan dan simpulan naskah menyebut peminum alkohol memiliki air mata yang bertahan lebih lama. Di tabelnya, perbedaan itu hanya bermakna pada ukuran rata-rata, dengan nilai P 0,040. Pada ukuran pertama, nilai P-nya 0,139, yang berarti kedua kelompok tidak berbeda.

Dua catatan kecil lain menyusul. Lima tingkat mutu tidur diberi nama berbeda di bagian keterangan dan di tabel hasil. Selain itu, gejala depresi tercatat pada 470 dari 813 peserta, lebih dari separuh, angka yang besar untuk warga permukiman dan tidak dibahas tersendiri oleh para penulis. Sebagian halaman naskah yang belum disunting itu juga tercetak dengan urutan kata teracak.

Maka kabar baik di hitungan pertama itu tidak pernah benar-benar ada. Perokok memang lebih jarang tercatat bermata kering, tetapi selisih itu hilang begitu usia, jenis kelamin, lingkungan, dan suasana hati mereka ikut dihitung. Yang tersisa di kelopak bawah mereka adalah kelenjar yang lebih banyak hilang.

Bagikan

Baca Juga

Infeksi Saluran Kemih Anak Korea Berkaitan dengan Debu Halus
Sakit Akibat Panas di Honolulu Mengikuti Lembap, Bukan Termometer
Kisah Berhenti Vape 13 Pria di Qatar, dari Istri sampai Ramadan
Udara Kotor Ikut Menjelaskan Stroke Warga Suriname di Belanda
Perempuan Turki Diajari Ibunya Sendiri Menyembunyikan Haid
Kampung Adat Yoboi di Sentani Masih Dipimpin Dua Kepala Kampung