- Nelayan Suku Akit tidak boleh membawa lepat ketika melaut.
- Selama tiga hari setelah ritual, warga Suku Akit dilarang melaut dan dilarang mematahkan berbagai jenis kayu.
- Suku Akit sendiri disebut sebagai penduduk asli desa sekaligus komunitas adat terpencil, berjumlah 63 kepala keluarga atau 318 jiwa.
- Bila pada sore hari awan tampak bersisik seperti ikan, itu pertanda musim ikan sedang tiba.
- Tak satu pun ucapan Batin, Bomo, atau nelayan dikutip langsung di dalamnya.
Daftar Isi
- Desa pesisir tempat 200 orang Akit hidup dari jaring
- Saat jaring pulang kosong, Batin memimpin Bele Laut
- Perahu baru diasapi kemenyan lalu digotong ke tepi laut
- Bintang, awan bersisik, dan angin barat sebelum berangkat
- Belat, jaring, dan perahu kecil bermuatan 1,5 ton
- Suara nelayan yang tidak terdengar dan angka yang berselisih
Fitri Andini mencatat sebuah larangan yang terdengar sepele di Desa Tanjung Kedabu: nelayan Suku Akit tidak boleh membawa lepat ketika melaut. Alasannya bukan soal rasa. Nelayan di pesisir Pulau Rangsang itu percaya, bila makanan tersebut ikut naik ke perahu, jaring yang mereka tebar akan tergulung seperti bentuk lepat. Makanan itu dianggap pembawa sial, sebab jaring yang kusut berpengaruh pada hasil tangkapan.
Larangan itu satu dari sederet kebiasaan yang dihimpun Fitri Andini bersama Ashaluddin Jalil dan Resdati, ketiganya dari Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Riau. Tulisan mereka, Kearifan Lokal Nelayan Suku Akit di Desa Tanjung Kedabu Kecamatan Rangsang Pesisir Kabupaten Kepulauan Meranti, terbit di Jurnal Pendidikan Sosiologi dan Humaniora volume 13 nomor 2 tahun 2022. Isinya memotret cara satu komunitas kecil di Riau merawat laut yang menjadi sumber penghidupan mereka.
Untuk sampai ke sana, Fitri Andini dan rekan-rekannya berbicara dengan pemangku adat Suku Akit, ketua adat yang disebut Batin, nelayan Akit, nelayan dari luar suku itu, serta tokoh masyarakat desa. Dari percakapan dan pengamatan di kampung itulah muncul gambarannya: dua ritual, pantang larang, cara membaca langit, dan seperangkat alat tangkap yang pada umumnya masih tradisional.
Desa pesisir tempat 200 orang Akit hidup dari jaring
Desa yang diteliti Fitri Andini terletak di kawasan pesisir Pulau Rangsang, kira-kira satu jam empat puluh menit bersepeda motor dari pusat Kabupaten Kepulauan Meranti. Profil desa tahun 2019 yang ia kutip mencatat 589 kepala keluarga dan 2.186 penduduk, terdiri atas 1.134 laki-laki dan 1.052 perempuan. Karena letaknya di tepi pantai, sebagian besar warganya memanfaatkan laut untuk memenuhi kebutuhan hidup.
Dari profil yang sama, Fitri Andini dan rekan-rekannya mengambil angka nelayan: 357 orang, berasal dari Suku Akit, Melayu, dan Tionghoa. Suku Akit sendiri disebut sebagai penduduk asli desa sekaligus komunitas adat terpencil, berjumlah 63 kepala keluarga atau 318 jiwa. Sebanyak 200 orang di antaranya bekerja sebagai nelayan, lebih dari separuh seluruh nelayan Tanjung Kedabu.
Mengutip peneliti lain bernama Mita Rosaliza, Resdati dan dua rekannya menulis bahwa nama Akit konon berasal dari rakit. Kelompok ini dahulu sebagian besar hidup di atas rumah rakit dan berpindah dari satu tempat ke tempat lain, di pantai, laut, serta muara sungai. Kini mereka tinggal di darat seperti suku lain. Mata pencaharian utamanya menangkap ikan, mengumpulkan hasil hutan, berburu, dan mengumpulkan sagu.
Baca juga Menongkah Suku Duano, dari Livelihood Jadi Festival
Saat jaring pulang kosong, Batin memimpin Bele Laut
Ritual pertama yang diuraikan Fitri Andini bernama Bele Laut. Nelayan Akit menggelarnya ketika mereka pulang tanpa tangkapan, atau ketika hasil laut merosot drastis. Mereka percaya laut punya penghuni yang mengatur segala kehidupan di dalamnya, layaknya manusia yang tinggal di daratan. Yang ditakutkan adalah penghuni itu marah karena ada ketidaksopanan saat nelayan melaut.
Tidak sembarang orang boleh memimpinnya. Dalam catatan Ashaluddin Jalil dan rekan-rekannya, hanya Batin, ketua adat Suku Akit, yang berhak memimpin upacara yang dianggap sangat sakral itu. Dua hari sebelum hari pelaksanaan, warga menyiapkan kemenyan, tepung tawar, beras kunyit, bertih, nipah, dan bunga-bungaan. Semua perlengkapan tersebut lebih dulu dijampi oleh Batin.
Upacaranya sendiri singkat. Fitri Andini mencatat Bele Laut berlangsung pagi hari, dari pukul 08.00 sampai 10.00. Yang panjang justru sesudahnya, tahap yang disebut penyempurnaan. Selama tiga hari setelah ritual, warga Suku Akit dilarang melaut dan dilarang mematahkan berbagai jenis kayu. Tiga hari itu laut tidak didatangi perahu nelayan Akit.
Bagi Resdati dan dua rekannya, ritual itu pada dasarnya cara menjaga hubungan baik dengan alam. Nelayan Akit meyakini, bila hubungan itu dirawat, alam akan senantiasa memberi rezeki, dan begitu pula sebaliknya. “Dalam waktu satu tahun mereka pasti melaksanakan tradisi Bele Laut tersebut,” tulis Fitri Andini, Ashaluddin Jalil, dan Resdati dalam naskahnya. Ritual itu sudah dijalankan turun-temurun.
Perahu baru diasapi kemenyan lalu digotong ke tepi laut
Ritual kedua berpusat pada satu benda: perahu. Fitri Andini menyebutnya Turun Perahu, digelar setiap kali seorang nelayan Akit membeli atau membuat perahu baru. Tradisi itu sudah dijalankan sejak nenek moyang mereka dan kini dipandang sebagai warisan yang harus diteruskan. Maknanya dua: ungkapan syukur atas perahu itu, dan permohonan keselamatan bagi pemiliknya selama melaut.
Pemimpinnya seorang Bomo. Menurut uraian Fitri Andini dan rekan-rekannya, Bomo membaca mantra sambil membawa kemenyan yang sudah dibakar, lalu berjalan mengelilingi perahu dan mengasapinya. Sesudah itu tepung tawar dan beras kunyit ditaburkan ke sekeliling perahu. Begitu ritual selesai, semua yang hadir menyantap bubur ketan hitam yang disediakan pemilik perahu.
Lalu perahu itu diangkat. Ashaluddin Jalil dan dua rekannya mencatat pekerjaan ini dilakukan bergotong royong, sebab butuh banyak tenaga untuk membawa perahu sampai ke tepi laut atau sungai. “Dari kegiatan Turun Perahu ini terlihat bahwasanya tingkat solidaritas pada masyarakat Suku Akit sangat lah tinggi,” tulis ketiganya. Mereka menyimpulkan nelayan Akit tidak individualis dan saling bergantung satu sama lain.
Baca juga Kelambut, Perahu Kayu yang Bersuara bagi Suku Sentani
Bintang, awan bersisik, dan angin barat sebelum berangkat
Sebelum berangkat, nelayan Akit membaca langit. Fitri Andini mencatat dua tanda yang mereka pegang. Bila pada malam hari bintang tampak banyak, esoknya cuaca diyakini teduh dan cerah. Bila pada sore hari awan tampak bersisik seperti ikan, itu pertanda musim ikan sedang tiba. Penentuan waktu, cuaca, dan musim ini dianggap penting karena ikut memengaruhi hasil tangkapan.
Ada pula saat untuk berhenti. Dalam tulisan Resdati dan rekan-rekannya, ketika musim Angin Barat datang, nelayan Akit untuk sementara tidak melaut karena angin dan gelombang sedang tidak bersahabat. Di samping tanda-tanda alam itu berdirilah larangan membawa lepat tadi, yang oleh ketiga peneliti digolongkan sebagai pantang larang nelayan Akit ketika melaut.
Belat, jaring, dan perahu kecil bermuatan 1,5 ton
Alat tangkap yang dicatat Fitri Andini pada umumnya masih tradisional. Yang pertama ia uraikan adalah belat, alat tangkap ikan yang dipasang di tepi pantai dengan kayu yang dibentangi jaring. Selain itu ada jaring, yang ia sebut alat utama dan wajib dimiliki nelayan, serta dayung dari kayu untuk menggerakkan perahu atau sampan.
Perahu motornya pun kecil. Ashaluddin Jalil dan dua rekannya menulis perahu nelayan Akit di desa itu hanya memakai satu mesin berukuran kecil dan bisa memuat hasil tangkapan 1,5 ton. Isinya jenis yang juga didapat nelayan tradisional lain: ikan gulamo, kitang, dukang, dan selangat, lalu udang merah, udang putih, dan udang duri.
Tidak semua yang terjaring dibawa pulang. Fitri Andini mencatat, ketika menjaring atau membelat, nelayan Akit memilah hasilnya dan melepaskan kembali ke laut ikan-ikan kecil yang dianggap kurang bermanfaat. “Ini jelas memberikan arti bahwa mereka sudah memikirkan keberlanjutan kehidupan hewan (laut) untuk masa depan atau untuk para anak cucu yang kelak menjadi nelayan,” tulis ketiga peneliti itu.
Kebiasaan itu dibaca Resdati dan rekan-rekannya dengan latar yang lebih muram. Di bagian awal naskah, mereka menyebut banyak nelayan modern belakangan memakai alat yang tidak ramah lingkungan, seperti pukat harimau yang ikut membawa bibit ikan kecil, atau obat-obatan yang membuat banyak ikan mati. Nelayan Akit di Tanjung Kedabu, menurut simpulan mereka, selalu berorientasi ke masa depan.
Baca juga Canang Kuantan Singingi, Satu Nada E yang Membawa Kabar Adat
Suara nelayan yang tidak terdengar dan angka yang berselisih
Ada batas yang perlu diingat. Naskah Fitri Andini dan rekan-rekannya hanya menggambarkan satu desa, sehingga tidak bisa dibaca sebagai potret seluruh Suku Akit yang juga tinggal di pesisir Bengkalis, Siak, dan Pelalawan. Tak satu pun ucapan Batin, Bomo, atau nelayan dikutip langsung di dalamnya. Pembaca menerima kepercayaan orang Akit lewat rangkuman peneliti, bukan lewat suara mereka sendiri.
Beberapa hal dalam naskah Ashaluddin Jalil dan rekan-rekannya juga tidak seragam. Abstrak menyebut tiga bentuk kearifan lokal, sedangkan simpulan menyebut empat dengan menambahkan pantang larang. Abstrak mendaftar perahu motor, dayung, dan jaring sebagai peralatan, tanpa belat yang justru diuraikan paling awal di badan tulisan. Jarak desa ditulis 46 km2 dan luas wilayah 88,86 km, dua satuan yang tampaknya tertukar.
Sumber angka kependudukan pun perlu dicermati. Fitri Andini menyebutnya data profil desa tahun 2019, tetapi rujukannya bertahun 2021. Naskah juga tidak menerangkan seberapa sering Bele Laut digelar: di satu bagian ritual itu diadakan ketika tangkapan merosot, di bagian lain disebut pasti dilaksanakan dalam setahun. Keduanya bisa sama-sama benar, tetapi hubungan antara dua keterangan itu tidak dijelaskan.
Di ujung tulisannya, Fitri Andini kembali pada hal-hal yang ia kumpulkan dari Tanjung Kedabu: perahu yang diasapi kemenyan, ikan kecil yang dilepas lagi, laut yang ditinggalkan tiga hari, dan lepat yang tidak ikut berlayar. Cara-cara yang diajarkan leluhur itu, menurut simpulannya, masih dipakai nelayan Akit sampai sekarang dan bermanfaat untuk menjaga kelestarian laut.















