- Di Korea Selatan, keduanya dihitung berdampingan pada 2.094 orang dewasa yang tinggal sendirian di rumahnya.
- Di antara enam ranah, hanya ranah sosial yang berkaitan dengan gejala depresi pada ketiga kelompok usia.
- Rata-rata skor gejala depresi peserta, pada skala 0 sampai 33, tercatat 5,81 pada 2018 dan 6,51 pada 2022.
- Sebanyak 1.539 peserta, 73,5 persen atau hampir tiga dari empat, berusia 65 tahun ke atas.
- Semua hubungan itu, tulisnya, bersifat kaitan dan bukan sebab-akibat.
Daftar Isi
- Kekurangan yang berupa barang: makan, listrik, dan tempat tinggal
- Kekurangan yang berupa hubungan: keluarga dan pergaulan
- Pada yang muda, kebutuhan dasar paling terasa
- Pada yang lebih tua, pekerjaan, rumah, dan biaya berobat
- Yang ditawarkan peneliti bagi layanan kesehatan
- Yang dibatasi peneliti dan yang janggal di naskah
Listrik yang diputus karena tagihan menunggak dan hubungan keluarga yang terasa hambar jarang dicatat dalam satu daftar yang sama. Di Korea Selatan, keduanya dihitung berdampingan pada 2.094 orang dewasa yang tinggal sendirian di rumahnya. Yang satu urusan uang, yang lain urusan orang. Selama enam tahun, 2018 sampai 2023, keduanya ditimbang terhadap satu hal: seberapa murung para penghuni rumah itu.
Penimbangnya Taeyeon Kwon dari Department of Social Welfare, Sun Moon University, di Asan. Artikelnya, Multidimensional deprivation and depressive symptom trajectories among single-person households in South Korea: an age-stratified longitudinal study, dimuat BMC Public Health volume 26 nomor artikel 2383 tahun 2026. Bahannya jawaban peserta Korea Welfare Panel Study, survei kesejahteraan yang mendatangi orang yang sama dari tahun ke tahun.
Latar yang ia sebut sederhana. Rumah tangga berisi satu orang kini lebih dari 34 persen seluruh rumah tangga di Korea Selatan, kira-kira satu dari tiga, dan termasuk jenis rumah tangga yang tumbuh paling cepat di antara negara OECD. Penduduk yang menua, pernikahan yang ditunda, dan susunan keluarga yang berubah disebut Kwon sebagai pendorongnya.
Kekurangan yang berupa barang: makan, listrik, dan tempat tinggal
Kwon membagi kekurangan hidup ke dalam enam ranah, dan sebagian besar berwujud benda. Ranah kebutuhan dasar menanyakan apakah seseorang pernah kehabisan makanan tanpa uang untuk membeli lagi, tidak sanggup makan seimbang, telat membayar tagihan, atau diputus listrik, telepon, dan airnya. Semuanya dicatat sebagai pernah atau tidak pernah.
Ranah perumahan lebih panjang. Di dalamnya ada pindah karena sewa menunggak lebih dari dua bulan, tidak sanggup menyalakan pemanas pada musim dingin, serta mutu bangunan: kedap suara, ventilasi, cahaya, dan pemanas. Ditanyakan pula apakah hunian berada di atas permukaan tanah, aman dari bencana alam, bebas dari bising dan bau, dan punya dapur serta kamar mandi sendiri.
Dua ranah lain menyangkut penghidupan. Ranah pekerjaan dan ekonomi mencatat status kerja, kesanggupan menutup biaya hidup minimum, dan pengalaman bekerja di lingkungan berbahaya. Ranah jaminan sosial hanya berisi dua hal, yakni terdaftar tidaknya seseorang dalam pensiun publik dan asuransi kesehatan. Kedua program itu wajib di Korea Selatan, sehingga menurut Kwon orang yang tidak terdaftar lebih mungkin sedang rentan daripada sedang memilih.
Pada seluruh peserta, tiga ranah kebendaan itu berkaitan dengan gejala depresi yang sudah lebih tinggi sejak awal. Koefisien bakunya 0,118 untuk kebutuhan dasar, 0,102 untuk jaminan sosial, dan 0,097 untuk pekerjaan dan ekonomi. Ketiganya tidak berkaitan dengan laju perubahan gejala dari tahun ke tahun. Kekurangan perumahan, pada hitungan seluruh peserta, tidak berkaitan dengan keduanya.
Baca juga Kesenjangan SES Perlebar Risiko Disabilitas Lansia Kota
Kekurangan yang berupa hubungan: keluarga dan pergaulan
Di sisi lain, ada ranah yang tidak bisa dibeli. Ranah sosial hanya berisi dua pertanyaan: puaskah seseorang dengan hubungan keluarganya, dan puaskah ia dengan hubungan sosialnya. Mereka yang menjawab tidak puas dihitung sebagai kekurangan. Kwon sengaja memisahkan ranah ini dari ranah kebendaan supaya kemiskinan barang tidak tercampur dengan keterasingan.
Angkanya lebih besar daripada ranah kebendaan mana pun. Kekurangan sosial berkaitan dengan gejala awal yang lebih tinggi, dengan koefisien baku 0,262, lebih dari dua kali koefisien kebutuhan dasar. Ranah ini juga berkaitan dengan laju perubahan gejala, sebesar minus 0,174. Di antara enam ranah, hanya ranah sosial yang berkaitan dengan gejala depresi pada ketiga kelompok usia.
Tanda minus itu perlu dibaca pelan-pelan. Menurut Kwon, orang yang kekurangan hubungan memulai dengan gejala yang sudah tinggi, dan jarak mereka dengan orang lain bertahan dari waktu ke waktu, tidak menyempit. Ia menyebut keterhubungan sosial yang terbatas sebagai kerentanan yang menetap bagi orang yang tinggal sendiri, sebab di dalam rumah tidak ada sumber dukungan yang langsung tersedia.
Satu ranah berdiri di antara barang dan orang, yaitu kesehatan. Isinya pernah tidak bisa ke rumah sakit karena tidak punya uang, serta penilaian seseorang atas kesehatannya sendiri. Pada seluruh peserta, ranah inilah yang koefisiennya paling besar terhadap gejala awal, 0,345. Seperti ranah sosial, ia juga berkaitan dengan laju perubahan gejala, sebesar minus 0,136.
Secara keseluruhan, kemurungan itu bergerak naik. Rata-rata skor gejala depresi peserta, pada skala 0 sampai 33, tercatat 5,81 pada 2018 dan 6,51 pada 2022. Hitungan Kwon menaksir kenaikan 0,130 poin setiap tahun survei. Ia juga mencatat bahwa orang yang gejalanya sudah tinggi di awal cenderung naik lebih sedikit sesudahnya.
Pada yang muda, kebutuhan dasar paling terasa
Peserta termuda adalah yang paling sedikit. Hanya 234 orang berusia 20 sampai 44 tahun, atau 11,2 persen dari seluruh peserta. Pada kelompok ini, dari semua ranah kebendaan, hanya kebutuhan dasar yang berkaitan dengan gejala awal yang lebih tinggi, dengan koefisien 0,198. Makanan yang habis dan tagihan yang telat lebih terbaca pada mereka daripada rumah atau jaminan sosial.
Kwon menautkan temuan itu dengan ciri masa dewasa awal: pekerjaan yang belum mantap, keuangan yang rapuh, serta peralihan tempat tinggal dan peran keluarga. Ketika orang pada tahap ini tinggal sendiri, tulisnya, kesulitan itu dialami tanpa bantalan berupa sumber daya rumah tangga yang ditanggung bersama.
Namun angka terbesar pada kelompok muda bukan milik kebutuhan dasar. Kekurangan sosial berkaitan dengan gejala awal dengan koefisien 0,529, tertinggi di antara semua kelompok usia dan semua ranah yang dilaporkan. Laju perubahannya minus 0,245. Pada orang muda yang tinggal sendiri, hubungan yang tidak memuaskan lebih nyaring daripada dapur yang kosong.
Baca juga Kunjungan ke Ruang Biru dan Kesehatan Mental Lansia Jepang
Pada yang lebih tua, pekerjaan, rumah, dan biaya berobat
Pada kelompok kedua, 321 orang berusia 45 sampai 64 tahun, polanya bergeser. Kekurangan kesehatan berkaitan paling kuat dengan gejala awal, 0,410, disusul pekerjaan dan ekonomi 0,234 serta jaminan sosial 0,123. Kwon membaca usia paruh baya sebagai masa ketika tekanan kerja, tanggungan keuangan, dan keluhan kesehatan mulai datang bersamaan. Kekurangan sosial tetap hadir, 0,193 untuk gejala awal dan minus 0,187 untuk lajunya.
Kelompok ketiga adalah yang terbesar. Sebanyak 1.539 peserta, 73,5 persen atau hampir tiga dari empat, berusia 65 tahun ke atas. Pada mereka, kekurangan kesehatan berkaitan dengan gejala awal sebesar 0,457 dan dengan laju perubahan sebesar minus 0,448. Jaminan sosial dan hubungan sosial juga berkaitan dengan keduanya, sedangkan kebutuhan dasar serta pekerjaan hanya berkaitan dengan gejala awal.
Rumah baru berbicara pada kelompok ini. Kekurangan perumahan berkaitan dengan laju perubahan gejala depresi hanya pada orang lanjut usia, sebesar minus 0,161. Kwon menduga mutu hunian menjadi lebih penting di usia tua karena orang lanjut usia lebih lama berada di rumah dan lebih sedikit kesempatannya untuk pindah atau memperbaiki tempat tinggal.
Susunan peserta itu sendiri sudah bercerita. Tiga perempatnya perempuan, 1.573 orang, dan 72,3 persen berpendidikan sekolah menengah pertama atau lebih rendah. Sebanyak 40,2 persen berpendapatan di bawah 1 juta won, dan 36,0 persen lagi di antara 1 juta dan 1,99 juta won. Menurut Kwon, komposisi ini mencerminkan rumah tangga tunggal Korea Selatan, yang sebagian besar dihuni orang lanjut usia.
Yang ditawarkan peneliti bagi layanan kesehatan
Dari perbedaan antarusia itu Kwon menarik usulan yang juga berbeda-beda. Untuk orang muda yang tinggal sendiri, ia mengusulkan penapisan gejala depresi secara rutin di layanan primer dan komunitas, guna menemukan mereka yang kebutuhan dasarnya tidak terpenuhi. Untuk usia paruh baya, pemeriksaan kesehatan jiwa digabung dengan penilaian tekanan kerja dan status asuransi kesehatan.
Bagi orang lanjut usia, penapisan depresi diusulkan berjalan bersama penilaian keadaan rumah dan kebutuhan berobat. Lalu ada usulan yang berlaku bagi semua usia, yaitu menangani keterasingan. Kwon menyebut kelompok dukungan sebaya, kegiatan berkelompok, dan rujukan dari klinik ke program komunitas sebagai jalur yang perlu diperkuat.
Ia juga mengusulkan layanan berjenjang, dimulai dari penapisan dan dukungan komunitas, lalu dirujuk ke perawatan yang lebih intensif bila gejala menetap atau memburuk. “Temuan ini menunjukkan bahwa tidak semua orang yang tinggal sendiri memerlukan tingkat penanganan yang sama,” tulis Taeyeon Kwon, pengajar di Department of Social Welfare, Sun Moon University, dalam naskah yang aslinya berbahasa Inggris.
Pada sisi yang lain, kesimpulannya tidak berhenti di ruang praktik. “Hasil ini menegaskan bahwa depresi pada orang dewasa yang tinggal sendiri tidak dapat dipahami semata-mata sebagai kondisi individual atau klinis, tetapi perlu ditempatkan dalam konteks yang lebih luas, yakni ketertinggalan sosial ekonomi yang menumpuk,” tulis Kwon di bagian penutup naskahnya.
Baca juga Depresi Remaja Thailand Selatan: Keluarga Retak dan Trauma
Yang dibatasi peneliti dan yang janggal di naskah
Kwon membatasi sendiri bobot temuannya. Semua hubungan itu, tulisnya, bersifat kaitan dan bukan sebab-akibat. Kekurangan hanya diukur sekali, pada 2018, sedangkan gejala depresi diikuti sampai 2023. Karena itu arah sebaliknya tidak bisa disingkirkan: boleh jadi kemurunganlah yang lebih dulu ada, lalu disusul kekurangan, atau keduanya saling mendorong.
Batas lain menyangkut tempat dan orang. Seluruh peserta tinggal di Korea Selatan, dan Kwon menyebut perbandingan antarnegara masih diperlukan untuk melihat apakah pola serupa muncul di bawah sistem kesejahteraan yang berbeda. Jumlah peserta pun menyusut dari 2.094 orang pada 2018 menjadi 1.554 orang pada 2023, meski naskah mencatat lebih dari 74 persen bertahan.
Beberapa hal di naskah tidak saling cocok dan bisa diperiksa pembaca. Ringkasan menyebut kekurangan perumahan berkaitan dengan tingkat gejala pada orang lanjut usia, sedangkan bagian hasil hanya melaporkan kaitan dengan lajunya. Angka minus 0,161 itu juga sama persis dengan angka seluruh peserta, yang di tabel dinyatakan tidak bermakna.
Dua catatan lain lebih kecil. Pendapatan disebut bulanan di satu bagian dan tahunan di bagian lain. Lalu rata-rata skor yang naik sampai 6,51 pada 2022 turun lagi ke 5,94 pada 2023, penurunan yang tidak dibahas tersendiri walaupun lintasannya disimpulkan menanjak.
Tagihan listrik dan hubungan keluarga, dua hal dari kalimat pertama tadi, ternyata tidak berjalan dengan cara yang sama. Kekurangan barang berganti rupa menurut usia: makanan pada yang muda, pekerjaan pada yang paruh baya, rumah dan biaya berobat pada yang tua. Kekurangan hubungan tidak berganti rupa, ia muncul di ketiganya. Naskah Kwon mencatat keduanya tanpa menyatakan mana yang lebih menentukan.















