Melanoma di Hungaria Naik Paling Cepat Justru di Daerah Miskin

A A

Ilustrasi tangan menggenggam dermatoskop dengan lingkar lampu LED menyala di sekeliling lensa [Foto: Abessemans94/Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0]

  • Kenaikan kasus melanoma paling tajam di Hungaria justru muncul di wilayah yang kondisi sosial ekonominya lemah.
  • Lelaki tua Hungaria terkena melanoma hampir dua kali lebih sering daripada perempuan sebayanya.
  • Pada perempuan berumur 45 sampai 54 tahun, angka kasus naik 9,3 persen per tahun sepanjang 2011 hingga 2019.
  • Di sebagian besar region, garis kematian akibat melanoma mendatar atau menurun selama masa yang diteliti.
Daftar Isi
  1. Bagaimana usia dan jenis kelamin membelah angka kasus
  2. Mengapa peta county tidak mengikuti peta kemakmuran
  3. Budapest dan Pest naik lewat jalur yang berbeda
  4. Perempuan 45–54 tahun, kelompok yang berbalik arah
  5. Kematian yang tidak ikut menanjak, kecuali di barat
  6. Di mana penjelasan para peneliti berhenti
  7. Yang perlu dicocokkan pembaca di dalam naskah

Melanoma lazim dipandang sebagai penyakit negeri makmur. Kanker kulit ini lebih banyak tercatat di negara berpenghasilan tinggi, dan warga kawasan berada biasanya lebih cepat terdiagnosis selagi tumornya masih dini. Di Hungaria, peta dua dasawarsa memperlihatkan arah yang lain: kenaikan kasus paling tajam justru muncul di wilayah yang kondisi sosial ekonominya lemah, seperti Borsod-Abaúj-Zemplén, Nógrád, Heves, dan Somogy.

Peta itu disusun Ágnes Stier, István Kenessey, dan Anna Páldy dalam artikel berjudul Long-term changes in melanoma epidemiology in Hungary: who are the high-risk groups, and where should we concentrate prevention programs?, yang terbit di BMC Public Health volume 26 nomor artikel 1034 tahun 2026. Stier dan Páldy bernaung di Semmelweis University Doctoral College, Kenessey di Hungarian National Cancer Registry, sedangkan Páldy juga tercatat di National Center for Public Health and Pharmacy, semuanya di Budapest.

Mereka menelusuri kasus baru melanoma yang tercatat antara 2001 dan 2019 di 20 county, satuan wilayah setingkat di bawah region, pada penduduk berusia 45 tahun ke atas. Angka kematian dibaca di delapan region yang lebih besar. Dari sana terlihat siapa yang paling sering terkena, di mana kasus bertambah paling cepat, dan di mana kematian ikut bergerak.

Bagaimana usia dan jenis kelamin membelah angka kasus

Pembelahan pertama terjadi pada usia. Pada 2019, di antara penduduk berumur 45 sampai 64 tahun, tercatat 35,3 kasus baru per 100.000 laki-laki dan 31,1 per 100.000 perempuan, setelah disesuaikan dengan susunan umur. Kedua angka itu nyaris sejajar. Sejak 2003 hingga 2019 keduanya merambat pelan: 1,8 persen per tahun pada laki-laki dan 1,5 persen per tahun pada perempuan.

Begitu melewati umur 65 tahun, jarak itu melebar. Angka laki-laki melonjak ke 115,3 per 100.000, sedangkan perempuan berada di 56,2. Artinya, lelaki tua Hungaria terkena melanoma hampir dua kali lebih sering daripada perempuan sebayanya. Para penulis mencatat pola serupa pernah dilaporkan dari Amerika Utara, Eropa Barat, dan Australia, dengan selisih antara satu setengah dan dua kali lipat.

Kasus baru melanoma di Hungaria, 2019Usia 45-64 tahun: Laki-laki +35,3, Perempuan +31,1; Usia 65 tahun ke atas: Laki-laki +115,3, Perempuan +56,2.Kasus baru melanoma di Hungaria, 2019Angka terstandar usia per 100.000 pendudukLaki-lakiPerempuan3060901200Usia 45-64 tahun35,331,1Usia 65 tahun ke atas115,356,2Di kelompok tua, angka laki-laki hampir dua kali angka perempuan.
Sumber: Ágnes Stier, István Kenessey, dan Anna Páldy, Long-term changes in melanoma epidemiology in Hungary: who are the high-risk groups, and where should we concentrate prevention programs?, BMC Public Health, 26(1034), 2026. Grafik: Cekricek.id

Cara kedua kelompok itu menanjak pun tidak sama. Pada perempuan berumur 65 tahun ke atas, garisnya naik rata 4,1 persen per tahun sepanjang masa yang diteliti, tanpa patahan. Pada laki-laki, lonjakan terkumpul di satu ruas, yakni 8,2 persen per tahun antara 2010 dan 2015. Di lapisan paling tua yang dihitung, lelaki 75 sampai 84 tahun, kenaikannya mantap 6,4 persen per tahun.

Baca juga Perempuan Malaysia dan Jarak Menuju Skrining Payudara

Mengapa peta county tidak mengikuti peta kemakmuran

Persoalannya muncul ketika angka nasional itu dipecah per county. Pada laki-laki berumur 65 tahun ke atas, semua county mencatat perubahan yang bermakna secara statistik, tetapi puncaknya berada di utara: Borsod-Abaúj-Zemplén naik 8,4 persen per tahun dan Heves 7,7 persen. Pada perempuan seusia itu, Borsod-Abaúj-Zemplén kembali berada di atas dengan 6,5 persen per tahun.

Pola yang sama terlihat pada lelaki yang lebih muda, 45 sampai 64 tahun. Tiga county bergerak seirama sepanjang 2001 hingga 2019: Borsod-Abaúj-Zemplén 3,8 persen, Heves 3,2 persen, dan Szabolcs-Szatmár-Bereg 3,9 persen per tahun. Di Somogy, kenaikannya 12 persen per tahun, tetapi hanya sampai 2009. Sesudah itu garisnya tidak lagi menunjukkan perubahan yang bermakna.

Yang membuatnya rumit, Somogy, Borsod-Abaúj-Zemplén, Nógrád, dan Heves adalah county yang disebut para penulis berstatus sosial ekonomi rendah. Padahal penelitian terdahulu yang mereka rujuk menemukan hal sebaliknya: rumah tangga satu orang, pendidikan rendah, dan pengangguran berjalan seiring dengan angka melanoma yang lebih kecil. Pandangan umum pun menempatkan penyakit ini di negara berpenghasilan tinggi.

Para penulis tidak menyembunyikan keheranan mereka. “Temuan spasial kami tidak terduga karena banyak studi menunjukkan bahwa ketimpangan status sosial ekonomi dapat bekerja ke arah yang berlawanan dengan jenis kanker lain,” tulis Ágnes Stier, István Kenessey, dan Anna Páldy dalam naskah yang aslinya berbahasa Inggris. Karena itu, mereka menyebut hubungan antara melanoma dan status sosial ekonomi di Hungaria perlu diteliti lebih jauh.

Laju kenaikan kasus per tahunKenaikan tahunan kasus melanoma laki-laki dan perempuan Hungaria menurut usia dan wilayah.Laju kenaikan kasus per tahunPerubahan tahunan angka kasus, ruas yang bermakna statistikLaki-lakiPerempuan1,8%1,5%Nasional 45-64 th8,2%4,1%Nasional 65+ th8,4%6,5%Borsod-A-Z 65+ th5,1%5,5%Budapest 65+ thdatar9,3%Usia 45-54 th6,4%datarUsia 75-84 thLaki-laki 65+ nasional: ruas 2010-2015. Perempuan 45-54: ruas2011-2019. Datar: tidak bermakna.
Sumber: Ágnes Stier, István Kenessey, dan Anna Páldy, Long-term changes in melanoma epidemiology in Hungary: who are the high-risk groups, and where should we concentrate prevention programs?, BMC Public Health, 26(1034), 2026. Grafik: Cekricek.id

Budapest dan Pest naik lewat jalur yang berbeda

Daerah makmur tidak lantas tenang. Budapest dan Pest, county penyangga ibu kota berpenduduk 1,3 juta orang, tetap berada di barisan depan kenaikan kasus pada warga berumur 65 tahun ke atas. Di Pest, angka laki-laki naik 6 persen per tahun dan perempuan 5 persen. Di Budapest, 5,1 persen pada laki-laki dan 5,5 persen pada perempuan. Keduanya menampung 30 persen penduduk Hungaria.

Untuk kedua wilayah ini para penulis menawarkan penjelasan yang lain sama sekali. Kampanye pemeriksaan dini mungkin lebih berhasil di ibu kota dan sekitarnya, dan kapasitas klinik rawat jalan swasta di sana paling besar, sehingga layanan dokter kulit lebih banyak dipakai. Dengan kata lain, sebagian kenaikan bisa lahir dari semakin banyaknya kulit yang diperiksa, bukan semata dari semakin banyaknya orang yang sakit.

Mereka juga membuka kemungkinan kedua, yaitu gaya hidup. Kemampuan keuangan untuk berlibur setiap tahun, tulis mereka, bisa ikut memperbesar risiko melanoma. Mana di antara dua penjelasan itu yang lebih berat belum bisa ditentukan. Untuk memastikannya, stadium tumor saat pertama kali ditemukan masih harus diperiksa, dan data itu tidak tersedia dalam kajian ini.

Baca juga Lansia Rentan Thailand Mengumpul di Timur Laut, Cahaya di Tengah

Perempuan 45–54 tahun, kelompok yang berbalik arah

Bagian yang oleh para penulis dianggap paling bermakna justru datang dari pemilahan umur per sepuluh tahun. Pada perempuan berumur 45 sampai 54 tahun, angka kasus semula menurun 10,2 persen per tahun antara 2001 dan 2011. Sesudah itu arahnya berbalik. Sepanjang 2011 hingga 2019 angkanya naik 9,3 persen per tahun, kenaikan paling menonjol di sepuluh tahun terakhir masa yang diteliti.

Penjelasan yang diajukan berupa daftar kemungkinan, bukan bukti. Para penulis menyebut perbedaan kebiasaan antara laki-laki dan perempuan, misalnya cara berpakaian, perjalanan mencari matahari, liburan musim dingin, serta letak tumor di tubuh yang berlainan. Mereka juga menunjuk ranjang penjemur kulit atau sunbed, yang oleh International Agency for Research on Cancer digolongkan sebagai penyebab kanker.

Petunjuknya berasal dari sebuah survei tahun 2004 tentang pengguna sunbed di Hungaria. Sebanyak 64 persen penggunanya perempuan, dengan umur rata-rata di bawah 30 tahun pada kedua jenis kelamin. Pemakaian alat itu sudah dikaitkan dengan melanoma yang muncul pada usia muda. Karena itulah para penulis menilai masuk akal bila alat tersebut ikut mendorong kenaikan pada perempuan paruh baya ini.

Meski begitu, mereka sendiri membaca angka itu dengan dua kemungkinan yang bertolak belakang. “Pengamatan kami bisa menunjukkan bahwa kampanye pencegahan dan iklan tabir surya tidak efektif, atau bisa pula menjadi tanda berhasilnya program deteksi dini,” tulis ketiganya. Kenaikan yang sama, dengan demikian, bisa berarti kabar buruk ataupun kabar baik.

Kematian yang tidak ikut menanjak, kecuali di barat

Kalau kasus bertambah, kematian semestinya ikut naik. Di Hungaria hal itu tidak terjadi. Pada 2019, angka kematian akibat melanoma tercatat 3,1 per 100.000 pada kelompok 45 sampai 64 tahun dan 13,3 per 100.000 pada kelompok 65 tahun ke atas. Di sebagian besar region, garis kematian mendatar atau menurun selama masa yang diteliti.

Penurunan paling jelas terlihat pada kelompok yang lebih muda. Di Budapest, kematian turun 13,4 persen per tahun antara 2013 dan 2019. Di Central Transdanubia, penurunannya 18,2 persen per tahun antara 2015 dan 2019, sedangkan di Northern Hungary 3,4 persen per tahun sepanjang masa kajian. Para penulis menduga hal itu mencerminkan deteksi dini dan perawatan onkologi yang cepat.

Satu-satunya pengecualian berada di Western Transdanubia. Di region itu, kematian pada penduduk berumur 65 tahun ke atas naik 5,4 persen per tahun, perubahan bermakna satu-satunya di kelompok tua. Namun para penulis segera mengeremnya. “Temuan ini bisa saja kebetulan karena jumlah kasusnya sedikit,” tulis mereka.

Mereka lalu menghubungkannya dengan sebaran dokter yang timpang. Sekitar 6 persen dokter Hungaria beremigrasi atau meninggalkan profesinya antara 2009 dan 2017. Central Hungary memiliki dokter per penduduk hampir dua kali lipat Northern Hungary. Kota-kota dekat perbatasan Austria menarik dokter ke wisata medis, sehingga layanan dasar di pedesaan bisa kekurangan tenaga dan melanoma berisiko ditemukan pada tahap yang lebih lanjut.

Baca juga Kesenjangan SES Perlebar Risiko Disabilitas Lansia Kota

Di mana penjelasan para peneliti berhenti

Semua penjelasan tadi berhenti pada dugaan, dan para penulis mengakuinya. Kajian mereka tidak menganalisis faktor sosial ekonomi maupun lingkungan; yang dihitung hanya arah dan laju angka kasus. Keterbatasan utamanya, menurut mereka, alamat tetap pasien dalam catatan resmi bisa berbeda dari tempat tinggal sehari-harinya. Selisih itu dapat menggoyahkan tafsir tentang county miskin.

Batas kedua terletak pada angka yang kecil. Di beberapa county jumlah kasus per tahun sedikit dan naik turunnya besar, sehingga rentang ketidakpastiannya lebar. Kenaikan 12 persen per tahun di Somogy, misalnya, punya rentang dari 2,8 sampai 120,6 persen. Para penulis meminta angka seperti itu dibaca hati-hati walaupun lolos uji statistik.

Batas ketiga menyangkut mutu catatan. Seberapa tertib klinik swasta melaporkan kasusnya tidak diketahui. Salah kode dan hasil biopsi yang hilang bisa memengaruhi data, dan pada 2018 hanya sekitar 55 persen kasus melanoma yang terverifikasi lewat pemeriksaan jaringan. Mereka juga tidak bisa menguji dugaan peneliti lain bahwa kenaikan pada orang muda sebagian berasal dari tahi lalat meragukan yang kini digolongkan sebagai melanoma tipis.

Yang perlu dicocokkan pembaca di dalam naskah

Ada beberapa hal dalam naskah yang tidak sepenuhnya seiring. Simpulan menyebut melanoma di Hungaria paling sering dijumpai pada perempuan berumur 45 sampai 54 tahun. Bagian hasil menunjukkan hal lain: kelompok itu mencatat kenaikan yang paling menonjol, sedangkan angka kasus tertinggi pada 2019 berada pada laki-laki berumur 65 tahun ke atas.

Beberapa rentang tahun di teks juga berbeda dari tabelnya. Lonjakan 91,1 persen pada perempuan Somogy ditulis berlangsung sampai 2009, padahal tabel mencantumkan 2001 sampai 2003. Kenaikan di Zala ditulis 2007 sampai 2009, sementara tabel menulis 2007 sampai 2019. Kenaikan kematian di Western Transdanubia disebut terjadi pada 2001 sampai 2011, sedangkan tabelnya tidak memuat pemenggalan waktu.

Jadi, mengapa penyakit yang dilekatkan pada kemakmuran menanjak paling cepat di county miskin? Naskah ini tidak memberi satu jawaban. Yang diberikannya adalah peta: lelaki tua di utara, perempuan paruh baya di seluruh negeri, dan ibu kota yang kulitnya lebih sering diperiksa. Kejanggalan di awal tetap berdiri, hanya kini bertanda di county mana pencegahan dan pemeriksaan dini mesti lebih dulu sampai menurut para penulisnya.

Bagikan

Baca Juga

Pasar Pertanian Dibuka, Produktivitas Naik Hanya di Negara Kaya
Tidur Anak di Sekolah Miskin Portugal Mengikuti Dompet Keluarga
Pelari Rekreasi Turki yang Merasa Didukung Lebih Puas Hidupnya
Kanker Asbes Masih Datang di Italia, 30 Tahun Setelah Dilarang
Ibu Hamil di Sokoto Memilih Lapar daripada Menantang Bandit
Keinginan Punya Anak Tak Selalu Lahir dari Pernikahan Bahagia