- Pekerja di pekerjaan bertekanan tinggi lebih sering bertahan daripada pekerja di pekerjaan yang lebih ringan.
- Peluang pindah perempuan bergelar sarjana di tingkat tertinggi hanya 5,9 persen.
- Guru dan tenaga kesehatan punya rata-rata tekanan kerja paling tinggi.
- Di tingkat tertinggi, peluang itu 70,2 persen bagi pria dan 81,5 persen bagi perempuan.
Daftar Isi
Pekerjaan yang paling menekan justru paling jarang ditinggalkan. Begitulah gambaran pasar kerja Norwegia sepanjang 2006 sampai 2019. Pekerja di pekerjaan bertekanan tinggi lebih sering bertahan daripada pekerja di pekerjaan yang lebih ringan.
Temuan itu ditulis Lasse Holtar dalam artikel berjudul Trapped in harmful work? How psychosocial job exposure, sex, and education shape occupational mobility in Norway. Artikel tersebut terbit di jurnal BMC Public Health volume 26, nomor artikel 2012, tahun 2026. Holtar bekerja di Centre for the Study of Professions, OsloMet – Oslo Metropolitan University, di Oslo.
Tekanan yang dimaksud punya ukuran. Sebuah pekerjaan disebut menekan bila tuntutannya tinggi dan kendali pekerja atas pekerjaannya rendah. Tuntutan itu misalnya beban kerja dan desakan waktu, sedangkan kendali berarti keleluasaan mengambil keputusan.
Naskah menyebut pekerjaan semacam itu berbahaya bagi kesehatan. Risikonya mencakup kelelahan kerja, gangguan kesehatan jiwa, penyakit jantung dan pembuluh darah, cuti sakit, dan pensiun dini. Yang belum banyak diketahui adalah cara pekerja menanggapinya.
Dua juta pekerja
Holtar menelusuri catatan resmi seluruh angkatan kerja Norwegia. Ada 2.280.874 orang berusia 30 sampai 59 tahun di dalamnya. Tiap orang dilihat dari satu tahun ke tahun berikutnya, apakah masih di pekerjaan yang sama atau sudah pindah.
Sebanyak 322 jenis pekerjaan diberi nilai tekanan dari 0 sampai 100. Nilai itu dihitung terpisah untuk pria dan perempuan, lalu dibagi menjadi empat tingkat. Pekerjaan yang sama bisa masuk tingkat berbeda bagi pria dan bagi perempuan.
Pindah di sini berarti benar-benar berganti jenis pekerjaan. Perawat menjadi contoh dalam naskah. Norwegia punya 30 kode untuk berbagai jenis perawat, dan semuanya dihitung sebagai satu pekerjaan, sehingga seorang perawat baru tercatat pindah bila ia keluar dari profesi itu.
Tekanan tinggi, pindah jarang
Angka kasarnya sudah menunjukkan pola. Di tingkat tekanan terendah, 11,0 persen pria dan 10,4 persen perempuan berganti pekerjaan tiap tahun. Di tingkat tertinggi, angkanya 10,1 persen untuk pria dan 7,3 persen untuk perempuan.
Setelah faktor lain diperhitungkan, pola itu bertahan. Peluang pria untuk pindah bergerak sempit, dari 12,7 persen sampai 10,2 persen. Pria paling sering pindah di tingkat menengah atas dan paling jarang di tingkat tertinggi.
Pada perempuan, turunnya lebih curam. Peluang pindah memuncak 13 persen di tingkat menengah bawah, lalu terus turun sampai 8,9 persen di tingkat tertinggi, kira-kira satu dari sebelas perempuan. Pria lebih sering pindah di semua tingkat lain, dan hanya di tingkat menengah bawah itu perempuan yang paling sering berganti pekerjaan.
Baca juga Kembali ke Kantor di Taipei, Nyeri Otot dan Cemas Pekerja Naik
Ijazah tidak membuka pintu
Pendidikan tinggi biasanya dianggap memperluas pilihan kerja. Naskah mencatat anggapan itu, sebab ijazah menaikkan daya tarik seseorang di pasar kerja dan sering dipakai pemberi kerja sebagai ukuran saat merekrut. Di pekerjaan bertekanan tinggi, anggapan itu tidak terbukti.
Pada pria, pendidikan hampir tidak mengubah apa pun. Pria bergelar sarjana di tingkat tertinggi sedikit lebih jarang pindah daripada pria berpendidikan lebih rendah. Pria bergelar magister atau doktor setara dengan mereka yang berpendidikan lebih rendah.
Pada perempuan, polanya berbalik tajam. Di dua tingkat menengah, perempuan berpendidikan tinggi lebih sering pindah daripada perempuan berpendidikan dasar atau menengah. Di tingkat tertinggi, merekalah yang paling jarang pindah.
Angkanya kecil. Peluang pindah perempuan bergelar sarjana di tingkat tertinggi hanya 5,9 persen. Untuk perempuan bergelar magister atau doktor angkanya 7,7 persen, beberapa poin di bawah perempuan tanpa pendidikan tinggi.
Guru dan tenaga kesehatan
Holtar lalu mencari asal pola itu. Guru dan tenaga kesehatan punya rata-rata tekanan kerja paling tinggi. Dua kelompok itu mengisi sekitar 68 persen catatan perempuan di tingkat tertinggi, kira-kira dua dari tiga.
Ia menghitung ulang tanpa kedua kelompok itu. Pada pria, gambaran umumnya hampir sama. Peluang pindah pria bergelar sarjana di tingkat tertinggi naik dari 9,4 persen menjadi 13,1 persen, dan pria bergelar magister atau doktor naik dari 10,6 persen menjadi 14,6 persen.
Pada perempuan, perubahannya jauh lebih besar. Peluang pindah perempuan bergelar sarjana naik menjadi 11,1 persen. Perempuan bergelar magister atau doktor melonjak dari 7,7 persen menjadi 18,1 persen, lebih dari dua kali lipat.
Hukuman bagi perempuan berpendidikan tinggi itu sebagian besar hilang. Kaitan antara tekanan tinggi dan jarangnya pindah pada perempuan juga jauh melemah. Menurut Holtar, pola tadi mencerminkan ciri profesi besar yang didominasi perempuan, bukan pola umum pasar kerja Norwegia.
Baca juga Penyakit Kerja Terduga Menumpuk di Tujuh Sektor Malaysia
Mengapa mereka bertahan
Naskah menawarkan beberapa penjelasan. Profesi guru dan tenaga kesehatan menuntut keahlian dan pengetahuan yang panjang. Pindah ke pekerjaan lain bisa berarti melepas hasil dari bekal yang sudah ditanam itu.
Keahlian yang khusus juga mempersempit pilihan. Pekerja menghadapi ketidakpastian yang lebih besar bila keluar, termasuk kemungkinan kehilangan pendapatan dan rasa aman. Karena itu mereka bisa enggan pindah walau tidak puas dengan kondisi kerjanya.
“Temuan ini menggugat anggapan bahwa kondisi kerja yang buruk mendorong orang berganti pekerjaan,” tulis Holtar dalam naskahnya. Kalimat itu aslinya berbahasa Inggris. Ia menambahkan bahwa pendidikan tinggi bisa memperkuat ikatan pada satu bidang profesi, bukan memperluas peluang keluar darinya.
Ada pula soal makna. Guru dan tenaga kesehatan kerap dikaitkan dengan identitas profesi yang kuat dan pekerjaan yang dianggap bernilai bagi masyarakat. Perempuan yang memilih profesi ini mungkin lebih menimbang sisi itu daripada imbalan ekonomi, tulis Holtar.
Sekali pindah, lebih ringan
Cerita berubah pada mereka yang sungguh pindah. Holtar memeriksa apakah pekerjaan barunya bertekanan lebih rendah. Di tingkat tertinggi, peluang itu 70,2 persen bagi pria dan 81,5 persen bagi perempuan.
Perempuan unggul hampir di semua tingkat. Di tingkat menengah bawah, peluangnya 33,3 persen berbanding 24,1 persen pada pria. Hanya di tingkat menengah atas keduanya nyaris sama, 54,8 persen dan 55,6 persen.
Keunggulan itu tidak bergantung pada guru dan tenaga kesehatan. Tanpa dua kelompok tersebut, peluang perempuan di tingkat tertinggi naik menjadi 90,0 persen. Peluang pria menjadi 74,5 persen, sehingga jarak keduanya malah melebar.
Holtar menduga perempuan lebih mengutamakan pekerjaan yang lebih ringan karena lebih sering memikul urusan pengasuhan. Pria, menurut rujukan dalam naskah, cenderung mengecilkan keluhan kesehatan. Tekanan tinggi juga bisa mereka terima sebagai harga bagi kestabilan keuangan atau karier.
Baca juga Distres Psikologis Naikkan Peluang Sulit Bayar Tagihan
Pendidikan tinggi pun tidak menolong di sini. Di tingkat tertinggi, perempuan berpendidikan dasar dan menengah yang pindah hampir selalu mendapat pekerjaan lebih ringan, dengan peluang 91,3 persen dan 92,3 persen. Perempuan bergelar sarjana hanya 62,8 persen.
Perempuan bergelar magister atau doktor berada di antaranya, 81,7 persen. Pria bergelar sarjana di tingkat tertinggi juga tertinggal. Peluang mereka 13,5 poin persentase di bawah pria berpendidikan menengah atas.
Tanpa guru dan tenaga kesehatan, jarak itu menyempit tetapi tidak hilang. Perempuan bergelar sarjana tetap jelas lebih jarang berpindah ke pekerjaan yang lebih ringan. Holtar membacanya sebagai tanda bahwa pendidikan tinggi bisa membatasi perempuan di luar dua profesi itu juga.
Batas dan catatan naskah
Penelitian ini punya batas yang diakui penulisnya. Data tidak membedakan pindah sukarela dari pindah terpaksa, dan tidak mencatat apakah alasannya pribadi atau menyangkut karier. Perpindahan bisa saja tidak berkaitan dengan tekanan kerja.
Pindah majikan atau sektor dalam pekerjaan yang sama juga tidak tercatat. Padahal langkah itu mungkin sudah meringankan beban. Nilai tekanan pun merupakan rata-rata tiap pekerjaan, bukan keadaan tiap orang, dan temuan ini menunjukkan kaitan, bukan sebab-akibat.
Ada beberapa hal yang bisa diperiksa pembaca. Peluang pindah ke pekerjaan lebih ringan di tingkat tertinggi ditulis 70,2 persen dan 81,5 persen pada satu bagian. Pada bagian lain, angka awal yang sama ditulis 72,2 persen dan 82,5 persen.
Selisih serupa muncul pada perempuan bergelar sarjana, 62,8 persen di satu bagian dan 64,7 persen di bagian lain. Naskah ini juga ditulis seorang penulis saja. Namun pernyataan kepentingannya memakai kata para penulis.
Yang tertinggal
Holtar menutup dengan satu akibat. Pekerja yang bertahan menanggung risiko kesehatan lebih besar daripada mereka yang keluar, dan pemberi kerja bisa menghadapi produktivitas yang turun, cuti sakit, dan pensiun dini. Karena itu ia meminta upaya mengurangi tekanan di tempat kerja, terutama di profesi besar yang didominasi perempuan dan sulit ditinggalkan.















