- COGAT menyatakan tidak ada barang komersial yang masuk ke Gaza selama dua hari.
- Israel menuding pungutan 10.000 shekel per truk oleh Hamas, tuduhan yang dibantah pemerintah Gaza.
- Serikat pengemudi truk Gaza menyebut hanya sekitar 300 truk masuk per hari, jauh di bawah 600 truk yang disepakati.
Cekricek.id — Otoritas Israel menyatakan tidak ada barang komersial yang masuk ke Jalur Gaza selama dua hari, dengan dalih sengketa pungutan antara pedagang lokal dan Hamas.
Coordinator of Government Activities in the Territories (COGAT), badan militer Israel yang mengurus urusan kemanusiaan di Gaza, mengumumkan penghentian itu pada Rabu, sebagaimana diberitakan Al Jazeera, Kamis (15/10/2026).
COGAT mengklaim para pedagang “mengambil keputusan itu sebagai respons atas pungutan 10.000 shekel (3.220 dolar AS) yang dikenakan Hamas pada setiap truk yang masuk ke Gaza”, serta tuntutan agar 30 persen penjualan di Gaza dilakukan secara tunai.
Keputusan itu diperkirakan memukul sumber pangan dan barang penting bagi 2,1 juta penduduk Gaza, yang sepenuhnya bergantung pada perlintasan perbatasan Israel di wilayah yang masih dilanda kelaparan.
Kantor media pemerintah Gaza membantah klaim itu pada Kamis dan mengecam “kampanye disinformasi terang-terangan dan pernyataan palsu”. Menurut kantor itu, pungutan tersebut merupakan sumbangan sukarela untuk dana bantuan bagi warga yang membutuhkan, seperti janda dan anak yatim. Pembayaran tunai dianjurkan karena kekurangan uang tunai yang akut, bukan kewajiban.
Penghentian pengiriman komersial, termasuk buah dan pakaian musim dingin, memutus sumber pangan dan pasokan penting menjelang musim dingin. Lembaga bantuan umumnya membawa bahan pokok seperti tepung, sedangkan pedagang mengimpor makanan yang mudah rusak seperti buah dan daging.
“Sektor kemanusiaan saja tidak dapat memenuhi kebutuhan semua orang,” kata Shaina Low, juru bicara Dewan Pengungsi Norwegia. “Pasar perlu berfungsi.”
“Koordinator Israel mengklaim pedagang Gaza yang bertanggung jawab, tetapi kenyataannya pihak Israel-lah yang memberlakukan pembatasan,” kata Nahed Sheheiber, kepala serikat pengemudi truk swasta Gaza. Serikatnya bertemu Kementerian Ekonomi Gaza dan menyebut Israel menjadikan pungutan kementerian sebagai dalih untuk memutus barang komersial.
Pada Juli, pemantau kelaparan global memperingatkan lebih dari dua pertiga warga Gaza bisa menghadapi kelaparan akut pada akhir tahun. Berdasarkan kesepakatan yang dimediasi AS, Israel wajib mengizinkan sedikitnya 600 truk bantuan masuk ke Gaza setiap hari. Sheheiber menyebut jumlah yang masuk hanya sekitar 300 truk, dua pertiganya membawa barang komersial.















