Cekricek.id — Sistem angkutan barang di Jalur Gaza tinggal menyisakan seperempat dari kapasitas sebelum perang. Kondisi itu membuat penyaluran bantuan tersendat meski truk sudah diizinkan melintasi perbatasan, dan mendorong penduduk kembali ke ambang kelaparan.
Dikutip dari Anadolu, Senin (10/8/2026), Euro-Med Human Rights Monitor menyatakan Israel secara sengaja mengganggu angkutan dan pengiriman barang dengan menghancurkan truk serta gudang milik perusahaan transportasi. Lembaga pemantau itu menyampaikan penilaiannya pada Minggu (9/8/2026).
“Israel menerapkan kebijakan menyeluruh yang mengacaukan seluruh rantai pasok, mulai dari masuknya barang dan bantuan lewat perlintasan sampai barang itu tiba pada penduduk,” demikian pernyataan lembaga tersebut.
Dari 1.200 Truk Menjadi 300
Ketua Asosiasi Angkutan Swasta Gaza Nahed Shuhibar menuturkan, sebelum perang wilayah itu memiliki sekitar 1.200 truk. Armada tersebut mengangkut pangan, obat-obatan, bahan bakar, pakan ternak, material bangunan, dan berbagai kebutuhan pokok lain ke seluruh penjuru Jalur Gaza.
“Sejak saat itu hanya sekitar 400 truk yang tersisa setelah pengeboman dan penghancuran oleh Israel, dan sekitar 100 di antaranya tidak berfungsi karena pembatasan masuknya suku cadang, ban, oli, dan aki,” kata Nahed Shuhibar.
“Akibatnya, hanya sekitar 300 truk atau 25 persen dari armada semula yang kini benar-benar bisa beroperasi,” ujarnya.
Persoalan tidak berhenti pada kendaraan lama. Menurut Euro-Med, sejumlah truk yang baru didatangkan ke Jalur Gaza juga sudah berhenti beroperasi, sehingga penambahan armada tidak serta-merta menambah kapasitas angkut.
Izin Masuk Tidak Menjamin Bantuan Sampai
Menurut Euro-Med, izin melintas bagi truk tidak menjamin muatannya tiba pada mereka yang membutuhkan. Alasannya, prasarana angkutan, penyimpanan, dan distribusi di dalam wilayah itu sudah rusak atau lumpuh sehingga barang menumpuk sebelum sempat dibagikan.
Lembaga itu menegaskan kewajiban Israel berdasarkan hukum humaniter internasional tetap berlaku, terlepas dari ada tidaknya koordinasi dengan pihak mana pun.
“Kewajiban itu mencakup menghindari serangan terhadap warga sipil dan bangunan sipil, melindungi pekerja bantuan dan kendaraan mereka, mengambil segala tindakan pencegahan untuk menekan korban selama operasi militer, serta memungkinkan penyaluran bantuan kemanusiaan secara cepat dan tanpa hambatan,” bunyi pernyataan itu.
Peringatan Fase Kelima
Merujuk keterangan Kepala Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan PBB untuk Palestina Justin Brady, pemantau itu menyebut Jalur Gaza menghadapi darurat pangan yang bisa naik ke Fase 5 dalam Klasifikasi Terpadu Fase Ketahanan Pangan apabila arus bantuan menyusut. Fase 5 adalah tingkat tertinggi dalam klasifikasi tersebut.
Dengan analisis yang sama, Euro-Med memperkirakan sekitar 212 ribu orang atau hampir 10 persen penduduk Gaza akan tetap berada pada Fase 4, tahap kedua tertinggi.
“Perbandingan dengan data tahun lalu menegaskan bahwa krisis kemanusiaan di Jalur Gaza masih sangat parah,” kata lembaga itu, sembari menekankan bahwa pengurangan volume bantuan kemanusiaan sekecil apa pun dapat dengan cepat memperburuk kondisi hidup yang sudah rapuh.
Kelumpuhan angkutan itu bersinggungan langsung dengan layanan darurat yang sedang dibangun di wilayah utara, termasuk rumah sakit lapangan yang bergantung pada pasokan rutin obat dan bahan bakar. Belum ada keterangan dari pihak Israel atas penilaian Euro-Med, sementara krisis pangan di wilayah itu terus dipantau lembaga-lembaga PBB.





















