Disabilitas Vietnam: Divaksin Setara, Jalan ke Sana Tak Setara

A A

Penyandang disabilitas menerima kursi roda bantuan di Danang, Vietnam [Foto: USAID Vietnam/Wikimedia Commons Domain Publik]

  • Cakupan vaksinasi penyandang disabilitas dan tanpa disabilitas di Vietnam nyaris sama, 89,2% vs 88,5%
  • 28,1% penyandang disabilitas kesulitan bepergian ke lokasi vaksinasi, dibanding 1,1% tanpa disabilitas
  • 37,2% penyandang disabilitas melaporkan kesejahteraan memburuk akibat pembatasan, vs 19,1%
  • Abstrak dan Tabel 4 pada naskah mencatat dua angka berbeda untuk penerimaan APD/kit higiene
Daftar Isi
  1. Sama-Sama Divaksin
  2. Tak Sama Jalan ke Sana
  3. Yang Diringankan Pandemi
  4. Yang Dibebani Pandemi
  5. Batas yang Diakui Peneliti
  6. Angka yang Tak Sejalan

Delapan koma delapan persen berbanding tujuh belas koma sembilan persen. Angka pertama adalah proporsi penyandang disabilitas di tiga kota besar Vietnam yang terdiagnosis Covid-19 selama gelombang keempat pandemi; angka kedua proporsi orang tanpa disabilitas yang mengalami hal serupa. Pada indikator ini, penyandang disabilitas justru tampak lebih aman. Namun pada indikator lain dalam survei yang sama, dua puluh delapan koma satu persen penyandang disabilitas mengaku kesulitan bepergian ke lokasi vaksinasi, dibanding satu koma satu persen orang tanpa disabilitas.

Data itu ditulis Sarah Marks, Vu Quynh Mai, Luong Anh Ngoc, Xanthe Hunt, Divya Goyal, Hoang Van Minh, dan Lena Morgon Banks dalam Access to and self-reported health impacts of COVID-19 prevention measures on people with disabilities in Vietnam: Results from a cross-sectional study in three mega-cities, terbit di BMC Public Health volume 26 nomor artikel 1661, tahun 2026. Tim ini berasal dari London School of Hygiene and Tropical Medicine dan Hanoi University of Public Health.

Peserta penyandang disabilitas direkrut lewat Organisasi Penyandang Disabilitas di tiga kota itu, lalu dicocokkan dengan peserta tanpa disabilitas berdasarkan jenis kelamin, usia, dan lokasi. Kelompok disabilitas juga cenderung lebih miskin, dengan hanya 74,5 persen tergolong tidak miskin dibanding 95,7 persen pada kelompok pembanding, dan lebih tua, dengan 12,1 persen berusia 65 tahun ke atas berbanding 6,4 persen.

Sama-Sama Divaksin

Pada satu ukuran yang paling penting, kedua kelompok nyaris tidak berbeda. Survei terhadap 898 orang dewasa di Ha Noi, Ho Chi Minh City, dan Da Nang, yang berlangsung Desember 2021 hingga Januari 2022, mencatat delapan puluh sembilan koma dua persen penyandang disabilitas telah divaksinasi lengkap, dibanding delapan puluh delapan koma lima persen orang tanpa disabilitas. Rasio prevalensinya 1,0 dengan interval kepercayaan 95 persen 0,9 sampai 1,1, yang secara statistik berarti tidak ada beda.

Kesamaan itu tercapai meski strategi vaksinasi Vietnam pada mulanya tidak secara eksplisit menyasar penyandang disabilitas. Prioritas diberikan lebih dulu kepada petugas garis depan dan kelompok berisiko tinggi mengalami gejala berat, baru kemudian meluas ke populasi umum. Peneliti menduga cakupan yang setara ini justru dicapai lewat upaya sendiri para penyandang disabilitas dan keluarganya menembus sistem yang tidak ramah, bukan karena prosesnya memang dirancang inklusif sejak awal.

Tak Sama Jalan ke Sana

Di sisi lain, jalan menuju vaksin itu jauh dari setara. Penyandang disabilitas 4,4 kali lebih mungkin kesulitan mendapatkan informasi vaksin, dengan interval kepercayaan 95 persen 2,5 sampai 7,8. Mereka juga 1,8 kali lebih mungkin kesulitan mengatur janji temu, dan 24,5 kali lebih mungkin kesulitan sekadar bepergian ke lokasi vaksinasi, dengan interval kepercayaan yang sangat lebar, 9,2 sampai 65,7.

Begitu tiba di lokasi, hambatan belum selesai. Penyandang disabilitas 2,4 kali lebih mungkin mengalami masalah saat menunggu di tempat vaksinasi, dan 11,9 kali lebih mungkin menghadapi interaksi bermasalah dengan petugas, dengan interval kepercayaan 95 persen 4,8 sampai 29,5. Interval yang sangat lebar pada hambatan bepergian, menurut peneliti, kemungkinan mencerminkan perbedaan tajam antarjenis disabilitas, karena sebagian orang menghadapi rintangan fisik yang jauh lebih berat daripada yang lain.

Hambatan mengakses vaksinasi Covid-19Info vaksin 16,4% ke 3,9%; Janji temu 11,4% ke 6,6%; Perjalanan ke lokasi 28,1% ke 1,1%; Menunggu di lokasi 19,8% ke 8,8%; Interaksi petugas 13,1% ke 1,4%.Hambatan mengakses vaksinasi Covid-19Peserta dewasa yang melaporkan kesulitan, per jenis hambatanDisabilitasTanpa disabilitas0%10%20%30%Info vaksin3,9%16,4%Janji temu6,6%11,4%Perjalanan ke lokasi1,1%28,1%Menunggu di lokasi8,8%19,8%Interaksi petugas1,4%13,1%Perjalanan ke lokasi vaksinasi: rasio prevalensi 24,5 kali (95% CI9,2-65,7).
Sumber: Sarah Marks, Vu Quynh Mai, Luong Anh Ngoc, Xanthe Hunt, Divya Goyal, Hoang Van Minh, dan Lena Morgon Banks, Access to and self-reported health impacts of COVID-19 prevention measures on people with disabilities in Vietnam, BMC Public Health, 26(1661), 2026. Grafik: Cekricek.id

Salah satu penyebab lain kesenjangan ini, menurut peneliti, adalah aplikasi pelacakan kontak yang dipakai untuk masuk ke tempat umum termasuk fasilitas kesehatan. Sebagian fitur aplikasi itu tidak bisa diakses pengguna pembaca layar atau talk-back, dan mengasumsikan semua orang mampu membeli akses internet, padahal pendapatan banyak penyandang disabilitas justru menyusut selama pandemi.

Yang Diringankan Pandemi

Bukan cuma soal vaksin, satu bagian dari cerita ini justru tampak meringankan penyandang disabilitas. Mereka melaporkan gejala Covid-19 pada empat belas koma delapan persen kasus, dibanding dua puluh tiga koma empat persen pada orang tanpa disabilitas, dengan rasio prevalensi 0,7. Di antara yang bergejala dan diuji, hanya delapan koma delapan persen penyandang disabilitas yang akhirnya terdiagnosis, dibanding tujuh belas koma sembilan persen pada kelompok pembanding, rasio prevalensi 0,5.

Peneliti menduga sebagian penyandang disabilitas lebih terlindung karena membatasi diri di rumah secara ketat, bukan semata pilihan sadar, melainkan juga akibat keterbatasan mobilitas yang memang membatasi mereka keluar rumah. Cara pengujian ikut berperan: tujuh puluh tujuh persen penyandang disabilitas yang diuji memakai tes cepat, sedangkan pada orang tanpa disabilitas proporsi tes PCR jauh lebih tinggi, empat puluh satu koma tujuh persen, yang lebih akurat mendeteksi kasus.

Yang Dibebani Pandemi

Namun pada ukuran yang menyangkut kehidupan sehari-hari, bebannya berbalik sepenuhnya. Tiga puluh tujuh koma dua persen penyandang disabilitas melaporkan kesejahteraan mereka memburuk signifikan akibat pembatasan Covid-19, dibanding sembilan belas koma satu persen orang tanpa disabilitas, rasio prevalensi 1,8. Akses ke obat dan layanan kesehatan umum juga jomplang, dua puluh dua koma delapan persen berbanding tujuh koma sembilan persen, rasio prevalensi 2,6.

Dampak Covid-19: disabilitas vs tanpa disabilitasKesejahteraan memburuk 37,2% pada disabilitas, 19,1% tanpa disabilitas.Dampak Covid-19: disabilitas vs tanpa disabilitasSurvei tiga kota besar Vietnam, Desember 2021-Januari 2022, n=898DisabilitasTanpa disabilitas37,2%19,1%Kesejahteraanmemburuk22,8%7,9%Akses layanankesehatan umum16,4%3,9%Sulit info vaksin12,9%3,6%Sulit cucitangan/higiene24,6%16,5%Menerima APD/kithigienePersentase peserta yang melaporkan kondisi tersebut dibandingsebelum pandemi.
Sumber: Sarah Marks, Vu Quynh Mai, Luong Anh Ngoc, Xanthe Hunt, Divya Goyal, Hoang Van Minh, dan Lena Morgon Banks, Access to and self-reported health impacts of COVID-19 prevention measures on people with disabilities in Vietnam, BMC Public Health, 26(1661), 2026. Grafik: Cekricek.id

Di antara penyandang disabilitas yang butuh layanan terkait disabilitasnya, tiga puluh lima koma satu persen melaporkan akses layanan kesehatan memburuk signifikan, dua puluh satu koma dua persen kehilangan bantuan personal, sembilan belas koma empat persen kesulitan mendapat obat, dan empat belas koma empat persen kesulitan mendapat alat bantu. Kepatuhan pada protokol pencegahan pun lebih berat, karena mereka 1,6 kali lebih sulit memakai masker dan 3,6 kali lebih sulit menjalankan cuci tangan.

Vietnam menerapkan mandat masker yang cukup ketat, termasuk denda finansial bagi yang melanggar. Ketentuan itu, menurut peneliti, kemungkinan ikut memperberat posisi penyandang disabilitas, yang sudah 1,6 kali lebih sulit memakai masker dibanding orang tanpa disabilitas, tanpa mempertimbangkan kebutuhan sebagian dari mereka yang mengandalkan pembacaan bibir atau bahasa isyarat.

Baca juga Ketika Kepercayaan pada Dokter Dalam Negeri Retak

Batas yang Diakui Peneliti

“These findings indicate that while high vaccination coverage is achievable, disproportionate structural barriers faced by people with disabilities call for inclusive, targeted strategies in future public health emergencies,” tulis Sarah Marks dan Lena Morgon Banks dalam naskah berbahasa Inggris mereka. Kalimat itu bisa diterjemahkan: cakupan vaksinasi tinggi memang bisa dicapai, tetapi hambatan struktural yang tidak proporsional dialami penyandang disabilitas menuntut strategi inklusif dan tersasar untuk keadaan darurat kesehatan masyarakat di masa depan.

Peneliti sendiri mengakui batas kajiannya. Disabilitas fisik terlalu terwakili dalam sampel, sehingga hambatan bepergian ke lokasi vaksinasi bisa jadi lebih menonjol dibanding bila sampelnya mewakili jenis disabilitas lain secara merata. Wawancara dilakukan lewat telepon karena keterbatasan pandemi, yang berarti orang tanpa akses ke telepon seluler, sering kali mereka yang paling miskin, kemungkinan tidak terjangkau survei ini sama sekali.

Baca juga Tiga Tahun Tanpa Perubahan, Lalu Berobat ke Malaysia

Angka yang Tak Sejalan

Ada satu kejanggalan yang bisa diperiksa pembaca sendiri. Ringkasan pada bagian abstrak naskah menyebut penyandang disabilitas 2,9 kali lebih mungkin menerima alat pelindung diri atau produk higiene, dengan interval kepercayaan 95 persen 2,0 sampai 4,1. Namun Tabel 4 di badan artikel, untuk indikator persis yang sama, mencantumkan angka berbeda, yaitu dua puluh empat koma enam persen berbanding enam belas koma lima persen, dengan rasio prevalensi 1,6.

Kedua angka itu tidak mungkin sama-sama benar untuk pasangan persentase yang identik, dan naskah tidak menjelaskan dari mana selisihnya berasal. Perbedaan semacam ini tidak mengubah arah temuan utama penelitian, sebab kedua angka tetap menunjukkan penyandang disabilitas lebih sering menerima bantuan itu dibanding orang tanpa disabilitas. Namun ia mengingatkan bahwa artikel yang sudah melalui tinjauan sejawat pun bisa menyimpan detail yang belum sepenuhnya konsisten.

Baca juga Anggaran Gender Kota Padang Naik, Isinya Masih Formalitas

Dua sisi cerita ini berjalan berdampingan tanpa saling meniadakan. Penyandang disabilitas di tiga kota besar Vietnam divaksinasi hampir sama banyak dengan tetangga mereka yang tidak menyandang disabilitas, dan tercatat lebih jarang terdiagnosis Covid-19 sepanjang survei berlangsung. Namun untuk sampai ke titik itu, mereka harus melewati rintangan informasi, jarak tempuh, dan interaksi dengan petugas yang jauh lebih berat, sembari menanggung kemunduran kesejahteraan dan akses layanan kesehatan yang tidak dialami sebanyak itu oleh kelompok pembanding mereka.

Bagikan

Baca Juga

Pola Musiman Diare Akut di Fiji Memuncak Tiap Awal Tahun
Sindrom Sirkadian Prediktor Kuat Gangguan Kognitif Lansia
Pengetahuan dan Praktik Higiene Menstruasi Siswi Sri Lanka
Skor Framingham dan Risiko Jantung Warga Miskin Malaysia
Suhu Panas Ikut Mendorong Naiknya Kasus Flu di China
Skor Kualitas Hidup Lansia Jantung Vietnam di Bawah Rata-rata