- Ben Davis mengaku kontraknya di FAO tidak diperpanjang setelah mengkritik kebijakan Israel di Gaza.
- Ia dituduh mengorganisasi aksi hening mingguan atas kelaparan di Gaza di markas FAO di Roma.
- Dirjen FAO Qu Dongyu menyatakan akan memecat lebih banyak orang jika mereka melanggar aturan.
Cekricek.id — Seorang direktur senior badan PBB, Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO), mengaku kehilangan jabatannya karena mengkritik kebijakan Israel di Gaza.
Ben Davis, yang sebelumnya menjabat Direktur Transformasi Perdesaan dan Kesetaraan Gender FAO, mengatakan kepada kantor berita AFP pada Rabu bahwa ia diberi tahu pada Juli kontraknya tidak diperpanjang karena dianggap melanggar aturan imparsialitas, menurut laporan Al Jazeera, Jumat (2/10/2026). Ia dituduh mengorganisasi aksi hening mingguan di organisasi yang bermarkas di Roma itu.
“Mereka menuduh saya mengorganisasi momen hening ini atas situasi kelaparan di Gaza,” kata Davis. Ia juga dikritik atas laporan tentang ketersediaan pangan di Gaza dan hukum humaniter yang terbit pada Mei. “Kami disuruh menurunkannya. Kami tidak diizinkan merujuk hukum humaniter sama sekali,” ujarnya.
Dirjen FAO Ancam Pecat Lebih Banyak Staf
Direktur Jenderal FAO Qu Dongyu pada Selasa tampak memperingatkan staf FAO dalam pernyataan terbuka di awal sesi tentang kehutanan yang direkam. “Kami tidak mengizinkan Anda memainkan permainan hak asasi manusia di sini,” katanya.
“Tentu hak asasi manusia sangat penting, tetapi kita punya badan hak asasi manusia di Jenewa. Kalau Anda ingin mengurusnya, pergilah ke sana,” kata Qu. “Saya akan memecat lebih banyak orang jika mereka melanggar aturan.”
FAO tidak menanggapi permintaan komentar AFP. Ditanya apakah menurutnya ucapan direktur jenderal itu tentang dirinya, Davis menjawab “tentu saja”. “Ia sudah pernah menegur saya di depan umum karena dianggap terlalu politis,” katanya. Davis juga mengaku “khawatir” atas pernyataan soal memecat lebih banyak orang.
Menurut Davis, ratusan orang menghadiri aksi hening itu pada puncaknya, sedangkan kini hanya 30 sampai 40 orang yang datang tiap pekan. Perang Israel di Gaza telah menewaskan lebih dari 74.000 orang sejak Oktober 2023, dan sedikitnya 1.431 warga Palestina tewas dalam serangan Israel sejak gencatan senjata antara Hamas dan Israel disepakati pada Oktober 2025.















