Cekricek.id — Hamas menyatakan tetap siap menjalankan rencana damai Gaza yang disokong Amerika Serikat dan mendesak Washington menekan Israel, yang justru menegaskan belum menyetujui bagian terbaru dari kesepakatan itu.
Mengutip laporan The Straits Times yang bersumber dari AFP, Sabtu (8/8/2026), Hamas telah menyampaikan sikapnya kepada Board of Peace bentukan Presiden AS Donald Trump. Dalam tahap yang sedang dibahas, kelompok tersebut akan menyerahkan senjata kepada komite pemerintahan Palestina yang baru dibentuk di wilayah yang porak-poranda akibat perang itu.
"Hamas dan faksi-faksi lain telah menegaskan kepada para mediator kesiapan mereka untuk mulai menerapkan kesepakatan dan beralih ke fase kedua, dengan syarat kesepakatan itu mendapat persetujuan Israel dan Israel mulai menjalankannya," kata seorang pejabat Hamas kepada AFP.
Pejabat yang berbicara dengan syarat anonim itu menambahkan, "Hamas mendesak pemerintah AS untuk memberi tekanan kepada Israel agar mematuhi kesepakatan dan beralih ke fase kedua."
Netanyahu: Israel Tidak Menyetujui Draf Itu
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan pada 4 Agustus bahwa negaranya tidak menyetujui "draf" yang disodorkan Board of Peace. Netanyahu tengah menghadapi pertarungan pemilihan ulang yang berat pada Oktober mendatang, sekaligus penolakan luas dari basis sayap kanannya terhadap kesepakatan Gaza.
Pekan lalu, Trump sempat menyebut kesediaan Hamas melucuti senjata sebagai terobosan. Board of Peace menyatakan Israel secara paralel akan melakukan penarikan bertahap dari sebagian besar wilayah Gaza.
Namun pada 3 Agustus, Netanyahu bertemu perwakilan tinggi Board of Peace untuk Gaza, Nickolay Mladenov. Setelah pertemuan itu Mladenov menarik pernyataannya dan mengatakan Israel baru akan mundur setelah Hamas melucuti senjata secara tuntas.
Baca juga: Israel-Hamas Gencatan Senjata 4 Hari, Harapan Baru bagi Korban Perang di Gaza
Isi Kesepakatan: 14 Hari Inventarisasi, 200-300 Hari Pelucutan
Menurut penjelasan Al Jazeera mengenai kesepakatan yang diumumkan Board of Peace pada akhir Juli, pelucutan senjata Hamas dilakukan bertahap dan dikaitkan langsung dengan penarikan pasukan Israel. Inventarisasi senjata harus disiapkan dalam 14 hari, sementara proses pelucutan diperkirakan memakan waktu 200 hingga 300 hari. Senjata berat, situs militer, dan jaringan terowongan menjadi sasaran pertama.
Board of Peace sendiri dipimpin Trump. Dewan eksekutifnya beranggotakan tujuh orang, di antaranya Tony Blair, Jared Kushner, dan Marco Rubio. Sebuah Pasukan Stabilisasi Internasional beranggotakan sekitar 5.000 personel di bawah komando jenderal Amerika disiapkan untuk mendampingi kepolisian Palestina yang baru. Mesir, Qatar, Turki, dan AS bertindak sebagai mediator, sedangkan pemerintahan Gaza akan dijalankan komite teknokratik tanpa keterlibatan Hamas.
Baca juga: Pasukan Israel Tembak Mati 11 Warga Palestina yang Menunggu Truk Bantuan Pangan
Serangan Menurun, tapi Belum Berhenti
Militer Israel bersumpah terus memukul Hamas, kelompok yang melancarkan serangan paling mematikan terhadap Israel pada 7 Oktober 2023. Meski demikian, operasi Israel di Gaza terlihat menurun intensitasnya dalam beberapa hari terakhir. Pada Sabtu, Rumah Sakit Nasser di Khan Yunis melaporkan tiga orang terluka akibat tembakan tentara Israel.
Sejak Oktober tahun lalu, ketika kedua pihak menyepakati gencatan senjata yang didukung Trump, operasi Israel di Gaza telah menewaskan 1.257 warga Palestina. Angka itu berasal dari kementerian kesehatan wilayah tersebut, yang beroperasi di bawah otoritas Hamas namun datanya dinilai kredibel oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa. Pada periode yang sama, militer Israel melaporkan lima prajuritnya tewas.
Baca juga: Ratu Rania Kecam Sikap Diam Barat Terhadap Serangan Israel di Gaza
Para analis yang dikutip Al Jazeera menyatakan skeptis terhadap kepatuhan Israel dan lemahnya mekanisme verifikasi, dengan menunjuk pola pelanggaran pada kesepakatan-kesepakatan sebelumnya serta tekanan politik dalam negeri yang dihadapi Netanyahu.


















