Daftar Isi
Cekricek.id — Sepotong semangka muncul di poster unjuk rasa, di kaus, dan di foto profil orang-orang yang tidak pernah menginjak Gaza, dan hampir tidak ada yang berhenti untuk menanyakan hubungannya. Buah itu dipotong melintang, sehingga daging merahnya, kulit hijaunya, dan bijinya yang hitam terlihat sekaligus. Tidak ada keterangan yang menyertainya. Justru karena tidak ada keterangan itulah gambar tersebut bekerja: yang mengerti langsung mengerti, dan yang ingin melarangnya kesulitan menuliskan alasan larangannya.
Dua peneliti Universitas Airlangga, Annisa Maulidina Haqi dan Johny A. Khusyairi, mencoba menjelaskan cara kerja itu. Mereka menulis Analisis Semiotik Roland Barthes terhadap Simbol Budaya Palestina di Ruang Publik Digital: Semangka, Pohon Zaitun, dan Kunci, yang terbit di jurnal Metahumaniora Vol. 15 No. 1 pada April 2025. Bahan utamanya tiga poster digital dari kampanye Artists Against Apartheid yang dibagikan akun @againstapartheid.art dan bisa diunduh gratis dari situs kampanye tersebut. Perangkat kampanye itu berisi seratus poster karya seniman dari berbagai negara.
Alat bacanya semiotika Roland Barthes, dan kerangkanya sederhana. Barthes membedakan penanda, yaitu bentuk fisik sebuah tanda, dari petanda, yaitu makna yang diasosiasikan dengannya. Dari sana ia memilah dua tingkat makna: denotasi, makna pertama yang harfiah, dan konotasi, makna kedua yang lebih luas. Contoh yang dipakai kedua peneliti adalah batik, yang pada tingkat denotasi hanya kain dengan pola tertentu, sementara pada tingkat konotasi menjadi identitas nasional Indonesia.
Ruang tempat simbol itu beredar juga bukan latar yang netral. Kedua peneliti mencatat perlawanan budaya Palestina lewat media dimulai jauh sebelum internet, sejak awal abad ke-20 lewat koran lokal seperti Al-Karmel, merujuk tulisan Khoury-Machool. Yang berubah adalah siapa yang boleh menyiarkan. Media sosial membuat warga biasa menjadi produsen konten, dan poster yang dulu harus dicetak lalu ditempel kini cukup diunduh, diunggah ulang, dan berpindah negara dalam hitungan jam.
Cara Larangan Melahirkan Simbol

Semangka tidak menjadi bendera karena seseorang memutuskannya dalam sebuah rapat. Ia menjadi bendera karena bendera yang asli dilarang. Sesudah Perang Enam Hari pada 1967, otoritas Israel melarang pengibaran bendera Palestina, dan larangan itu meluas sampai ke penggunaan warna merah, putih, hijau, dan hitam. Laporan Amnesty International UK yang dikutip kedua peneliti mencatat pembatasan atas bendera Palestina kembali diperketat pada 2023. Para seniman lalu mencari sesuatu yang tidak bisa dijerat, dan menemukannya pada buah yang kebetulan menyimpan seluruh warna itu.
Baca juga Fiksi Ilmiah Indonesia dan Kata yang Dipinjamnya
Karya yang paling sering disebut adalah lukisan semangka Khaled Hourani, yang pertama muncul dalam buku Subjective Atlas of Palestine pada 2007. Hourani menaruh buah itu sebagai pengganti bendera dan mengajak penontonnya membaca karya tersebut melampaui fungsi buahnya. Simbol itu sempat tenggelam bertahun-tahun, lalu naik lagi pada 2021 ketika seniman seperti Sarah Hatahet dan Beesan Arafat memakainya dalam karya digital. Media sosial yang menyebarkannya, dan di sanalah ia berubah dari sindiran lokal menjadi tanda yang dipakai orang di banyak negara.
Poster pertama yang dianalisis dibuat Shawna Farinango dari Kanada dan diberi judul “Indigeneous Solidarity with Palestine!”. Di dalamnya ada enam lengan dengan warna kulit berbeda, dari kuning langsat sampai gelap, masing-masing menggenggam potongan semangka. Latarnya pola keffiyeh, kain katun kotak-kotak yang mula-mula dipakai sebagai pelindung dari matahari di Timur Tengah dan belakangan menjadi lambang identitas. Kedua peneliti membaca lengan-lengan itu sebagai solidaritas masyarakat adat, dari Maori di Selandia Baru sampai komunitas di Amerika Latin, yang sama-sama berhadapan dengan perampasan tanah.
Cara Tanda Berpindah Tingkat
Mekanismenya terletak pada perpindahan tingkat tadi. Pada tingkat pertama semangka adalah buah; pada tingkat kedua ia bendera yang tidak bisa disita. Yang membuat perpindahan itu awet adalah kemiripan warna yang tidak perlu dijelaskan siapa pun kepada siapa pun. Sebuah simbol justru paling kuat ketika ia terlihat wajar, dan Barthes menyebut gejala semacam itu ex-nomination, yaitu ideologi yang tampak alami sehingga tidak lagi perlu dijelaskan atau dipertanyakan. Ideologi bekerja di luar struktur formal tandanya, tetapi tetap menentukan cara orang membaca tanda tersebut.
Perhatian pada perlawanan budaya sendiri jarang diberikan. Kedua peneliti mengutip Edward Said, yang menilai perlawanan budaya terhadap imperialisme jarang mendapat tempat yang cukup dalam kajian pemikiran budaya arus utama. Kajian tentang Palestina lebih sering berhenti pada politik dan sejarah. Yang mereka coba tambahkan justru bagian yang kelihatannya sepele, yaitu gambar buah, sehelai kain, dan sebatang kunci yang beredar di telepon genggam orang.
Perpindahan makna juga bisa berjalan ke arah sebaliknya. Frasa “From the river to the sea, Palestine will be free” yang tercetak di poster pertama menyerukan kebebasan di wilayah antara Sungai Yordan dan Laut Tengah. Merujuk tulisan Gould yang dikutip kedua peneliti, frasa itu belakangan ditafsirkan ulang secara negatif oleh kelompok advokasi pro-Israel. Anggota parlemen Inggris McDonald ditangguhkan dari partainya sesudah memakai frasa tersebut dalam pidato yang menyerukan hidup damai bagi warga Palestina maupun Israel, sementara Rashida Tlaib dikenai sanksi Kongres Amerika Serikat karena alasan serupa.
Baca juga Dua Gelembung di Rontgen Perut Bayi Lima Hari
Kampanye itu sendiri dirancang untuk berpindah tangan. Teks yang menyertai koleksi posternya mengajak siapa saja memajang karya-karya tersebut di ruang komunitas, galeri, dan jalanan, dan seluruh berkasnya bisa diunduh tanpa bayar. Poster yang bisa diunduh gratis dengan sendirinya kehilangan satu lokasi pemasangan. Ia bisa muncul di dinding sebuah kota, di layar kunci telepon, atau di unggahan orang yang tidak pernah bertemu pembuatnya.
Cara Pohon dan Kunci Menyimpan Ingatan
Dua simbol lain bekerja dengan cara berbeda, sebab keduanya benda yang memang ada di rumah orang. Pohon zaitun lebih dulu menjadi sumber penghidupan sebelum menjadi lambang. Mengutip Karkar, kedua peneliti mencatat lebih dari satu juta pohon zaitun dan ratusan ribu pohon buah lain dihancurkan di wilayah Palestina selama lebih dari empat dekade, dengan dampak ekonomi sekaligus ekologis. Tradisi panennya bahkan punya nama sendiri, al Ouna, ketika keluarga dan petani memetik bersama-sama pada Oktober dan November.
Poster kedua, karya seniman berinisial T dari Amerika Serikat, hanya menampilkan setangkai zaitun di latar hitam. Daun bagian atasnya putih, bagian bawahnya hijau, dan buahnya merah. Susunan warna itu bukan pilihan hias: kedua peneliti menelusuri asalnya sampai puisi abad ke-13 karya penyair Arab Safi al-Din al-Hili, yang membaca putih sebagai tindakan mulia, hitam sebagai pertempuran, hijau sebagai ladang, dan merah sebagai pedang. Bendera dengan warna-warna itu diadopsi Pemerintah Palestina pada 18 Oktober 1948 dan diresmikan Organisasi Pembebasan Palestina pada 1964.
Kunci bekerja paling langsung. Al-miftaah, kunci rumah, dibawa keluar oleh keluarga-keluarga yang terusir pada Nakba 1948, ketika sekitar 700 ribu orang meninggalkan rumah mereka menyusul berdirinya negara Israel. Kunci itu diwariskan turun-temurun meski pintu yang cocok dengannya sudah lama tidak ada lagi. Poster ketiga, karya Belfactivist dari Irlandia Utara, menaruh kunci tersebut bersama burung-madu Palestina yang ditetapkan sebagai burung nasional pada 2015, bunga poppy merah, dan peta Palestina bermotif keffiyeh.
Burung sepanjang delapan sampai dua belas sentimeter itu dipilih bukan sekadar karena namanya membawa nama Palestina, tetapi juga karena perannya sebagai penyerbuk tanaman. Bunga poppy, merujuk tulisan Abufarha yang dikutip paper, adalah bunga musim semi yang biasa dipetik anak-anak dari lereng bukit dan diyakini merah karena darah para martir. “Simbol visual seperti semangka, pohon zaitun, dan kunci bukan sekadar elemen dekoratif, tetapi memiliki makna ideologis yang mendalam dalam konteks perjuangan dan identitas nasional Palestina,” tulis Haqi dan Khusyairi.
Baca juga Kilas Balik yang Menjelaskan Dendam Ratu Charlotte
Keffiyeh yang menjadi latar poster-poster itu punya kosakata sendiri. Pola daun zaitun pada kainnya dibaca sebagai ketangguhan, pola jaring ikan sebagai hubungan masyarakat Palestina dengan Mediterania berikut peran nelayannya, dan pola tebal sebagai rute perdagangan yang menghubungkan Palestina dengan tetangga di sekitarnya. Kain hitam putih itu menguat sebagai lambang perjuangan sejak Pemberontakan Arab melawan penjajahan Inggris pada 1930-an. Yasser Arafat kemudian melipatnya segitiga dan menyampirkannya di bahu, dan sejak itu kain tersebut melekat sebagai identitas visual sebuah bangsa.
Di Mana Pembacaan Ini Berhenti
Penjelasan itu berhenti di beberapa tempat. Bahan yang dibaca hanya tiga poster dari satu kampanye, dan ketiganya dipilih justru karena memuat tiga simbol yang hendak dibahas, sehingga tidak bisa dipakai untuk menggambarkan seluruh seni solidaritas Palestina di ruang digital. Kedua peneliti juga tidak menguji bagaimana khalayak menerima poster-poster itu. Mereka mengusulkan hal tersebut sebagai penelitian lanjutan, bersama pertanyaan tentang bagaimana negara dan organisasi internasional merespons simbol semacam ini. Perbandingan dengan gerakan dekolonial lain di belahan dunia yang berbeda juga masih terbuka dan belum mereka kerjakan.
Latar tempat simbol itu beredar juga tidak ringan. Paper tersebut mengutip data Perserikatan Bangsa-Bangsa bahwa sampai September 2024 sebanyak 693 warga Palestina tewas di Tepi Barat termasuk Yerusalem Timur, dan mengutip laporan BBC bahwa lebih dari 40 ribu warga Palestina tewas di Gaza dalam setahun sesudah serangan 7 Oktober 2023, menurut data kementerian kesehatan yang dikelola Hamas. Angka-angka itu tidak dianalisis dalam papernya. Ia hanya latar tempat gambar-gambar tadi bekerja.
Di depan sebuah larangan, simbol tidak dinilai dari keindahannya, melainkan dari seberapa sulit ia dilarang. Semangka lolos karena ia buah. Kunci lolos karena ia benda rumah tangga yang dimiliki semua orang. Pohon zaitun lolos karena ia tumbuh dan berbuah tanpa meminta izin kepada siapa pun. Sepotong semangka di layar ponsel tetap sepotong semangka; yang berubah adalah orang yang melihatnya, dan orang yang merasa perlu keberatan.














