Fiksi Ilmiah Indonesia dan Kata yang Dipinjamnya

A A

Ilustrasi seseorang duduk membaca buku yang terbuka di pangkuannya. [Foto: Pexels]

Cekricek.id — Fiksi ilmiah masuk ke sastra Indonesia dengan langkah yang malu-malu. Djokolelono menerbitkan Jatuh ke Matahari pada 1976, H. Zubir menyusul dengan Petualangan ke Planet Tu Cati pada 1984, dan sesudah itu genre tersebut lebih sering disebut sebagai catatan kaki daripada sebagai arus. Baru pada dekade 2000-an ia memperoleh pembaca dalam jumlah besar, lewat seri Supernova karya Dewi Lestari dan seri Bumi karya Tere Liye. Yang tidak pernah benar-benar diselesaikan sepanjang setengah abad itu adalah satu pertanyaan yang kelihatan sepele tetapi menentukan: bahasanya milik siapa? Sebab fiksi ilmiah, lebih daripada genre mana pun, hidup dari kata-kata yang harus diciptakan sendiri oleh pengarangnya.

Pertanyaan itulah yang dipungut I Gusti Ayu Agung Mas Triadnyani dan Jalu Norva Illa Putra dari Universitas Udayana bersama Fega Ayu Pangestika dari University College London. Dalam artikel Diction and the influence of postcolonial physical space in Qazee’s The Chosen One yang terbit di jurnal Diksi, Volume 33 Nomor 1, tahun 2025, ketiganya membedah pilihan kata dalam The Chosen One, novel pertama dari tujuh judul serial Heptalogy of the Gamers of Galaxians karya Qazee, yang terbit pada 2018. Metodenya deskriptif-analitis, dengan dua pisau: teori diksi Dejica dan koleganya, dan teori ruang pascakolonial Sara Upstone. Hasilnya bukan pujian.

Novel itu berkisah tentang Kale, mahasiswa teknik berusia sembilan belas tahun, yang menemukan kemampuannya menembus dimensi waktu berkat pengetahuan warisan peradaban Lemuria. Ia lalu ditugasi memulihkan keseimbangan semesta. Latar utamanya Indonesia, digambarkan sedang mengalami kemunduran peradaban akibat tokoh bernama Daxx, dan tokoh utamanya melawan kemunduran itu. Semua perangkat genre tampak lengkap: perjalanan waktu, peradaban purba, kemampuan yang diwariskan, dan istilah asing yang berderet di hampir setiap bab. Unsur spekulatifnya pun dibingkai sebagai kemungkinan teknologi, bukan sebagai sihir, sehingga novel itu memang layak disebut fiksi ilmiah dan bukan fantasi. Justru kelengkapan itu yang kemudian diperiksa ulang oleh tim Udayana.

Daftar Isi
  1. Dua Daftar Kata yang Disusun Tim Udayana
  2. Holodeck 1966 dan Kata yang Menyeberang ke Kenyataan
  3. Portal di Halaman 270
  4. Sara Upstone dan Ruang yang Gagal Cair
  5. Merawati 2015 dan Rantai yang Belum Putus

Dua Daftar Kata yang Disusun Tim Udayana

Ilustrasi halaman kamus yang terbuka dengan lajur-lajur lema rapat.
Ilustrasi halaman kamus yang terbuka dengan lajur-lajur lema rapat. [Foto: Pexels]

Langkah pertama mereka sederhana dan melelahkan: membaca seluruh novel, menandai setiap istilah teknis, lalu memilahnya ke dalam dua daftar. Daftar pertama berisi istilah yang benar-benar ada di dalam kamus ilmu pengetahuan. Ada chemtrail dari kimia, pituitary dan visual cortex dari biologi, mutant yang dipakai untuk menjelaskan asal-usul vampir, planetary alignment dari astronomi, Lemuria dari mitologi, serta Yamazuza yang di dalam novel merujuk pada Yajuj Majuj. Semuanya dapat ditelusuri di luar novel, entah di kamus istilah ilmiah entah di kenyataan sehari-hari, dan justru itu poin pentingnya: kata-kata tersebut bukan milik Qazee.

Daftar kedua berisi istilah ciptaan pengarang: bangsa Manthika yang bertubuh tiga meter dan hidup mendekati inti bumi, bangsa Dropa yang tengkoraknya nyaris bulat sempurna, sapaan Zhiann untuk menyebut seseorang lewat nama ayahnya, kata sapa Anzaan, frasa Savalla Entharda, Tulak yang berarti kunci, dan Barkhia yang berarti pintu atau portal. Semua kata pada daftar kedua hanya hidup di dalam novel itu dan tidak punya rujukan di luar halamannya. Pemilahan ini bukan latihan kearsipan. Tim itu menganggapnya perlu karena percampuran kata nyata dan kata rekaan bisa menyesatkan pembaca yang tidak membawa bekal pengetahuan apa pun ke dalam bacaannya.

Baca juga Semangka yang Menggantikan Bendera Palestina

Kekhawatiran tersebut punya rujukan. Mengacu pada Cheyne (2008), tim peneliti menunjukkan dua arah kesalahpahaman yang sama-sama mungkin terjadi. Kata mitokondria, misalnya, terdengar begitu asing bagi banyak orang sehingga bisa dikira ciptaan pengarang, padahal ia organel penghasil energi di dalam sel makhluk hidup. Sebaliknya bangsa Manthika bisa dikira benar-benar pernah ada, terutama oleh pembaca anak-anak. Menjelaskan istilah ilmiah di dalam novel, menurut mereka, adalah pekerjaan yang seharusnya dituntaskan lebih dulu sebelum kritik apa pun disampaikan, sekaligus alasan mengapa dua tabel itu dibuat sebelum satu kalimat penilaian ditulis.

Holodeck 1966 dan Kata yang Menyeberang ke Kenyataan

Sebelum menghakimi Qazee, tim itu memasang pembanding dari sejarah kata. Bahasa memang terus tumbuh, dan fiksi ilmiah kerap menjadi tempat persemaiannya. Kata computer sudah lahir pada 1613 tetapi baru lazim dipakai untuk mesin penghitung sekitar tiga ratus tahun kemudian, pada 1897. Kata drone muncul pada 1935. Sebelum tahun-tahun itu, kedua kata tersebut tidak ada di tengah masyarakat mana pun, dan sekarang keduanya terdengar sewajar nama benda di dapur. Bahasa, tulis tim itu mengutip sejumlah kajian kebahasaan, adalah sistem simbol yang memang dirancang untuk terus bertambah.

Contoh yang paling terang justru datang dari layar. Kata holodeck pertama kali muncul di serial fiksi ilmiah Star Trek pada 1966, sebagai nama ruangan simulasi tempat penggunanya bisa masuk dan memprogram dunia yang ingin ia datangi. Pada 2015, Microsoft Research mengembangkan purwarupa ruang virtual dengan memaksimalkan beberapa perangkat Xbox Kinect dan proyektor, sehingga permainan tidak lagi terproyeksi pada satu dinding melainkan pada seluruh ruangan. Kata mudblood dan muggle dari novel J. K. Rowling menempuh jalur serupa; muggle bahkan masuk ke Oxford English Dictionary pada 2003 dan kini dipakai kalangan ahli untuk menyebut orang di luar bidang mereka. Empat puluh sembilan tahun memisahkan ruangan khayalan Star Trek dari purwarupa Microsoft, dan jarak itu tetap ditempuh.

Baca juga Disfemisme Penagih Pinjol dan Dampaknya pada Korban

Pembanding itu dipasang bukan untuk memuji fiksi ilmiah Barat, melainkan untuk menetapkan ukuran. Sebuah kata rekaan menyeberang ke kenyataan bukan karena bunyinya asing, melainkan karena ia membawa konsep yang sebelumnya tidak ada. Zombie, Superman, dan Spiderman bisa dipakai orang di jalanan justru karena masing-masing memuat gagasan yang utuh. Dengan ukuran itulah, mengacu pada kerangka diksi Dejica dan koleganya (2016) yang meletakkan bahasa sebagai pembentuk makna, daftar kata Qazee kemudian ditimbang oleh tim Udayana. Pertanyaannya bukan berapa banyak kata baru yang ia buat, melainkan konsep baru apa yang dibawa kata-kata itu.

Portal di Halaman 270

Timbangannya jatuh ke satu adegan. Pada halaman 270 novel itu, sebagaimana dikutip tim peneliti, Barkhia dijelaskan “persis seperti portal film fiksi ilmiah Amerika”, dan fungsinya disebut kurang lebih sama seperti yang digambarkan film tersebut: alat berpindah tempat, teleportasi, dari satu portal ke portal yang lain. Kalimat itu ditulis di dalam novelnya sendiri. Barkhia adalah kata ciptaan Qazee, tetapi rujukannya diserahkan kepada film orang lain, dan penyerahan itu dilakukan secara terbuka di dalam teks, bukan disembunyikan. Kata barunya ada; konsep barunya tidak. Yang tersisa hanya label.

Dari situ kesimpulan tim Udayana disusun. Qazee tidak menciptakan apa pun, tulis mereka; ia hanya menempatkan sesuatu pada tempat yang dianggapnya pas, dan sesuatu itu adalah konsep yang sudah ada. Pembandingnya diambil dari genre yang sama: seri Divergent membangun konsep faksi manusia yang tidak dikenal sebelumnya, sementara Rowling mengambil sapu terbang yang sudah lazim lalu menambahinya bentuk, fungsi, dan syarat pemakaian. Qazee memilih jalan sebaliknya, yaitu memakai keasingan istilah untuk memberi kesan kebaruan, dan menurut tim peneliti ia melakukannya dengan sengaja, dengan memanfaatkan ketidaktahuan pembaca terhadap kata-kata yang jarang terdengar.

Sara Upstone dan Ruang yang Gagal Cair

Lapis kedua analisisnya memakai teori ruang pascakolonial Sara Upstone (2009). Upstone melihat pascakolonial sebagai soal politik ruang: penjajah sudah pergi secara fisik, tetapi ruang kolonial masih tertinggal di wilayah itu, dan ruang tersebut dapat ditelusuri pada tingkat bangsa, perjalanan, kota, rumah, dan tubuh. Tim Udayana memusatkan perhatian pada tingkat yang paling kecil, yaitu tubuh. Kerangka yang sama pernah dipakai Rahariyoso (2014) untuk membaca puisi Sakramen karya Joko Pinurbo, sehingga pilihan tim Udayana bukan langkah pertama melainkan kelanjutan dari pembacaan yang sudah punya jejak di Indonesia.

Baca juga Tiga Bentuk Pintu yang Bicara di Istana Siak

Yang dicari di dalam novel adalah post-space, ruang cair tanpa batas tempat tarik-menarik antara kekuatan kolonial dan kekuatan yang melawannya berlangsung sekaligus kacau. Ruang semacam itu tidak ditemukan. Tidak ada kekacauan yang memicu negosiasi, tulis tim tersebut, karena pertemuan antara budaya Timur dan Barat di dalam novel tidak pernah benar-benar terjadi. Teknologi selalu berarti Barat, dan masa lalu yang dipuja-puja justru digambarkan sebagai zaman paling modern dan paling ideal, tempat semua persoalan sudah memperoleh jalan keluar terbaiknya. Kemajuan yang dijanjikan tokoh utama, ketika ditelusuri, ternyata kemajuan teknologi yang seluruh gambarannya berasal dari Barat.

Merawati 2015 dan Rantai yang Belum Putus

Kesimpulan itu perlu dibaca dengan takarannya. Yang diperiksa adalah satu novel, novel pertama dari tujuh, dan tim penelitinya sendiri menyebut pembahasan mereka sebagai pembahasan pendahuluan yang dibatasi pada tingkat tubuh, satu dari lima kategori ruang yang ditawarkan Upstone. Enam judul lain dalam serial itu tidak diperiksa. Metodenya deskriptif-analitis dan induktif, tanpa survei pembaca, sehingga apa yang sesungguhnya ditangkap orang yang membaca novel tersebut tetap berada di luar jangkauan penelitian ini. Satu novel juga bukan sastra Indonesia, dan tim itu tidak mengklaim sebaliknya.

Persoalan yang diangkatnya, sebaliknya, tidak berdiri sendiri. Indarwaty dan koleganya (2017) sudah lebih dulu memperingatkan bahwa garis antara fiksi ilmiah, fiksi fantasi, dan realisme magis kerap kabur di Indonesia, sementara Merawati (2015) mencatat pasang surut genre ini dari 1980-an ke 2000-an. Tim Udayana menambahkan bahwa pascakolonialisme juga tampak pada cerpen-cerpen di majalah Tempo dan pada novel Eka Kurniawan serta Danarto, sehingga temuan mereka lebih tepat dibaca sebagai satu mata rantai dalam percakapan panjang tentang hubungan sastra Indonesia dengan teknologi, bukan sebagai vonis atas satu pengarang.

Rantai itu berjalan dari 1976, ketika Djokolelono mengirim tokohnya jatuh ke matahari, sampai 2018, ketika Qazee mengirim tokohnya menembus dimensi lewat sebuah pintu yang bentuknya diakui meniru portal film Amerika. Empat dekade, tujuh novel yang direncanakan, dan sebuah kata baru bernama Barkhia yang sampai sekarang belum menyeberang ke mana-mana sebagaimana holodeck dulu menyeberang. Mata rantai berikutnya belum ditulis siapa pun.

Bagikan

Baca Juga

Ilustrasi perempuan duduk di tepi ranjang membaca buku di kamar yang remang.
Ketika Perempuan Kuat dalam Novel Ikut Goyah
Tumpukan buku dan majalah lama berbahasa Indonesia di atas meja kayu dalam sebuah pameran arsip
Tongkat, Wortel, dan Cara Kuasa Bekerja di Rumah Hasan
Ilustrasi nisan berbentuk salib batu yang ditumbuhi lumut berdiri di atas rumput di sebuah pemakaman tua.
Frankenstein yang Dijahit Ulang oleh Remaja Perempuan
Ilustrasi seorang anak lelaki menelungkupkan kepala di atas meja sementara beberapa anak lain berbincang di belakangnya.
Kekerasan terhadap Anak di Aku Juga Ingin Dianggap
Dua wayang kulit berwarna keemasan berdiri di depan kelir yang disorot lampu dalam sebuah pertunjukan.
Wayang dan Sate dalam Terjemahan Cantik Itu Luka
Bulan bersinar di balik lapisan awan tipis pada langit malam
Sinar Bulan yang Dingin dalam Puisi Meditasi