Frankenstein yang Dijahit Ulang oleh Remaja Perempuan

A A

Ilustrasi nisan berbentuk salib batu yang ditumbuhi lumut berdiri di atas rumput di sebuah pemakaman tua. [Foto: Pexels]

Cekricek.id — Kepala makhluk itu terkulai di pangkuan Lisa Swallows ketika jarum mulai masuk ke tepi telinga kirinya. Kamera merapat. Yang tampak di layar cuma tangan, benang, dan sepotong daging yang sudah bukan milik siapa pun.

Telinga itu diambil dari jenazah Janet, ibu tirinya. Adegannya jatuh pada menit ke-46 film Lisa Frankenstein, dan tidak ada jeritan di sana. Yang ada malah kehangatan yang aneh: seorang remaja menjahit, sesosok mayat berbaring nyaman di pangkuannya, dan pekerjaan itu diselesaikan setenang orang menambal kemeja robek. Kamera memilih jarak sedekat itu bukan tanpa alasan. Dalam pembacaan gambar yang dipakai penelitinya, jarak dekat pada wajah dan tangan dipakai untuk menandai kedekatan emosional, bukan kengerian.

Adegan menit ke-46 itu jadi salah satu bukti utama dalam kajian Marchelinda Okta Brianti Eka Putri dan Hat Pujiati dari Universitas Jember, From Gothic to Neo-Gothic: Frankenstein Novel into Lisa Frankenstein (2024) Film Adaptation by Zelda Williams, yang terbit di jurnal Metahumaniora Volume 15 Nomor 2 tahun 2025. Keduanya menyandingkan novel Mary Shelley terbitan 1818 dengan film Zelda Williams yang tayang pada 9 Februari 2024.

Di novelnya, pekerjaan menjahit itu tidak ada. Victor Frankenstein mengumpulkan tulang, membangun tubuh raksasa lewat serangkaian percobaan, lalu menghidupkannya dengan listrik di ruang tertutup. Yang ditonjolkan Shelley adalah sains dan seorang laki-laki muda yang merasa berhak menciptakan, dan monster yang lahir dari sana tetap monster sampai halaman terakhir. Tokoh utamanya laki-laki, ruangnya laboratorium, dan tenaganya adalah percobaan ilmiah yang gagal dikendalikan oleh pembuatnya sendiri.

Filmnya memulai dari titik lain. Makhluknya sudah berupa jasad utuh seorang pemuda yang dikubur sejak 1837, bangkit karena petir menyambar nisannya di pemakaman Bachelor’s Grove, dan sampai ke rumah Lisa dengan tiga bagian tubuh yang hilang: telinga kiri, tangan kanan, dan satu bagian lain yang oleh papernya dicatat sebagai unsur tabu. Ia tidak dibuat, ia dibangunkan. Perbedaan sekecil itu, kata kedua peneliti, sudah cukup untuk memindahkan seluruh cerita dari genre gotik ke wilayah yang mereka sebut neo-gotik, yaitu gotik yang dicampur unsur pascamodern seperti parodi, suara kelompok yang terpinggirkan, dan persoalan kesehatan jiwa.

Daftar Isi
  1. Sebuah telinga yang dijahit di pangkuan seorang remaja
  2. Dari nisan tahun 1837 ke ranjang penyamak kulit tahun 1989
  3. Apa yang berubah ketika monster dibuat oleh perempuan

Sebuah telinga yang dijahit di pangkuan seorang remaja

Ilustrasi sebatang jarum jahit yang telah dimasuki benang gelap, difoto dari jarak dekat dengan latar terang.
Ilustrasi sebatang jarum jahit yang telah dimasuki benang gelap, difoto dari jarak dekat dengan latar terang. [Foto: Pexels]

Lisa bekerja di binatu. Tugasnya sehari-hari menjahit pakaian pelanggan yang sobek, dan papernya menekankan bahwa kemampuan itu sudah dipasang lebih dulu dalam ceritanya, jauh sebelum ada tubuh yang perlu dilengkapi. Maka ketika makhluk itu meminta bantuan, keterampilan yang dipakai bukan keterampilan laboratorium melainkan keterampilan rumah tangga. Putri dan Pujiati membaca pergeseran itu sebagai inti perubahan genre: penciptaan yang dulu maskulin, ilmiah, dan berjarak berpindah ke tangan perempuan dan ke ranah domestik, ke meja jahit dan kamar tidur.

Baca juga Daun yang Digesek Jadi Motif Kain di Gorontalo

Telinga jahitan itu tidak langsung bekerja. Lisa membawa makhluk itu ke ranjang penyamak kulit milik Taffy, saudara tirinya, dan sengatan listrik dari alat kecantikan itulah yang membuat telinga tadi menangkap suara. Alat yang dirancang untuk mencokelatkan kulit remaja Amerika mengambil alih peran mesin listrik dalam novel. Di sinilah, menurut kedua peneliti, kengerian tersebut berubah jadi bahan tertawaan: tenaga yang di novel dipakai untuk menantang batas kematian di film dipakai untuk memperbaiki telinga yang salah pasang.

Tidak ada yang menjerit. Tidak ada yang melarang.

Adegan berikutnya diambil dengan kamera genggam dari sudut pandang Lisa sendiri: tangan kanan dijahit pada menit ke-54, sekali lagi dalam jarak dekat, sekali lagi dengan kepala makhluk itu bersandar. Bagian terakhir menyusul pada menit ke-89, direkam dari jarak jauh lalu diperbesar. Tiga adegan, tiga potongan tubuh yang semuanya diambil dari orang yang sudah mati di tangan mereka berdua, dan satu pola yang berulang tanpa pernah dijelaskan tokohnya sendiri.

Yang menarik dari catatan kedua peneliti itu bukan kengeriannya, melainkan ketenangannya. Tidak ada meja bedah, tidak ada asisten, tidak ada pidato panjang tentang batas ilmu pengetahuan seperti yang diucapkan Victor di novel. Yang ada seorang remaja dengan benang, sebuah alat salon, dan sikap yang menganggap semua itu wajar. Kejahatan dibuat tampak sehari-hari, dan justru dari kesehariannya itulah film ini bekerja.

Dari nisan tahun 1837 ke ranjang penyamak kulit tahun 1989

Film ini membuka ceritanya di pemakaman, dengan Lisa menggosok kertas di atas sebuah nisan bermahkota patung laki-laki. Yang terbaca hanya potongan nama, lalu ia melengkapinya sendiri di depan namanya. Menurut teori adaptasi Linda Hutcheon dan Siobhan O’Flynn yang dipakai paper ini, adegan semacam itu adalah pengulangan tanpa penyalinan: penonton dipanggil untuk mengingat karya lama sekaligus diberi tahu bahwa yang sedang mereka tonton adalah adaptasi.

Latar waktunya 1989. Lisa digambarkan sebagai remaja emo-goth, dan pada tangkapan layar menit ke-75 kelasnya tampak muram walau hari masih terang, dengan kerai merah yang menahan cahaya, kostum gelap para siswa, cahaya dari belakang pada rambut ikalnya, dan lingkar bayangan tebal di sekitar mata. Papernya membaca rias wajah dan tata warna itu sebagai penanda zaman sekaligus penanda genre, memakai cara membaca gambar yang diambil dari Nick Lacey: isi bingkai, cahaya, suara, dan latar dibaca satu per satu sebagai tanda.

Baca juga Ketika Mengeluh Jadi Bahasa Utama Sebuah Novel

Kegelapan itu terus dipatahkan oleh lelucon. Pada menit ke-27, makhluk itu salah paham ketika Lisa menyebut The Cure dan langsung mengangkat tangan kanannya yang membusuk, mengira ada obat untuk anggota tubuhnya. Lisa meluruskan lewat dialog yang dicatat papernya: “No. It’s not that kind of cure. It’s like a... It’s a band.” Lelucon serupa berulang ketika ia kebingungan menghadapi sistem pelacak pada mobil, lalu tersipu waktu Lisa membandingkannya dengan sepeda kuno yang ia kenal semasa hidup.

Empat menit kemudian, sesudah mandi, makhluk itu berdiri kikuk dalam jubah bermotif bunga dan piyama merah muda bergaris milik keluarga Lisa. Dialog Lisa di adegan itu, sebagaimana dicatat papernya, berbunyi “Okay, sparky. We got to get you some new duds.” Monster gotik yang selama dua abad dipakai untuk menakut-nakuti pembaca berubah jadi bahan komedi, dan perubahan itu, kata kedua peneliti, adalah ciri parodi horor: sosok yang mengerikan dijinakkan sampai lucu.

Komedi itu berjalan terus bahkan di adegan paling keras. Salah satu pembunuhan pada menit ke-83 diiringi lagu ceria On The Wings of Love milik Jeffrey Osbourne, dan ketidakcocokan antara musik dan peristiwa itulah yang menurut kedua peneliti memindahkan film ini dari horor ke horor-komedi. Reaksi makhluk itu sesudah membunuh pun tidak digambarkan sebagai penyesalan, melainkan sebagai kepuasan yang direkam dari jarak sedang dengan sudut datar.

Novelnya tidak menyediakan ruang untuk itu. Di sana makhluk ciptaan Victor tidak jatuh cinta, ia cemburu. Pada halaman 144 edisi 1969 yang dikutip papernya tertulis permintaannya: “You must create a female for me with whom I can live in the interchange of those sympathies necessary for my being.” Permintaan yang ditolak, dan penolakan itu yang melahirkan dendam.

Apa yang berubah ketika monster dibuat oleh perempuan

Lisa diam bertahun-tahun sesudah ibunya meninggal, lalu didiagnosis mengalami mutisme selektif, dan sepanjang film ia justru makin banyak bicara. Putri dan Pujiati menghubungkan pilihan itu dengan dua hal sekaligus: kesadaran soal kesehatan jiwa yang sedang naik di Amerika Serikat pada 2024, ditandai jajak pendapat NAMI yang mencatat 83 persen pekerja menganggap pelatihan kesehatan mental perlu ada di tempat kerja, dan cara Zelda Williams sendiri berhadapan dengan kematian, yang menurut catatan wawancara sutradara dan penulis naskahnya ikut membentuk tokoh Lisa yang menutupi dukanya dengan tingkah konyol.

Motif pembunuhan pun digeser. Di novel, korban jatuh karena penolakan dan iri hati sang monster terhadap penciptanya. Di film, makhluk itu membunuh karena melindungi Lisa, dan salah satu korbannya adalah Doug, laki-laki yang melecehkan Lisa di sebuah pesta. Lisa memancing Doug menyusulnya ke pemakaman Bachelor’s Grove pada menit ke-53, dan papernya membaca adegan itu sebagai jejak femme fatale dalam film abad ke-21, lengkap dengan warna merah pada busana perempuan yang dibaca sebagai penanda darah dan berlebih.

Baca juga Aksesibilitas Borobudur: Enam Fasilitas, Dua Tersedia

Bacaan itu diteruskan ke soal yang lebih sensitif. Adegan hubungan intim antara Lisa dan makhluk itu, yang di novel sama sekali tidak ada, dibaca kedua peneliti lewat kerangka feminisme yang mempersoalkan anggapan bahwa perempuan mesti pasif dan tunduk dalam urusan seksualitas. Latar 1989 dipakai untuk menyambungkan film itu dengan gelombang perubahan yang lebih tua di Amerika Serikat dan Inggris, dan di titik ini papernya berhenti pada tafsir, bukan pada bukti tentang bagaimana penonton sungguh-sungguh menerimanya.

Filmnya berakhir di ranjang penyamak kulit yang sama. Lisa mengakhiri hidupnya di sana, dan menit ke-97 memperlihatkan tubuhnya terbaring berbalut perban di pangkuan makhluk itu, yang kini berkulit hidup dan memakai cincin emas di jari manis. Di adegan itu ia membacakan sajak Percy Bysshe Shelley tahun 1814 untuk istrinya, yang barisnya berbunyi “O Mary dear, that you were here / With your brown eyes bright and clear.” Sajak untuk Mary dipakai film ini untuk memanggil Lisa kembali.

Novel itu berakhir dengan amarah. Filmnya berakhir dengan cincin kawin.

Di luar layar, hitungannya lebih dingin. Papernya mencatat pendapatan pekan pertama film itu 5.634.150 dolar AS, dan menempatkannya dalam pasar film serta serial bertema roman yang pada 2023 ditaksir bernilai sekitar 30 miliar dolar AS, ditopang lalu lintas layanan saluran berlangganan. Kebaruan, dalam bacaan Putri dan Pujiati, bukan cuma urusan seni: ia juga barang dagangan yang dipakai agar cerita berumur dua abad tetap laku dijual kepada penonton remaja.

Ada yang perlu ditahan di sini. Kajian ini membaca satu novel dan satu film, dikerjakan dua orang, tanpa data penonton, tanpa wawancara, dan tanpa satu paragraf pun yang menyatakan keterbatasannya sendiri, sesuatu yang seharusnya ada dalam artikel jurnal. Tafsir atas warna kerai dan sudut kamera tetap tafsir. Satu film bukan potret seluruh industri Hollywood, dan satu tokoh remaja jelas bukan ukuran bagi seluruh perempuan yang menonton film itu.

Yang tersisa justru adegan kecil di menit ke-46 itu. Jarum masuk, benang ditarik, dan makhluk yang seharusnya menakutkan memejamkan mata di pangkuan seorang remaja yang sedang bekerja seperti biasa.

Bagikan

Baca Juga

Atap-atap rumah Kota Ternate dengan teluk dan gunung di kejauhan
Tenda Sewa Pertama di Ternate Berdiri pada 5 Maret 1983
Sekelompok penari Indang berbaju merah dan kuning duduk berbaris sambil mengangkat tangan
Rede, Pukulan yang Menahan Penonton Indang sampai Larut
Ilustrasi seorang anak lelaki menelungkupkan kepala di atas meja sementara beberapa anak lain berbincang di belakangnya.
Kekerasan terhadap Anak di Aku Juga Ingin Dianggap
Ilustrasi sepasang tangan mengetik pada layar telepon pintar yang menyala terang di ruangan bercahaya merah.
Ujaran Kebencian @jokowi di Mata Linguistik Forensik
Ilustrasi sepasang tangan memegang telepon pintar yang menampilkan lini masa berisi deretan gambar unggahan media sosial.
Makna Tersirat di Balik Komik Strip Sampahisasi
Empat pemangku adat Kerinci berbaju hitam bersulam emas dan berkuluk duduk bersila di rumah adat
Nyerau Dilantunkan dari Pukul 20.00 sampai Pukul 03.00