Daftar Isi
Cekricek.id — Selama puluhan tahun, motif pada kain di Indonesia dibayangkan lahir dari canting, malam yang dipanaskan, dan pola yang diwariskan turun-temurun. Kemudian datang gelombang lain yang jauh lebih muda. Perajin mulai memungut daun dari halaman rumah, menempelkannya ke kain, dan membiarkan bentuk alam mencetak dirinya sendiri. Teknik itu dikenal luas sebagai ecoprint, dan ia berkembang cepat di sanggar-sanggar kecil karena selaras dengan prinsip ramah lingkungan, bahannya murah, prosesnya tidak menuntut mesin, dan hasilnya tidak pernah persis sama antara satu lembar dan lembar berikutnya.
Di dalam gelombang itu tumbuh satu cabang yang lebih jarang dibicarakan, namanya gesek godhong. Cara kerjanya berbeda dari ecoprint pada umumnya: daun yang sudah diberi pewarna diletakkan di atas kain, ditutup kertas, lalu permukaannya digesek dengan alat tertentu sampai pola, tulang, dan tekstur daun berpindah. Ulin Naini dan Hasmah dari Program Studi Pendidikan Seni Rupa Universitas Negeri Gorontalo mengambil teknik ini sebagai bahan penelitian dalam artikel Development of Contemporary Home Decorative Textiles Based on Gesek Godhong Technique and Gorontalo Floral Motifs, yang terbit di jurnal Ekspresi Seni: Jurnal Ilmu Pengetahuan dan Karya Seni volume 28 nomor 1 edisi Januari–Juni 2026, halaman 29 sampai 43.
Warisan Ecoprint dan Catatan Faridatun 2022

Untuk menempatkan gesek godhong, keduanya lebih dulu menengok tetangganya. Ecoprint, mereka catat dengan merujuk Faridatun pada 2022, sudah punya beberapa cara baku yang masing-masing meninggalkan efek berbeda: mirror, botanical, iron blanket, dan pounding. Kesamaannya dengan gesek godhong terletak pada bahan bakunya, yaitu eksplorasi bentuk alami dedaunan. Perbedaannya justru di bagian yang paling menentukan hasil akhir: cara, alat bantu, dan mekanisme pemindahan motif ke kain. Pada pounding, daun dipukul; pada gesek godhong, daun digesek dengan tekanan yang harus rata. Perbedaan sekecil itu menentukan apakah ruas dan tulang daun tercetak tajam atau hanya meninggalkan bayangan.
Baca juga Tarik-Menarik Hutan Nagari Sumbar Sejak 1967
Rantai argumennya tidak berhenti di soal teknik. Hikmah dan Retnasari pada 2021 menempatkan ecoprint sebagai alternatif pengolahan tekstil yang unik dan eksklusif karena memanfaatkan pigmen sekaligus bentuk tumbuhan sebagai unsur visual, sementara Susilawati dan rekan-rekannya pada 2022 menyoroti sisi lain: teknik berbasis alam semacam ini dapat menjadi media pendidikan keterampilan bagi siswa dan masyarakat umum. Dua penekanan yang berbeda itu — nilai jual dan nilai ajar — yang kemudian dipakai Naini dan Hasmah sebagai alasan mengapa teknik ini layak dikembangkan lebih jauh, bukan sekadar dicatat keberadaannya. Rujukan lain yang mereka pakai, Yani dan rekan pada 2022, menempatkan penerapan seni lukis pada media kain lewat surface design sebagai cara menaikkan nilai keindahan sekaligus nilai jual produk busana dan dekorasi interior.
Daun Sukun, Daun Puring, dan Sifat Monoprint yang Dicatat Lela 2023
Penelitiannya sendiri berbentuk eksperimen kualitatif di studio, bukan survei. Empat tahap dijalani berurutan: eksplorasi daun yang berpotensi menghasilkan motif, perancangan sketsa dan desain produk, perwujudan karya di atas kain katun, dan analisis visual terhadap hasilnya. Alat yang dipakai sederhana dan bisa disebut satu per satu: kuas untuk meratakan pewarna di permukaan daun, alat gesek untuk memindahkan warna, dan kotak zat warna untuk meracik campuran. Bahannya juga tiga: daun kering, pewarna gesek godhong, dan kain katun yang dipilih karena permukaannya rata dan seratnya menyerap. Sasaran akhirnya pun ditentukan sejak awal, yaitu tekstil dekoratif rumah, mengikuti pengamatan bahwa hunian kini bukan sekadar tempat tinggal melainkan ruang yang mewakili selera dan identitas penghuninya.
Daun yang dipakai untuk motif utama adalah daun sukun dan daun puring, yang di Gorontalo dikenal dengan nama polohungo. Dua daun itu dipilih bukan karena kebetulan tersedia, melainkan karena bentuk, urat, dan teksturnya cukup tegas untuk tercetak. Di titik ini Naini dan Hasmah menyandingkan temuannya dengan catatan Lela pada 2023 mengenai sifat monoprint teknik tersebut: setiap hasil cetakan tidak sepenuhnya identik. Perbedaan tekanan tangan, ketebalan warna, dan daya serap kain menghasilkan gradasi yang tidak bisa diulang, dan justru itu yang menurut Lela sulit direplikasi secara konvensional. Sifat itu merugikan kalau yang dikejar keseragaman produksi, tetapi menguntungkan kalau yang dijual justru keunikan tiap lembar.
Ada satu langkah kecil yang oleh keduanya diberi bobot besar, yaitu pemberian pewarna pada daun sebelum penggesekan. Merujuk Kusumaningrum dan rekan pada 2021, langkah tersebut memperkuat keterbacaan motif di permukaan kain. Tanpa pewarna yang menutup rata, tulang daun akan tercetak samar dan hasilnya kehilangan ciri yang justru menjadi alasan teknik ini dipakai. Latar kain dibentuk terpisah, dengan kain microfiber yang dibasahi larutan pewarna lalu disapukan perlahan, supaya motif daun tidak berdiri sendirian di atas bidang yang kosong. Tahap itu, tulis keduanya, menambah kedalaman visual sekaligus memperkaya tekstur pada hasil akhir.
Empat Puluh Lima Gram Garam dan Uji Sutantanamas 2025
Bagian yang paling mudah diperiksa orang lain adalah resep fiksasinya. Larutan pengunci warna dibuat dengan melarutkan 45 gram garam kasar dan 250 mililiter cuka dapur ke dalam 2 liter air bersih, lalu kain direndam di dalamnya. Fungsinya menjaga intensitas warna agar tidak mudah luntur setelah pencetakan. Angka-angka itu penting bukan karena besarnya, melainkan karena ditulis; sebagian besar catatan tentang kriya tekstil berhenti pada deskripsi proses tanpa takaran, sehingga tidak bisa diulang orang lain di tempat lain. Dengan angka yang terbuka, perajin di sanggar mana pun bisa menguji sendiri apakah campuran itu bekerja pada daun dan kain yang mereka punya.
Baca juga Prasasti Prasi A dan Umur Desa Dawan di Klungkung
Hasilnya disandingkan langsung dengan penelitian Sutantanamas dan rekan pada 2025, yang melaporkan bahwa garam kasar sebagai bahan fiksasi memberi efek warna lebih tahan lama dan tekstur kain lebih halus dibanding waterglass. Naini dan Hasmah menyatakan temuan mereka memperkuat laporan itu: distribusi warna pada kain hasil eksperimen terlihat cukup merata dengan intensitas yang stabil setelah pengeringan dan pembilasan. Ini bukan pembalikan terhadap riset sebelumnya, melainkan penambahan satu titik data dari bahan dan daun yang berbeda.
Tiga Produk Rumah dan Argumen Mubarok dan Falah 2023
Produk yang diwujudkan sengaja dibatasi tiga, semuanya benda rumah tangga: sarung bantal kursi, taplak meja, dan gorden. Pada sarung bantal, motif disusun silang dengan tulang daun sebagai penekanan, dan empat bagian yang identik membentuk keseimbangan simetris dengan pengulangan pola daun secara radial. Pada taplak meja, garis lurus dan garis lengkung digabung sehingga pengulangan bentuk daun membangun irama. Pada gorden, pola daun berulang secara vertikal di atas latar hijau lembut dengan kombinasi biru, hijau, merah, dan kuning, sebuah susunan yang menurut keduanya memanjangkan ruang secara visual. Pembacaan komposisi itu mereka sandarkan lagi pada Sutantanamas dan rekan, yang menyebut proporsi, pusat perhatian, warna, tekstur, dan harmoni visual sebagai penentu keberhasilan karya tekstil gesek godhong.
Baca juga Teka-teki Mandailing yang Sengaja Bertentangan
Pilihan kain katun dan daun kering itu bersambung dengan argumen yang lebih besar. Mubarok dan Falah pada 2023 menyatakan serat alam seperti kapas, rami, dan linen mendukung konsep desain berkelanjutan karena dapat terurai, sedangkan serat sintetis seperti poliester unggul pada kekuatan dan daya tahan. Naini dan Hasmah memakai posisi itu untuk menempatkan gesek godhong bukan hanya sebagai teknik menghias, melainkan sebagai strategi surface design. Dalam abstraknya mereka menulis teknik ini dapat menjadi “alternatif inovatif dalam pengembangan desain tekstil dekoratif kontemporer berbasis potensi lokal Gorontalo”.
Batas Kerja Naini dan Hasmah
Klaim itu perlu dibaca bersama batas kerjanya, dan batas tersebut ditulis sendiri di bagian metode. Data dikumpulkan lewat observasi bahan dan proses, studi pustaka, wawancara yang mereka sebut terbatas, serta dokumentasi visual selama eksperimen. Tahap terakhirnya adalah analisis, yang mereka definisikan sebagai membaca hasil visual berdasarkan unsur garis, bentuk, warna, tekstur, keseimbangan, irama, dan kesatuan. Artinya penilaian atas kain yang sudah difiksasi berhenti pada apa yang terlihat mata, tanpa uji ketahanan luntur, uji cuci berulang, atau pengukuran laboratorium.
Karena itu kalimat tentang warna yang lebih tahan sebaiknya dipahami sebagai pengamatan studio, bukan hasil pengujian. Begitu pula kesimpulan tentang peluang ekonomi bagi perajin lokal: ia berdiri di atas tiga purwarupa yang dibuat peneliti sendiri, bukan di atas produk yang sudah dipakai orang atau dijual di pasar. Satu studio di Gorontalo belum tentu mewakili sanggar-sanggar lain, dan tiga lembar kain belum tentu mewakili satu teknik. Wawancara yang disebut terbatas juga berarti suara perajin di luar tim peneliti belum benar-benar masuk ke dalam laporan.
Yang tersisa dari penelitian ini justru posisinya di dalam rantai. Faridatun memetakan cara-cara ecoprint, Hikmah dan Retnasari menimbang nilai eksklusifnya, Lela menjelaskan kenapa hasilnya tidak pernah kembar, Kusumaningrum menunjukkan pentingnya pewarnaan sebelum transfer, dan Sutantanamas menakar bahan pengunci warnanya. Naini dan Hasmah menambahkan satu mata rantai berikutnya: daun sukun dan puring dari halaman rumah di Gorontalo, dengan takaran garam dan cuka yang ditulis terang, di atas kain yang akhirnya menjadi gorden. Mata rantai selanjutnya, kalau ada, tinggal menguji apakah warna itu bertahan setelah dicuci sepuluh kali.















