Teka-teki Mandailing yang Sengaja Bertentangan

A A

Ilustrasi jalan kampung dengan rumah-rumah warga di kiri dan kanan. [Foto: Pexels]

Cekricek.id — Ada satu kalimat yang mustahil, dan orang di Kampung Roba Julu melontarkannya justru untuk ditertawakan: sesudah ibuku meninggal, barulah aku lahir. Kalimat itu tidak datang dari cerita seram atau dari mantra. Ia dilontarkan dalam perkumpulan warga, di sela obrolan biasa, dan orang yang belum pernah mendengarnya akan diam agak lama sebelum menyerah. Jawabannya satu kata dalam bahasa Mandailing, dahan, yang dalam bahasa Indonesia berarti jamur.

Kalimat itu satu dari 38 pertanyaan tradisional yang dihimpun Rahmi Hamida dan Zulfadhli dari Universitas Negeri Padang dalam Pertanyaan Tradisional (Riddles) Masyarakat Mandailing di Kabupaten Pasaman Barat, terbit di jurnal Persona Vol. 5 No. 1 tahun 2026 pada halaman 142 sampai 155. Bahannya dikumpulkan lewat studi pustaka, pengamatan lapangan, dan wawancara mendalam dengan tiga informan yang merupakan penduduk asli Kampung Roba Julu, Nagari Ujung Gading, Kecamatan Lembah Melintang. Ketiganya dipilih sebagai tokoh masyarakat yang dianggap paling memahami folklor lisan setempat.

Rekaman tuturan itu ditranskripsikan lebih dulu, lalu dialihbahasakan dari bahasa Mandailing ke bahasa Indonesia sebelum dipilah. Yang dicari bukan kelucuannya. Yang dicari adalah susunan di baliknya: mengapa sebuah kalimat yang jelas-jelas melanggar kenyataan bisa punya jawaban tunggal yang disepakati satu kampung, dan mengapa jawaban itu terasa benar begitu diucapkan. Tuturan semacam ini tidak punya pengarang yang bisa ditunjuk. Ia berpindah dari mulut ke mulut dan lama-lama dianggap milik bersama, sehingga yang tersisa untuk diteliti hanya bentuknya.

Daftar Isi
  1. Cara Pelukisan Dibuat Menabrak Jawaban
  2. Cara Benda Dipinjami Sifat Manusia
  3. Cara Teka-teki Memilah yang Tahu dari yang Menebak
  4. Cara Tradisi Ini Berhenti Diwariskan

Cara Pelukisan Dibuat Menabrak Jawaban

Ilustrasi seekor rusa bertanduk menoleh di alam terbuka.
Ilustrasi seekor rusa bertanduk menoleh di alam terbuka. [Foto: Pexels]

Setiap teka-teki terdiri atas dua bagian saja. Ada unsur pelukisan, bagian yang menggambarkan sesuatu tanpa menyebut namanya, dan ada unsur jawaban, benda atau keadaan yang menjadi rujukan gambaran tadi. Susunan dua unsur itu tetap, dan seluruh permainan berlangsung pada jarak di antara keduanya. Berdasarkan ada tidaknya pertentangan antara pelukisan dan jawaban, keduanya mengikuti pembagian lama yang dirumuskan George dan Dundes, yaitu teka-teki yang bertentangan dan yang tidak bertentangan. Pembagian kedua yang dipakai berasal dari Taylor, yang memilah teka-teki menurut sifat hal yang digambarkan di dalam pertanyaannya, dan keduanya sama-sama diambil dari himpunan folklor Indonesia susunan James Danandjaja yang terbit pada 1991.

Jenis yang bertentangan mendominasi, 28 dari 38 data. Pola kerjanya kelihatan pada satu contoh yang berulang muncul di lapangan. Pelukisannya berbunyi mardang mardung mardangka naso marbulung, yang diterjemahkan menjadi ada ranting tetapi tidak ada daun. Jawabannya tanduk rusa. Pertentangannya tegas: ranting adalah tempat daun tumbuh, sehingga ranting tanpa daun melanggar aturan yang dipegang setiap orang. Yang melanggar aturan itu justru bukan alam, melainkan bahasa yang dipakai menggambarkannya.

Baca juga Disfemisme Penagih Pinjol dan Dampaknya pada Korban

Sisanya, 10 data, tidak memuat pertentangan sama sekali. Pelukisan ke iba ro ia, ro ia ke iba, yang berarti kita datang dia pergi, kita pergi dia datang, berjawab pintu, dan hubungannya harfiah belaka karena daun pintu memang bergerak menjauh saat dibuka dan mendekat saat ditutup. Pelukisan togak kiba gulung ia bekerja dengan cara yang sama: kita berdiri dia berbaring, dan jawabannya telapak kaki. Di sini teka-teki tidak menipu. Ia hanya menuntut orang memperhatikan hal yang terlalu dekat untuk diperhatikan. Kedua contoh itu memakai gerak sehari-hari sebagai pelukisan, dan keduanya bisa dijawab tanpa pengetahuan khusus.

Beda kedua jenis itu menjelaskan mengapa yang bertentangan lebih banyak dipakai. Pelukisan yang melanggar kenyataan memaksa penjawab meninggalkan pembacaan harfiah dan mencari benda lain yang kebetulan cocok dengan gambaran itu. Ranting tanpa daun mengarahkan pikiran ke pohon, dan tanduk rusa memang bercabang seperti ranting tanpa pernah berdaun. Kalimat tentang ibu yang meninggal sebelum anaknya lahir menuntut lompatan yang sama, dari manusia ke jamur yang tumbuh pada kayu mati. Pertentangan itu tidak muncul sendiri. Ia dipasang, dan dipasang di tempat yang sama setiap kali, yaitu pada satu kaidah alam yang semua orang anggap sudah selesai diperdebatkan.

Cara Benda Dipinjami Sifat Manusia

Gambaran itu diambil dari lima sumber, dan porsinya tidak seimbang. Persamaan dengan manusia mendominasi dengan 17 data, disusul benda mati 10 data, hewan 6 data, tumbuhan 4 data, dan warna 3 data. Jumlahnya melebihi 38 karena satu teka-teki bisa masuk dua kategori sekaligus. Yang menarik bukan angkanya, melainkan arah peminjamannya: sifat manusia yang paling sering dipinjamkan kepada benda, bukan sebaliknya. Teka-teki cabai, misalnya, dihitung dua kali karena pelukisannya memakai pakaian sekaligus warna.

Pelukisan anak daro di arangan, pengantin perempuan di hutan, berjawab kecombrang. Bunga itu tidak menikah dan tidak berdandan, tetapi bentuk dan warnanya dianggap cukup untuk memanggil gambaran pengantin. Contoh lain menyebut sesuatu yang waktu kecil berbaju hijau dan sesudah besar berbaju merah, dan jawabannya cabai. Baju adalah kebiasaan manusia. Cabai dipahami lewat pakaian karena pakaian yang tersedia di kepala penuturnya. Urutan peminjamannya selalu searah. Manusia menjadi ukuran, benda menyesuaikan diri, dan tidak ada satu pun teka-teki yang menerangkan manusia dengan meminjam sifat cabai atau kecombrang.

Hewan dipakai dengan cara berbeda. Pelukisan burbar ronggur margantungan lompong, suara petir menggelegar dan kelelawar bergelantungan, berjawab orang yang sedang memarut kelapa. Dua gambaran yang tampak jauh itu bertemu pada gerak dan bunyi. Pelukisan songgop unggeh kak di tungko na tolu, hinggap burung gagak di tiga tunggul pohon, berjawab tungku, sebab periuk hitam yang bertengger di atas tiga tumpuan memang menyerupai burung hitam yang hinggap.

Baca juga Cuitan Lama Ridwan Kamil dan Pilkada Jakarta 2024

Tumbuhan dan benda mati mengisi sisanya dengan cara yang lebih tenang. Sesuatu yang akarnya ke atas dan pucuknya ke bawah berjawab jenggot. Emas di luar dan perak di dalam berjawab padi, kulit kuning membungkus butir putih. Pelukisan pala marsik aek laut lusut mata ni ari, jika air laut surut matahari terbenam, berjawab lampu teplok, sebab nyala lampu memang padam ketika minyaknya habis. Sesuatu yang seputih anak perempuan dan berubah hijau bila diusap berjawab buah kundur.

Dominasi kategori manusia itu dibaca keduanya sebagai kecenderungan antropomorfisme, yakni memahami benda di luar diri lewat sifat kemanusiaan. Pilihan bendanya sendiri menunjukkan hal lain lagi. Tanduk rusa, kecombrang, jamur pada kayu mati, tungku, lampu teplok, padi, dan buah kundur adalah isi rumah dan isi ladang. Teka-teki hanya bisa dijawab oleh orang yang hidup di antara benda-benda itu, dan di situlah ia berhenti menjadi permainan bahasa semata. Susunan benda itu merekam lingkungan tempat penuturnya bekerja: dapur, ladang padi, hutan di belakang kampung, dan penerangan sebelum listrik masuk.

Cara Teka-teki Memilah yang Tahu dari yang Menebak

Fungsi sosialnya tercatat dua saja. Sebanyak 25 data berfungsi menguji kepandaian, 13 data lainnya berfungsi sebagai hiburan. Pembagian itu tidak berarti dua kelompok teka-teki yang terpisah, sebab satu pertanyaan yang sama bisa dipakai untuk keduanya tergantung siapa yang ditanya. Pelukisan yang dibungkus bukan makanan, ditanam bukan tanaman, misalnya, berjawab mayat, dan hampir tidak mungkin ditebak orang yang belum pernah mendengarnya. Daftar fungsi yang dikenal dalam kajian folklor sebenarnya lebih panjang, mencakup meramal, mengisi bagian upacara perkawinan, menemani orang bergadang menjaga jenazah, dan menandingi kemampuan orang lain. Di Kampung Roba Julu, dari lima fungsi itu hanya dua yang masih terpakai.

Di titik itu penulisnya berhenti dan mengoreksi istilah yang biasa dipakai. “Istilah kepandaian digunakan alih-alih kecerdasan karena faktanya, beberapa atau bahkan banyak teka-teki yang tidak dapat dijawab hanya dengan pemikiran logis, melainkan jawabannya mesti diketahui sebelumnya,” tulis Rahmi Hamida dan Zulfadhli. Yang diuji ternyata bukan daya pikir, melainkan seberapa lama seseorang sudah tinggal dan mendengar di tempat itu. Penjawab dituntut punya wawasan dan pengalaman, bukan sekadar penalaran yang cepat, dan syarat itu yang membuat teka-teki bekerja sebagai saringan keanggotaan.

Baca juga Lima Kaidah Budaya dalam The Architecture of Love

Fungsi hiburannya bekerja dari arah berlawanan. Pelukisan na marbodak jolo so maridi, yang memakai bedak sebelum mandi, berjawab goreng pisang. Penjawab yang berpikir keras lalu mendengar jawaban sesederhana itu akan tertawa, dan tawanya bukan karena ia kalah, melainkan karena jarak antara usaha dan jawaban ternyata jauh sekali. Teka-teki telapak kaki bekerja dengan cara yang persis sama pada perkumpulan malam. Suasana yang tadinya datar berubah begitu jawaban dibuka, dan rasa penasaran yang sempat menumpuk keluar sebagai tawa.

Cara Tradisi Ini Berhenti Diwariskan

Mesin sederhana itu hanya berjalan selama ada yang memutarnya. Di Kampung Roba Julu, pertanyaan tradisional sudah jarang terdengar karena generasi muda tidak lagi tertarik memainkannya, dan itulah alasan kedua peneliti turun ke lapangan. Kajian sejenis sebelumnya berhenti di tempat lain: Febyola pada 2022 di Padang Pariaman, Yeni pada 2022 di Manggopoh Kabupaten Agam, dan Pangestu pada 2023 pada masyarakat berbahasa Melayu di Kuantan Singingi. Zulfadhli sendiri pernah ikut membedah teks teka-teki kolektif Minangkabau bersama Hasanuddin dan Emidar pada 2023, sementara Oktafrian dan timnya sudah memetakan pertanyaan tradisional di Pesisir Selatan sejak 2018.

Pasaman Barat menempati posisi yang berbeda dari semuanya. Ia wilayah perbatasan kultural, tempat komunitas Mandailing hidup di dalam provinsi yang lekat dengan tradisi Minangkabau, sehingga teka-teki yang bertahan di sana menanggung dua arus sekaligus. Kebaruan yang keduanya klaim bukan pada inventarisasi datanya, melainkan pada pembacaan pergeseran antropomorfisme dan nilai pendidikan informal di dalamnya. Batas pekerjaannya diakui sendiri oleh penulisnya: cakupan wilayah yang sempit dan jumlah informan yang hanya tiga membuat 38 data itu belum mewakili keseluruhan pertanyaan tradisional di wilayah yang lebih luas. Saran yang mereka tinggalkan sederhana dan tidak berbunyi ilmiah: kembalikan teka-teki ke perkumpulan warga dan ke waktu menjelang tidur anak-anak.

Yang bisa disimpulkan tinggal susunannya, bukan sebarannya. Dua unsur, satu pertentangan yang sengaja dipasang, dan sekumpulan benda yang hanya dikenal orang setempat. Selama jamur masih tumbuh di kayu mati dan masih ada yang bertanya sesudah ibuku meninggal barulah aku lahir, mesin itu belum berhenti. Yang belum jelas adalah siapa yang akan menjawabnya sepuluh tahun lagi.

Bagikan

Baca Juga

Ilustrasi rumah gadang beratap gonjong berdiri di antara pepohonan.
Empat Puluh Teka-teki Tua di Pasaman Barat
Sekelompok penari Indang berbaju merah dan kuning duduk berbaris sambil mengangkat tangan
Rede, Pukulan yang Menahan Penonton Indang sampai Larut
Ilustrasi ceruk buatan manusia berlubang masuk persegi dengan pelipit pada tebing batu berlumut di tepi sungai kecil, dikelilingi ladang palawija, pohon aren, dan perbukitan berhutan
Gua Umang Karo: Rumah Makhluk Halus atau Kubur Batu?
Kolaborasi Pemprov Sumbar dan Kuwait: Pesantren Ma'had Al Afaf Resmi Berdiri
Kolaborasi Pemprov Sumbar dan Kuwait: Pesantren Ma'had Al Afaf Resmi Berdiri
Kondisi Lalu Lintas Simpang Empat-Talu di Talamau Kini Kembali Normal Pasca Longsor
Kondisi Lalu Lintas Simpang Empat-Talu di Talamau Kini Kembali Normal Pasca Longsor
Kapolres Pasaman Barat dan Forkopimda memasang plang larangan di kawasan hutan Air Bangis sebagai upaya pencegahan perusakan. Kapolres mengingatkan ancaman pidana selama 10 tahun penjara dan denda maksimal Rp5 milliar.
Masyarakat Air Bangis Diimbau Jauhi Hutan atau Dipenjara 10 Tahun di Balik Jeruji