Cuitan Lama Ridwan Kamil dan Pilkada Jakarta 2024

A A

Ilustrasi gedung-gedung bertingkat di kawasan pusat kota menjelang malam. [Foto: Pexels]

Cekricek.id — Di baris keenam tabel itu, satu kolom dibiarkan kosong. Dua belas baris lain terisi lengkap: jumlah suka, jumlah postingan ulang, jumlah kutipan, jumlah komentar. Hanya baris bertanggal 6 Juni 2011 yang tidak punya angka komentar. Alasannya ditulis apa adanya oleh penyusun tabel tersebut, bahwa cuitannya sudah dihapus. Satu-satunya keterangan yang mengisi kolom itu adalah kalimat, bukan bilangan.

Tabel itu ada di dalam artikel Pengaruh Cuitan Viral Ridwan Kamil terhadap Opini Publik & Elektabilitas pada Pilkada DKI Jakarta 2024: Kajian Etnografi Virtual dan Reader Response karya Tsanaa Mahara Haq, Robi’atul Muthmainnah, Aura Zahradiva Penggalih, Alma Shafifa Dilsari, dan Nani Darmayanti dari Program Studi Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Padjadjaran. Artikelnya terbit di jurnal Metahumaniora, Volume 16 Nomor 1, tahun 2026, halaman 30 sampai 37.

Yang mereka periksa bukan spanduk, bukan debat, bukan iklan kampanye. Yang mereka periksa tiga belas cuitan lama di akun @ridwankamil, diunggah antara 2010 dan 2012, ketika pemiliknya belum menjadi wali kota dan belum mencalonkan diri di Jakarta. Cuitan-cuitan itu naik kembali ke permukaan pada Agustus 2024, empat belas tahun sesudah sebagian di antaranya ditulis. Pemiliknya, mantan Wali Kota Bandung dan mantan Gubernur Jawa Barat, saat itu maju sebagai calon nomor urut satu.

Akun @ridwankamil bukan akun kecil. Pengikutnya lebih dari delapan juta orang menurut data Februari 2024 yang dikutip tim tersebut, dengan gaya berkomunikasi yang santai tetapi informatif, kerap memakai meme dan humor untuk menyampaikan hal serius. Jejak sepanjang itulah yang kemudian dibuka kembali orang lain, dari ujung yang paling awal.

Daftar Isi
  1. Baris Nomor Enam
  2. Tiga Belas Cuitan
  3. Tagar #AsalBukanRK
  4. Tiga Puluh Lima Kuesioner

Baris Nomor Enam

Ilustrasi tangan memegang telepon pintar dan menggulir layarnya.
Ilustrasi tangan memegang telepon pintar dan menggulir layarnya. [Foto: Pexels]

Cuitan pada baris keenam berbunyi “Tengil, gaul, glamor, songong, pelit, gengsian, egois, pekerja keras, tahan banting, pamer, hedon. Itu karakter org JKT. #citybranding”. Tanggalnya 6 Juni 2011. Sebelum dihapus, ia sempat mengumpulkan 58 suka, 92 postingan ulang, dan 91 kutipan. Kolom komentarnya tidak bisa lagi diakses ketika data dikumpulkan. Tanda pagar di ujungnya, citybranding, menandai bahwa kalimat tersebut ditulis bukan sebagai gurauan pribadi melainkan sebagai gagasan tentang sebuah kota.

Penghapusan itu terjadi sesudah kecaman menumpuk. Pada Minggu, 25 Agustus 2024, pemilik akun menyampaikan permintaan maaf lewat cuitan di akun yang sama. Permintaan maaf semacam itu bukan yang pertama. Tim peneliti mencatat Ridwan Kamil pernah meminta maaf atas cuitan-cuitannya yang tidak pantas pada 2018, ketika ia mencalonkan diri sebagai Gubernur Jawa Barat. Ia juga pernah mengakui pernah menulis hal-hal yang mendiskreditkan orang Jakarta, dan menyatakan bahwa sebagai pemimpin dirinya kini lebih santun serta beretika.

Baca juga Benteng Keraton Buton dan Dua Belas Pintunya

Pemicunya satu unggahan pengguna lain. Akun @entalpih mengangkat kembali cuitan lama tersebut pada 25 Agustus 2024. Unggahan itu mengumpulkan 44.000 suka, 10.000 postingan ulang, dan 848 kutipan. Kolom komentarnya berubah menjadi tempat pengguna lain menempelkan cuitan-cuitan lama yang lain. Jumlah suka pada unggahan pengguna itu sendirian melampaui total suka seluruh tiga belas cuitan yang kemudian diteliti.

Tiga Belas Cuitan

Dari tiga belas cuitan terpilih, seluruhnya mengumpulkan 29.597 suka, 31.054 postingan ulang, 5.535 kutipan, dan 2.837 komentar. Angka itu dihitung pada Minggu, 2 Februari 2025. Ia tidak terbagi rata. Sebagian besar menumpuk di dua baris saja. Rentang tanggalnya berjauhan, dari Agustus 2010 sampai Januari 2012.

Cuitan tertanggal 9 Juni 2010 sendirian menyumbang 21.700 suka dan 23.600 postingan ulang. Cuitan 12 Mei 2011 menyusul dengan 6.235 suka dan 6.430 postingan ulang. Sisanya kecil, bahkan sangat kecil. Ada baris dengan satu suka, ada yang delapan postingan ulang, ada yang nol komentar. Sebelas cuitan lain nyaris tidak menghasilkan apa-apa. Artinya perhatian publik pada 2024 tidak tersebar merata ke seluruh arsip itu, melainkan menempel pada beberapa kalimat tertentu.

Isinya tidak seragam. Sebagian menyasar karakter orang Jakarta. Sebagian lagi, menurut catatan tim Universitas Padjadjaran, memuat muatan seksual dan misoginis, memakai diksi bernada erotis, serta mencantumkan nama sejumlah figur publik perempuan yang saat itu sedang populer. Tim tersebut memotret ulang cuitan-cuitan itu sebagai tangkapan layar dan menempatkannya sebagai dokumen media. Berapa banyak cuitan yang masuk kategori tersebut tidak dihitung; keberadaannya hanya ditandai sebagai temuan.

Tanggapan datang dari beberapa lapis pengguna sekaligus. Ada akun figur publik seperti @realfedinuril dan @mazzini_gsp, ada akun komunitas seperti @neohistoria_id, ada akun base, ada pengguna biasa. Sebagian besar komentar, tulis tim itu, menyatakan keterkejutan pada cara seorang tokoh politik mengungkapkan gagasan di ruang yang bisa dibaca siapa saja dan tidak dibatasi waktu. Bentuk tanggapannya beragam: postingan ulang, kutipan, dan komentar di bawah unggahan asal.

Isi komentarnya kemudian bergeser. Ada ungkapan malu, ada kegelisahan, ada kekhawatiran dari orang-orang yang menempatkan diri sebagai warga Jakarta yang akan dipimpin bila calon itu terpilih. Ada pula yang membandingkan keadaan Jawa Barat, daerah yang pernah ia pimpin, dengan Jakarta yang sedang ia lamar. Sebagian menyoroti usia penulisnya saat itu, yang dianggap sudah cukup matang untuk menimbang apa yang pantas dibagikan di ruang terbuka.

Baca juga Seharuk, Cerita Cerdik dari Sungai Komering

Kaitan antara cuitan politikus dan pilihan pemilih sudah lebih dahulu diperiksa orang lain. Tim itu mengutip Nugroho yang pada 2020 menemukan 63 persen respondennya merasa cuitan politikus di X ikut memengaruhi pandangan mereka terhadap kandidat tertentu, serta catatan Kominfo pada 2022 bahwa 45 persen pengguna media sosial di Indonesia pernah terpapar berita palsu bertema politik.

Tagar #AsalBukanRK

Dari komentar, muncul label. Tim peneliti mencatat empat yang paling sering dilekatkan: seksis, misoginis, cabul, dan rasis. Label itu tidak berhenti pada satu unggahan. Ia menempel pada nama orangnya, lalu mengeras menjadi opini bersama bahwa yang bersangkutan bukan orang yang tepat untuk memimpin Jakarta. Keempat label itu muncul berulang di banyak akun sekaligus, bukan hanya di satu kolom komentar.

Permintaan maaf 25 Agustus 2024 tidak menghentikannya. Sesudah itu beredar tagar #AsalBukanRK, ajakan terbuka untuk tidak memilih calon nomor urut satu tersebut pada hari pencoblosan. Tagar adalah bentuk paling ringkas dari sebuah sikap: satu baris, tanpa argumen, mudah disalin siapa saja. Tim peneliti memasukkannya sebagai bukti bahwa kecaman itu berpindah bentuk, dari komentar menjadi ajakan.

Untuk membaca semuanya, tim itu memakai etnografi virtual dengan empat tingkat pengamatan yang mereka rujuk dari Christine Hine dan Mayasari: ruang media, dokumen media, objek media, dan pengalaman. Tingkat pertama memeriksa platformnya, tingkat kedua isi teksnya, tingkat ketiga interaksi antarpengguna, tingkat keempat apa yang terbawa keluar dari layar. Metode itu dipilih karena tidak dibatasi jarak maupun waktu, sehingga arsip berumur belasan tahun bisa diperlakukan sebagai lapangan.

Tingkat terakhir dibaca dengan pendekatan reader response, yang menempatkan makna pada pembaca, bukan pada teks itu sendiri. Pilihan tersebut punya akibat langsung. Yang diukur bukan maksud orang yang menulis cuitan pada 2011, melainkan apa yang dibaca orang lain di dalamnya pada 2024. Pendekatan tersebut bersandar pada hermeneutika yang meletakkan makna di tangan pembacanya.

Tiga Puluh Lima Kuesioner

Tingkat keempat itu dikerjakan lewat kuesioner. Respondennya harus memenuhi tiga syarat: berusia 17 tahun atau lebih, beralamat kartu tanda penduduk di Provinsi Jakarta, dan sudah menggunakan hak pilihnya pada Pilkada DKI Jakarta 2024. Yang terkumpul 35 orang. Kuesionernya diberi judul yang menyebut langsung apa yang hendak diukur, yaitu pengaruh cuitan viral terhadap keputusan pemilih.

Baca juga Dua Puisi Duka, Dua Bayangan tentang Kematian

Dari 35 orang itu, 57,1 persen menyatakan cuitan-cuitan lama tersebut memunculkan sentimen negatif. Sebanyak 54,3 persen menyatakan tidak memilih Ridwan Kamil karena terpengaruh cuitan itu. Sebanyak 85,7 persen menilai cuitannya mengandung unsur seksisme yang merugikan kelompok tertentu, dan 62,9 persen mengaku cuitan tersebut memunculkan kemarahan atau kekecewaan.

Angka lain mengikuti pola yang sama. Sebanyak 51,4 persen sangat setuju cuitan itu cenderung misoginis. Sebanyak 57,1 persen sangat setuju cuitan tersebut mencerminkan kurangnya kesadaran terhadap sensitivitas sosial dan budaya. Sebanyak 37,1 persen sangat setuju dan 51,4 persen setuju bahwa cuitan itu menggeneralisasi identitas satu kelompok tanpa dasar.

Tiga puluh lima adalah angka yang perlu dibaca apa adanya. Tim tersebut menyatakan pendekatannya kualitatif deskriptif dan menyebut respondennya sebagai sampel, bukan potret pemilih Jakarta yang berjumlah jutaan. Datanya pun terbatas pada tiga belas cuitan terpilih, dengan satu kolom yang tidak bisa diakses. Yang tergambar adalah apa yang dirasakan 35 orang, bukan apa yang menentukan hasil pemilihan. Kaitan antara cuitan lama dan pilihan seseorang di bilik suara juga bukan hal yang sama dengan sebab-akibat.

Yang ditunjukkan datanya lebih sempit sekaligus lebih tajam. Sebuah kalimat yang ditulis pada 2011, dalam hitungan menit, dengan tanda pagar yang mungkin terasa lucu pada masanya, masih bisa dipanggil kembali ke ruang publik empat belas tahun kemudian, lengkap dengan tanggal dan angka sukanya. Lebih dari 72 juta orang Indonesia memakai X, menurut data yang dikutip tim tersebut, dan arsip siapa pun di dalamnya tetap bisa dibuka kembali oleh siapa pun.

Cuitan itu sendiri kini tidak ada lagi. Kolom komentar di baris keenam tetap kosong, dan akan terus kosong. Yang tersisa dari kalimat tersebut tinggal salinannya di dalam sebuah artikel jurnal, tempat ia dikutip utuh, diberi tanggal, dan disimpan jauh lebih lama daripada niat orang yang menghapusnya.

Bagikan

Baca Juga

Ilustrasi seorang perempuan berjilbab menatap layar telepon pintar sambil berdiri di depan rimbun dedaunan hijau.
Maksim Kesantunan yang Runtuh di Kolom Komentar
Ilustrasi seorang perempuan muda duduk di meja dekat jendela berdaun biru sambil menatap layar telepon pintarnya.
Dua Gaya Bahasa Islam di Beranda Facebook
Ilustrasi sepasang tangan mengetik pada layar telepon pintar yang menyala terang di ruangan bercahaya merah.
Ujaran Kebencian @jokowi di Mata Linguistik Forensik
Ilustrasi sepasang tangan memegang telepon pintar yang menampilkan lini masa berisi deretan gambar unggahan media sosial.
Makna Tersirat di Balik Komik Strip Sampahisasi
Seorang pembeli memilih produk di antara rak-rak sebuah toko swalayan
Kepala Bayi di Poster Boikot Digital Gaza
Seorang pemetik kopi membawa keranjang di antara pohon kopi
Enam Belas Unggahan Fore Coffee dan Mitos Kopi