Dua Puisi Duka, Dua Bayangan tentang Kematian

A A

Ilustrasi jalan setapak berbatu di sebuah pemakaman yang rimbun oleh pepohonan. [Foto: Pexels]

Daftar Isi
  1. Dari Skelton 2003 sampai Farrant 2020
  2. Kansas 1909 dan Majalah The Gypsy
  3. Davison 1974 dan Jalan yang Dibentangkan
  4. Bassnett 1993 dan Pembagian Wellek serta Warren
  5. Bacaan Cedrone 2023 dan Sisa yang Belum Terjawab

Cekricek.id — Sepanjang abad kedua puluh, orang yang berduka di Amerika Utara terus mencari larik yang pantas dibacakan di tepi liang. Sebagian menemukannya pada tiga belas baris yang terbit di sebuah majalah kecil bernama The Gypsy pada Desember 1934. Sebagian lagi pada dua puluh baris yang ditulis tangan pada 22 Juni 1974 dan baru dipasang penulisnya di internet pada 2021. Kedua puisi itu beredar berpuluh tahun sebagai teks yang nyaris tanpa tuan: dicetak ulang di koran, disalin ke kartu duka, dibacakan di ruang-ruang pemakaman, dan berkali-kali dilekatkan pada nama pengarang yang keliru. Baru belakangan keduanya dipertemukan dalam satu meja baca.

Empat peneliti menempatkan keduanya berdampingan dan menemukan bahwa penghiburan yang ditawarkan masing-masing berangkat dari keyakinan yang tidak sama. Kajian itu dikerjakan Bintang Adrian Perdana Putra, Gesit Nurdin Darmawan, dan Nandy Intan Kurnia dari Universitas Negeri Yogyakarta bersama Nadia Khumairo Ma’shumah dari Universitas Gadjah Mada. Artikel mereka, Exploring mortality: Insights from two female poets through Bassnett’s comparative literature, terbit di jurnal LITERA Vol. 24 No. 3 pada 2025. Yang dibandingkan adalah Immortality karya Clare Harner, tiga belas baris, dan I’m Free karya Anne Lindgren Davison, dua puluh baris. Keduanya puisi pemakaman, dan keduanya menolak ratapan.

Dari Skelton 2003 sampai Farrant 2020

Ilustrasi hamparan gandum keemasan saat matahari terbenam.
Ilustrasi hamparan gandum keemasan saat matahari terbenam. [Foto: Pexels]

Kematian dalam sastra sudah lama dibaca dari pintu lain sebelum dua puisi ini disandingkan. Zygmunt Bauman pada 1992 sudah menaruh dasarnya dengan mengatakan bahwa kematian adalah hal paling pasti dalam hidup manusia sekaligus yang paling gelap untuk dijelaskan. Sebelas tahun sesudah itu Skelton memeriksa sejumlah teks sastra dari sudut pandang kedokteran dan menyimpulkan bahwa penulis memakai kematian dengan cara yang berbeda-beda: ada yang memindahkan pengalaman pribadinya, ada yang sengaja membentuk cara pembaca berpikir tentang maut, ada pula yang memakainya untuk melukiskan runtuhnya sebuah masyarakat. Ia mencatat satu hambatan yang jarang dibicarakan. Tenaga kesehatan maupun pasien kerap sulit terhubung dengan teks semacam itu karena jarak budaya, jarak waktu, dan jarak tempat.

Empat belas tahun kemudian Termizi dan rekan-rekannya memindahkan pertanyaan itu ke sosiologi sastra. Mereka menelaah sejumlah puisi Malaysia kontemporer dan menempatkan kematian sebagai perangkat sastra yang bekerja karena menarik rasa ingin tahu pembaca: hadir dalam benak tokoh sebelum maut datang dalam wujud gaib, lalu hadir lagi sesudahnya dalam wujud metafisis. Setahun sesudah itu Marimuthu membedah kumpulan puisi Emily Dickinson dan menemukan pandangan Dickinson tentang kematian sangat dipengaruhi kehilangan sahabat karibnya semasa Perang Saudara, sampai yang tinggal di puisinya adalah proses sekarat yang menyiksa dan rasa sakit orang yang menghadapinya. Pada 2020 Farrant menggeser fokus ke novel pascamilenium dan menelusuri bagaimana kehidupan di sana selalu dibingkai terikat pada kematian.

Baca juga Makna Tersirat di Balik Komik Strip Sampahisasi

Rantai itu panjang, tetapi ada satu ruang yang belum diisi siapa pun. Menurut penelusuran keempat peneliti tadi atas riset yang tersedia secara terbuka, belum ada kajian yang membandingkan Immortality dan I’m Free secara langsung. Yang ada baru bacaan atas masing-masing puisi, dan sebagian di antaranya bahkan masih memakai nama pengarang yang salah. Syazwina dan rekan pada 2024 membaca makna konotatif Immortality dengan tetap mencantumkan Mary Elizabeth Frye sebagai penulisnya. Kesalahan yang sama terulang di A Companion of American Poetry susunan Martin dan Meder pada 2022, yang mencatat puisi itu menghibur pembaca dengan cara membayangkan orang yang pergi menjadi satu dengan alam alih-alih lenyap.

Kansas 1909 dan Majalah The Gypsy

Clare Harner lahir di Kansas pada 1909, di sebuah keluarga terpandang yang berhimpun di First Methodist Episcopal Church. Minat dan bakatnya pada musik dan puisi tampak sejak kecil dengan dukungan ibunya. Ia menempuh pendidikan di College of Emporia yang berafiliasi dengan gereja Presbiterian, lalu pindah ke Kansas State University dan mengambil jurusan Industrial Journalism sambil mengasah kemampuan menulis lewat kegiatan di luar kuliah. Sesudah lulus ia bekerja sebagai sekretaris dan terus mengirimkan puisi ke berbagai majalah. Dua tahun sesudah salah seorang saudara laki-lakinya meninggal, Immortality terbit di majalah The Gypsy pada Desember 1934, lalu dicetak ulang di Kansas City Times pada Februari 1935.

Dua larik pertama puisi itu berbunyi, “Do not stand by my grave and weep, I am not there, I do not sleep.” Bentuk perintah yang sama berulang menjelang penutup dengan satu kata diganti, “I am not there, I did not die.” Menurut analisis tim peneliti, pengulangan bentuk perintah itu bukan sekadar hiasan bunyi, melainkan cara penyair mendesak pembaca supaya tidak berlama-lama tenggelam dalam duka. Sudut pandang orang pertama tunggal membuat puisi itu terdengar seolah orang yang telah pergi sendiri yang membacakannya, dan justru dari situ jarak antara pembaca dan yang dibaca menipis. Harner meninggal pada 1977. Berita dukanya menyebut keanggotaannya di Second Church of Religious Science di Claremont Street.

Namanya berulang kali tergeser oleh nama Mary Elizabeth Frye, yang klaim kepengarangannya tidak pernah bisa dipastikan bahkan oleh kolom nasihat Dear Abby yang disebut sebagai pihak yang mengukuhkannya. Abigail van Buren, nama pena penulis kolom itu, berkali-kali mengaku tidak sanggup memastikan siapa penulis aslinya. Nasib serupa menimpa Davison. Puisinya menyebar di internet tanpa namanya, atau lebih buruk lagi, dengan nama orang lain, sampai ia mendaftarkan hak ciptanya pada 1994. Dua penyair, satu masalah yang sama, dan sebuah keping bukti tentang bagaimana teks penghiburan berpindah tangan lebih cepat daripada nama yang menulisnya.

Davison 1974 dan Jalan yang Dibentangkan

Riwayat Anne Lindgren Davison jauh lebih sedikit tercatat, dan yang diketahui hampir seluruhnya berasal dari situs yang ia buat khusus untuk satu puisi itu pada 2021. Ia menulisnya dengan tangan pada 1974, ketika berusia pertengahan tiga puluhan, sepulang dari sebuah pemakaman yang membuatnya merenungkan kematiannya sendiri. Ia merasa telah mencapai apa yang ia inginkan dalam hidup, dan karena itu tidak ingin orang bersedih bila ia mati. Larik pertama sampai ketiga puisinya berbunyi, “Don’t grieve for me for now I’m free, I’m following the path God laid for me, I took his hand when I heard him call.” Larik terakhirnya menutup dengan, “God wanted me now, He set me free.”

Baca juga Saat Dua Bahasa di Kepala Berebut Giliran Bicara

Alasan yang disodorkan Davison agar keluarga tidak berduka bukan alasan alam, melainkan alasan hidup yang sudah cukup. Larik kelima belas dan keenam belas puisi itu berbunyi, “My life’s been full, I’ve savored much, Good friends, good times, my loved one’s touch.” Kata full dan savored, catat tim peneliti, dipakai untuk menyatakan syukur, penerimaan, dan kepuasan sekaligus. Dua larik lain menegaskan larangan berlarut-larut, “If my time seemed all too brief, Don’t lengthen it now with undue grief.” Ivancovich dan Wong pada 2008 menyebut orang memang tidak bisa mengendalikan datangnya duka, tetapi masih bisa memilih cara menjalaninya, termasuk dengan menyandarkannya pada keyakinan.

Bassnett 1993 dan Pembagian Wellek serta Warren

Untuk menyandingkan keduanya, tim itu memakai kerangka sastra bandingan yang disusun Susan Bassnett pada 1993, dengan pendekatan deskriptif kualitatif dan peneliti sendiri sebagai instrumen utama. Alat pembaginya lebih tua lagi, yaitu pemilahan unsur intrinsik dan ekstrinsik yang dirumuskan Wellek dan Warren pada 1956. Keduanya mengingatkan bahwa latar sejarah, sosial budaya, psikologi, dan biografi pengarang memang membantu memahami sebuah karya, tetapi bersandar semata pada unsur di luar teks berisiko keliru menafsir dan mengabaikan struktur dalam karya itu sendiri. Tiga unsur intrinsik yang diperiksa dipilih karena alasan itu: penutur, tema, dan citraan. Dari ketiganya, citraan yang paling terang membedakan.

Harner memadatkan gagasan abstrak tentang maut menjadi benda dan gejala yang bisa ditangkap indra, sesuatu yang oleh Dupriez pada 1991 disebut konkretisasi dan oleh Abrams disebut cara citraan membangkitkan tanggapan rasa pembaca. Puisinya menyebut seribu angin yang bertiup, kilau intan di salju, cahaya matahari di gandum yang menguning, hujan musim gugur yang lembut, kepakan burung yang berputar di udara pagi, dan siang yang melampaui malam. Angin bisa disentuh, salju dan gandum bisa dilihat, burung bisa didengar. Kata angin, salju, matahari, dan musim gugur berjejer sedemikian rupa sehingga yang telah pergi seolah hadir di sepanjang tahun, di semua musim, tanpa satu pun tempat yang bisa disebut kuburnya.

Baca juga Makian Warganet Diukur dengan Pasal 27A UU ITE

Davison hampir tidak memakai citraan indrawi semacam itu. Yang mengisi ruangnya adalah sosok Tuhan beserta kata ganti yang menyertainya: jalan yang dibentangkan Tuhan, tangan Tuhan, panggilan Tuhan, dan Tuhan yang membebaskan. Keduanya sama-sama memakai sudut pandang orang pertama tunggal, sama-sama menolak ratapan, sama-sama menghibur yang ditinggalkan. Keyakinan keagamaan, tulis tim itu, “memainkan peran penting dalam memengaruhi bagaimana kematian ditafsirkan dalam ungkapan puitis.” Yang berbeda adalah bahan penghiburannya. Satu mengambil dari alam dan menjanjikan perubahan wujud, satu lagi mengambil dari janji perjumpaan kembali dan menempatkan maut sebagai bagian rencana yang sudah dibentangkan lebih dulu.

Bacaan Cedrone 2023 dan Sisa yang Belum Terjawab

Bacaan itu tidak berdiri tanpa tandingan. Dalam disertasinya di Boston University pada 2023, Cedrone menilai yang bekerja dalam puisi Davison adalah spiritualitas, bukan religiositas, dan yang diungkapkannya terutama rasa syukur atas hidup yang diberikan Tuhan. Cedrone menambahkan satu keberatan yang tidak ringan: karena Tuhan yang sama itulah yang menentukan kapan seseorang pergi, puisi tersebut justru berpotensi menyulitkan proses berduka bagi yang ditinggalkan. Tim Yogyakarta mengutip keberatan itu dan mengakui Davison memang tidak memakai simbol keagamaan yang cukup khas untuk benar-benar disebut religius. Yang mereka pertahankan hanya bahwa nada Abrahamik dalam puisinya lebih mudah dikenali ketimbang nada apa pun dalam puisi Harner.

Ada kejanggalan lain yang mereka catat sendiri. Harner tumbuh dalam lingkungan yang jauh lebih dekat dengan tradisi Abrahamik ketimbang kepercayaan Gypsy, sementara puisinya justru bersandar pada gagasan menyatu dengan alam yang bertentangan dengan keyakinan masa kecilnya. Bahwa puisinya terbit di majalah bernama The Gypsy, dan bahwa masyarakat Romani memandang kubur sebagai tempat berkabung sementara arwah dianggap tetap ada di antara yang hidup dan bahkan masih bisa diajak bicara, dipakai tim itu sebagai penjelasan yang masuk akal. Dumitrescu pada 2010 mencatat kematian dalam pandangan itu lebih menyerupai tidur singkat. Penjelasan tetaplah penjelasan, bukan bukti.

Keempat peneliti menyebut sendiri batas kerjanya: kajian ini hanya menyentuh dua puisi karya dua penyair perempuan Amerika, sehingga tidak mewakili puisi pemakaman pada umumnya maupun karya sastra bertema kematian secara keseluruhan, dan perhatian pada riwayat hidup kedua penyair pun masih terbatas. Yang mereka tawarkan bukan hukum tentang bagaimana agama membentuk puisi duka, melainkan satu mata rantai baru dalam pembacaan panjang yang dimulai jauh sebelum mereka dan belum ditutup sesudahnya. Sebuah larik yang dibacakan di tepi liang jarang ditanya asal-usulnya. Selama hampir seabad, dua di antaranya bekerja justru karena tidak ada yang bertanya.

Bagikan

Baca Juga

Ketika Puisi Nizar Qabbani Pindah ke Instagram Reels
Salawat Kematian di Koto Panjang Hanya Dibaca di Rumah Duka
Soneta Wing Kardjo yang Menampung Novel Mochtar Lubis
Mawar Melapor Pelecehan, Abah Menjawab Kodrat
Roti, Hasrat, dan Novel yang Dibicarakan Pembaca
Ketika Mengeluh Jadi Bahasa Utama Sebuah Novel