Saat Dua Bahasa di Kepala Berebut Giliran Bicara

A A

Ilustrasi seorang mahasiswa berbicara di depan kelas. [Foto: Pexels]

Daftar Isi
  1. Cara Dua Bahasa Berebut Satu Giliran
  2. Tiga Tahap Sebelum Bunyi Keluar
  3. Cara Tawa Orang Lain Mengubah Sikap Bahasa
  4. Di Mana Penjelasan Ini Berhenti

Cekricek.id — Ada orang yang hafal seluruh pola tenses, tahu arti hampir setiap kata dalam bacaannya, lalu tersendat begitu harus mengucapkan satu kalimat di depan orang lain. Kalimatnya berhenti di tengah. Muncul jeda, bunyi panjang tanpa makna, satu kata yang diulang dua kali, atau permintaan bantuan kepada lawan bicara. Yang ganjil, katanya sebenarnya ada di kepala. Ia baru membacanya kemarin. Mulutnya tetap mengeluarkan yang lain, atau tidak mengeluarkan apa-apa.

Keadaan itu punya nama di linguistik: language friction, friksi bahasa. Tujuh peneliti merangkum apa yang sudah diketahui tentangnya dalam artikel Studies on language friction in producing English utterances: Systematic literature review. Penulisnya Slamet Setiawan, Suhartono, dan Anas Ahmadi dari Universitas Negeri Surabaya; Nashruddin dari Universitas Negeri Surabaya dan Universitas Muslim Maros; Djoko Susanto dari Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim; Liqaa Habeb Al-Obaydi dari University of Diyala, Irak; serta Salasiah Ammade dari Universitas Muhammadiyah Pare-Pare. Artikel itu terbit di jurnal Diksi Volume 33 Nomor 1 tahun 2025, halaman 1 sampai 16.

Definisi yang mereka pakai berasal dari Innocentia (2020): friksi bahasa adalah keadaan ketika penutur tidak sanggup memproduksi tuturan yang ia maksudkan selancar yang ia harapkan dalam percakapan. Penyebabnya bukan kekurangan bahan. Justru sebaliknya, ada terlalu banyak bahasa yang hidup di kepala penuturnya, dan bahasa-bahasa itu menyala bersamaan sebelum kata yang dituju ditemukan.

Cara Dua Bahasa Berebut Satu Giliran

Ilustrasi kamus terbuka dengan pena menyela di antara halamannya.
Ilustrasi kamus terbuka dengan pena menyela di antara halamannya. [Foto: Pexels]

Penutur satu bahasa punya satu nama untuk satu benda. Penutur dua bahasa atau lebih tidak. Satu makna di kepalanya memiliki lebih dari satu wakil, masing-masing dengan bunyi, bentuk, dan aturan susunan yang berbeda. Garrido dan Sabate-Dalmau (2020) menyebut kesulitan itu muncul karena satu bahasa bersaing dengan bahasa lain persis pada saat salah satunya hendak diproduksi. Menemukan kata bukan sekadar mengambil dari rak. Rak itu berisi dua barang yang sama-sama mengangkat tangan.

Baca juga Ironi Dunia dalam Lirik Kasidah Nasida Ria

Persaingan itu meninggalkan jejak yang bisa dilihat orang awam. Anjum dan Batool (2017), Declerck dan koleganya (2017), Ishida dan koleganya (2019), Nkrumah dan Neumann (2018), serta Ratner dan MacWhinney (2018) menandai gejalanya lewat alih kode dan campur kode. Bentuk permukaannya berupa kata pengisi, pengulangan, awalan yang gagal, pemanjangan bunyi kata, permintaan bantuan, dan jeda. Winn dan Teece (2020) menempatkan keseleo lidah dalam rombongan yang sama: bukan tanda kebodohan, melainkan tanda dua sistem yang berebut giliran.

Tiga Tahap Sebelum Bunyi Keluar

Levinson (2016) dan Setiawan (2013) menggambarkan bicara sebagai pekerjaan mengubah pesan dari pikiran menjadi bunyi. Pekerjaan itu tidak berlangsung sekaligus. Justice dan koleganya (2018), Peeters dan Dijkstra (2018), serta Rowe dan Snow (2020) memerincinya jadi tiga tahap: menyusun konsep, merumuskannya ke dalam kata dan tata bahasa, lalu mengucapkannya. Friksi tidak muncul di semua tahap sekaligus. Ia biasanya menempel di tahap kedua, ketika konsep sudah jelas tetapi wakil bahasanya belum dipilih. Di sana penahanan terjadi. Peeters dan Dijkstra (2018) menemukan bahwa penutur dua bahasa yang kemampuannya tidak seimbang menahan bahasa pertamanya yang dominan lebih lama dalam situasi bercampur, dan penahanan panjang itu berbiaya. Nkrumah dan Neumann (2018) menunjukkan penahanan bekerja di dua tataran sekaligus, pada kata tunggal dan pada seluruh bahasa. Declerck dan koleganya (2017) menambahkan bahwa percobaan yang menuntut peralihan bahasa menghasilkan perbaikan kesalahan lebih banyak daripada percobaan yang mengulang bahasa yang sama.

Ishida dan koleganya (2019) mencari jejaknya di otak dan menemukan korelasi positif antara frekuensi friksi bahasa dan aktivitas di girus temporal superior kanan, terbaca lewat perubahan aliran darah. Korelasi, bukan sebab-akibat: penelitian itu tidak menyatakan area tersebut memproduksi friksinya. Rangkuman ini juga mencatat kerja pencitraan otak lain, yang menautkan pengelolaan friksi dengan kendali eksekutif, sambil menegaskan bahwa efisiensinya berbeda-beda menurut frekuensi pemakaian bahasa dan kemahiran tiap orang. Berpindah bahasa di tengah kalimat pun tidak gratis. Altun (2021), Fu (2019), Perez-Sabater (2022), dan Yang (2020) mencatat bahwa alih kode menuntut sumber daya kognitif tambahan, sehingga pemrosesannya melambat atau kesalahannya bertambah. Itu sebabnya penutur yang tampak lancar dalam percakapan santai bisa tiba-tiba tersendat pada situasi formal. Bukan kosakatanya yang berkurang. Beban pengaturannya yang bertambah, dan pengaturan itu memakai tenaga yang sama dengan tenaga untuk menyusun kalimat.

Cara Tawa Orang Lain Mengubah Sikap Bahasa

Penjelasan mesin berhenti di sini, dan penjelasan sosial mengambil alih. Tarrayo dan koleganya (2021) mencatat bahwa jeda, pengulangan, pemanjangan kata, dan permintaan bantuan menurunkan kondisi psikologis penutur yang mereka teliti. Dragojevic dan koleganya (2018) serta Kkese (2020) melangkah lebih jauh: ketika orang di sekitar penutur selalu menertawakannya, sikap penutur terhadap bahasa itu dapat berbalik dari positif menjadi negatif. Yang tadinya soal leksikon berubah jadi soal harga diri.

Baca juga Kesantunan Bahasa Jawa Tak Selalu Lewat Putaran

Tekanan itu tidak selalu datang dari lawan bicara di depan mata. Tarrayo dan koleganya (2021) menautkan friksi bahasa dengan ideologi yang mengistimewakan penutur jati, yang dirawat norma budaya sekaligus infrastruktur pendidikan. Rangkuman ini juga menyinggung kajian terdahulu tentang stigma terhadap penutur bahasa atau dialek yang kurang dominan, lalu mencatat temuannya sendiri berbeda: pilihan bahasa memengaruhi cara kompetensi seseorang dinilai dan seberapa jauh ia diterima, dan penilaian itu kerap mencerminkan susunan sosial yang sudah ada.

Dari tujuh belas kajian yang ditinjau, lima memakai sudut sosiolinguistik dan berpusat pada sikap bahasa. Temuannya tidak seragam. Getie (2020) menemukan konteks pendidikan membuat sikap siswa negatif terhadap bahasa Inggris, sementara bahan ajar dan faktor sosial justru membuatnya positif. Romera dan Elordieta (2020) melaporkan hal yang lebih tajam: faktor sosial subjektif berdampak pada sikap bahasa, tetapi tidak berdampak pada friksi bahasanya. Kedua hal itu ternyata tidak selalu bergerak bersama.

Sisanya menunjuk ke tempat friksi bisa ditekan. Gomashie (2022) menyarankan perluasan ranah pemakaian bahasa dimulai dari orang tua di rumah. Lubinska (2021) mengamati kebijakan bahasa keluarga sebagai aturan yang terus diubah anggotanya. Yin dan Li (2021) menuntut kerja bersama sekolah, rumah, dan komunitas untuk menjembatani jurang sikap bahasa antargenerasi. Justice dan koleganya (2018) menyoroti perilaku guru yang memudahkan komunikasi, dan Canut dan koleganya (2023) menemukan kerumitan susunan kalimat pengajar ikut menentukan perkembangan sintaksis pembelajarnya.

Batas antara friksi dan gangguan bicara juga belum tegas. Ratner dan MacWhinney (2018) mengaitkan persoalan kefasihan dan kegagapan dengan kemunculan friksi bahasa, sementara Golinkoff dan koleganya (2019) mengingatkan bahwa menyangkal adanya friksi pada anak justru dapat merugikan, terutama bila anak hanya diberi bahasa yang ia dengar sepintas di sekitarnya. Zarei dan koleganya (2018) menawarkan jalan lain, yaitu analisis jaringan semantik, untuk melihat penyebabnya secara lebih menyeluruh.

Di Mana Penjelasan Ini Berhenti

Rangkuman ini bukan percobaan atas penutur. Bahannya kepustakaan, dikumpulkan memakai aplikasi Publish or Perish dari Google Scholar, Taylor and Francis, Elsevier, dan MDPI, dengan rentang terbit 2017 sampai 2023. Tiga puluh judul awal menyusut jadi dua puluh lima sesudah duplikasi dibuang, lalu dua puluh sesudah judul dan abstraknya diperiksa, dan akhirnya tujuh belas yang ditinjau. Lima dibuang karena bukan bidang linguistik, tiga karena membahas bahasa selain Inggris.

Baca juga Tujuh Belas Titik di Batik Singo Mengkok

Tujuh belas itu angka kecil, dan penulisnya tidak menyembunyikannya. Semuanya jurnal terindeks Scopus, semuanya berbahasa Inggris, semuanya terbit dalam rentang tujuh tahun. Sebarannya pun tidak rata: naik tajam dari 2017 ke 2018, turun pada 2019, naik sedikit pada 2020 dan bertahan pada 2021 dengan tiga kajian per tahun, lalu tinggal satu kajian pada 2022 dan satu lagi pada 2023. Dari sisi metode, tujuh kajian kuantitatif, lima campuran, satu kualitatif, satu memakai analisis jaringan semantik, dan tiga tidak menyebut metodenya sama sekali.

Yang paling jujur justru kalimat penutup mereka. Tulis tim itu, “However, it is not enough to study language friction from psycholinguistic and sociolinguistic perspectives, but also needs to be studied from ethnosociolinguistic perspective.” Dua sudut yang selama ini dipakai, yaitu psikolinguistik pada dua belas kajian dan sosiolinguistik pada lima kajian, mereka nilai tidak cukup. Yang belum dihitung adalah latar etnis penuturnya, dan mereka menganjurkan sudut etnososiolinguistik untuk mengisi lubang itu.

Anjuran itu punya konsekuensi praktis bagi ruang kelas di Indonesia, tempat banyak pembelajar bahasa Inggris sudah membawa dua bahasa sebelum bahasa ketiga masuk. Tim itu menulis bahwa kajian pustaka mereka dapat membantu pendidik dan pembelajar memilih metode belajar dengan mempertimbangkan friksi bahasa yang dialami pembelajarnya. Tidak lebih dari itu. Rangkuman ini tidak menguji satu metode pun, tidak mengukur satu kelas pun, dan tidak menjanjikan bahwa friksinya bisa dihapus.

Orang yang tersendat di awal tadi tidak sedang kehilangan kata. Kata itu ada, bersama saingannya, menunggu satu giliran yang cuma tersedia sekali.

Bagikan

Baca Juga

Interferensi Dialek Banten dalam Lafal Bahasa Inggris
Kocak! Ini Jadinya Bahasa Inggris Jika Diubah ke Bahasa Jawa, Broken Heart Jadi Ambyar
Orang Kamoro Mau Terima Wisatawan asal Kampung Tetap Mereka Atur
Bonus Demografi Indonesia Belum Otomatis Jadi Pertumbuhan Ekonomi
Energi Terbarukan Menekan Emisi di Uni Eropa, Belum di Luarnya
Yang Percaya Bahaya Sisa Asap Rokok Lebih Sering Melarang Rokok