Ironi Dunia dalam Lirik Kasidah Nasida Ria

A A

Ilustrasi sekelompok perempuan berjilbab memainkan rebana dalam busana berwarna merah dan ungu. [Foto: Pexels]

Cekricek.id — Lagu yang ditulis untuk berdakwah biasanya diperlakukan sebagai barang yang sudah selesai: pesannya dianggap beres sebelum nadanya dimulai, dan pendengar tinggal mengangguk sambil ikut menepuk lutut. Anggapan itu retak pada satu larik yang dinyanyikan Nasida Ria dengan irama riang, yang berbunyi “Sungguh asyik dunia dalam berita”, sebuah kalimat yang justru berhenti masuk akal begitu dicocokkan dengan isi lagunya sendiri, sebab di sekelilingnya berdiri karnaval yang menghabiskan miliaran rupiah, orang lapar yang menanti santunan, banjir di satu benua, kekeringan di benua lain, dan peluru kimia. Kata asyik di sana tidak menyenangkan siapa pun. Ia menahan pendengar sesaat, dan pada jeda sesaat itulah sebuah kajian menemukan pekerjaannya.

Larik itulah yang dijadikan pintu masuk oleh Ridwan, dari Program Studi Sastra Indonesia, Universitas Khairun, dalam Media, Moralitas, dan Mitos Dunia: Semiotika Barthes dalam Lagu Kasidah Dunia Dalam Berita, yang terbit di Jurnal Ilmu Budaya Volume 14 Nomor 2 tahun 2026. Alat bacanya tiga tingkat pemaknaan Roland Barthes: denotasi, yakni apa yang secara harfiah disebutkan; konotasi, yakni nilai budaya dan emosi yang menempel pada sebutan tadi; dan mitos, tahap ketika makna itu mengeras menjadi pandangan dunia yang terasa wajar, alami, dan tidak perlu lagi diperdebatkan. Yang dibedah bukan aransemennya, bukan pula riwayat panjang grupnya, melainkan teks liriknya sendiri, dibaca sebagaimana orang membaca cerita pendek, kalimat demi kalimat, sampai ke pengulangannya.

Kasidah modern tumbuh di Indonesia sebagai musik yang sejak semula memikul tugas mendidik, dan ia berkembang pesat lewat kelompok seperti Nasida Ria, yang lagu-lagunya memuat kritik sosial, refleksi moral, serta ajakan keagamaan dalam kemasan yang mudah diterima. Justru karena tugas itu terlalu terang, isinya jarang dicurigai. Orang mendengar nasihat, lalu berhenti di situ. Padahal dalam kajian budaya, musik sudah lama diperlakukan sebagai teks yang bisa dibaca, dan liriknya bukan sekadar kumpulan kata melainkan tanda yang membawa nilai, ideologi, serta struktur sosial tertentu. Yang bekerja di balik nasihat itu, kata Ridwan, adalah susunan tanda yang menentukan apa yang pantas disebut dunia dan apa yang boleh dilewatkan.

Pada lapis pertama, lagu itu tidak lebih dari rangkuman siaran berita. Ridwan mendaftar peristiwa yang disebut liriknya satu per satu: perayaan besar yang menghabiskan miliaran rupiah, orang kelaparan yang menantikan santunan, Australia yang kebanjiran dan Afrika yang kekeringan, kawasan Asia Tenggara yang berdamai dan Persia yang bertikai, penemuan obat yang menyembuhkan, dan peluru kimia yang dibuat pada zaman yang sama. Secara harfiah, tulis Ridwan, seluruhnya adalah fakta sosial, politik, ekonomi, dan sains yang saling bertentangan tetapi diletakkan di dalam satu ruang informasi yang sama. Persis inilah yang disebut Barthes sebagai tataran signifikasi pertama, yaitu makna yang paling nyata dan belum ditafsirkan siapa pun. Tidak ada urutan di antaranya. Tidak ada yang ditandai lebih penting daripada yang lain.

Pada lapis kedua, susunan yang tampak acak itu berubah menjadi tuduhan. Kemewahan disandingkan dengan kelaparan, kemajuan teknologi disandingkan dengan kehancuran moral, perdamaian disandingkan dengan pertikaian, dan pasangan-pasangan itu tidak pernah setara, karena yang satu berlebih justru pada saat yang lain kekurangan. Yang bekerja di tataran ini, menurut kerangka yang dipakai Ridwan, bukan lagi kamus, melainkan nilai budaya, emosi, dan asosiasi sosial yang telanjur menempel pada sebuah tanda. Di titik inilah kata asyik berhenti berarti menyenangkan. Ia menjadi ironi, sebutan bagi keadaan yang absurd, ketika tragedi dan hiburan dijejalkan ke dalam satu tayangan lalu pendengar diminta menikmati keduanya sekaligus, tanpa merasa ada yang keliru dengan permintaan itu sendiri.

Baca juga Makian Warganet Dibaca Lewat Linguistik Forensik

Lapis ketiga adalah yang paling jauh, sekaligus yang paling sulit dibantah karena bekerja tanpa pernah diumumkan. Dari kontras yang berulang itu, menurut analisis Ridwan, lahir sebuah pandangan dunia: bahwa dunia modern memang selalu berada dalam krisis, bahwa manusia hidup di dalam paradoks antara kemajuan dan kehancuran, dan bahwa ilmu pengetahuan tidak menjamin kebaikan moral. Barthes sendiri, sebagaimana dikutip paper itu, menempatkan mitos bukan sebagai proses berpikir melainkan sebagai cara kebudayaan memberi makna pada sesuatu agar tampak sudah mapan, sementara yang disembunyikannya adalah konstruksi sosial di balik nilai yang terlihat objektif. Pandangan itu tidak pernah diperdebatkan di dalam lagu. Ia disodorkan sebagai keadaan yang sudah begitu adanya, cukup didengarkan, dihafal, lalu dinyanyikan ulang oleh orang yang tidak merasa sedang menyetujui apa pun.

Daftar Isi
  1. Dunia yang Hanya Sampai lewat Berita
  2. Kemajuan yang Tidak Menjamin Kebaikan
  3. Batas Pembacaan yang Berhenti pada Teks

Dunia yang Hanya Sampai lewat Berita

Ilustrasi sebuah televisi tabung model lama berantena berdiri di atas meja kecil di sudut ruangan.
Ilustrasi sebuah televisi tabung model lama berantena berdiri di atas meja kecil di sudut ruangan. [Foto: Pexels]

Judul lagunya sendiri menyimpan pengakuan yang jarang diperhatikan orang. Baris pembukanya membalik dua kata pada posisi yang bertukar, dunia di dalam berita lalu berita di dalam dunia, dan menurut pembacaan Ridwan pembalikan itu menegaskan satu hal: dunia modern tidak lagi hadir secara langsung kepada siapa pun. Ia sampai sesudah dipilih, dipotong, dan disusun ulang. Dalam perspektif konstruksionis yang dikutip paper tersebut, realitas yang ditampilkan media selalu merupakan hasil seleksi, pembingkaian, dan penafsiran tertentu. Media karena itu tidak pernah netral, sebab ia adalah ruang seleksi realitas, dan apa yang tidak lolos dari seleksi tersebut tidak pernah menjadi bagian dari dunia yang diketahui pendengarnya.

Kontras geografis di dalam lirik bekerja dengan cara yang sama. Australia dan Afrika ditaruh berhadapan lewat air, yang satu kelebihan dan yang lain kehabisan; Asia Tenggara dan Persia ditaruh berhadapan lewat politik, yang satu berdamai dan yang lain bertikai. Pasangan itu, tulis Ridwan, menegaskan dunia yang terbelah oleh kondisi sosial dan politik yang berbeda, sementara media menyajikan belahan-belahannya berdampingan sebagai hiburan informasi. Bagian koor lagu itu sendiri diulang beberapa kali dengan kalimat yang persis sama, dan pengulangan tersebut dibaca bukan sebagai kemalasan penulis lirik, melainkan sebagai bagian dari maknanya, penanda siklus informasi yang terus berputar tanpa memberi jeda kepada siapa pun yang mendengarkannya.

Baca juga Mahasiswa Malaysia yang Belajar Sejarah di Padang

Siklus tanpa jeda itu menghasilkan efek yang oleh Ridwan disebut normalisasi. Tragedi dan kebahagiaan berubah menjadi barang konsumsi rutin, ketimpangan berubah menjadi hal biasa yang terus berlangsung, dan pendengar terbiasa melihatnya tanpa respons kritis yang kuat. Yang mengeras di situ bukan isi beritanya, melainkan kebiasaan menerimanya. Mitos yang terbentuk lewat pengulangan itu, tulis Ridwan, membuat media tampil sebagai pusat utama pembentukan realitas sosial, dan manusia modern digambarkan tidak sanggup lepas dari arusnya. Bukan lagi sekadar dunia yang penuh krisis, melainkan dunia yang krisisnya sudah dianggap normal dan tidak menuntut siapa pun berbuat sesuatu.

Kemajuan yang Tidak Menjamin Kebaikan

Bait paling tajam datang di pertengahan lagu, ketika obat dan senjata disebut dalam satu tarikan napas: ada penemuan obat yang membuat orang sakit menjadi sehat, tetapi ada pula yang membuat peluru kimia. Yang disandingkan di situ bukan dua benda, melainkan dua kemungkinan dari satu ilmu yang sama. Sesudah itu liriknya berbelok ke arah yang ganjil dan agak jenaka, menyebut hewan yang mulai maju, kera yang menyandang bedil, dan manusia yang senang bugil. Larik terakhir itu dibaca Ridwan sebagai metafora kemunduran etika. Batas antara manusia dan yang tidak beradab dibuat kabur dengan sengaja, dan yang dibalik bukan sekadar perilakunya, melainkan derajat kedua pihak yang selama ini dianggap tidak mungkin tertukar.

Dari situ mitosnya menjadi lengkap. Dunia yang terlihat maju, menurut kesimpulan Ridwan, sesungguhnya menyimpan kerusakan moral dan sosial yang lebih dalam, dan kemajuan sains sama sekali tidak berjalan seiring dengan kemajuan moral manusia yang memakainya. Kasidah, yang selama ini diperlakukan sebagai hiburan religius atau alat dakwah semata, di tangan pembacaan ini berubah menjadi teks budaya yang menjalankan tiga pekerjaan sekaligus: menyampaikan informasi tentang dunia, melancarkan kritik sosial atas ketimpangannya, lalu menawarkan penilaian moral terhadap apa yang baru saja diinformasikannya sendiri. Manfaat praktis kajiannya, tulis Ridwan di bagian penutup, justru terletak pada kesadaran kritis pendengar ketika menerima informasi media dan menafsirkan pesan moral dalam karya seni religius.

Baca juga Seribu Tiga Puluh Kata Tunjuk di Novel Lilin

Pembacaan semacam ini bukan yang pertama di Indonesia, dan Ridwan menempatkan tulisannya di antara yang sudah ada. Semiotika Barthes sudah dipakai membedah cerita pendek, seperti pada kajian Bakthawar dan Nasrul atas cerpen “Laila” karya Putu Wijaya; sudah dipakai pada album musik populer, seperti kajian Tri Wulandari dan rekan-rekannya atas karya Nadin Amizah; sudah dipakai pada film yang membawa pesan moral dan pada iklan digital yang menjual gaya hidup urban. Bedanya dengan kajian album tadi, tulis Ridwan, terletak pada bobot persoalannya: yang satu menonjolkan pengalaman emosional yang personal, sedangkan lagu ini menautkan media, moralitas, dan realitas dunia dalam bingkai religius. Yang belum banyak dikerjakan justru kasidah, genre yang paling terang-terangan mengaku membawa pesan moral, dan karena itu paling jarang dicurigai menyimpan ideologi.

Batas Pembacaan yang Berhenti pada Teks

Kekuatan dan kelemahan kajian ini berasal dari tempat yang sama. Ridwan menyatakan metodenya kualitatif dan berfokus pada pemaknaan teks, bukan pada pengukuran angka, dengan lirik sebagai data utama dan bahan pustaka sebagai data pendukung; pengumpulan datanya dilakukan lewat dokumentasi, yaitu menyalin lirik secara lengkap lalu memperkuatnya dengan studi pustaka. Artinya tidak ada satu pun pendengar yang ditanyai, tidak ada survei tentang bagaimana lagu itu benar-benar dipahami di ruang tamu, di pengeras suara pengajian, atau di kanal video tempat lagu-lagu lama kini diputar ulang. Yang dipetakan adalah makna yang tersedia di dalam teks, bukan makna yang diambil orang dari teks itu, dan dua hal tersebut kerap berjarak jauh.

Batas kedua lebih sederhana, dan justru karena sederhana lebih mudah dilupakan. Satu lagu, sepanjang apa pun analisisnya, tetap satu lagu. Ia tidak mewakili seluruh kasidah, apalagi seluruh musik religius Indonesia, dan mitos yang ditemukan di dalamnya adalah mitos yang dibangun teks tersebut, bukan pandangan yang terbukti dianut para pendengarnya. Lagu ini pun tidak dibandingkan dengan repertoar Nasida Ria yang lain, sehingga pola yang muncul berlaku bagi satu teks saja. Ridwan sendiri menutup tulisannya pada tingkat teks, dengan menyatakan bahwa berita bukan sekadar informasi, melainkan konstruksi makna yang dapat membentuk kesadaran sosial dan moral orang yang mendengarnya.

Yang tersisa sesudah semua lapisan itu dibongkar hanyalah satu kata. Lapis mitos yang ditemukan Ridwan berhenti pada gambaran dunia sebagai teks yang terus diproduksi tanpa pernah selesai, dan koor terakhir lagu itu memang kembali ke kalimat pembukanya seolah tidak terjadi apa-apa di antara keduanya. Yang tidak ia tanyakan, karena memang bukan datanya, adalah siapa sebenarnya yang sedang bersenang-senang ketika kata asyik itu dinyanyikan dengan riang.

Bagikan

Baca Juga

Ilustrasi pengunjung perempuan berdiri mengamati lukisan besar berwarna hijau dan kuning di dinding ruang pamer.
Ketika Buaya dan Badak Menggantikan Wajah Penguasa
Tepak sirih, wadah adat masyarakat Melayu.
Enam Pantun Meminang dari Desa Semata, Sambas
Pintu kulkas terbuka memperlihatkan botol dan wadah makanan di dalamnya
Kulkas Tosca yang Merekam Rumah Tangga
Papan-papan iklan menyala di persimpangan jalan kota pada malam hari
Empat Poster LA Bold dan Risiko yang Jadi Keberanian
Seorang pemetik kopi membawa keranjang di antara pohon kopi
Enam Belas Unggahan Fore Coffee dan Mitos Kopi
Rumah adat tongkonan dan lumbung padi Toraja dengan dinding berukir geometris berwarna merah, hitam, putih, dan kuning di lereng berhutan
Warna Ritual Toraja: Hitam Ternyata Bukan Duka