Cekricek.id — Kabel sepanjang 210 meter dibentangkan menuruni lereng timur laut Gunung Sindoro. Elektrode ditancapkan setiap sepuluh meter, arus searah dikirim ke dalam tanah, dan sebuah alat ukur berpindah dari satu titik ke titik berikutnya selama tiga hari pada pertengahan Juni 2022. Yang dicari bukan air tanah, bukan pula mineral. Yang dicari adalah bangunan batu yang terkubur sekitar seribu tahun lalu oleh letusan gunung yang sama yang sedang mereka pijak, dan yang sebagian besarnya belum pernah dilihat siapa pun. Pengukuran itu berlangsung 18 sampai 20 Juni 2022, di area penelitian seluas kira-kira sepuluh hektare.
Empat orang dari Teknik Geofisika Universitas Pembangunan Nasional Veteran Yogyakarta — Bonang Surya Utama, Y. Yatini, Wrego Seno Giamboro, dan Hafiz Hamdalah — menuliskan hasil pengukuran itu dalam Application of Geoelectric Method to Determine the Distribution of Liyangan Temple in Central Java, artikel yang terbit di AMERTA: Jurnal Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Volume 42 Nomor 2 tahun 2024. Sasaran mereka satu: mengetahui seberapa jauh Candi Liyangan dan permukiman kunonya menyebar ke samping dan ke bawah, tanpa harus lebih dulu menurunkan cangkul. Penggalian menghabiskan waktu, uang, dan lahan orang, sementara arus listrik bisa dikirim ke bawah tanah dan ditarik kembali dalam hitungan menit.
Situs Liyangan berada di Dusun Liyangan, Desa Purbosari, Kecamatan Ngadirejo, Kabupaten Temanggung, delapan kilometer dari puncak Sindoro dan 1.174 meter di atas permukaan laut. Balai Arkeologi Provinsi D.I. Yogyakarta menelitinya sejak 2009 dan membagi permukiman kuno di sana menjadi tiga bagian: hunian, peribadatan, dan pertanian. Dalam abstrak berbahasa Indonesia mereka, tim geofisika itu menulis situs tersebut “ditemukan dalam kondisi yang cukup lengkap” — keadaan yang jarang terjadi pada situs yang tertimbun material letusan, karena biasanya yang tersisa hanya kepingan. Bagi arkeologi, sebuah kampung yang tertimbun sekaligus jauh lebih berharga daripada sebuah kampung yang ditinggalkan pelan-pelan.
Yang membuat Liyangan tidak biasa adalah rentang waktunya. Merujuk Riyanto, tim itu mencatat orang diduga sudah menghuni tempat itu sejak abad kedua Masehi dan bertahan sampai sekitar abad kesebelas, ketika material letusan Sindoro menutup seluruh permukiman sekaligus. Sisa yang paling menonjol adalah bagian peribadatan, dibangun dari batu andesit, berupa candi, batur, dan arca yang menunjuk pada latar keagamaan Hindu. Penggalian pada 2013 bahkan menemukan butir padi dan biji jagung, tanda bahwa penghuninya bertani di lereng yang sama dengan yang kini ditanami tembakau. Sembilan abad memisahkan dua musim tanam itu, di petak tanah yang kurang lebih sama.
Empat teras sudah ditemukan pada bagian peribadatan sampai penelitian 2018, tersusun bertingkat menaiki lereng. Sisa permukiman Liyangan yang lain disebut nyaris utuh dan sebanding dengan kampung masa kini. Tetapi yang sudah tergali hanya sebagian kecil dari kira-kira sepuluh hektare area penelitian, dan membongkar lereng gunung berapi bukan pekerjaan yang bisa dilakukan asal jadi. Dari situlah gagasan mengukur dari permukaan menjadi masuk akal: sebelum memutuskan di mana harus menggali, orang perlu tahu lebih dulu di mana ada sesuatu untuk digali. Metode geofisika yang tidak merusak sudah lama dipakai untuk keperluan itu, dan literatur yang dirujuk tim ini menyebut radar penembus tanah serta tomografi resistivitas sebagai dua yang paling sering dipilih.
Daftar Isi
Sembilan Lintasan Kabel di Lereng yang Pernah Terkubur Abu

Batu andesit itulah yang membuat pengukuran listrik masuk akal. Batuan candi punya sifat fisik berbeda dari endapan di sekelilingnya, yang sebagian besar merupakan produk letusan Sindoro, dan perbedaan sifat itu terbaca sebagai perbedaan hambatan jenis ketika arus dilewatkan. Tim memasang sembilan lintasan berkonfigurasi dipole-dipole: lima lintasan sepanjang 210 meter dan empat lintasan sepanjang 120 meter, saling memotong di atas area sekitar sepuluh hektare. Alat ukur yang mereka pakai memiliki dua puluh empat saluran yang bisa berjalan serentak, dengan pengiriman arus yang diatur otomatis. Bila jarak elektrode arus dekat, arus yang dikirim diperkecil, dan data mentahnya kemudian diolah dengan perangkat lunak inversi sebelum dibaca sebagai penampang.
Baca juga Tungku Tigo Sajarangan dalam Film Onde Mande
Cara itu bukan yang pertama di dunia. Abbas dan rekan-rekannya memakai radar penembus tanah dan metode magnetik untuk memeriksa perluasan Kuil Karnak di Mesir, sementara Balkaya dan timnya menggabungkan radar dan tomografi resistivitas untuk menelusuri kota Antiokhia Pisidia di Anatolia. Di Indonesia, Rochman dan rekannya memakai geolistrik untuk menemukan Situs Alassumur di Bondowoso yang tersusun dari bata, dan Luthfin bersama Kurniawan serta Jufri melacak batuan pondasi Candi Badut di Malang. Liyangan menambahkan satu kesulitan baru: bahan candinya sama dengan batuan alami yang tidur di bawahnya.
Hasil olahan datanya membelah bawah permukaan menjadi empat lapis. Nilai di bawah 100 ohm meter dibaca sebagai tanah, 100 sampai 490 ohm meter sebagai breksi piroklastik, 490 sampai 2.100 ohm meter sebagai breksi vulkanik, dan di atas 2.100 ohm meter sebagai lava andesit. Persoalannya, batuan Candi Liyangan memberi angka yang persis sama dengan lava andesit. Tim itu menyatakan keduanya hanya bisa dibedakan dengan mengamati keberadaannya di lokasi: batu candi ditemukan dari permukaan sampai kedalaman empat meter, sedangkan lava andesit berada lebih dari sepuluh meter di bawah tanah.
Ketika Gugus Merah Muncul Empat Meter di Bawah Permukaan
Lintasan kedua memberi jawaban lebih dulu. Membujur dari timur laut ke barat daya sepanjang 210 meter, penampangnya memperlihatkan nilai hambatan jenis dari 16 sampai 8.292 ohm meter, dan di antara semua warna itu ada satu gugus merah yang duduk dari permukaan sampai kedalaman dua meter, memanjang dari meter ke-30 hingga meter ke-190. Bentuknya tidak seperti bongkahan lava yang membeku tak beraturan. Bentuknya memanjang, tipis, dan menerus, seperti sesuatu yang sengaja disusun orang untuk dilewati. Nilai setinggi itu, pada kedalaman sedangkal itu, tidak punya penjelasan alami yang mudah di lereng yang tertutup endapan letusan.
Baca juga Menilai Sekolah Bukan dari Kerapian Dokumen
Tim itu menduga gugus tersebut adalah jalan kuno yang menghubungkan bagian hunian, pertanian, dan peribadatan permukiman Liyangan. Dalam abstrak berbahasa Indonesia mereka, enam lintasan yang memuat anomali serupa disebut “diduga merupakan sisa bagian dari pondasi Candi Liyangan” — kalimat yang sengaja tidak dinaikkan menjadi kepastian. Kata diduga muncul berulang-ulang di sepanjang artikel itu, hampir seperti rem tangan yang tidak pernah dilepas, karena arus listrik hanya bisa melaporkan seberapa sulit ia melewati sesuatu, bukan menyebutkan nama benda yang menghalanginya.
Sebuah jalan sepanjang lebih dari seratus lima puluh meter mengubah cara membayangkan tempat itu. Ia berarti orang-orang Liyangan berjalan bolak-balik antara rumah, ladang, dan tempat sembahyang mereka di atas permukaan yang sengaja dikeraskan, bukan menyusuri tanah gunung apa adanya. Riyanto menyebut jalan itu menghubungkan ketiga zona permukiman, dan tim geofisika hanya menambahkan satu hal yang tidak bisa diberikan penggalian mana pun sejauh ini: garis itu masih di sana, utuh dari ujung ke ujung, dua meter di bawah kaki orang yang lewat.
Lintasan kelima memberi sesuatu yang lain. Panjangnya 120 meter, arahnya tenggara ke barat laut, dan nilai di atas 2.100 ohm meter muncul dari permukaan sampai kedalaman empat meter pada dua penggal: meter ke-5 sampai ke-28, dan meter ke-55 sampai ke-95. Penggal kedua sudah pernah digali dan terbukti berupa tanggul penahan longsor, struktur yang dipakai penghuni lama untuk menahan tanah di atasnya agar tidak turun. Penggal pertama belum pernah disentuh, dan justru penggal itulah yang membuat pengukuran ini punya arti praktis.
Jalan Kuno, Tanggul Penahan, dan Tiga Lintasan yang Diam
Ketika sembilan penampang itu ditumpuk di atas citra satelit, polanya seragam: tanah di lapis paling atas, lalu breksi piroklastik, lalu breksi vulkanik, lalu lava andesit sebagai lapisan tertua. Anomali merah yang diduga sisa Situs Liyangan hanya muncul pada lintasan satu, dua, empat, lima, enam, dan delapan, semuanya dari permukaan sampai kedalaman empat meter. Lintasan tiga, tujuh, dan sembilan tidak memberikan apa pun. Menurut data arkeologi yang dipegang tim itu, lintasan tiga memang melintasi bekas area pertanian, tempat yang memang tidak dibangun.
Baca juga Tiga Jam Antiperundungan di Sebuah SD di Pasaman
Diamnya sebuah lintasan ternyata sama berartinya dengan bunyinya. Lintasan empat juga tercatat sebagai area pertanian kuno, tetapi pada meter ke-175 sampai ke-185 muncul satu gugus merah yang tidak diperkirakan sebelumnya. Peta irisan mendatar pada kedalaman 2,5 meter memperlihatkan pola yang hampir sama dengan peta di permukaan, dengan selisih kecil pada jarak lima sampai lima belas meter. Sebaran itulah yang kini bisa dipakai memilih titik galian berikutnya, dan yang membuat batas antara area hunian dan area pertanian bisa digambar ulang. Lintasan satu menyimpan anomali pada meter ke-140 sampai ke-150, lintasan enam pada meter ke-35 sampai ke-40, dan lintasan delapan pada meter ke-75 sampai ke-105.
Peta sebaran itu memang diniatkan untuk dipakai. Tim itu menulis bahwa pengenalan sisa situs semacam ini bisa menjadi acuan pengembangan Liyangan dari sisi pariwisata, geoarkeologi, dan pendidikan, sekaligus mengarahkan penggalian berikutnya supaya tidak menebak-nebak. Lereng menengah Sindoro, tempat situs ini berada, sampai sekarang penuh kampung yang masih hidup dan ladang yang masih digarap, sehingga setiap keputusan menggali berhadapan dengan tanah yang sudah dipakai orang. Peta yang menunjuk enam titik lebih murah daripada rencana yang menyisir sepuluh hektare.
Ada alasan mengapa bangunan itu berdiri persis di lereng gunung. Mengutip Soekmono, tim itu mengingatkan bahwa candi dipahami sebagai tiruan Gunung Meru, tempat bersemayam para dewa, sehingga tanahnya tidak boleh dipilih sembarangan dan harus berada di tempat yang dianggap berkenan. Alasan yang lebih membumi juga tersedia: batu andesit banyak terdapat di sekitar lokasi dan tidak mudah lapuk oleh cuaca, sementara batur candinya dibuat dari breksi piroklastik. Kesuburan tanah dan ketersediaan air, tulis tim itu, kemungkinan besar menjadi penentu utama mengapa orang bertahan di sana.
Tim itu tidak menyembunyikan batas kerjanya sendiri. Hanya dua dari sembilan lintasan — lintasan dua dan lintasan lima — yang memiliki pembanding berupa hasil galian arkeologi terbaru, dan hanya keduanya yang penampangnya ditampilkan utuh dalam artikel; sisanya dianggap terlalu mirip dengan lintasan sebelahnya atau tidak memiliki singkapan yang bisa dijadikan pegangan. Artinya seluruh dugaan pada lintasan lain bersandar pada dua lintasan yang sudah terbukti. Sampai cangkul benar-benar turun, gugus merah tetap gugus merah. Pengukuran ini menyempitkan tempat mencari; ia tidak menggantikan pekerjaan mencari itu sendiri.
Pada lintasan kelima, penggal meter ke-5 sampai ke-28 belum pernah digali. Empat meter di bawah permukaannya, menurut pengukuran Bonang Surya Utama dan timnya, ada sesuatu yang cukup padat dan cukup keras untuk memantulkan arus dengan cara yang sama seperti tanggul yang sudah terbukti di sebelahnya. Kabel sudah digulung kembali sejak Juni 2022, alat ukurnya dibawa turun, dan lereng itu kembali pada urusannya sendiri. Bentangan kabel itu meninggalkan satu daftar koordinat, dan daftar itu menunggu. Yang di bawah masih di bawah.













