Maksim Kesantunan yang Runtuh di Kolom Komentar

A A

Ilustrasi seorang perempuan berjilbab menatap layar telepon pintar sambil berdiri di depan rimbun dedaunan hijau. [Foto: Pexels]

Cekricek.id — Selama puluhan tahun kesantunan berbahasa dipelajari di ruang yang bisa dilihat: meja dagang, ruang kelas, panggung debat, kursi tamu. Penuturnya hadir, wajahnya terbaca, dan nada suaranya ikut menentukan makna kalimat yang diucapkan. Ketika kolom komentar menjadi ruang tutur yang paling ramai, hampir semua penanda itu hilang sekaligus. Dua peneliti dari Universitas Negeri Padang mencoba mengukur apa yang tersisa dari sopan santun ketika penutur tidak perlu berhadapan dengan siapa pun.

Jihan Ananda Jasril dan Siti Ainim Liusti, keduanya dari Universitas Negeri Padang, menulis Penggunaan Maksim Kesantunan Berbahasa dalam Kolom Komentar Akun TikTok @lisapresleyofficial. Artikel itu terbit di jurnal JPERS Volume 5 Nomor 2 tahun 2026, halaman 358 sampai 365. Bahan mereka lima puluh komentar yang dipilih dari tiga belas unggahan sebuah akun yang sedang ramai, lalu dipilah satu per satu menurut enam maksim kesantunan yang dirumuskan Geoffrey Leech. Akun itu dipilih karena jumlah pengikutnya banyak dan interaksinya tinggi, dua syarat yang membuat kolom komentarnya cukup padat untuk diperiksa.

Daftar Isi
  1. Enam Maksim Leech yang Sampai ke Indonesia pada 1993
  2. Dari Debat Televisi Sarma 2021 ke Sketsa Komedi Junianti 2023
  3. Tiga Belas Unggahan antara Mei 2024 dan April 2025
  4. Angka Jauhari 2025 yang Tercatat Dua Kali Berbeda
  5. Di Mana Angka Jihan dan Siti Berhenti Bicara

Enam Maksim Leech yang Sampai ke Indonesia pada 1993

Ilustrasi rak perpustakaan menjulang tinggi yang dipenuhi buku dari lantai sampai langit-langit.
Ilustrasi rak perpustakaan menjulang tinggi yang dipenuhi buku dari lantai sampai langit-langit. [Foto: Pexels]

Leech menyusun prinsip kesantunannya pada 1983, dan versi Indonesianya beredar sejak terjemahan M. D. D. Oka terbit pada 1993. Enam maksimnya menuntut penutur memaksimalkan keuntungan pihak lain: kearifan, kedermawanan, pujian, kerendahan hati, kesepakatan, dan simpati. Kerangka itu dipakai di atas pengertian pragmatik yang dirumuskan George Yule pada 1996, bahwa makna adalah sesuatu yang disampaikan penutur dan ditafsirkan mitra tutur dengan mempertimbangkan konteks. Agustina, yang menulis pragmatik untuk pengajaran bahasa Indonesia pada 1995, menambahkan bahwa kesantunan adalah soal kemampuan menyesuaikan bentuk bahasa dengan situasi pemakaiannya. Dua maksim yang paling sering muncul dalam artikel ini punya rumusan yang saling berkebalikan: maksim pujian menuntut penutur memaksimalkan penghargaan kepada orang lain dan menekan celaan, sedangkan maksim kerendahan hati menuntut ia menekan pujian terhadap dirinya sendiri.

Baca juga Makna Tersirat di Balik Komik Strip Sampahisasi

Di ruang tatap muka, kerangka itu biasanya menghasilkan gambaran yang tenang. Darwis dan Syahrin pada 2022 memeriksa tutur pedagang dan pembeli di Kota Juang dan menemukan keenam maksim Leech dipakai, dengan maksim kesepakatan sebagai yang paling menonjol. Penjual dan pembeli berhadapan, saling melihat, dan punya urusan yang harus selesai dengan baik. Hasil semacam itu menjadi pembanding yang berguna ketika objek penelitian bergeser ke layar, tempat penutur tidak menanggung akibat langsung dari kalimatnya. Di pasar, kesantunan punya kegunaan yang segera terasa, sebab tawar-menawar yang tersinggung berarti dagangan yang tidak jadi berpindah tangan.

Dari Debat Televisi Sarma 2021 ke Sketsa Komedi Junianti 2023

Rantai penelitian yang dirujuk Jihan dan Siti bergerak justru ke arah sebaliknya. Sarma pada 2021 memeriksa tuturan yang mengkritik Rocky Gerung dalam sebuah acara debat televisi dan mendapati kritik langsung maupun tidak langsung, empat strategi kesantunan, serta dominasi pelanggaran. Utari dan Mulyono pada 2021 memeriksa gelar wicara Mata Najwa dan sampai pada kecenderungan yang sama, pelanggaran lebih banyak daripada pematuhan. Junianti pada 2023 memindahkan pemeriksaan ke sketsa komedi di kanal YouTube Praz Teguh dan menemukan enam maksim Leech dipatuhi sekaligus dilanggar di dalam satu tayangan. Dua di antara kajian itu, milik Sarma dan Junianti, adalah skripsi yang ditulis di kampus yang sama dengan tempat Jihan dan Siti bekerja, sehingga rantai ini sebagian tumbuh di satu ruang jurusan.

Yang berubah bukan hanya tempatnya, melainkan syarat berbicaranya. Kajian pragmatik digital yang dirujuk artikel ini, antara lain tulisan Lailiyah dan kawan-kawan serta Musyawir dan Neyarasmi, menyebut kesantunan di ruang daring dipengaruhi anonimitas pengguna, hilangnya isyarat nonverbal, dan norma yang tumbuh sendiri di tiap platform. Pelanggarannya pun mengambil bentuk yang khas layar: sarkasme, penghinaan, dan tuturan yang mengancam muka. Kolom komentar TikTok, dengan begitu, bukan sekadar versi tertulis dari percakapan biasa. Lailiyah dan kawan-kawan bahkan membandingkan strategi kesantunan digital Indonesia dengan Barat, tanda bahwa yang diperbandingkan kini bukan lagi hanya jenis tuturan, melainkan kebiasaan berjejaring.

Tiga Belas Unggahan antara Mei 2024 dan April 2025

Akun yang dipilih Jihan dan Siti sedang mengalami lonjakan interaksi karena pemiliknya terlibat polemik dengan seorang mantan gubernur. Dari periode Mei 2024 sampai April 2025 mereka mengambil tiga belas unggahan dengan komentar terbanyak, menyimak dan mencatat isinya, lalu menyisihkan komentar berupa emoji, spam, iklan, komentar berulang, komentar berbahasa asing, dan komentar yang tidak berkaitan dengan isi unggahan. Tersisa lima puluh komentar berbahasa Indonesia yang dianalisis, dengan dosen pembimbing bertindak sebagai pemeriksa ketepatan klasifikasi. Alat kerjanya sederhana: peneliti sendiri sebagai instrumen utama, dibantu telepon genggam untuk mengakses, mendokumentasikan, dan menyimpan tangkapan komentar.

Baca juga Peta Riset Bahasa Kedua dan Sudut yang Sepi

Hasilnya berat sebelah. Enam belas komentar tergolong mematuhi maksim kesantunan, tiga puluh empat melanggarnya. Pelanggaran terbanyak jatuh pada maksim pujian, dua puluh sembilan komentar, disusul maksim simpati empat komentar dan maksim kerendahan hati satu komentar. Maksim kearifan, kedermawanan, dan kesepakatan tidak muncul sama sekali dalam korpus itu. Sasaran pelanggaran hampir seluruhnya sama: penampilan fisik dan kehidupan pribadi pemilik akun, dalam bentuk ejekan tentang bentuk tubuh, sindiran bahwa wajahnya diperbaiki dengan aplikasi penyunting foto, serta perbandingan yang menaikkan diri penutur sendiri. Dua puluh sembilan dari lima puluh komentar, atau lebih dari separuh korpus, jatuh pada satu jenis pelanggaran yang sama.

Sisi yang mematuhi maksim tidak hilang, hanya kalah banyak. Sepuluh komentar tergolong pujian yang tulus atas penampilan, dan sisanya berupa simpati, sebagian besar diarahkan bukan kepada pemilik akun melainkan kepada anak-anaknya. Yang menarik, satu bentuk pelanggaran maksim simpati justru menyamar sebagai dukungan: kalimat yang dimulai dengan ajakan mengabaikan komentar orang lain, lalu ditutup dengan penegasan bahwa semua komentar itu benar. Jihan dan Siti mencatatnya sebagai dukungan yang berbalik arah di tengah kalimat. Komentar yang mereka golongkan sebagai simpati justru memakai kata-kata yang paling biasa, seperti sabar, semangat, dan berjuang.

Angka Jauhari 2025 yang Tercatat Dua Kali Berbeda

Pembaca yang teliti akan menemukan simpul yang belum rapi di dalam artikel itu sendiri. Jauhari dan kawan-kawan pada 2025, yang meneliti akun TikTok Riezky Kabah, disebut pada bagian pendahuluan menemukan pelanggaran maksim pujian sebagai bentuk paling dominan, tetapi pada bagian pembahasan hasil mereka dirujuk sebagai laporan tentang dominasi pematuhan maksim penghargaan dan simpati. Rekapitulasi Jihan dan Siti sendiri menyebut pematuhan maksim simpati enam komentar pada tabel dan abstrak, sementara uraian hasilnya menulis lima. Selisih itu kecil, tetapi ia mengingatkan bahwa angka dalam kajian kualitatif adalah hitungan atas korpus yang dipilih, bukan pengukuran populasi. Rentang waktunya pun ditulis berbeda di dua tempat, sekali sebagai Mei sampai April 2025 dan sekali sebagai Mei 2024 hingga April 2025.

Baca juga Janlup dan Gercep di Kolom Komentar TikTok

Kesimpulan yang mereka tarik tetap berhati-hati pada satu hal. “Interaksi warganet dalam kolom komentar akun TikTok @lisapresleyofficial lebih didominasi oleh pelanggaran prinsip kesantunan berbahasa dibandingkan dengan bentuk pematuhan,” tulis Jihan dan Siti dalam simpulan. Penjelasan yang mereka ajukan bukan bahwa warganet kasar, melainkan bahwa ruang digital memberi peluang lebih luas untuk menyampaikan penilaian dan respons emosional secara spontan tanpa selalu menimbang akibat tuturan bagi mitra tuturnya. Keduanya juga menegaskan bahwa keberadaan enam belas komentar yang santun menunjukkan sebagian pengguna tetap memilih memberi apresiasi dan menyampaikan perhatian.

Di Mana Angka Jihan dan Siti Berhenti Bicara

Batas penelitian ini ditulis sendiri oleh penulisnya di paragraf terakhir. Temuan tersebut, tulis mereka, hanya menggambarkan karakteristik korpus yang dianalisis, yaitu lima puluh komentar dari tiga belas unggahan satu akun dalam satu rentang waktu. Mereka menyarankan penelitian berikutnya memperluas korpus ke berbagai akun, isu, dan platform, sekaligus memasukkan perspektif pragmatik digital dan strategi ketidaksantunan agar hubungan antara pelanggaran maksim, sasaran komentar, dan konteks interaksi bisa dilihat lebih utuh. Yang mereka klaim sudah bertambah dari kajian sebelumnya hanya satu: pelanggaran maksim tidak berdiri sendiri, melainkan berkaitan dengan siapa yang menjadi sasaran komentar dan bentuk kebahasaan yang dipakai untuk menilainya.

Karena itu angka tiga puluh empat berbanding enam belas tidak boleh dibaca sebagai potret warganet Indonesia. Akun yang diteliti sedang berada di pusat polemik, dan komentar yang muncul pada masa seperti itu tidak mewakili komentar pada hari biasa. Perbandingan dengan temuan Darwis dan Syahrin di pasar Kota Juang justru memperlihatkan hal yang sebaliknya: orang yang sama bisa santun ketika berhadapan dan tajam ketika mengetik. Yang diukur artikel ini adalah situasi, bukan watak. Korelasi antara ramainya sebuah akun dan tajamnya komentar di bawahnya juga tidak diuji sebagai hubungan sebab-akibat oleh kedua penulisnya.

Rantai itu belum putus. Sarma memeriksa panggung debat, Junianti memeriksa sketsa komedi, Jauhari memeriksa satu akun, dan kini Jihan dan Siti memeriksa satu kolom komentar pada masa ributnya. Setiap mata rantai memperkecil jarak antara ruang tutur yang diteliti dan tempat orang benar-benar berbicara hari ini. Yang belum ada di rantai tersebut adalah orang yang mengetiknya: tidak seorang pun dari lima puluh penutur itu pernah ditanyai apa yang mereka pikirkan sebelum menekan tombol kirim.

Bagikan

Baca Juga

Ilustrasi seorang perempuan berdiri di belakang mimbar kayu berbicara di hadapan hadirin yang duduk di ruangan beralas karpet.
Delapan Puluh Tuturan dari Tiga Video English Speeches
Ilustrasi seorang perempuan muda duduk di meja dekat jendela berdaun biru sambil menatap layar telepon pintarnya.
Dua Gaya Bahasa Islam di Beranda Facebook
Ilustrasi sepasang tangan mengetik pada layar telepon pintar yang menyala terang di ruangan bercahaya merah.
Ujaran Kebencian @jokowi di Mata Linguistik Forensik
Ilustrasi sepasang tangan memegang telepon pintar yang menampilkan lini masa berisi deretan gambar unggahan media sosial.
Makna Tersirat di Balik Komik Strip Sampahisasi
Danau dan pepohonan di lingkungan kampus Universitas Hasanuddin, Makassar
Irama Tanpa Musik dalam Mars Sastra Unhas
Palu sidang tergeletak di meja kayu di samping berkas perkara
27 Tuturan Raka dalam Sidang Film Keadilan