Daftar Isi
Cekricek.id — Belajar bahasa asing hampir selalu diperlakukan sebagai urusan pribadi: soal ketekunan, soal bakat, soal berapa jam seseorang bersedia duduk menghafal, seakan hasil akhirnya ditentukan sepenuhnya oleh orang yang belajar. Anggapan itu nyaman karena memberi kendali penuh kepada individu, dan ia tidak sepenuhnya keliru, sebab tidak ada yang bisa menghafal untuk orang lain. Yang luput justru lapisan di belakangnya, sebab apa yang kita sebut pengetahuan tentang cara manusia menguasai bahasa kedua sebenarnya berasal dari sekumpulan riset yang punya alamat, punya musim, punya kegemaran, dan punya sudut-sudut yang nyaris tidak pernah didatangi siapa pun. Sebelum sampai ke ruang kelas, pengetahuan itu lebih dulu melewati jurnal, indeks, dan kebiasaan mengutip, dan setiap tahapan itu ikut menyaring apa yang akhirnya kita anggap benar.
Arti Prihatini dan Fida Pangesti dari Universitas Muhammadiyah Malang bersama Gamal Kusuma Zamahsari dari Universitas Bina Nusantara mencoba memotret sekumpulan riset itu sekaligus, bukan satu per satu. Dalam Exploring trends and challenge on second language learning using bibliometric analysis yang terbit di jurnal Diksi Vol. 33 No. 1 tahun 2025, ketiganya tidak membedah teori pemerolehan bahasa kedua, melainkan menghitungnya: 770 artikel terindeks Scopus terbitan 2013 sampai 2022, disaring lewat kriteria terarah, lalu dipetakan dengan perangkat lunak VOSviewer menjadi jaringan kata kunci, lapisan tahun, dan kepadatan topik. Hasilnya bukan jawaban tentang cara terbaik belajar bahasa, melainkan potret tentang siapa yang bertanya, kapan pertanyaan itu diajukan, dan tentang apa. Scopus dipilih dengan alasan cakupan jurnalnya lebih luas dan nama penulisnya lebih mudah dicocokkan karena selalu berpasangan dengan afiliasi.
Peta yang Ikut Menggambar Pembuatnya

Bagian pertama peta itu berupa geografi. Amerika Serikat menerbitkan 243 artikel tentang pembelajaran bahasa kedua dalam sepuluh tahun tersebut, jauh di atas Inggris yang menyusul dengan 76 artikel. Dari sepuluh negara teratas, lima berasal dari Eropa, yaitu Inggris, Spanyol, Belanda, Jerman, dan Finlandia; dua dari Amerika, yaitu Amerika Serikat dan Kanada; sisanya Tiongkok dan Hong Kong. Di tingkat lembaga, Radboud Universiteit di Belanda memimpin dengan 20 artikel. Di tingkat orang, Li P dari Pennsylvania State University dan Sung dari Lingnan University sama-sama mencatat tujuh artikel, diikuti Arnon dari Hebrew University dan Reinisch dari Max Planck Institute for Psycholinguistics dengan enam artikel. Empat dari sepuluh lembaga teratas berada di Eropa dan empat lagi di benua Amerika, sementara Asia hanya diwakili The University of Hong Kong.
Baca juga Ketika Perempuan Kuat dalam Novel Ikut Goyah
Daftar itu terasa netral sampai seseorang membaliknya dan bertanya siapa yang tidak ada di sana. Indonesia tidak muncul sebagai penyumbang dalam peta ini; ia hadir hanya lewat kutipan ketiganya terhadap riset terdahulu tentang pembelajaran bahasa asing di Indonesia pada 2022, yang justru memunculkan kata kunci seperti gender, hambatan, kesulitan akademik, dan daerah pedesaan. Kata-kata kunci itu, tulis ketiganya, tidak muncul di dalam kumpulan 770 artikel yang mereka petakan. Sebuah topik bisa penting bagi jutaan pelajar dan tetap nyaris tidak berbekas di dalam basis data yang paling sering dijadikan rujukan mutu. Ketiganya juga mencatat temuan peneliti lain bahwa porsi terbitan dari negara mapan seperti Amerika Serikat perlahan menurun secara proporsional, sementara Tiongkok naik terus, dan pada peta mereka sendiri Tiongkok sudah menempati urutan keempat.
Ketika Jumlah Kutipan Menjadi Selera Zaman
Lapisan kedua peta itu berupa perhitungan pengaruh. Dari 770 artikel tadi terkumpul 7.921 kutipan, rata-rata 880,11 kutipan per tahun dan 10,29 kutipan per artikel, dikerjakan oleh 2.042 penulis dengan rata-rata 2,61 penulis per artikel. Indeks h kumpulan itu 41, artinya ada 41 artikel yang masing-masing dikutip sekurang-kurangnya 41 kali. Artikel yang paling banyak dikutip, dengan 165 kutipan, adalah studi Klein dan rekan pada 2014 yang membandingkan ketebalan korteks otak orang dwibahasa dan ekabahasa. Di bawahnya ada tulisan Richards pada 2015 tentang belajar bahasa di luar kelas dengan 129 kutipan, lalu studi Sohrabi dan Iraj pada 2016 tentang kelas terbalik dengan 111 kutipan. Dari dua puluh artikel yang paling banyak dikutip, enam terbit pada 2013 dan hanya satu pada 2019, dan isinya berpindah-pindah antara psikologi, neurologi, serta teknologi.
Susunan itu rapi, dan ketiganya justru memakainya untuk menahan diri. Mereka mencatat bahwa artikel yang terbit lebih awal memang lebih berpeluang menumpuk kutipan, sehingga urutan teratas sebagian adalah urusan umur, bukan semata mutu. Mengutip Aksnes dan rekan, mereka menulis bahwa “kutipan tidak menunjukkan faktor kualitas riset yang lain” dan bahwa meluasnya pemakaian metrik kutipan dalam penilaian serta pendanaan riset dapat mengalihkan perhatian dari kekuatan metode, kebaruan, dan manfaat sosial sebuah kajian. Peta pengaruh, dengan kata lain, sekaligus merupakan peta kebiasaan mengutip. Mereka tetap memakai metrik itu, dengan alasan kutipan berguna untuk menemukan terbitan paling berpengaruh dan melihat bagaimana sebuah bidang berkembang, tetapi mereka menolak memperlakukannya sebagai ukuran mutu. Perbedaan pola mengutip antardisiplin, tambah mereka, membuat angka dari satu bidang tidak selalu bisa dibandingkan dengan angka dari bidang lain.
Baca juga Dua Gelembung di Rontgen Perut Bayi Lima Hari
Jumlah terbitannya sendiri bergerak tidak rata. Sepanjang 2013 hingga 2016 kenaikannya tipis, lalu turun pada awal 2017, naik tajam sampai 2019, hampir mendatar pada 2020, dan mencapai sekitar 130 artikel pada 2021 sebelum kembali turun pada 2022. Ketiganya menambahkan catatan yang mudah diabaikan: data itu diambil pada akhir 2022, sehingga angka tahun terakhir belum tentu angka final. Perbandingan dengan riset terdahulu pun tidak selalu setara, karena jumlah terbitan sangat bergantung pada rentang tahun, luas topik, serta kriteria masuk dan keluar yang dipakai setiap peneliti. Sebuah kajian terdahulu menghitung 7.866 terbitan tentang pemerolehan bahasa kedua sepanjang 1997 sampai 2018, sementara kajian lain yang menyisir satu jurnal saja hanya menemukan 482 terbitan dalam lima belas tahun. Angka-angka itu tidak saling membantah, keduanya hanya menakar kolam yang berbeda ukuran.
Yang lebih menarik daripada jumlahnya adalah pergantian musimnya. Antara 2013 dan 2018 pembicaraan berkerumun di sekitar pemerolehan bahasa kedua: kata, pemelajaran kata, penutur, pendengar, kedwibahasaan, dan produksi bahasa. Menjelang pertengahan 2019 pusat perhatian bergeser ke guru, motivasi, lingkungan belajar, dan keefektifan pembelajaran, termasuk peran ingatan dalam pemrosesan bahasa. Sejak akhir 2019 arah itu berbelok lagi ke sekolah dan teknologi, dengan gamifikasi, robotika, dan lantai belajar daring sebagai topik baru, ditambah dampak pandemi Covid-19. Baru sejak 2020 muncul kepercayaan diri, efikasi, kesediaan, kreativitas, dan remaja sebagai kata kunci yang diperhitungkan. Ketiganya membaca pergeseran itu sebagai perubahan minat peneliti, bukan sekadar perubahan usia terbitan, dan mengingatkan bahwa topik yang menonjol di satu periode bisa meredup di periode berikutnya tanpa pernah benar-benar selesai dijawab.
Yang Tinggal di Tepi Peta
Peta kata kunci itu menghasilkan tujuh gugus dengan 307 butir topik dan lebih dari 17 ribu tautan antartopik. Dua gugus terbesar mendominasi hampir segalanya: gugus pertama berkerumun di sekitar siswa, terutama motivasi dan emosi, sementara gugus kedua berkerumun di sekitar satuan kebahasaan, mulai dari kata, leksikon, tuturan, aksen, pelafalan, nada, fonem, hingga ortografi. Gugus ketiga menangani pemrosesan bahasa pada penutur dwibahasa, termasuk kesulitan belajar, ingatan, dan perbedaan usia. Lima gugus sisanya jauh lebih tipis, dan ketiganya menyebut bahwa topik di gugus tipis itu memang lebih jarang dibicarakan. Gugus keempat kembali menyentuh sekolah lewat capaian akademik, gugus kelima menyoal keterlibatan guru dan siswa, sedangkan dua gugus terakhir tinggal menyisakan variabilitas, verba, dan hasil mata kuliah.
Baca juga Dua Puisi Duka, Dua Bayangan tentang Kematian
Di tepi peta itulah nama-nama yang paling menyentuh ruang kelas justru berdiri sendirian. Aksen, disabilitas, hasil belajar, dan anak dwibahasa termasuk kata kunci berkepadatan rendah. Begitu pula pembelajaran kolaboratif, kesediaan berkomunikasi, translanguaging atau praktik memakai lebih dari satu bahasa secara berselang di dalam satu percakapan, dan stres. Kepadatan yang rendah tidak berarti topik itu tidak penting; ia berarti belum banyak yang mendatanginya. Bagi guru bahasa yang setiap hari menghadapi kelas dengan kemampuan campuran, daftar sudut sepi ini barangkali lebih berguna daripada daftar artikel paling banyak dikutip. Ketiganya menyebut kepadatan rendah sebagai tanda bahwa topik tersebut belum cukup mendapat perhatian peneliti, dan mengaitkannya dengan seruan lama di bidang ini bahwa studi bahasa kedua masih memerlukan pembenahan arah yang serius.
Ketiganya tidak menyembunyikan batas kerjanya sendiri. Mereka menyatakan hanya memuat sebagian terbatas terbitan dan penulis karena keterbatasan ruang, dan hanya menyisir tren serta persoalan pembelajaran bahasa kedua di ranah psikolinguistik pada artikel yang terindeks Scopus. Buku, disertasi, dan makalah konferensi tidak ikut dihitung, padahal ketiganya mengakui bentuk-bentuk itu turut membentuk pemahaman tentang bidang ini. “Pemerolehan bahasa bukan disiplin kecil,” tulis mereka, sambil menyarankan peneliti lain memakai indeks lain seperti Web of Science dan Google Scholar untuk memperluas gambaran. Pengakuan itu memindahkan kedudukan artikel mereka: bukan kesimpulan tentang bidangnya, melainkan pintu masuk yang bisa dibuka lebih lebar oleh orang berikutnya.
Batas itu penting dipegang saat membaca angkanya. Peta Scopus adalah peta atas apa yang diindeks Scopus, bukan peta atas seluruh riset bahasa kedua di dunia, apalagi peta atas mutu pengajaran bahasa di suatu negara. Dominasi Amerika Serikat dalam jumlah terbitan tidak dengan sendirinya berarti kelas bahasa di sana lebih baik, sebagaimana kekosongan nama Indonesia tidak berarti tidak ada yang meneliti di sini. Yang ditangkap bibliometrik adalah lalu lintas publikasi, dan lalu lintas itu punya jalan tol serta punya jalan yang belum diaspal.
Maka pertanyaan yang tersisa dari peta ini bukan siapa yang paling banyak dikutip, melainkan mengapa aksen, disabilitas, hasil belajar, dan anak dwibahasa masih berkerumun di pinggir sesudah sepuluh tahun, 770 artikel, dan hampir delapan ribu kutipan. Ketiganya menutup dengan harapan bahwa daftar yang mereka susun dipakai peneliti dan mahasiswa baru sebagai panduan ringkas untuk masuk ke bidang ini. Pertanyaannya, panduan itu akan menuntun mereka ke pusat peta yang sudah padat, atau ke tepinya yang masih sepi?















