Cekricek.id — Perempuan yang berani menggugat cerai, menyelesaikan pendidikan tinggi, punya penghasilan sendiri, dan terbiasa menutup telinga terhadap gunjingan tetangga, biasanya dianggap sebagai orang yang sudah selesai dengan dirinya sendiri. Pipit, tokoh utama novel Hati Seorang Perempuan, memenuhi seluruh daftar itu tanpa kurang satu pun. Ia menceraikan suaminya sambil menolak nasihat orang tua dan kakaknya, membangun karier, berdiri di depan orang banyak sebagai pembicara seminar, dan bertahun-tahun mengabaikan label janda yang ditempelkan lingkungannya. Namun pada satu malam sepulang kuliah, ketika bekas suaminya menawarkan jaket, yang keluar dari mulut Pipit bukan penolakan seorang perempuan yang sudah selesai, melainkan sebuah pertanyaan tentang apa kata orang.
Adegan jaket itu diperiksa Robiatul Adawiyah dan Pujiharto, dua peneliti Universitas Gadjah Mada, dalam artikel The instability of female construction as reflected in novel Hati Seorang Perempuan yang terbit di jurnal LITERA volume 24 nomor 3 tahun 2025. Novel yang mereka baca adalah karya Maria A. Sardjono, terbitan Novelindo Publishing, setebal 102 halaman. Cara membacanya sengaja dibalik: alih-alih mengejar pesan utama yang hendak disampaikan pengarang, keduanya justru berburu bagian-bagian yang diam-diam membantah pesan itu sendiri, sebuah pembacaan dekonstruktif yang mereka sandarkan pada Jacques Derrida dan mereka tafsirkan dengan feminisme eksistensialis Simone de Beauvoir, yang menyatakan bahwa orang tidak dilahirkan sebagai perempuan melainkan menjadi perempuan.
Pesan utama novel itu sendiri tidak sulit ditebak. Pipit digambarkan sebagai perempuan modern yang menolak tatanan yang membuat perempuan dinilai dari status kawinnya, sementara bekas suaminya, Wisnu, digambarkan sebagai lelaki yang memegang teguh tatanan tersebut. Di kampung tempat Pipit tinggal, perempuan yang bercerai dianggap perempuan jahat; di rumah orang tuanya, keberhasilan karier dan pendidikannya tetap dihitung sebagai kegagalan selama ia belum berkeluarga lagi dan punya anak. Yang menarik perhatian kedua peneliti bukan perlawanan Pipit terhadap semua itu, yang sudah menjadi bahan puluhan kajian sebelumnya, melainkan retak-retak yang muncul justru di dalam pendirian Pipit sendiri, di bagian-bagian yang mudah terlewat karena tampak seperti kelemahan sesaat seorang tokoh.
Daftar Isi
Retak-retak di Balik Kata Mandiri

Cara kerjanya sederhana dan cukup ketat. Kedua peneliti membaca ulang novel itu sambil mencatat setiap bagian yang bertabrakan dengan bagian lain, lalu memilah temuan tersebut ke dalam tiga jenis: pertentangan antara ucapan dan tindakan, ironi, dan paradoks di dalam diri satu tokoh. Data yang sudah terpilah itu baru dibaca kembali dengan kerangka feminisme eksistensialis, yang memperlakukan identitas gender sebagai posisi yang dibentuk keadaan, bukan sebagai kodrat yang menetap. Dengan cara itu ketidakkonsistenan Pipit tidak dibaca sebagai cacat tokoh, melainkan sebagai catatan tentang seseorang yang sedang menawar syarat menjadi perempuan di lingkungan yang sudah menetapkan syaratnya lebih dulu, dan pertentangan yang tampak sepele pun ikut dihitung sebagai data selama ia bertabrakan dengan sesuatu yang sudah dinyatakan tokoh itu sendiri di halaman lain.
Baca juga Ketika Petani dan Nelayan Hanya Jadi Penerima Harga
Pendirian itu mulai goyah tepat pada hal yang paling lama ia tundukkan: penilaian orang lain. Selama empat tahun lebih sesudah bercerai, Pipit membiarkan orang bergunjing dan tetap hidup menurut ukurannya sendiri. Lalu Wisnu muncul kembali di ruang kuliah pascasarjana yang sama, empat tahun lebih sesudah keduanya berpisah, dan ketahanan itu diuji oleh hal-hal yang jauh lebih kecil daripada perceraian. Pada halaman 40 novel itu, dalam kutipan yang disalin kedua peneliti, Pipit menjawab tawaran jaket bekas suaminya dengan kalimat yang tidak menyebut dirinya sama sekali: “Tidakkah menurutmu memakai jaketmu untuk perempuan yang bukan siapa-siapa bagimu akan menimbulkan kecanggungan? Apalagi kalau perempuan itu bekas istrimu. Apa kata orang nanti kalau melihat?”
Kalimat serupa berulang di halaman 70, ketika seorang teman sekelasnya bernama Iwan mengajaknya makan dan Pipit menimbang lagi kemungkinan orang berprasangka. Dua kalimat itu berdiri berseberangan dengan sosok yang dibangun novel di bagian-bagian awalnya. Perempuan yang dulu tidak bergeming ketika seluruh kampung menyebutnya gagal, kini menghitung risiko dilihat orang saat menumpang mobil dan saat makan berdua. Kedua peneliti mencatat pergeseran itu bukan sebagai kelemahan penokohan, melainkan sebagai bukti bahwa pendirian yang paling keras sekalipun disusun dari bahan yang bisa retak, dan bahwa penilaian orang lain, yang sudah dianggap selesai ditolak, ternyata masih bekerja di bawah permukaan setiap keputusan kecil.
Retak berikutnya datang dari arah yang lebih sunyi. Pipit sudah memperoleh hampir semua yang ia rencanakan sejak bercerai: pekerjaan mapan, karier yang melaju, pengakuan orang banyak, ruang untuk mengaktualisasikan diri tanpa izin siapa pun. Namun pada halaman 52 novel itu muncul kalimat yang membalik seluruh daftar tersebut, ketika Pipit disebut kembali merasakan kesepian dan kekosongan hidupnya setiap kali ia melihat jurang itu dengan mata batinnya. Keberhasilan yang lengkap ternyata tidak membuat tokoh itu merasa penuh, dan novel tidak menyembunyikan kekosongan tersebut, bahkan memperdalamnya ketika Pipit menyaksikan kedekatan bekas suaminya dengan perempuan lain bernama Amanda, dan perempuan yang selama ini digambarkan tangguh itu berubah menjadi rapuh di depan pembaca.
Baca juga Manuskrip Lontar Trowulan Menunggu Giliran Didata
Puncak pembalikannya terjadi pada bagian yang paling bertentangan dengan prinsip Pipit sendiri. Perempuan yang berkali-kali menegaskan bahwa seorang janda tidak boleh mengganggu hubungan orang lain akhirnya menghabiskan satu malam dengan Wisnu, yang saat itu ia yakini sudah menjadi milik perempuan lain. Halaman 42 novel itu menyebut bahwa untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu lagi, pandangan keduanya bertaut, dan keduanya sadar getar yang mereka rasakan enam tahun sebelumnya masih ada. Logika yang selama ini memimpin hidup Pipit, menurut pembacaan kedua peneliti, berhenti bekerja persis di titik itu, dan yang tersisa hanyalah dua orang yang sama-sama tahu bahwa keadaan mereka sudah berubah namun tetap memilih tinggal di dalam ingatan lama, di kamar yang sama, pada malam yang sama.
Poros yang Ternyata Ikut Bergeser
Kalau perempuan yang menolak tatanan itu ternyata tidak konsisten, lelaki yang mempertahankannya juga tidak. Wisnu di paruh awal novel adalah suami yang memutuskan segala hal sendirian, tidak pernah mengajak istrinya berbicara di luar urusan rumah tangga, dan meyakini bahwa dirinya lebih tahu tentang apa pun. Sesudah bercerai dan bertemu kembali di kelas yang sama, tokoh itu muncul sebagai orang lain. Ia bahkan yang lebih dulu membuka pembicaraan tentang beban yang ditanggung laki-laki di dalam tatanan yang selama ini menguntungkannya, sesuatu yang selama bertahun-tahun pernikahan mereka tidak pernah sekali pun ia sebut, sebab bertanya kepada istri saja sudah ia anggap merendahkan kedudukannya sebagai kepala rumah tangga.
Kutipan yang dipakai kedua peneliti untuk menandai perubahan itu diambil dari halaman 34. Dialog itu terjadi seusai kelas, ketika Wisnu mengajak bekas istrinya membicarakan sesuatu yang mengganjal di kepalanya tentang tatanan yang mengikat perempuan dan laki-laki sekaligus. Dalam dialog tersebut Wisnu berbicara tentang peran lelaki di dalam keluarga: “Banyak ajaran tak terucap yang disosialisasikan orang tua lewat tindakan sehari-hari yang konkret, yang akhirnya mengendap di dalam diri anak-anak mereka. Di antaranya ada pemahaman bahwa seorang suami harus lebih unggul dalam segala hal. Memalukan bagi seorang suami untuk bertanya kepada istrinya.” Yang berbicara adalah lelaki yang dulu menjalankan pemahaman itu tanpa pernah menamainya, dan yang menurut catatan kedua peneliti baru mulai meragukan dirinya sesudah Pipit menumpahkan seluruh keberatannya pada hari mereka bercerai.
Pergeseran itu berlanjut ke hal yang lebih kecil dan justru lebih tajam. Pada halaman 33 novel itu Wisnu memuji cara bekas istrinya menyajikan materi dan menjawab pertanyaan teman-teman sekelas, sesuatu yang tidak pernah ia lakukan selama mereka menikah. Ia juga mengakui ada bahan kuliah yang tidak ia pahami dan meminta Pipit menjelaskannya. Bagi Robiatul Adawiyah dan Pujiharto, pengakuan tidak tahu itu penting bukan karena manisnya, melainkan karena tuntutan agar suami selalu lebih tahu adalah bagian dari tatanan yang sama yang membuat Pipit dinilai gagal di rumah orang tuanya. Satu tatanan, dua orang, dua bentuk kerugian yang berbeda, dan keduanya sama-sama tidak sanggup memikulnya sampai akhir.
Yang Sengaja Dibiarkan Tidak Selesai
Sampai di sini pembacaan itu perlu ditakar. Yang dibaca kedua peneliti adalah satu novel setebal 102 halaman, dengan dua tokoh utama, dan datanya berupa kata, frasa, serta kalimat dalam dialog, monolog, dan narasi di dalam novel tersebut. Tidak ada wawancara, tidak ada pembaca yang disurvei, tidak ada perbandingan dengan novel lain, dan tidak ada pengarang yang dimintai keterangan tentang maksudnya. Pembacaan dekonstruktif juga bersandar pada tafsir, sehingga temuannya berlaku untuk teks itu dan tidak bisa dipakai untuk menyimpulkan bagaimana perempuan Indonesia pada umumnya menjalani konstruksi gender, atau bagaimana sastra Indonesia secara keseluruhan menggambarkannya. Satu novel tetap satu novel, betapapun banyak pembaca yang merasa mengenali dirinya di dalamnya.
Baca juga Sebelas Wajah Penantian dalam Lirik Didi Kempot
Dibandingkan dengan sederet riset yang mereka sebut di bagian awal, letak artikel ini cukup jelas. Kajian sebelumnya menelusuri konstruksi gender pada masyarakat, pada media massa, dan pada media sosial seperti Instagram serta Twitter, termasuk satu kajian tentang modernisasi Yogyakarta yang menemukan akses perempuan membaik di bidang pendidikan dan politik sementara ranah rumah tangganya tetap timpang, dan sebagian besarnya berhenti pada dampak buruk konstruksi itu bagi perempuan. Tulis Robiatul Adawiyah dan Pujiharto, yang ingin mereka lihat justru sisi lain: konstruksi gender yang selalu goyah, cair, dan berubah, tidak dari sudut pandang masyarakat atau satu medium tertentu, melainkan dari dalam diri dua tokoh yang meyakininya. Perbedaan sudut itulah yang membuat temuan mereka terasa lebih kecil sekaligus lebih tajam daripada kesimpulan besar tentang ketimpangan.
Latar sosial yang membuat pertanyaan itu hidup juga disinggung papernya dengan angka. Jumlah pekerja perempuan di sektor formal, menurut data Badan Pusat Statistik yang mereka kutip, naik dari 34,65 persen pada 2020 menjadi 36,20 persen pada 2021. Kenaikan satu koma lima lima poin itu kecil, tetapi arahnya searah dengan tokoh yang mereka baca: makin banyak perempuan berpenghasilan sendiri, makin sering ukuran lama tentang keberhasilan seorang perempuan berbenturan dengan ukuran yang ia susun sendiri. Novel Maria A. Sardjono menempatkan benturan itu di dalam satu kepala, bukan di antara dua kubu, dan justru karena itu ia menyediakan bahan yang tidak tersedia pada survei mana pun: rekaman seseorang yang sedang berdebat dengan ukurannya sendiri.
Simpulan mereka pun tidak berpihak pada salah satu tokoh. Baik pendirian Pipit maupun pendirian Wisnu sama-sama tidak bertahan utuh sampai halaman terakhir, dan penyebabnya bukan satu hal, melainkan campuran latar budaya, pengalaman pribadi, perubahan perasaan, situasi, serta perenungan diri. Kalau novel yang paling terang-terangan hendak membela kemandirian perempuan justru menampilkan tokohnya sedang menimbang apa kata orang di tengah malam, dan menampilkan lawan bicaranya mengakui bahwa ia pun dulu hanya menjalankan pelajaran yang tidak pernah diucapkan siapa-siapa, pertanyaan yang tersisa bukan siapa yang menang di dalam cerita itu, melainkan apa yang sebenarnya sedang diukur ketika seseorang disebut sudah selesai dengan dirinya sendiri.














