Cekricek.id — Seratus sepuluh kata budaya Indonesia diuji di dua bahasa asing.
Kata-kata itu diambil dari novel Cantik Itu Luka karya Eka Kurniawan. Yang menelitinya Polina Korneenkova dan Andy Bayu Nugroho dari Universitas Negeri Yogyakarta, bersama Pavel Travkin dari Saint Petersburg University di Rusia. Ketiganya bekerja dengan tiga teks sekaligus, dalam tiga bahasa yang berbeda.
Laporannya berjudul Culture-specific items (CSIs) of Eka Kurniawan’s Cantik Itu Luka in its English and Russian translations dan terbit di jurnal Diksi Volume 33 Nomor 1 tahun 2025. Bahasa kajiannya Inggris, tetapi bahan yang dibedah sepenuhnya Indonesia. Halamannya 53 sampai 70.
Teks pertama novel asli terbitan Gramedia Pustaka Utama. Teks kedua terjemahan Inggris Annie Tucker berjudul Beauty is a Wound, yang terbit pada 2015 lewat penerbit Australia. Teks ketiga terjemahan Rusia karya Marina Izvekova, terbit tiga tahun sesudahnya lewat penerbit Phantom Press di Moskwa.
Daftar Isi
Seratus sepuluh kata

Kata budaya di sini punya nama teknis, yaitu culture-specific item atau kata khas budaya. Maksudnya kata yang hanya punya arti penuh di dalam satu kebudayaan tertentu dan kehilangan sebagian isinya begitu dipindahkan. Sate, sarung, penghulu, syukuran, wayang, kalong.
Ketiga peneliti memakai pembagian Peter Newmark yang terbit pada 1988 dan masih menjadi rujukan utama kajian penerjemahan sampai hari ini. Dari 110 kata itu, sebanyak 37 masuk kelompok budaya material atau setara 34 persen. Isinya makanan, pakaian, dan benda pakai sehari-hari.
Kelompok kedua berisi organisasi, adat, gagasan, kegiatan, dan ritual, sebanyak 26 kata atau 24 persen dari seluruh data yang dikumpulkan. Budaya sosial menyusul di urutan ketiga dengan 21 kata atau 19 persen. Isinya peran, pekerjaan, dan kedudukan yang khas Indonesia.
Ekologi menyumbang 20 kata atau 18 persen, berisi flora, fauna, dan bentang alam yang tidak dikenal pembaca di luar Nusantara. Sisanya kelompok gerak tubuh dan kebiasaan, yang hanya menyumbang enam kata atau lima persen. Kelompok terakhir itu paling jarang muncul di seluruh novel.
Angka lima persen tadi agak ganjil untuk novel setebal ini. Ceritanya membentang dari zaman kolonial sampai masa sesudah kemerdekaan, penuh keramaian, perkelahian, dan adegan tubuh yang panjang. Tetapi hanya enam gerak yang dinilai benar-benar khas dan sukar dipindahkan ke bahasa lain.
Sate dan sarung
Penerjemah Inggris paling sering memilih meminjam kata aslinya bulat-bulat. Teknik pinjaman muncul 43 kali atau 39 persen dari seluruh data, jauh meninggalkan teknik mana pun yang lain. Kata Indonesia dibiarkan berdiri sendiri dengan ejaan yang nyaris tidak diubah.
Baca juga Film Dokumenter untuk Kesenian Bangreng Sumedang
Sarung menjadi sarong dalam versi Inggris, sebuah kata yang sudah lama masuk kamus bahasa itu. Dalam bahasa Rusia, kata yang sama ditulis ulang dengan huruf Kiril sehingga bunyinya tetap bertahan. Pembaca kedua bahasa bertemu benda asing tanpa dituntun terlalu jauh.
Sate mengalami nasib yang berbeda di kedua bahasa tujuan. Versi Inggris menulis satay dan mempertahankan barang aslinya, lengkap dengan cara penyajiannya yang ditusuk. Versi Rusia menggantinya dengan ungkapan yang berarti daging panggang biasa, sesuatu yang sudah dikenal pembacanya sejak lama.
Satu tusuk sate hilang persis di titik itu. Yang tersisa bagi pembaca Rusia hanya cara memasaknya, bukan makanan yang sedang dibicarakan tokoh-tokohnya. Mereka mendapat adegan yang bisa dibayangkan, tetapi bukan adegan yang sama dengan yang ditulis Eka Kurniawan.
Teknik kedua yang sering dipakai versi Inggris adalah penambahan keterangan, yang muncul 21 kali atau 19 persen dari seluruh data. Contoh yang paling jelas kata kalong, nama sejenis kelelawar pemakan buah di Jawa. Kata aslinya dipertahankan, lalu dibubuhi penjelasan pendek di dalam kalimat yang sama.
Generalisasi menempati urutan ketiga dengan 14 kejadian atau 13 persen dari data versi Inggris. Teknik ini memakai kata yang lebih umum untuk menggantikan istilah yang jauh lebih sempit maknanya. Penghulu, misalnya, berubah menjadi kepala desa, jabatan yang kehilangan sisi keagamaannya di jalan.
Wayang yang bertahan
Ada kata yang lolos utuh sampai ke dua bahasa tujuan sekaligus. Wayang dan sintren dipinjam mentah-mentah, baik oleh Annie Tucker maupun oleh Marina Izvekova sesudahnya. Versi Rusia hanya mengalihaksarakan keduanya ke huruf Kiril tanpa mengubah bunyi aslinya.
Pilihan itu bukan kebetulan, sebab keduanya menyangkut kesenian yang tidak punya padanan di mana pun di luar Jawa. Wayang adalah pertunjukan bayangan dengan boneka kulit yang berakar dalam pada kebudayaan setempat. Sintren adalah tarian yang melibatkan keadaan kesurupan dan punya bobot spiritual tersendiri.
Syukuran juga bertahan, meskipun tidak konsisten di sepanjang novel. Pada satu bagian, kata itu diubah menjadi upacara syukur yang terdengar lebih umum di kedua bahasa tujuan. Pada bagian lain, kata syukuran dipertahankan utuh dan cukup dibubuhi keterangan pendek tentang isinya.
Pilihan semacam itu punya nama dalam kerangka Lawrence Venuti, yaitu foreignisasi. Pembaca sengaja dibiarkan merasa sedang membaca teks yang datang dari tempat lain dan tidak semuanya bisa ia kenali. Lawannya domestikasi, yakni menjinakkan yang asing supaya terasa akrab di halaman.
Di versi Inggris, foreignisasi menang telak dengan 71 kasus atau 65 persen dari 110 data yang dikumpulkan. Domestikasi tinggal 39 kasus atau 35 persen dari keseluruhan. Tucker lebih sering membiarkan pembacanya tersandung satu kata Indonesia yang tidak ia kenal.
Baca juga Nalar yang Dijanjikan Standar Lulusan Madrasah
Di versi Rusia, hasilnya berbalik meski tipis saja. Domestikasi tercatat 58 kasus atau 53 persen, sedangkan foreignisasi 52 kasus atau 47 persen dari data yang sama. Selisihnya hanya enam kasus, dan angka setipis itu perlu dibaca dengan hati-hati.
Lewat bahasa Inggris
Ada satu keterangan yang mengubah cara membaca seluruh angka Rusia tadi. Izvekova sama sekali tidak menerjemahkan dari bahasa Indonesia ketika mengerjakan novel ini. Ia bekerja dari terjemahan Inggris Annie Tucker yang sudah lebih dulu terbit pada 2015.
Istilahnya terjemahan bermediasi, atau terjemahan atas sebuah terjemahan. Bahasa Inggris berfungsi sebagai bahasa jembatan yang menghubungkan teks asli dengan bahasa ketiga. Setiap keputusan Tucker otomatis menjadi bahan mentah bagi Izvekova, termasuk keputusan yang sudah menjinakkan kata Indonesia lebih dulu.
Akibatnya paling terlihat pada teknik yang paling sering muncul di versi Rusia. Terjemahan harfiah dipakai 39 kali di sana, setara 35 persen dari seluruh data yang dianalisis. Dalam versi Inggris, teknik yang sama hanya muncul delapan kali atau tujuh persen.
Pinjaman tetap kuat di versi Rusia dengan 31 kejadian atau 28 persen dari keseluruhan. Penambahan keterangan muncul 18 kali atau 16 persen, sedikit di bawah capaian versi Inggris. Ada pula tiga kata yang tercatat hilang sama sekali dari teks Rusia.
Contoh yang paling gampang diperiksa ada pada sebuah nama jalan di dalam novel. Versi Inggris membiarkan Jalan Merdeka apa adanya sebagai nama tempat yang tidak diterjemahkan. Versi Rusia menggantinya dengan Jalan Kebebasan, nama yang bisa dibaca sekali jalan oleh pembacanya.
Hal serupa terjadi pada satu gerak tubuh dari masa kolonial. Novelnya menyebut orang harus berjongkok di jalan ketika seorang perempuan Belanda kebetulan lewat di depannya. Kedua terjemahan menggantinya dengan membungkuk, gerak hormat yang jauh lebih dikenal pembaca Barat.
Sebagian kata justru selamat karena kalimat aslinya sudah menjelaskan dirinya sendiri. Pada halaman 75 novel itu tertulis, “Seperti kalong, aku lebih sering bangun di malam hari daripada siang.” Kedua penerjemah mempertahankan kata kalong dan cukup membubuhkan keterangan tentang jenis hewannya.
Dua ideologi
Temuan ini tidak berdiri sendiri di dalam kajian penerjemahan di Indonesia. Husba dan rekan-rekannya pernah membaca novel yang sama pada 2020 dengan pembagian Newmark yang sama pula. Mereka menemukan 90 kata khas budaya di sana, bukan 110 seperti sekarang.
Selisih 20 kata itu dijelaskan sendiri oleh tim Yogyakarta dan Saint Petersburg tanpa diminta. Sebagian kata mereka catat lebih dari sekali karena tekniknya berbeda di bagian novel yang berbeda. Jadi angka 110 bukan jumlah kata yang seluruhnya berlainan satu sama lain.
Baca juga Singkatan Gaul dan Satuan Baku di Komentar TikTok
Pembandingnya yang lain datang dari film, bukan dari buku. Martendi dan rekan-rekannya meneliti istilah budaya Indonesia dalam film Battle of Surabaya pada 2022 dengan kerangka Newmark juga. Di sana kelompok terbesar justru budaya sosial, bukan budaya material seperti pada novel ini.
Perbedaan itu masuk akal begitu bahan keduanya dibandingkan. Film perang berisi pangkat, sapaan, dan peran orang di dalam satu peristiwa besar yang berlangsung singkat. Novel keluarga yang membentang beberapa dasawarsa berisi makanan, pakaian, perabot, dan upacara.
Yang belum terjawab
Ketiga peneliti tidak menutupi kelemahan alat yang mereka pakai sendiri. Pembagian Newmark dinilai terlalu lebar dan sebagian kategorinya bertumpang tindih, terutama budaya sosial dengan kelompok organisasi dan adat. Batas antarkelompok pada akhirnya bergantung pada penilaian orang yang membacanya.
Cakupannya pun terbatas pada tiga bahasa dan satu novel saja. Ideologi penerjemahan sendiri, mengutip Jaya, bukan pilihan mati melainkan rentang yang bisa bergeser di tengah pekerjaan. Angka 53 berbanding 47 persen sebaiknya dibaca dengan ingatan itu.
Sisi Rusia dari urusan ini masih sepi peneliti sampai sekarang. Menurut Kaprisma, data tentang terjemahan karya sastra Indonesia modern di Rusia masih sangat sedikit dikaji orang. Ketiga penulis menempatkan artikel mereka sebagai pembuka jalan, bukan sebagai jawaban.
Padahal hubungan kedua negara sudah lama terjalin di bidang ini. Bahasa Indonesia mulai diajarkan di Moskwa dan Leningrad setelah hubungan diplomatik dibuka pada pertengahan abad ke-20 atas usaha Soekarno. Sekitar 28 karya sastra Indonesia kini tersedia dalam bahasa Rusia.
Daftar itu memuat Bumi Manusia, Telegram, Surapati, Sitti Nurbaya, dan Ziarah. Sebagian di antaranya diterjemahkan langsung dari bahasa Indonesia oleh orang yang memang menguasai bahasanya. Sebagian lagi, seperti novel Eka Kurniawan ini, menempuh jembatan bahasa Inggris lebih dulu.
Novel yang dipakai penelitian ini masuk daftar seratus buku penting The New York Times pada 2015. Ia sudah berjalan cukup jauh dari tempat asalnya, dari sebuah kota pesisir rekaan sampai ke rak buku Moskwa. Setiap perpindahan meninggalkan sesuatu di belakang.
Seratus sepuluh kata berangkat, dan tidak semuanya sampai dengan bentuk yang sama.













