Film Dokumenter untuk Kesenian Bangreng Sumedang

A A

Ilustrasi sekelompok penari berkostum warna-warni tampil dalam pertunjukan tradisional di ruang terbuka. [Foto: Pexels]

Daftar Isi
  1. Dari Kayu Sisa Pembangunan Masjid ke Panggung Ronggeng
  2. Dua Belas Pemain Melawan Satu Orang di Belakang Organ
  3. Dua Puluh Lima Menit yang Dirakit dari Tiga Desa

Cekricek.id — Kemenyan dibakar lebih dulu. Sebelum satu pun terbang ditabuh, sebelum ronggeng melangkah ke tengah halaman, seseorang berjongkok di depan sesajen dan meminta izin kepada leluhur. Orang Sumedang menyebut prosesi itu Ijab Kabul. Baru sesudah itu lagu “Kembang Gadung” dibunyikan sebagai pembuka, juru baksa menyerahkan soder kepada ronggeng, dan ronggeng menari berpasangan tanpa sentuhan fisik sambil membuka ruang bagi penonton yang ingin ikut. Adegan itu kini semakin jarang terjadi.

Anggi Lestari Paja pergi merekamnya. Mahasiswa Program Studi Produksi Film dan Televisi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Widyatama, itu menuliskan seluruh proses kerjanya dalam artikel Pelestarian Kesenian Bangreng Di Jawa Barat Melalui Film Dokumenter, yang terbit di jurnal Ekspresi Seni: Jurnal Ilmu Pengetahuan dan Karya Seni, Vol. 27 No. 1, pada 2025. Ia bekerja sendirian sebagai dokumentaris — meriset, menyusun naskah, memegang kamera, lalu menyunting hasilnya menjadi film berdurasi dua puluh lima menit. Alasannya sederhana: kesenian yang ia datangi belum punya rekaman yang layak disebut arsip.

Film itu diberi judul “Bangreng, Terbang dan Ronggeng”, dan Anggi menyebut filosofi yang ia bawa sebagai ngarumat, merawat dunia. Yang ia temukan di lapangan bukan perawatan. Bapak Ajo, seniman Bangreng asal Desa Situraja yang diwawancarainya pada 25 Februari 2024, menyampaikan alasan orang berhenti menanggap kesenian itu: dianggap kuno, dianggap kurang menarik, dan ongkos pertunjukannya mahal. Organ tunggal datang belakangan, jauh lebih praktis dibawa dan dibayar, lalu mempercepat kemunduran yang sudah berjalan.

Dari Kayu Sisa Pembangunan Masjid ke Panggung Ronggeng

Ilustrasi seorang lelaki berpakaian tradisional menabuh rebana berbingkai kayu.
Ilustrasi seorang lelaki berpakaian tradisional menabuh rebana berbingkai kayu. [Foto: Pexels]

Alat musiknya lahir dari sisa. Terbang, gendang berbingkai yang menjadi separuh nama kesenian ini, menurut catatan Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah IX Jawa Barat dibuat dari kayu sisa pembangunan masjid, lalu dipakai Sunan Gunung Jati sebagai perangkat dakwah di tanah Sunda. Masyarakat Sumedang waktu itu masih menganut kepercayaan Hindu, dan pendekatan yang dipilih bersifat kultural: pertunjukan dipakai untuk mengumpulkan orang lebih dahulu, pesan agama menyusul sesudahnya. Pada abad ke-16 hampir seluruh pesisir Jawa sudah memeluk Islam, dan gelombangnya bergerak ke pedalaman Jawa Barat.

Baca juga Air Bersih dan KKN Kebencanaan di Kota Padang

Prasetyo dan Winarko memperkirakan kesenian Terbang lahir sekitar tahun 1550 dan bekerja rangkap, sebagai sarana dakwah sekaligus pengikat sosial masyarakat Sumedang. Dari akar itu cabangnya bertambah, satu demi satu, dengan jarak yang bisa dihitung. Rustandi mencatat seni Terbang berkembang menjadi Gembyung pada 1956 dengan tambahan kulanter, goong, kecrek kempul, dan terompet. Dua belas tahun kemudian, menurut Ade Rohana dalam tulisan Intani, waditra dan lagu ditambahkan lagi, dan dari situlah Bangreng lahir. Sofian dan rekan-rekannya mencatat perubahan lanjutan berupa kendang besar dan kecil, rebab, gong, serta saron berlaras salendro.

Namanya sendiri sebuah singkatan. Terbang untuk alat musiknya, ronggeng untuk penyanyi yang sekaligus menari. Pementasannya melibatkan nayaga sebanyak jumlah waditra yang dipakai, mengenakan salontreng, celana pangsi, dan ikat kepala. Ronggeng berjumlah dua sampai tiga orang, berkebaya, bersamping, berselendang, bersanggul. Ada juru baksa yang mengatur jalannya pentas, ada juru kawih atau sinden, ada juru alok yang sewaktu-waktu naik menjadi ronggeng. Tari Ketuk Tilu, yang kelak menjadi cikal bakal Jaipong, ikut meninggalkan jejaknya pada gerak tubuh para penari itu.

Semua itu susunan yang rapi di atas kertas, dan di sinilah letak persoalannya. Asep Dadi, yang diwawancarai pada tanggal yang sama dengan Ajo, menegaskan bahwa bentuk Bangreng yang bisa disaksikan sekarang bukan representasi utuh dari prosesi dan pementasan aslinya. Perubahan sosial memangkasnya, sebagian bahkan nyaris punah. Dan tidak ada dokumen yang bisa dipakai untuk membandingkan: Bangreng tidak memiliki catatan sejarah tertulis yang resmi, baik dari kalangan seniman maupun dari pemerintah Kabupaten Sumedang. Yang tersisa untuk dijadikan pegangan adalah ingatan orang-orang yang masih memainkannya.

Dua Belas Pemain Melawan Satu Orang di Belakang Organ

Hitung-hitungannya tidak berpihak. Satu pementasan Bangreng menuntut dua belas alat musik dan dua belas pemain yang harus dikumpulkan, dijemput, dan dibayar. Organ tunggal, yang mulai populer pada akhir abad ke-20, cukup dimainkan satu orang dan bisa dipasang di halaman rumah mana pun dalam waktu singkat. Anggi mengaitkan pergeseran ini dengan teori Soerjono Soekanto tentang perubahan seni yang lahir dari inovasi baru dan pengaruh budaya lain. Yang kalah lebih dulu bukan mutunya, melainkan ongkos dan kepraktisannya.

Baca juga Tata Bahasa Higaonon Akhirnya Dicatat dari Opol

Yang tersisa kemudian adalah kalender. Bangreng masih naik pada peringatan Maulid Nabi, pada hajatan khitanan, dan pada peringatan hari jadi Kabupaten Sumedang. Di luar kesempatan itu hampir tidak ada panggung yang menampungnya. Anggi mencatat kesenian ini juga belum memiliki dokumentasi yang memadai, sehingga yang menyusut bukan hanya frekuensi pentasnya, melainkan juga jumlah orang yang masih hafal urutan lengkapnya. Dua hal itu saling mempercepat: makin jarang dipentaskan, makin sedikit yang menyaksikan, makin tipis pula yang bisa diwariskan.

Urutan yang dimaksud memang panjang. Abah Maman, yang ditemui Anggi pada 1 Maret 2024, menerangkan bahwa sebelum pagelaran dimulai ada ritual ruatan yang menuntut dua puluh macam sesajen — di antaranya bubur bereum, bubur bodas, surabi, kembang, bakakak hayam, dan kemenyan. Sesudah Ijab Kabul barulah bubuka dibunyikan. Lagu wajibnya juga tidak sedikit: Kembang Gadung, Kembang Tanjung, Kembang Bereum Cianjuran, Paris Wado, Eceng Gondok, Adem Ayem, Gandaria, dan Cisanggean. Delapan judul yang harus dikuasai sebelum seseorang pantas disebut pemain Bangreng.

Organ tunggal tidak menggantikan satu jam hiburan. Ia menggantikan seluruh rangkaian itu, termasuk bagian yang sebenarnya tidak dinikmati penonton sebagai tontonan: permohonan izin kepada leluhur, penyerahan soder oleh juru baksa, aturan bahwa ronggeng menari berpasangan tanpa sentuhan fisik dan tanpa unsur erotis, serta ruang yang sengaja dibuka bagi siapa saja yang ingin ikut menari di tengah halaman. Yang hilang, dengan kata lain, adalah tata caranya, dan tata cara jauh lebih sulit dipulihkan daripada daftar lagu.

Dua Puluh Lima Menit yang Dirakit dari Tiga Desa

Anggi menutup jarak itu dengan kamera. Riset lapangannya dikerjakan di Desa Cilawu, Desa Padasari, dan Desa Situraja, yang tersebar di Kabupaten Garut dan Kabupaten Sumedang, dengan tiga cara pengumpulan data: observasi langsung, wawancara, dan dokumentasi. Dari bahan itu ia menetapkan tema utama filmnya, yaitu evolusi sejarah Bangreng, lalu menyusun storyline sebagai acuan praproduksi beserta daftar pengambilan gambar. Isu yang ia pilih untuk diangkat ada empat: tantangan modernisasi, hubungan Bangreng dengan Terbang dan Gembyung, upaya adaptasi para pelakunya, serta soal komersialisasi dan kepraktisan.

Baca juga Tujuh Cara Laki-laki Menyokong Perempuan di Hidden Figures

Peralatannya ia daftar satu per satu, seperti orang menyiapkan sesajen. Dua bodi kamera, Sony A7S III dan Sony FX3, dengan lensa beragam panjang fokus supaya bisa berpindah dari close-up ke gambar lebar. Lampu LED portabel dan reflektor untuk lokasi berpencahayaan minim. Mikrofon lavalier, mikrofon shotgun, dan perekam portabel agar suara wawancara terpisah bersih dari suara ambient. Tripod, stabilizer, slider, monitor eksternal. Seluruh anggarannya disusun mengikuti standar SKKNI dan berjumlah Rp 39.946.000, mencakup biaya narasumber, sewa alat, pementasan, transportasi, konsumsi, dan cadangan pascaproduksi.

Pascaproduksinya dikerjakan di DaVinci Resolve. Ada pemotongan dan penyusunan montase, penyisipan b-roll, penyuntingan wawancara, koreksi warna sebelum pewarnaan artistik, lalu desain suara. Motion graphics dipakai untuk memperkenalkan segmen sejarah, perkembangan, dan tantangan Bangreng, sekaligus menayangkan pernyataan penting dari para seniman yang ia wawancarai. Ilustrasi musik dibuat bergerak mengikuti irama ketika adegan pertunjukan tampil di layar. Rabiger, yang ia kutip sebagai rujukan, menegaskan bahwa dokumenter mesti bersifat kritis sosial agar penonton benar-benar terdorong menimbang isu budaya yang disodorkan kepadanya.

Di titik ini ada yang perlu dijaga agar tidak dibesarkan. Yang dilaporkan Anggi adalah satu film, dikerjakan satu orang, di tiga desa, dengan sejumlah narasumber yang ia temui pada Februari dan Maret 2024. Laporannya tidak memuat pengukuran apa pun atas yang terjadi pada penonton sesudah film itu diputar, dan ia sendiri mengakui bahwa Bangreng tidak punya catatan sejarah resmi yang bisa dipakai memverifikasi ingatan para pelakunya. Sebuah dokumenter berdurasi dua puluh lima menit adalah arsip, dan arsip bukan jaminan bahwa keseniannya selamat.

Anggi menutup tulisannya dengan saran yang jaraknya jauh dari halaman pementasan: agar program studinya menambah mata kuliah yang membahas peran dan pembagian kerja dalam produksi dokumenter, supaya mahasiswa lebih siap memilih okupasinya. Sarannya menyangkut kurikulum, bukan Sumedang. Di Situraja dan Padasari sendiri urusannya tetap sama seperti sebelum kamera itu datang. Sesajen dua puluh macam disiapkan, kemenyan dibakar, izin diminta kepada leluhur. Baru sesudah itu terbang pertama boleh berbunyi.

Bagikan

Baca Juga

Ngeuyeuk Seureuh Kian Jarang Digelar di Kampung Adat Cikondang
Kasepuhan Ciptagelar Memakai Wisata agar Adatnya Diakui Negara
Sunda Wiwitan Masih Menunggu Pengakuan, RUU Adat Tertahan
Sabilulungan di Kampung Adat Cikondang, Pusaka Dibersihkan
Kurangi Garam, Tekanan Darah Tetap Naik, Ini Sebabnya
Ibu Anak Tidak Stunting di Bandung Justru Lebih Lelah Mengasuh