Cekricek.id — Pada 2004, McFarland masih menghitung lebih dari seratus bahasa di Filipina. Dua dekade kemudian angka itu bergerak naik: Zorc dan koleganya menyebut 179 bahasa hidup dan asli pada 2023, sementara Eberhard dan timnya pada 2024 mendaftar 186 bahasa mapan, 184 di antaranya masih hidup dan dua sudah mati. Yang bertambah sebenarnya bukan bahasanya. Yang bertambah adalah ketelitian orang yang menghitungnya, dan pada daftar terbaru itu tercatat pula 44 bahasa dalam keadaan bermasalah serta 11 yang sedang sekarat.
Higaonon belum masuk ke dua kelompok terakhir itu. Bahasa dengan kode [mba] ini justru disebut Ethnologue sebagai bahasa yang sedang berkembang, dituturkan sekitar 452.000 orang di Mindanao utara dan tengah pada data 2020, tersebar di Agusan del Norte, Agusan del Sur, dan Mindanao Utara, dan berkerabat dekat dengan bahasa Binukid dengan tingkat saling paham 77 sampai 81 persen. Ia punya beberapa nama lain: Higaonon Manobo, Hinigaunon, Misamis Higaonon Manobo. Yang tidak ia punya, sampai belum lama ini, adalah tata bahasanya sendiri dalam bentuk tertulis.
Kekosongan itu yang diisi artikel Documentation and description of sounds and grammar of Higaonon spoken in Opol, Misamis Oriental, karya Danilyn T. Abingosa bersama Sittie Noffaisah B. Pasandalan, Jay Rey G. Alovera, Jed B. Otano, Nancy Q. Echavez, dan Marina G. Quilab dari MSU-Iligan Institute of Technology, Filipina. Artikel itu terbit di jurnal Diksi, Volume 34 Nomor 1, tahun 2026, pada halaman 41 sampai 66, dan isinya persis seperti judulnya: bunyi dan tata bahasa sebuah bahasa yang selama ini dituturkan tanpa pernah dicatat secara menyeluruh.
Daftar Isi
Lima Informan Kunci, Maret sampai Desember 2024

Pekerjaan itu tidak dimulai dari perpustakaan. Data primernya dikumpulkan lewat wawancara langsung dengan penutur, memakai daftar kata dan daftar kalimat yang disusun berdasarkan daftar Swadesh serta bahan penggalian yang dipakai Abingosa dalam penelitiannya pada 2021, dengan buku Aikhenvald terbitan 2015, The Art of Grammar, sebagai pemandu penulisan tata bahasanya. Rekaman ditranskripsikan dengan Alfabet Fonetik Internasional, abjad yang memberi satu lambang untuk satu bunyi sehingga ucapan penutur tidak perlu dipaksakan ke dalam ejaan bahasa lain. Untuk menguji hasilnya, diskusi kelompok terarah dan pertemuan komunitas digelar sepanjang Maret sampai Desember 2024.
Ada lima informan kunci, sebagian besar tetua adat, yang dipilih dengan syarat berlapis: penutur asli Higaonon, lahir dan besar di lokasi penelitian, berusia 50 tahun ke atas, mampu membaca dan menulis, serta memahami bahasa Cebuano atau Tagalog. Jumlah itu kecil dan para penulisnya tidak menutupinya. Kesepakatan dengan komunitas memang hanya membolehkan tetua adat menjadi informan, dan tim itu menyebut sendiri hal tersebut sebagai keterbatasan penelitian mereka. Sebelum satu kata pun direkam, mereka lebih dulu menempuh persetujuan Komisi Nasional Masyarakat Adat serta prosedur persetujuan bebas dan didahulukan tanpa paksaan yang berlaku sejak 2012.
Baca juga Aksesibilitas Borobudur: Enam Fasilitas, Dua Tersedia
Opol dipilih bukan karena kebetulan. Di sana penuturnya banyak, ragam Higaonon setempat belum terdokumentasi, dan komunitasnya sendiri yang meminta agar bahasa mereka dicatat. Kecamatan ini salah satu dari 23 kecamatan di Provinsi Misamis Oriental, berpenduduk 66.327 jiwa menurut sensus 2020, dan lahir dari tiga desa lama lewat Undang-Undang Republik Nomor 524 yang disahkan pada 15 Juni 1950. Fokus penelitian mengerucut ke Wilayah Adat Bersatu Dulangan, enam barangay pedalaman tempat orang Higaonon menjadi 15 persen atau 9.942 dari seluruh penduduk Opol.
Enam Belas Konsonan dan Lima Vokal yang Dicatat Abingosa
Hasilnya adalah sebuah inventaris. Higaonon punya 16 fonem konsonan — tujuh hambat, dua frikatif, tiga nasal, dua likuida, dan dua semivokal — serta lima fonem vokal: satu vokal depan, dua vokal tengah, dan dua vokal belakang. Angka lima itu menempatkannya sejajar dengan banyak bahasa Filipina lain. Sebagian bunyi punya batas pemakaian yang rapi: konsonan hambat boleh berdiri di awal maupun akhir suku kata, tetapi bunyi h hanya muncul di awal, dan bunyi getar r tidak pernah menutup suku kata. Vokal i pun punya bunyi kembaran, yaitu e, yang hanya boleh berdiri di suku terbuka pada akhir kata, seperti pada bahe yang berarti perempuan dan bae yang berarti pangkat.
Yang lebih menarik bagi pembelajar adalah tekanan. Dalam Higaonon, letak tekanan menentukan arti, bukan sekadar irama. Kata sala dengan tekanan pada suku pertama berarti hukuman; kata yang sama dengan tekanan pada suku kedua berarti dosa. Pasangan seperti itu tidak banyak, tetapi cukup untuk membuat kesalahan pengucapan berubah menjadi kesalahan makna. Tekanan dalam bahasa ini jatuh pada suku terakhir atau suku kedua dari belakang, dan daftar kata yang dikumpulkan tim itu memuat perbendaharaan sehari-hari: kaju untuk pohon, manok untuk ayam, danaw untuk danau, wahig untuk air, bakbak untuk katak, ikam untuk tikar, gaup untuk kampung, dan lalima untuk angka lima.
Beda Vokal dalam Laporan Komisyon sa Wikang Filipino 2023
Sebelum tim Iligan datang ke Opol, sudah ada satu pekerjaan besar yang menyentuh Higaonon. Komisyon sa Wikang Filipino, lembaga bahasa utama negeri itu, menerbitkan kajian ortografi Higaonon pada 2023 yang mencakup Bukidnon, Agusan del Norte, Agusan del Sur, Cagayan de Oro, dan beberapa kecamatan di Misamis Oriental seperti Claveria, Magsaysay, dan El Salvador. Hasilnya menunjukkan sesuatu yang tidak sepele: fonem vokal di Bukidnon dan di Claveria berbeda dari fonem vokal di daerah-daerah lain yang mereka periksa.
Baca juga Beban yang Dititipkan Lagu Anak Lanang
Di situlah kedua pekerjaan itu bertemu dan sedikit berselisih arah. Laporan 2023 berhenti pada ejaan dan menemukan keragaman vokal antardaerah; artikel 2026 masuk lebih dalam ke satu titik, Opol, dan menemukan sistem dengan lima vokal, 16 konsonan, serta tekanan yang membedakan makna. Hasil itu, tulis Abingosa dan kelima rekannya, menunjukkan bahwa ragam Opol bisa berbagi ciri dengan komunitas Higaonon lain dan bisa pula berbeda dari mereka, terutama karena perbedaan vokal sudah diketahui sebagai wilayah variasi. Tidak ada yang mengklaim mewakili seluruh Higaonon. Satu kecamatan tetap satu kecamatan.
Kalimat yang Dimulai dari Predikat, Sesudah Reid dan Liao 2004
Bagian tata bahasanya memperlihatkan bahasa yang tertib. Kata-kata Higaonon terbagi ke kelas terbuka yang bisa terus bertambah — nomina, verba, adjektiva, adverbia — dan kelas tertutup yang anggotanya terbatas: pronomina, konjungsi, preposisi, dan satu penghubung tunggal, morfem ha, yang tugasnya mengikat penjelas kepada kata yang dijelaskan. Pronominanya dibedakan atas tiga kasus, yaitu nominatif untuk argumen yang menjadi fokus, genitif untuk pemilik atau pelaku pada konstruksi non-fokus, dan oblik untuk keterangan tempat, alat, atau penerima manfaat. Untuk penanda jamak, ada partikel manga yang selalu duduk sesudah penanda nomina. Verbanya bisa berdiri telanjang sebagai akar, seperti kan yang berarti makan dan inem yang berarti minum, bisa pula berimbuhan untuk menunjukkan aspek sekaligus fokus, seperti mig-diya untuk pergi dan mig-languy untuk mandi.
Baca juga Dua Nama Sasana dalam Novel Pasung Jiwa
Susunan kalimatnya berawal dari predikat, sebagaimana lazim pada bahasa-bahasa Filipina. Kalimat Uminuli si Ana ta balay gabia berarti Ana pulang ke rumah kemarin: verbanya di depan, pelakunya menyusul, keterangannya belakangan, dan urutan argumen sesudah predikat itu bebas. Kalimat pun tidak selalu butuh verba. Su maama su palagnao, secara harfiah lelaki itu guru itu, adalah kalimat penuh tanpa kata kerja sama sekali. Kemampuan menyusun kalimat tanpa verba itu, mengikuti catatan Javier dan rekan-rekannya pada 2018, memang salah satu ciri bahasa-bahasa Filipina, dan kepala predikatnya bisa berupa frasa adjektiva, frasa preposisi, atau frasa nomina. Istilah-istilah seperti fokus pelaku dan penanda argumen dipakai tim itu dalam pengertian deskriptif, mengikuti kebiasaan telaah bahasa Austronesia yang antara lain dirintis Reid dan Liao pada 2004, bukan sebagai pembelaan atas satu teori.
Peringatan UNESCO 2003 dan Mata Rantai yang Belum Tersambung
Alasan mengapa pencatatan semacam ini dikerjakan sekarang, dan bukan nanti, sudah dirumuskan jauh sebelumnya. Kelompok ahli UNESCO tentang bahasa terancam punah menyatakan pada 2003 bahwa hilangnya sebuah bahasa berarti hilangnya pengetahuan budaya, sejarah, dan ekologi yang tidak bisa dipulihkan, sebab tiap bahasa adalah ungkapan pengalaman manusia yang khas. Dokumen itu juga menegaskan hal yang lebih dingin: tanpa dokumentasi yang memadai, bahasa yang telah mati tidak akan pernah bisa dihidupkan kembali.
Higaonon belum sampai ke sana, tetapi tekanannya nyata. Jumlah pendatang di wilayah mereka bertambah — orang Higaonon menyebut para pendatang itu “Dumagat” — sementara bahasa Inggris, Tagalog, dan Cebuano memegang gengsi di sekitarnya. Filipina sendiri termasuk kawasan yang oleh Living Tongues Institute for Endangered Languages ditandai sebagai titik panas kebahasaan, tempat kekayaan bahasa hilang lebih cepat daripada kemampuan orang mencatatnya. Karena itu, tulis tim Iligan, bahasa ini perlu diawetkan dalam bentuk tertulis sebelum ia menghilang tanpa disadari penuturnya sendiri.
Apa yang bisa dipakai dari sini juga sudah dipikirkan. Deskripsi bunyi dan tata bahasa itu disiapkan sebagai bahan bagi pendidikan multibahasa berbasis bahasa ibu di sekolah dasar di kampung-kampung Higaonon, dan sebagai bahan bagi siapa pun yang ingin belajar. Tanpa tata bahasa tertulis, guru di kampung itu harus mengajar bahasa ibu muridnya dengan mengandalkan ingatan, dan setiap ingatan punya batas usia. Ada pula alasan yang lebih sunyi: budaya Higaonon tidak banyak dikenal, dan tim penulisnya menempatkan pekerjaan ini sebagai langkah untuk mengurangi prasangka terhadap masyarakat adat.
Yang tersisa adalah pekerjaan yang belum ada pemiliknya. Tim itu menutup artikelnya dengan rekomendasi supaya penelitian serupa dilakukan di daerah penutur Higaonon di luar Opol, untuk menguji apakah perbedaan vokal yang dilaporkan lembaga bahasa pada 2023 juga merembes ke tata kalimatnya, dan apakah ragam-ragam itu layak disebut dialek atau sekadar variasi kecil dari satu bahasa yang sama. Satu kecamatan sudah punya catatan. Bukidnon, Agusan, dan sisa Misamis Oriental belum, dan bahasa tidak menunggu para peneliti selesai berdebat.














