Daftar Isi
Cekricek.id — Ada sebuah pipa di bawah bantal. Guru Isa menemukannya di kamarnya sendiri, tahun 1947, dan ia tidak mengerti mengapa benda itu ada di situ. Pipa itu milik Hazil.
Sejak ia menemukan pipa itu, tulis Mochtar Lubis di halaman 132 novelnya, sesuatu yang segar yang selalu ada pada diri Guru Isa — betapapun gelap ketakutannya — hilang. Pipa itu tidak meledak. Ia hanya menambah teror malam-malamnya. Benda sekecil itu memindahkan seluruh isi rumah tangga ke tempat lain tanpa ada yang dipecahkan.
Rumah itu, empat puluh lima tahun kemudian, muncul lagi dalam bentuk yang sama sekali berbeda: dua soneta karya Wing Kardjo, masing-masing empat belas baris. Perpindahan itulah yang dibedah dalam artikel Reinterpreting Flaubert and Lubis in Kardjo’s sonnet “L’Éducation Sentimentale”: A transcultural intertextuality study karya Sri Nurnaningrum, Nazla Maharani Umaya, dan Harjito dari Universitas PGRI Semarang, terbit di jurnal LITERA, Volume 24 Nomor 2, tahun 2025, halaman 125 sampai 136.
Gang Jaksa, September 1946

Jalan Tak Ada Ujung dibuka dengan bunyi. Jakarta, bulan September 1946, dan tembakan pertama di Gang Jaksa memecah kesunyian pagi. Guru Isa sedang berjalan pagi ketika bunyi itu datang. Yang dicatat Lubis bukan pelurunya, melainkan reaksi yang lambat: rasa takut yang ditekan, yang baru keluar kemudian dalam bentuk-bentuk lain. Isa seorang guru sekolah. Novel yang mula-mula diterbitkan Balai Pustaka pada 1952 itu menempatkannya di tengah perang kemerdekaan 1945 sampai 1949, ketika tentara Belanda kembali sesudah Jepang menyerah. Ia menolong gerilya diam-diam. Ia tidak ikut bertempur. Dalam bacaan tim Semarang, keberaniannya tidak pernah utuh dan kegagalannya tidak pernah membuatnya kehilangan sisi manusia.
Baca juga Singkatan Gaul dan Satuan Baku di Komentar TikTok
Di rumah, ketakutan itu punya wujud lain. Lubis menulis bahwa Isa tidak kuasa meladeni istrinya dan sudah lama merasa tenaganya sebagai laki-laki berkurang. Tim peneliti membaca hal itu sebagai lambang, bukan sebagai keluhan medis: rasa takut yang membeku menjadi kelumpuhan. Fatimah, istrinya, menunggu sesuatu yang tidak datang. Hazil, gerilyawan muda yang penuh keyakinan, ada di dekat rumah itu setiap hari.
Halaman 118 sampai 121
Empat halaman dari novel itulah yang diambil Kardjo. Ia menyebut halaman 118, 119, dan 121 dalam soneta yang dimuat di kumpulan Fragmen Malam: Setumpuk Soneta, terbitan Pustaka Jaya tahun 1997, di halaman 101 dan 102. Peminjaman itu terbuka. Soneta itu ia persembahkan kepada Lubis, dan persembahan itulah yang membuat tim peneliti menyebutnya penghormatan, bukan pencurian, meski mereka mengakui jaraknya dengan plagiarisme tipis.
Kalimat yang dipinjam dari halaman 118 berbunyi begini di dalam novel: “Hari-hari dalam bulan Mei, jika Babu Inah tidak ada di rumah, hari-hari berbahagia bagi Hazil dan Fatimah.” Dua kalimat dalam prosa. Empat baris dalam soneta. Kardjo memotong dan menyusun ulang, memakai enjambemen, dan menaruh nama Fatimah sendirian di baris keempat. Perubahannya kecil-kecil dan hampir tak terlihat kalau kedua teks tidak ditumpuk. Bait pertama soneta ditutup dengan penggalan “Hazil, tolong lagi, api tak”, dan lanjutannya dilempar ke bait berikutnya: “hendak hidup, dan Inah lagi pergi”. Susunan kata dalam novel adalah Inah pergi lagi. Kardjo membaliknya menjadi Inah lagi pergi. Satu kata bertukar tempat, dan yang berubah adalah waktunya: dari kebiasaan yang berulang menjadi keadaan yang sedang berlangsung.
Ada pula kata yang dibuang. Kata tempat, yang ada di kalimat asli Lubis, dihilangkan supaya baris-baris bait terlihat panjang dan mengalir. Tim peneliti menyebutnya pilihan visual, urusan ruang di atas kertas. Yang tidak dibuang adalah kalimat yang paling berat di adegan itu, ucapan tentang dosa yang diulang tiga kali dalam satu baris, yang oleh Kardjo dibiarkan berdiri persis seperti dalam novel.
Soneta kedua bergerak lebih pelan. Ia dibuka dengan “Lalu beberapa lama” dan menaruh kata kemudian di baris sesudahnya, sedikit berbeda dari susunan Lubis. Satu keterangan hilang di situ: dalam novel, Fatimah disebut merasa agak senang, dan penghilangan itu menurunkan suhu adegannya. Bagian berikutnya justru dipindahkan hampir utuh, termasuk keterangan bahwa rasa cemas dan sesal yang ia kira akan datang ternyata tidak muncul. Lalu bulan berganti. Bait ketiga dan keempat soneta kedua diambil dari halaman 121, yang di novel dibuka dengan kalimat pendek: “Tapi sekarang telah Juli.” Hazil berbaring, melihat Fatimah berpakaian kembali, dan tahu bahwa hari-hari seperti itu telah hampir habis. Tidak ada percakapan di bagian ini. Dalam soneta, diamnya itulah yang mengumumkan perpisahan.
Dek Ville-de-Montereau
Judul soneta itu bukan milik Kardjo. Ia meminjamnya dari novel Gustave Flaubert yang terbit pada 1869, dan pinjaman itu menarik seluruh soneta ke sebuah kapal yang bersiap berangkat dari dermaga di Paris. Bagian pertama novel Flaubert dibuka pada 15 September 1840, sekitar pukul enam pagi, ketika kapal Ville-de-Montereau bersiap berangkat dan mengepulkan asap tebal di depan Quai Saint-Bernard.
Baca juga Menilai Sekolah Bukan dari Kerapian Dokumen
Di dek itu Frédéric Moreau melihat seorang perempuan duduk sendirian di tengah bangku. Nyonya Arnoux. Pandangan sekilas itu membayanginya sampai akhir buku. Hampir tiga puluh tahun kemudian, menjelang akhir Maret 1867, keduanya bertemu untuk terakhir kali, dan dialognya nyaris tanpa suara: mereka toh sudah saling mencintai, tanpa pernah saling memiliki, dan barangkali itu memang lebih baik. Flaubert menutup bukunya dengan dua lelaki tua di depan perapian. Frédéric dan sahabat masa kecilnya, Deslauriers, menghitung ulang hidup mereka yang gagal, lalu menyimpulkan bahwa masa muda yang tak jadi apa-apa itulah bagian terbaiknya. Tim peneliti menempatkan novel ini dalam tradisi roman de formation, cerita pembentukan diri yang menurut kajian Parfitt pada 2010 justru menolak akhir yang matang dan bijak.
Novel itu tidak langsung diterima ketika terbit. Menurut kajian Vergnol yang dirujuk tim Semarang, pembaca 1869 kebingungan menghadapi susunan ceritanya, dan perdebatan soal maknanya berlangsung lama. Flaubert memang sedang melawan arus. Roman de moeurs pada zamannya mengajarkan disiplin dan kepatuhan pada norma keluarga, sementara bukunya membiarkan tokoh utamanya gagal tanpa pelajaran moral di ujungnya.
Dua lelaki, dua zaman, satu pola. Frédéric hancur pelan-pelan oleh cinta yang tidak sampai di Paris pasca-revolusi 1848; Isa hancur pelan-pelan oleh takut dan curiga di Jakarta yang sedang berperang. Keduanya berdiri di segitiga: Frédéric dengan Nyonya Arnoux dan suaminya, Isa dengan Fatimah dan Hazil. Keduanya ditulis dengan prosa realis. Yang berbeda adalah tekanan yang menekannya, yang satu norma kelas menengah, yang lain perang.
Fragmen Malam, Halaman 101
Kerangka yang dipakai tim Semarang adalah intertekstualitas Julia Kristeva, yang menyebut teks sebagai mozaik kutipan. Rabau, dalam edisi yang mereka rujuk pada 2020, membagi hubungan itu ke dua sumbu: sumbu mendatar yang menghubungkan penulis dan pembaca lewat kode budaya bersama, dan sumbu tegak yang menautkan sebuah teks ke teks-teks sebelumnya. Soneta Kardjo, dalam bacaan mereka, bergerak di kedua sumbu sekaligus.
Baca juga Bahasa Gaul Pindah dari Kamus Cetak ke TikTok
Kesimpulan tim itu tegas pada satu hal: yang dilakukan Kardjo adalah pengalihan, bukan penyalinan. Ia mempertahankan jalan cerita Lubis hampir apa adanya, tulis tim itu, karena yang ia ubah memang bukan ceritanya, melainkan cara kita memandangnya. Bentuk soneta memberi jeda. Jeda memberi tempat untuk ragu. Peristiwa yang di dalam prosa berlangsung cepat menjadi sesuatu yang harus dibaca perlahan.
Judulnya sendiri, kata tim itu, adalah petunjuk arah. Dengan memakai judul Flaubert untuk adegan di sebuah rumah di Jakarta, Kardjo meminta pembacanya melihat Hazil bukan sekadar sebagai gerilyawan yang jatuh cinta kepada istri orang, melainkan sebagai anak muda yang sedang menempuh pendidikan perasaan versi lokal: penuh keyakinan, terseret hasrat, lalu dihantam keadaan yang jauh lebih besar daripada dirinya.
Ada hal yang tidak bisa dipastikan artikel ini, dan penulisnya menyebutkannya. Mereka menulis bahwa Kardjo memindahkan tema segitiga cinta, rasa bersalah, dan konflik politik ke dalam soneta secara sadar atau tidak — sebuah pengakuan bahwa niat penyair tidak terjangkau oleh analisis teks. Batas lain datang dari kelangkaan pembanding: karya Kardjo nyaris tidak diteliti orang dibandingkan penyair Angkatan 66 lain seperti Taufiq Ismail dan Sapardi Djoko Damono, dan kajian Suyatno pada 2016 yang menyentuhnya secara khusus pun bercakupan sempit.
Karena itu yang berdiri di akhir artikel ini hanya satu soneta dua bagian, dibaca dari dekat oleh tiga orang yang menjadi instrumen utamanya sendiri. Bukan peta sastra Indonesia, bukan hukum tentang bagaimana penyair meminjam. Satu contoh, dibongkar sampai ke pergeseran satu kata.
Dan di dalam soneta itu tidak ada pipa. Kardjo mengambil bulan yang lain dan dua orang yang lain. Benda yang mengubah malam-malam Guru Isa tetap tinggal di halaman 124 novel Lubis, di bawah bantal, tidak dipindahkan siapa-siapa.















