Daftar Isi
Cekricek.id — Pada 7 Juli 2021, Debby Sahertian mengunggah satu video pendek ke TikTok. Isinya sebuah kalimat yang tidak diterjemahkan. Ia meminta penonton mengalihkannya sendiri ke bahasa Indonesia. Tidak ada glosarium di layar. Empat setengah tahun kemudian video itu masih terpasang di puncak profilnya dan sudah ditonton sekitar 1,8 juta kali.
Video tunggal itu menjadi satu-satunya bahan analisis dalam Making Queer Knowledge Visible: Debby Sahertian and the Digital Archiving of Indonesian Queer Technolect on TikTok. Penulisnya Gilang Januarsyah dan Cicu Finalia, pengajar di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran. Artikel itu terbit di jurnal Metahumaniora Volume 16 Nomor 1, April 2026, halaman 20 sampai 29.
Keduanya memperlakukan video itu bukan sebagai hiburan, melainkan sebagai arsip. Pertanyaan yang mereka ajukan tunggal dan sederhana. Apa yang terjadi pada pengetahuan bahasa sebuah komunitas ketika ia berpindah dari halaman cetak ke video vertikal. Jawaban mereka, seperti akan terlihat, punya dua sisi.
Akhir 1990-an: Kosakata yang Berpindah lewat Salon

Riwayatnya jauh mendahului TikTok. Ragam bahasa yang dibahas paper ini beredar secara lisan di kalangan waria dan komunitas queer sejak akhir 1990-an. Sahertian sendiri, sebagaimana dicatat paper itu, mengenang bahwa kosakata tersebut aktif dipakai di Medan pada masa itu, lalu menyebar ke Jakarta melalui jaringan salon. Persebarannya berpindah dari mulut ke mulut, di ruang kerja yang akrab.
Peneliti bahasa selama ini menyebutnya bahasa gay atau bahasa gaul. Paper memilih istilah teknolek queer. Alasannya, ragam ini bukan dialek daerah dan bukan varietas baku. Ia penanda keanggotaan. Boellstorff, yang dirujuk kedua peneliti, menggambarkannya sebagai repertoar lentur yang bentuknya bergeser menurut lawan bicara dan situasi.
Baca juga Metafora Bumi Manusia yang Pudar dalam Bahasa Jerman
Ketimpangan semacam itu, tulis paper, dibentuk oleh letak geografis, budaya, dan akses yang tidak merata ke lembaga arsip. Praktik bahasa yang tidak punya pintu masuk ke lembaga beredar secara informal dan berisiko lenyap bersama penuturnya. Itulah sebabnya kedua peneliti menolak menyebut soal ini sekadar urusan gaya bicara. Kelenturan itu punya sebab praktis. Dengan kosakata yang hanya dipahami sesama, penuturnya bisa terlihat tanpa sepenuhnya terbaca. Paper menyebut kondisi tersebut visibilitas selektif. Selama bertahun-tahun ragam ini nyaris tidak masuk ke kajian linguistik formal maupun ke arsip resmi. Dokumentasinya, tulis kedua peneliti, bergantung pada inisiatif perorangan, bukan pada lembaga.
Tahun 2000: Ketika Kamus Memotongnya Jadi Lema
Inisiatif perorangan itu berwujud pada 2000. Debby Sahertian dan James Danandjaja menerbitkan Kamus Bahasa Gaul lewat Pustaka Sinar Harapan. Untuk pertama kalinya ragam lisan tersebut berdiri sebagai rujukan tertulis, lengkap dengan lema dan padanannya. Paper menempatkannya sebagai upaya dokumentasi paling awal yang tercatat. Kedua peneliti menghargai langkah itu, tetapi mencatat harganya. Format kamus cetak memaksa bahasa dipecah menjadi butir lema yang lepas dari konteks pemakaiannya. Yang tidak ikut terbawa adalah bagian yang justru menghidupkannya: cara kata itu dilafalkan, panjang pendek vokalnya, dan naik turun nadanya. Dimensi tubuh dan interaksi tidak muat di kolom kamus.
Dua dekade berikutnya tidak banyak mengubah keadaan. Lalu pandemi datang. Sejak 2020 ruang temu fisik menyempit dan platform digital mengambil alih sebagian besar interaksi sehari-hari. Pada tahun yang sama Sahertian mulai aktif di TikTok. Hingga Februari 2026 akunnya diikuti sekitar 297,3 ribu orang.
Juli 2021: Satu Kalimat yang Sengaja Tak Diterjemahkan
Video 7 Juli 2021 memuat satu kalimat panjang dalam teknolek queer. Di layar tertulis, antara lain, “Shanghai-shanghai begindang, akika mawar makasar baksos yang pedesaan.” Tidak ada terjemahan resmi yang disertakan. Penonton yang menjawab di kolom komentar membacanya sebagai kalimat biasa: siang-siang begini, aku mau makan bakso yang pedas.
Bentuk sajiannya sengaja dibiarkan menggantung. Sahertian menyapa penonton dengan riang, membacakan kalimat itu utuh, lalu melempar tugas menerjemahkan kepada mereka. Penjelasan tentang bahasa muncul belakangan, dari penonton, bukan dari pengunggah. Susunan seperti ini menempatkan ragam tersebut bukan sebagai sandi tertutup, melainkan pengetahuan bersama yang baru menyala kalau ada yang ikut mengurai. Kedua peneliti membongkar kalimat itu kata demi kata. Siang menjadi Shanghai dan makan menjadi makasar, dua nama tempat yang dipungut semata karena bunyinya berdekatan. Bakso menjadi baksos, singkatan yang biasanya berarti bakti sosial lalu dialihkan artinya. Pesan menjadi pesantren, pakai menjadi pakarena, nama tari dan lagu dari Sulawesi Selatan.
Baca juga Tujuh Anak Tertinggal Ketukan di Kelas Tari Pekanbaru
Tidak semuanya tunduk pada pola. Lenggang, yang dipakai untuk lagi, tidak punya kemiripan bunyi yang jelas dengan kata dasarnya; ia beredar karena sudah dikenal bersama. Akika untuk aku berdiri di posisi lain lagi. Bentuk itu warisan lama tuturan waria, bukan pungutan dari luar. Paper memakainya sebagai bukti bahwa arsip digital tidak menghapus lapisan yang lebih tua, melainkan menghidupkannya kembali.
Lapisan berikutnya ada pada bunyi, bukan pada kata. Indonesia dilafalkan Indoneysia, dengan sisipan luncuran dan vokal yang diperpanjang. Go-Jek menjadi gojija, satu suku lebih panjang dan bergerak naik turun. Sebaliknya sebagian besar kata lain dilafalkan biasa saja. Penebalan bunyi itu, catat paper, dipakai memilih, bukan disebar rata ke seluruh kalimat. Ada juga jeda yang menata kalimat tanpa mengubah kata mana pun. Rekaman itu memisahkan Shanghai shanghai begindang, akika, mawar makasar, baksos, dan yang pedesaan menjadi kelompok bunyi tersendiri. Pada baksos tekanan jatuh di suku kedua. Pada yuk vokalnya dipanjangkan. Rincian sekecil ini yang tidak pernah bisa dicatat kamus cetak.
Februari 2026: Angka yang Belum Berhenti Bertambah
Pengamatan dihentikan pada Februari 2026, saat artikel itu ditulis. Pada titik tersebut video 2021 sudah mengumpulkan sekitar 166,6 ribu suka, 2.841 komentar, 5.160 simpanan, dan 2.041 kali dibagikan. Komentar terakhir bertanggal 20 Januari 2026. Empat setengah tahun sesudah diunggah, video itu masih didatangi orang baru.
Video itu dipilih dengan tiga alasan yang disebut terbuka. Ia diunggah pada masa pandemi, ketika platform digital menjadi ruang temu utama. Ia dipasang menetap di puncak profil pengunggahnya. Dan jumlah penontonnya jauh melampaui unggahan lain di akun yang sama. Ketiganya dipakai untuk menegaskan video tersebut bukan arsip mati. Angka simpanan dan pembagian yang dianggap paling menentukan. Video yang hanya ditonton berhenti sebagai tontonan. Video yang disimpan dan dikirim ulang berpindah tangan, dan setiap perpindahan menambah kemungkinan ia diputar lagi. Fitur TikTok yang mengizinkan audio dilepas dari videonya lalu dipakai orang lain memperpanjang umur rekaman itu di luar kendali pengunggahnya.
Baca juga Menilai Sekolah Bukan dari Kerapian Dokumen
Kolom komentar mengambil peran yang tidak disiapkan siapa pun. Karena video sengaja tidak memuat terjemahan, penontonlah yang mengisi kekosongan itu dengan glosarium sukarela, kata demi kata. Paper membaca pekerjaan itu sebagai kerja arsip, bukan sekadar interaksi pinggiran. Penjelasan yang muncul di sana sekaligus menjadi bahan ajar bagi pembaca berikutnya. “Pengetahuan bahasa tidak semata dialihkan dari Sahertian kepada penontonnya, tetapi diproduksi bersama melalui keterlibatan yang dimediasi platform,” tulis Gilang Januarsyah dan Cicu Finalia. Kalimat itu memindahkan jabatan arsiparis dari satu orang ke kerumunan yang mengomentari.
April 2026: Catatan yang Menutup Paper
Paper tidak berhenti pada kabar baik. Bagian akhirnya menimbang sisi lain dari keterbukaan yang sama. Visibilitas yang diberikan TikTok, tulis kedua peneliti, tetap ambivalen. Peredaran yang luas membuat praktik bahasa ini menjangkau khalayak di luar komunitas asalnya, sekaligus membukanya pada salah tafsir, pengambilalihan, dan pengawasan.
Konteksnya disebut terang-terangan. Komunitas queer di Indonesia masih menghadapi diskriminasi dan bentuk pengawasan digital yang meluas. Paper merujuk kajian terdahulu tentang hal itu dan menegaskan bahwa risiko tersebut tidak bergantung pada siapa yang mendokumentasikan. Begitu bentuk bahasa itu tampil di platform arus utama, ia terbuka bagi siapa pun yang hendak menafsirkan ulang, menirukan, atau mengaturnya.
Yang bertahan dari seluruh perpindahan itu justru bagian yang paling sulit dicetak. Kamus 2000 menyimpan daftar kata. Rekaman 2021 menyimpan cara kata itu dibunyikan, termasuk jeda dan tekanan yang dulu hanya hidup pada saat diucapkan. Paper menyebut inilah sumbangan utamanya bagi kajian bahasa: perincian bunyi terbukti sama pentingnya dengan pilihan kata dalam menandai sebuah ragam.
Batas kajian ini diakui sendiri oleh penulisnya. Analisis bersandar pada satu video. Kedua peneliti menyatakan kajian mereka tidak bertujuan menghasilkan generalisasi statistik, dan temuannya tidak mewakili keseluruhan praktik digital komunitas queer di Indonesia. Yang ditawarkan kedalaman satu kasus, bukan peta. Satu unggahan yang ramai juga bukan ukuran nasib ragam bahasa itu di luar TikTok.
Urutannya kini lengkap. Salon di Medan pada akhir 1990-an, kamus cetak pada 2000, satu video pada 7 Juli 2021, komentar terakhir pada 20 Januari 2026, lalu papernya sendiri terbit pada April 2026. Arsip itu berpindah wadah tiga kali dalam tiga dekade. Kalimat di layar itu masih menunggu dijawab.















