Daftar Isi
Cekricek.id — Beberapa tahun belakangan dialog novel menjadi bahan uji favorit peneliti pragmatik di kampus-kampus Indonesia. Mereka membaca percakapan tokoh bukan untuk mengikuti alurnya, melainkan untuk menghitung apa yang dikerjakan sebuah kalimat pada detik ia diucapkan. Hasilnya tidak pernah seragam. Ada novel yang penuh ucapan terima kasih, ada yang penuh sindiran, dan tidak ada yang menjelaskan mengapa keduanya berbeda. Satu kajian yang terbit tahun ini menambahkan datanya sendiri ke dalam perselisihan itu, dan data pertamanya cuma satu kata pendek yang dicatat dengan kode TLE17:13: “Thanks”.
Kata itu diucapkan dua tokoh sekaligus, Jani dan Citra, ketika seorang tokoh lain mempersilakan mereka masuk ke rumahnya. Mittha Arben dan Haris Syukri dari Universitas Negeri Padang mencatatnya sebagai datum pembuka dalam Tindak Tutur Ekspresif dalam Novel The Lady Escort Karya Kinanti WP, artikel yang terbit di jurnal Persona Vol. 5 No. 1 tahun 2026, halaman 188 sampai 198. Dari kata sependek itu mereka menarik 123 tuturan lain di sepanjang novel, lalu memilahnya menjadi sembilan jenis perasaan dan lima cara menyampaikannya.
Yang Dihitung Laila dan Septia pada 2019

Kebiasaan membedah dialog novel dengan alat pragmatik sudah berjalan setidaknya sejak akhir dekade lalu. Pada 2019 Laila dan Septia menyisir novel-novel Tere Liye dan menemukan ucapan terima kasih serta permintaan maaf sebagai bentuk yang paling sering muncul. Setahun kemudian Sandra dan koleganya membaca novel Hujan karya Tere Liye dan mencatat permintaan maaf serta pujian di posisi teratas. Pada 2023 Agustine dan Amir menelaah novel Boy Candra berjudul Rindu yang Baik untuk Kisah yang Pelik, dan hasilnya searah lagi: memuji dan berterima kasih. Tiga kajian, tiga buku berbeda, satu kecenderungan yang sama, dan kesan yang perlahan mengeras bahwa novel Indonesia mutakhir adalah tempat orang saling berterima kasih.
Rangkaian itu sempat terlihat seperti pola. Lalu dua kajian lain menariknya ke arah berlawanan. Rahmadhani dan Utomo pada 2020 memeriksa Hujan Bulan Juni karya Sapardi Djoko Damono dan menemukan ejekan serta kritik sebagai tindak tutur ekspresif yang menonjol. Putra bersama dua rekannya pada 2023 membaca Hubbu karya Mashuri dan sampai pada simpulan yang sama arah: kritik dan sindiran yang mendominasi. Lima kajian, dua hasil yang tidak bertemu di tengah, dan tak satu pun di antaranya menerangkan mengapa novel yang satu ramah sementara yang lain tajam.
Baca juga Induak dan Anak, Dua Suara di Balik Salawat Dulang
Ke dalam celah itulah Mittha Arben dan Haris Syukri menyisipkan pekerjaannya. Klaim kebaruannya sederhana dan jujur, tanpa dibesar-besarkan: The Lady Escort belum pernah dipakai sebagai objek kajian tindak tutur ekspresif, dan seluruh jenis tuturan ekspresif di dalamnya diperiksa, bukan sebagian. Novel itu terbit di Yogyakarta pada 2018 lewat penerbit Loveable, dan sampai kajian ini dikerjakan belum pernah masuk ke daftar objek penelitian pragmatik mana pun. Datanya dikumpulkan dengan teknik simak dan catat, lalu diperiksa ulang lewat triangulasi terhadap teori tindak tutur John Searle dan teori kesantunan Penelope Brown serta Stephen Levinson.
Sembilan Rasa dan Warisan Searle 1969
Searle merumuskan tindak tutur ekspresif pada 1969 sebagai ujaran yang menunjukkan perasaan penutur terhadap suatu keadaan: mengeluh, berterima kasih, memuji, mengejek. Rumusan itu yang dipakai memilah 124 tuturan dalam novel tersebut ke dalam sembilan kategori. Ucapan terima kasih menempati urutan pertama dengan 38 data atau 30,65 persen. Permintaan maaf 27 data, pujian 26 data. Sisanya tersebar tipis: kemarahan dan sindiran masing-masing 8 data, kritik 6, ucapan selamat 5, rasa senang dan keluhan masing-masing 3 data. Tiga bentuk teratas sendirian menguasai lebih dari tujuh puluh persen seluruh temuan, sementara enam bentuk sisanya berbagi kurang dari sepertiga sisa data yang ada.
Bentuknya sering sangat pendek. Dalam dialog novel itu, pada data bernomor TLE18:20, tokoh Jani meminta maaf kepada Tama karena terlambat tiba di ruang makan: “Maaf ya nunggu lama”. Pada data TLE23:25 Tama menilai penampilan Jani hanya dengan dua kata, “Kamu cantik”, sesudah melihat riasan dan pakaian yang dikenakannya. Tuturan sependek itu tetap dihitung karena, dalam kerangka Searle, yang menentukan bukan panjang kalimat melainkan apa yang dikerjakannya: menyatakan penyesalan, menyatakan penghargaan, menempatkan penutur pada posisi tertentu terhadap lawan bicaranya. Dua kata pun cukup asal fungsinya jelas terbaca dari situasi yang mengelilinginya.
Baca juga Menilai Sekolah Bukan dari Kerapian Dokumen
Yang lebih tajam jumlahnya sedikit, tetapi ada. Pada data TLE44:68, di tengah perdebatan, tokoh Jani melontarkan kritik yang dicatat utuh: “Percuma berdebat sama kamu. Kalau udah maunya nggak bisa dilawan.” Ada pula kemarahan yang justru menandai kedekatan. Pada data TLE88:164 tokoh Tama menolak kerangka kontrak yang selama itu mengikat hubungan keduanya, dan kalimatnya digolongkan sebagai ungkapan marah, bukan ancaman. Konteks itu yang membuat pengelompokannya masuk akal: marah di sini adalah cara menegaskan bahwa hubungan mereka bukan lagi urusan perjanjian, dan penanda emosinya justru muncul dari isi kalimat, bukan dari nada yang tidak bisa didengar pembaca.
Brown dan Levinson di Balik 65 Tuturan
Lapis kedua analisisnya memakai kerangka Brown dan Levinson yang terbit sebagai buku pada 1987. Kerangka itu membagi cara bertutur menjadi lima: terus terang tanpa basa-basi, terus terang dengan kesantunan positif, terus terang dengan kesantunan negatif, bertutur samar-samar, dan bertutur di dalam hati. Dari 124 tuturan tadi, 65 di antaranya atau 52,42 persen memakai kesantunan positif. Kesantunan negatif menyusul dengan 35 data atau 28,23 persen. Terus terang tanpa basa-basi 22 data atau 17,74 persen. Dua strategi terakhir, samar-samar dan dalam hati, masing-masing hanya satu data atau 0,81 persen, angka yang nyaris hilang di dalam tabel.
Kesantunan positif bekerja dengan mendekat. Pada data TLE4:2, sesudah melihat hasil jepretan kamera, tokoh Citra memuji temannya dengan kalimat sehari-hari yang dalam kerangka itu dihitung sebagai penanda kesamaan kelompok dan penghargaan atas kemampuan lawan bicara. Kesantunan negatif bekerja sebaliknya, dengan menjaga jarak dan mengurangi beban. Contohnya tercatat pada data TLE39:61, ketika Tama berkata kepada Jani, “Maaf ya kalau aku berlebihan, lain kali bilang aja kalau kamu nggak nyaman”. Satu kalimat, dua gerak sopan sekaligus: meminta maaf, lalu menyerahkan kembali ruang menolak kepada lawan bicaranya.
Dua strategi paling halus nyaris tidak terpakai. Bertutur samar-samar hanya muncul satu kali, lewat frasa ‘agak ajaib’ yang dipakai Jani untuk melukiskan temannya tanpa pernah menjelaskan maksudnya, sehingga Tama harus menafsirkan sendiri. Bertutur di dalam hati juga hanya satu, ditandai keterangan naratif bahwa kalimat itu diucapkan Tama dalam hati dan tidak diarahkan kepada siapa pun. Artinya para tokoh di novel ini hampir selalu mengeluarkan perasaannya dengan suara. Yang disimpan sendiri, sepanjang 124 data, cuma satu kalimat, dan kalimat itu pun sebuah penyesalan tentang cara mereka dipertemukan.
Selisih dengan Rahmadhani dan Utomo
Jika hasil itu ditempelkan pada temuan Rahmadhani dan Utomo atas Hujan Bulan Juni, jaraknya lebar. Novel Sapardi menonjol pada ejekan dan kritik; novel Kinanti menonjol pada terima kasih, maaf, dan pujian. Perbedaan sebesar itu menggoda untuk dijelaskan lewat genre atau khalayak pembacanya, tetapi tak satu pun dari kedua kajian tersebut menguji genre sebagai variabel. Yang bisa dikatakan sejauh ini hanya bahwa dua buku yang berbeda menghasilkan dua sebaran yang berbeda, dan kini kedua sebaran itu sudah dihitung dan bisa dibandingkan orang lain.
Baca juga Ujaran Kebencian @jokowi di Mata Linguistik Forensik
Kesimpulan yang ditarik Mittha Arben dan Haris Syukri sendiri berhenti pada tingkat yang lebih aman. Mereka menulis bahwa pilihan bahasa dalam narasi sastra “berfungsi sebagai instrumen psikologis untuk membangun relasi antartokoh”. Dominasi kesantunan positif dibaca sebagai pola utama untuk menjaga harmoni interaksi sosial di dalam cerita, bukan sebagai ciri sastra Indonesia mutakhir. Batas itu penting dijaga, karena satu novel, betapapun rapi dihitung sampai persepuluh persen, tetap satu novel. Sumbangan yang mereka klaim pun terbatas pada pragmatik sastra, bukan pada teori tindak tutur secara umum.
Batas yang Diakui Mittha Arben
Keterbatasan itu dinyatakan dua kali di dalam artikelnya, di bagian metode dan di bagian penutup. Sumber datanya hanya satu novel, sehingga hasilnya tidak dapat digeneralisasikan untuk mewakili karya sastra lain. Keduanya menyarankan kajian berikutnya memperluas objek ke novel dari berbagai genre, ke film, drama, dan media digital, sekaligus menoleh ke aspek pragmatik lain seperti tindak tutur direktif, implikatur, dan deiksis. Saran itu sekaligus pengakuan bahwa rantai yang mereka sambung masih pendek dan sambungannya belum kuat. Instrumen utamanya pun peneliti sendiri, dibantu tabel analisis, sehingga pemilahan kategori bergantung pada pembacaan manusia yang diperiksa ulang lewat triangulasi teori, bukan pada perangkat hitung otomatis.
Lima kajian sebelumnya menghitung lima novel dan berhenti di masing-masing bukunya. Yang keenam menghitung sebuah novel terbitan 2018 yang belum pernah disentuh siapa pun, lalu menemukan 124 kali para tokohnya memilih menjaga muka lawan bicara alih-alih melukainya. Kata pembuka datanya, “Thanks”, ternyata sudah meringkas seluruh hitungan yang menyusul sesudahnya. Di rantai itu The Lady Escort baru satu mata, disambungkan di ujung yang masih menggantung. Mata berikutnya menunggu satu novel lain, yang belum ada orang membacanya dengan cara sedetail ini, dan yang belum tentu memberikan jawaban serupa.















