- Rata-rata asupan sayur orang Jepang sepanjang 2010 hingga 2022 tertinggal sekitar 60 sampai 80 gram dari target 350 gram.
- Model memperkirakan 4.445 kematian akibat penyakit jantung iskemik dan 1.512 kematian akibat stroke dapat dihindari dalam sepuluh tahun.
- Belanja kumulatif turun 213 juta dolar AS untuk penyakit jantung iskemik dan 386 juta dolar AS untuk stroke, masing-masing 0,4 persen.
- Target garam 8 gram diperkirakan memangkas 1,152 miliar dolar AS, sedangkan target sayur 600 juta dolar AS.
Daftar Isi
Angka 350 gram dalam kebijakan gizi Jepang adalah takaran sayur yang semestinya masuk ke piring orang dewasa setiap hari. Masalahnya, sepanjang 2010 hingga 2022 rata-rata asupan sayur orang Jepang terus tertinggal sekitar 60 sampai 80 gram dari takaran itu. Tiga peneliti lalu menghitung apa yang akan terjadi seandainya selisih tersebut ditutup.
Target itu dipasang Kementerian Kesehatan, Tenaga Kerja, dan Kesejahteraan Jepang dalam program Health Japan 21 tahap ketiga. Menurut paper, angkanya bersandar pada Survei Kesehatan dan Gizi Nasional, yang menunjukkan perlunya 350 sampai 400 gram sayur sehari agar asupan kalium, serat pangan, dan vitamin tercukupi.
Hitungan itu disusun Haruna Fujiike, Michihiro Araki, dan Nayu Ikeda dari National Institute of Health and Nutrition, National Institutes of Biomedical Innovation, Health and Nutrition di Osaka. Fujiike juga berafiliasi dengan lembaga riset sebuah perusahaan pangan, sedangkan Araki dengan Ritsumeikan University. Laporan mereka berjudul The impact of achieving the national vegetable intake target on cardiovascular disease and healthcare expenditures in Japanese adults: a simulation study, 2021–2031 dan terbit di jurnal BMC Public Health pada 2026.
Alatnya simulasi, yakni hitungan maju di komputer, bukan percobaan pada manusia. Para peneliti memakai kelompok tertutup berisi 65.660.000 orang Jepang berusia 40 sampai 79 tahun per Oktober 2021, lalu menjalankannya sepuluh putaran tahunan hingga 2031. Dalam skenario kenaikan, rata-rata asupan sayur naik 2,6 persen per tahun sampai menyentuh 350 gram.
Skenario Dasar: Bila Piring Tetap Seperti 2021
Skenario dasar maksudnya keadaan ketika tak ada yang berubah: rata-rata asupan sayur bertahan di tingkat 2021 selama sepuluh tahun. Dalam keadaan itu, model memperkirakan 1.618.360 kasus baru dan kambuh penyakit jantung iskemik serta 1.689.902 kasus stroke di kalangan warga berusia 40 sampai 79 tahun.
Penyakit jantung iskemik dalam paper ini mencakup kode I20 hingga I25 pada klasifikasi penyakit internasional ICD-10, sedangkan stroke mencakup kode I60 hingga I69. Pada skenario yang sama, kematian akibat penyakit jantung iskemik diperkirakan 606.651 orang dan kematian akibat stroke 256.916 orang.
Biaya yang menyertainya besar. Belanja kesehatan nasional kumulatif setelah diskon diperkirakan sekitar 57,1 miliar dolar AS (6,26 triliun yen) untuk penyakit jantung iskemik dan sekitar 101,4 miliar dolar AS (11,13 triliun yen) untuk stroke. Konversi memakai kurs rata-rata 2021, yakni 1 dolar AS setara 109,75 yen, dan belanja didiskon 2 persen per tahun sesuai pedoman evaluasi ekonomi teknologi medis di Jepang.
Para peneliti lebih dulu menguji apakah model itu masuk akal. Jumlah kematian dan belanja kesehatan yang teramati pada 2021 konsisten dengan angka prediksi model setelah satu putaran, sehingga mereka menyimpulkan model mampu mereproduksi keadaan dasar.
Baca juga Kekuatan Genggaman yang Menurun dan Risiko Jantung
Kasus Tercegah: Sekitar 0,6 sampai 0,7 Persen
Kasus tercegah maksudnya selisih jumlah kasus antara skenario dasar dan skenario sayur 350 gram. Untuk penyakit jantung iskemik, selisihnya 11.852 kasus baru dan kambuh, atau 0,7 persen. Untuk stroke, selisihnya 9.945 kasus, atau 0,6 persen. Dengan kata lain, kurang dari satu dari setiap seratus kasus.
Laki-laki menyumbang bagian terbesar. Dari 11.852 kasus penyakit jantung iskemik yang tercegah, 7.631 adalah pria dan 4.221 wanita. Dari 9.945 kasus stroke, 6.214 adalah pria dan 3.731 wanita.
Usia juga membedakan. Pada pria, gabungan kasus jantung iskemik dan stroke yang tercegah naik dari 1.176 di usia 40-an menjadi 2.548 di usia 50-an, 3.832 di usia 60-an, dan 6.289 di usia 70-an. Pada wanita, angkanya 393, 889, 1.977, lalu 4.693 untuk keempat kelompok umur yang sama.
Menurut para peneliti, hubungan antara asupan sayur yang lebih tinggi dengan hasil kesehatan maupun belanja kesehatan dalam model memang lebih kuat pada pria daripada wanita. Hal itu mungkin dijelaskan oleh angka kejadian dan kematian penyakit jantung iskemik dan stroke pada pria yang lebih tinggi daripada wanita di semua kelompok umur.
Kematian Tercegah: Terbanyak di Usia 70-an
Selisih yang sama dihitung untuk kematian. Model memperkirakan 4.445 kematian akibat penyakit jantung iskemik dapat dihindari, atau 0,7 persen, terdiri atas 2.617 pria dan 1.828 wanita. Untuk stroke, angkanya 1.512 kematian, atau 0,6 persen, dengan 926 pria dan 586 wanita.
Pola umurnya serupa dengan pola kasus. Kematian tercegah pada pria berjumlah 261 di usia 40-an, 614 di usia 50-an, 981 di usia 60-an, dan 1.688 di usia 70-an. Pada wanita, urutannya 87, 224, 578, dan 1.526 untuk kelompok umur yang sama.
Kelompok usia 70-an paling menonjol. Dari 1.688 kematian tercegah pada pria usia itu, 1.328 berasal dari penyakit jantung iskemik dan 360 dari stroke. Pada wanita usia 70-an, 1.238 berasal dari penyakit jantung iskemik dan 288 dari stroke.
Baca juga Gigi Goyang dan Gusi Nyeri Menandai Risiko Stroke Lebih Tinggi
Belanja Kesehatan: Hemat 0,4 Persen dalam Sepuluh Tahun
Belanja kesehatan nasional dalam model ini mencakup biaya rawat inap, rawat jalan, dan obat resep. Biaya rawat jalan dan obat dibebankan pada pasien yang hidup dengan penyakit kronis, sedangkan biaya rawat inap dibebankan pada serangan pertama atau serangan ulang.
Dengan sayur 350 gram, belanja kumulatif untuk penyakit jantung iskemik turun 213 juta dolar AS, atau 0,4 persen, yakni 165 juta pada pria dan 48 juta pada wanita. Untuk stroke, penurunannya 386 juta dolar AS, juga 0,4 persen, dengan 229 juta pada pria dan 158 juta pada wanita.
Penghematan terbesar kembali datang dari kelompok tertua. Pada pria usia 70-an, belanja turun 196 juta dolar AS, sedangkan pada pria usia 40-an hanya 25 juta dolar AS. Pada wanita, angkanya 123 juta dolar AS di usia 70-an dan 10 juta dolar AS di usia 40-an.
Hitungan itu bersandar pada risiko relatif dari tinjauan sistematis dan meta-analisis studi prospektif terdahulu. Setiap tambahan 200 gram sayur per hari berhubungan dengan risiko penyakit jantung iskemik 0,84 kali dan risiko stroke 0,87 kali. Angka itulah yang menerjemahkan tambahan sayur menjadi perubahan jumlah kasus.
Hitungan juga diuji lewat analisis sensitivitas, yakni mengganti satu masukan ke batas bawah dan atasnya lalu melihat seberapa jauh hasil bergeser. Ketidakpastian terbesar pada perkiraan penurunan belanja datang dari risiko relatif stroke, baik pada pria maupun wanita. Urutan berikutnya risiko relatif penyakit jantung iskemik pada pria dan tingkat diskonto pada wanita.
Pembanding Garam: Hemat Belanja Sekitar Separuh
Untuk mengukur besar-kecilnya hasil, para peneliti menyandingkannya dengan simulasi garam dari studi terdahulu. Studi itu menghitung dampak penurunan rata-rata asupan garam orang dewasa Jepang dari 10,1 gram pada 2019 ke target 8 gram pada 2029.
Selisihnya jelas. Target garam diperkirakan mencegah 21.594 kasus penyakit jantung iskemik dan 29.607 kasus stroke, dibandingkan 11.852 dan 9.945 kasus pada target sayur. Kematian yang tercegah lewat garam 7.990 untuk penyakit jantung iskemik dan 4.534 untuk stroke, sementara lewat sayur 4.445 dan 1.512.
Pada belanja kesehatan, target sayur diperkirakan memangkas 600 juta dolar AS atau 0,4 persen, sedangkan target garam 1,152 miliar dolar AS atau 0,7 persen. Menurut bagian pembahasan paper, penurunan belanja pada skenario sayur kira-kira 52 persen dari skenario garam.
Fujiike dan rekan tidak menganggap hasil itu remeh. “Meskipun dampak tercapainya target nasional asupan sayur mungkin lebih kecil daripada pengurangan garam, hal itu tetap akan berkontribusi berarti bagi pencegahan penyakit kardiovaskular dan penurunan belanja kesehatan nasional di Jepang,” tulis mereka dalam abstrak, dalam terjemahan Cekricek.id.
Paper juga mencatat bahwa pengurangan garam dinilai sulit dipertahankan karena memengaruhi rasa. Para peneliti menyebut tambahan sayur dilaporkan memperkuat efek penurunan tekanan darah dari pengurangan garam lewat kalium dalam sayur, yang membantu pembuangan natrium melalui urine. Karena itu mereka menilai simulasi yang menimbang garam dan sayur sekaligus dapat memberi bukti berharga.
Baca juga Tinggi Badan Pria Jepang dan Lamanya Bertahan Bebas Diabetes
Batas Hitungan: Perkiraan, Bukan Sebab-Akibat Pasti
Para peneliti menyebut delapan keterbatasan. Biaya program untuk menaikkan konsumsi sayur, seperti iklan media massa, label jumlah sayur di depan kemasan, atau penambahan sayur pada makanan siap santap, tidak ikut dihitung. Biaya perawatan setelah serangan, termasuk perawatan jangka panjang bagi penyintas stroke lanjut usia, juga belum masuk.
Model juga membiarkan susunan umur tiap kelompok tetap selama sepuluh tahun, dan memperlakukan penyakit jantung iskemik serta stroke sebagai jalur terpisah. Penyakit lain yang berhubungan dengan asupan sayur, seperti diabetes dan kanker, tidak dimasukkan. Definisi sayur dalam survei nasional pun bisa berbeda dari definisi dalam kajian sumber risiko relatif.
Keterbatasan paling penting menyangkut asal angka risiko. Angka itu berasal dari studi pengamatan yang mungkin belum sepenuhnya bebas dari pengaruh gaya hidup lain, sehingga menurut para penulis, efek dalam studi ini “sebaiknya ditafsirkan bukan sebagai efek sebab-akibat yang presisi, melainkan sebagai petunjuk manfaat potensial pada tingkat populasi.”
Paper mencantumkan bahwa riset ini didanai hibah Kementerian Kesehatan, Tenaga Kerja, dan Kesejahteraan Jepang serta dana riset dari delapan perusahaan pangan. Bagian pernyataan kepentingan menyebut Fujiike bekerja di KAGOME, salah satu pemberi dana tersebut.
Jadi, takaran 350 gram dalam hitungan ini berarti rata-rata seluruh warga berusia 40 sampai 79 tahun, bukan isi piring satu orang tertentu. Hasilnya pun perkiraan penurunan hingga 0,4 persen belanja penyakit kardiovaskular, kira-kira separuh dari hasil target garam. Para penulis menyarankan simulasi berikutnya memasukkan interaksi dengan garam dan biaya perawatan.















