Setahun Usai Gempa Noto, Penyintas yang Kesepian Lebih Tertekan

A A

Bekas longsoran besar di lereng gunung di atas permukiman desa Wajima setelah gempa Noto [Foto: Hurohukidaikon/Wikimedia Commons, CC BY 4.0]

  • Sebanyak 1.256 dari 13.492 penyintas yang mengisi skala K6, atau 9,3 persen, tergolong tekanan jiwa berat.
  • Skor kesepian yang lebih tinggi berhubungan dengan peluang tekanan jiwa berat yang lebih besar, dengan rasio odds 1,16.
  • Penghuni hunian sementara prafabrikasi mencatat rasio odds 1,42 dan penghuni rumah publik 1,90 dibandingkan penghuni rumah sebelum bencana.
  • Kerusakan rumah dan cedera akibat gempa tidak lagi berhubungan secara mandiri setelah faktor lain dimasukkan.
Daftar Isi
  1. Januari 2025, Angket Sampai ke 15.366 Rumah Tangga
  2. Setahun Setelah Gempa, Kesepian dan Ikigai Bertaut dengan Tekanan Jiwa
  3. Di Hunian Sementara, Peluang Tertekan Lebih Tinggi
  4. Pada Masa Pemulihan, Jejaring Sosial Berkaitan dengan Rasa Sepi
  5. Jauh Sebelum Gempa, Noto Sudah Menua dan Menyusut
  6. Ke Depan, Penelitian Jangka Panjang Masih Ditunggu

Pada 1 Januari 2024, gempa bermagnitudo 7,6 mengguncang Prefektur Ishikawa, Jepang. Di wilayah yang paling parah, intensitas guncangannya mencapai angka 7. Hingga 21 Mei 2024, data prefektur mencatat 245 orang meninggal, tiga orang hilang, 1.200 orang terluka, dan lebih dari 81.000 bangunan tempat tinggal rusak.

Sembilan bulan kemudian, pada September 2024, hujan lebat melanda kawasan yang sama. Bencana kedua itu kembali membawa korban jiwa, luka, banjir, kerusakan rumah, dan gangguan prasarana. Warga Semenanjung Noto pun menjalani pemulihan dalam apa yang disebut para peneliti sebagai konteks bencana majemuk.

Pemulihan itu ditelusuri Yoko Osaka dan rekan dari Sekolah Pascasarjana Ilmu Kedokteran, Universitas Kanazawa, dalam makalah Social networks, loneliness, purpose in life, and psychological distress after the 2024 Noto Peninsula earthquake: a community-based cross-sectional survey and structural equation modeling study. Makalah itu dimuat jurnal BMC Public Health pada 2026.

Temuannya bertumpu pada keadaan penyintas kira-kira setahun setelah gempa. Tekanan jiwa berat berhubungan dengan kondisi hidup mereka saat itu, sedangkan kerusakan rumah dan cedera akibat bencana tidak lagi berhubungan secara mandiri setelah faktor lain diperhitungkan. Rasa kesepian beriringan dengan tekanan yang lebih berat, sementara ikigai beriringan dengan tekanan yang lebih ringan.

Januari 2025, Angket Sampai ke 15.366 Rumah Tangga

Survei kesehatan penyintas itu digelar Pemerintah Prefektur Ishikawa bersama 19 munisipalitas antara Januari dan Februari 2025. Sasarannya warga berusia 18 tahun ke atas yang tinggal di hunian sementara prafabrikasi, hunian yang diperlakukan sebagai hunian sementara, dan rumah publik. Penyintas yang tetap di rumah dan terdata dalam program bantuan prefektur juga disertakan.

Angket dikirim lewat pos ke 15.366 rumah tangga. Jawaban kembali dari 9.186 rumah tangga, atau 59,8 persen, dengan total 16.377 orang. Setelah 81 catatan ganda dibuang, tersisa 16.296 responden yang usianya rata-rata 66,1 tahun, dan 46,7 persen di antaranya laki-laki.

Kelompok usia terbesar adalah 70 sampai 79 tahun, yakni 32,8 persen responden. Sebanyak 16,7 persen lainnya berusia 80 tahun ke atas. Data itu kemudian dianalisis ulang oleh tim Universitas Kanazawa untuk melihat hubungan faktor psikososial dengan kesehatan jiwa sesudah bencana.

Tekanan jiwa diukur dengan skala Kessler enam butir atau K6, yang skornya 0 sampai 24. Skor 13 ke atas digolongkan sebagai tekanan jiwa berat. Dari 13.492 orang yang mengisi bagian ini, 1.256 orang atau 9,3 persen masuk golongan tersebut, dengan skor K6 rata-rata 5,5.

Jejak bencana tercatat dalam jawaban mereka. Sebanyak 94,2 persen melaporkan rumah rusak karena gempa, dan 77,1 persen pindah tempat tinggal sesudahnya. Lalu 65,8 persen mengaku tertekan secara emosional ketika teringat bencana, dan 21,2 persen kehilangan orang dekat.

Saat survei berlangsung, 42,6 persen responden tinggal di hunian sementara prafabrikasi. Sebanyak 26,5 persen menempati hunian yang diperlakukan sebagai hunian sementara, 23,7 persen masih di rumah mereka sebelum bencana, dan 3,1 persen di rumah publik. Sisanya, 4,1 persen, tinggal di jenis hunian lain.

Baca juga Cemas Radiasi Warga Fukushima Bertahan Tujuh Tahun Pascabencana

Setahun Setelah Gempa, Kesepian dan Ikigai Bertaut dengan Tekanan Jiwa

Untuk menelusuri faktor yang berkaitan dengan tekanan jiwa berat, tim memakai 9.264 responden yang datanya lengkap untuk semua variabel. Seluruh faktor dimasukkan dalam satu model regresi logistik. Hasilnya dinyatakan dalam rasio odds terhadap peluang tergolong tekanan jiwa berat.

Kesepian diukur dengan skala UCLA sepuluh butir, yang skornya 10 sampai 40. Rata-rata skor responden 21,3. Skor kesepian yang lebih tinggi berhubungan dengan peluang tekanan jiwa berat yang lebih besar, dengan rasio odds 1,16.

Ikigai diukur dengan satu pertanyaan tentang sejauh mana responden belakangan ini merasakan ikigai. Dalam angket, ikigai dijelaskan sebagai kegembiraan atau kenikmatan dalam hidup, dengan skor satu sampai empat dan rata-rata 2,5. Makin tinggi ikigai, makin kecil peluang tekanan jiwa berat, dengan rasio odds 0,38.

Faktor yang bertaut dengan tekanan jiwa berat penyintas NotoTertekan saat ingat bencana 2,625; Penyakit jiwa saat ini 2,511; Rumah publik 1,901; Hunian prafabrikasi 1,423; Skor kesepian UCLA 1,164; Status ekonomi subjektif 0,669; Kesehatan menurut diri 0,464; Ikigai 0,378.Faktor yang bertaut dengan tekanan jiwaberat penyintas NotoRasio odds, regresi logistik, n = 9.2640123Tertekan saat ingat bencana2,625Penyakit jiwa saat ini2,511Rumah publik1,901Hunian prafabrikasi1,423Skor kesepian UCLA1,164Status ekonomi subjektif0,669Kesehatan menurut diri0,464Ikigai0,378Hunian dibanding rumah sebelum bencana
Sumber: Yoko Osaka dan rekan, Social networks, loneliness, purpose in life, and psychological distress after the 2024 Noto Peninsula earthquake: a community-based cross-sectional survey and structural equation modeling study, BMC Public Health, 2026. Grafik: Cekricek.id

Para peneliti menyebut hubungan ikigai itu sebagai hubungan terbalik yang kuat. Skor jejaring sosial, yang diukur dengan skala Lubben enam butir, menunjukkan hubungan positif kecil dengan rasio odds 1,03. Angka itu muncul setelah kesepian, ikigai, dan faktor lain diperhitungkan.

Sejumlah faktor lain berhubungan dengan peluang yang lebih rendah. Di antaranya usia yang lebih tua, jenis kelamin laki-laki, kondisi kesehatan yang dinilai lebih baik oleh responden sendiri, lebih sering keluar rumah, tidur lebih lama, dan status ekonomi subjektif yang lebih baik.

Sebaliknya, peluang lebih tinggi tercatat pada responden yang tertekan secara emosional ketika teringat bencana, dengan rasio odds 2,625. Penyakit jiwa yang sedang diderita mencatat rasio odds 2,511, sedangkan stroke mencatat 1,721.

Di Hunian Sementara, Peluang Tertekan Lebih Tinggi

Jenis tempat tinggal saat survei ikut berhubungan dengan tekanan jiwa berat. Dibandingkan dengan responden yang masih tinggal di rumah sebelum bencana, penghuni hunian sementara prafabrikasi mencatat rasio odds 1,42. Penghuni rumah publik mencatat 1,90, sedangkan hunian yang diperlakukan sebagai hunian sementara tidak berbeda bermakna, dengan rasio odds 1,004.

Paparan bencana pada masa awal tidak lagi berhubungan secara mandiri setelah faktor lain dimasukkan. Kerusakan rumah dan cedera akibat gempa, serta kerusakan rumah dan cedera akibat hujan lebat, tidak bermakna secara statistik dalam model lengkap. Kehilangan orang dekat karena bencana juga tidak.

Dalam analisis tanpa penyesuaian, cedera akibat gempa serta kerusakan rumah atau cedera akibat hujan lebat sempat berhubungan bermakna dengan tekanan jiwa berat. Hubungan itu melemah dan tidak lagi bermakna setelah penyesuaian. Ketika jenis hunian diganti dengan variabel pindah tempat tinggal, kepindahan berhubungan dengan peluang tekanan jiwa berat yang lebih tinggi.

Para peneliti mengingatkan agar temuan itu tidak dibaca keliru. “Temuan ini tidak boleh ditafsirkan sebagai petunjuk bahwa paparan pada fase akut tidak penting secara psikologis,” tulis Osaka dan rekan dalam makalah itu, diterjemahkan dari bahasa Inggris.

Survei dilakukan kira-kira setahun setelah gempa dan beberapa bulan setelah hujan lebat. Karena itu, yang terukur adalah tekanan jiwa pada fase pemulihan. Menurut para penulis, pada tahap itu dampak paparan awal mungkin sudah tercermin dalam hunian, kesehatan, aktivitas harian, tidur, ekonomi, kesepian, dan ikigai.

Soal kehilangan orang dekat, peneliti meminta kehati-hatian lebih. Variabel itu hanya diukur sebagai jawaban ya atau tidak, sehingga hubungan dengan yang meninggal, keadaan kematian, dan beratnya duka tidak tercatat. Tidak adanya hubungan mandiri tidak boleh dibaca sebagai tanda bahwa dampak psikologis kehilangan itu kecil.

Baca juga Man Walk Australia: Separuh Pria Peserta Jalan Kaki Kesepian

Pada Masa Pemulihan, Jejaring Sosial Berkaitan dengan Rasa Sepi

Bagian kedua penelitian memakai pemodelan persamaan struktural pada 12.271 responden yang datanya lengkap untuk empat ukuran. Keempatnya adalah jejaring sosial, kesepian, ikigai, dan tekanan jiwa. Semua ukuran itu saling berkorelasi, dan korelasi antara jejaring sosial dan kesepian tercatat −0,569.

Dalam model itu, jejaring sosial yang lebih kuat berhubungan dengan kesepian yang lebih rendah, dengan koefisien terstandar −0,475. Jejaring sosial juga berhubungan dengan ikigai yang lebih tinggi, dengan koefisien 0,32. Ikigai sendiri berhubungan dengan kesepian yang lebih rendah, dengan koefisien −0,294.

Ke arah tekanan jiwa, kesepian mencatat hubungan positif yang kuat dengan koefisien 0,437. Ikigai berhubungan terbalik dengan koefisien −0,265. Jejaring sosial menyisakan hubungan langsung positif yang kecil, yakni 0,088, setelah kesepian dan ikigai diperhitungkan.

Jalur jejaring sosial, kesepian, ikigai, dan tekanan jiwaJejaring sosial ke ikigai: Koefisien terstandar +0,320; Ikigai ke kesepian: Koefisien terstandar -0,294; Jejaring sosial ke kesepian: Koefisien terstandar -0,475; Ikigai ke skor K6: Koefisien terstandar -0,265; Kesepian ke skor K6: Koefisien terstandar +0,437; Jejaring sosial ke skor K6: Koefisien terstandar +0,088.Jalur jejaring sosial, kesepian, ikigai, dantekanan jiwaKoefisien terstandar, n = 12.271-0,6-0,30,30,60Jejaring sosial ke ikigai+0,320Ikigai ke kesepian-0,294Jejaring sosial ke kesepian-0,475Ikigai ke skor K6-0,265Kesepian ke skor K6+0,437Jejaring sosial ke skor K6+0,088
Sumber: Yoko Osaka dan rekan, Social networks, loneliness, purpose in life, and psychological distress after the 2024 Noto Peninsula earthquake: a community-based cross-sectional survey and structural equation modeling study, BMC Public Health, 2026. Grafik: Cekricek.id

Secara keseluruhan, model itu menunjukkan jejaring sosial berhubungan secara tidak langsung dengan tekanan jiwa yang lebih rendah, melalui kesepian yang lebih rendah dan ikigai yang lebih tinggi. Dalam analisis tanpa penyesuaian, skor jejaring sosial berhubungan terbalik dengan tekanan jiwa berat, dengan rasio odds 0,90, sebelum berbalik menjadi 1,03 setelah penyesuaian.

Para penulis menegaskan bahwa hubungan langsung yang kecil itu tidak boleh dibaca sebagai bukti bahwa jejaring sosial cenderung menambah tekanan. Salah satu kemungkinan yang mereka ajukan, skala Lubben mengukur ketersediaan jaringan keluarga dan teman, bukan mutu hubungan atau beban antarpribadi.

Model yang memisahkan jaringan keluarga dan jaringan teman memberi gambaran lebih rinci. Keduanya berhubungan dengan ikigai yang lebih tinggi dan kesepian yang lebih rendah. Hanya jaringan teman yang menunjukkan hubungan langsung positif yang kecil dengan tekanan jiwa.

Jauh Sebelum Gempa, Noto Sudah Menua dan Menyusut

Para peneliti mengaitkan temuan itu dengan watak kawasan Noto. Wilayah ini pedesaan dan pinggiran, dengan penurunan dan penuaan penduduk yang sudah berlangsung sebelum bencana 2024. Hubungan sosialnya sejak lama tertanam dalam praktik budaya dan kegiatan bersama warga.

Festival tradisional seperti festival Kiriko masih menyatu dengan kehidupan warga. Praktik iriai dan yui sejak lama melibatkan pengelolaan sumber daya bersama dan saling bantu. Sebuah studi kasus tentang perkumpulan warga di pedesaan Noto juga menggambarkan keikutsertaan sebagai bagian dari norma dan harapan bersama, termasuk ikut festival.

Dalam suasana seperti itu, menurut para penulis, sebagian jaringan pertemanan bisa beririsan dengan hubungan kemasyarakatan sehari-hari yang menuntut timbal balik. Tuntutan itu dapat terasa berat selama pemulihan panjang, ketika penyintas sendiri sedang kesulitan. Hubungan keluarga mungkin punya peran dukungan yang lebih jelas saat krisis.

Peneliti tetap meminta tafsiran itu dibaca dengan hati-hati. Perbandingan keluarga dan teman hanya analisis tambahan, ukuran efeknya kecil, dan mutu hubungan maupun beban antarpribadi tidak diukur secara langsung.

Baca juga Lansia Sarang Kosong di Tiongkok Mengusir Sepi Lewat Chatbot AI

Ke Depan, Penelitian Jangka Panjang Masih Ditunggu

Para penulis mencatat sejumlah keterbatasan. Desain penelitiannya potong lintang, sehingga hubungan sebab-akibat dan urutan waktu antara jejaring sosial, kesepian, ikigai, dan tekanan jiwa tidak dapat dipastikan. Semua ukuran berasal dari laporan diri, dan tekanan jiwa berat diukur dengan K6, bukan wawancara diagnosis klinis.

Faktor yang tidak terukur juga mungkin masih berpengaruh, seperti kesehatan jiwa dan jejaring sosial sebelum bencana, kerugian ekonomi, serta mutu hubungan. Kebiasaan merokok tidak ditanyakan dalam survei. Ikigai pun hanya diukur dengan satu pertanyaan, yang mungkin tidak menangkap seluruh dimensi makna, tujuan, kegembiraan, dan peran.

Dari temuan itu, peneliti menyarankan penilaian kesehatan jiwa pada masa pemulihan panjang tidak hanya bersandar pada ukuran kerusakan awal seperti rumah rusak atau cedera. “Ketersediaan ikatan sosial saja mungkin tidak menangkap rasa kesepian subjektif para penyintas atau rasa makna, peran, dan tujuan mereka,” tulis mereka dalam simpulan, diterjemahkan dari bahasa Inggris.

Dukungan berbasis komunitas, menurut makalah itu, mungkin perlu memadukan penjangkauan praktis dengan kesempatan berpartisipasi secara bermakna, interaksi sesama penyintas, dan ikatan emosional. Pemulihan rutinitas, peran, dan tujuan hidup juga disebut. Untuk memastikan urutan waktu antara ukuran-ukuran itu, para penulis menilai penelitian jangka panjang masih dibutuhkan.

Survei Januari hingga Februari 2025 itu memotret penyintas kira-kira setahun setelah gempa. Saat itu, 9,3 persen penyintas yang mengisi skala K6 berada dalam golongan tekanan jiwa berat.

Bagikan

Baca Juga

Warga Fukushima Bergejala Trauma Lebih Kerap Sulit Mengunyah
Di Jepang, Tekanan Batin Tak Terkait Kebiasaan Minum Alkohol
Kantor Jepang yang Tahu Edaran Lebih Sering Beri Tes Hepatitis
Badan Terlalu Kurus atau Terlalu Gemuk Terkait Kerapuhan di Osaka
Orang Jepang yang Cuek Kesehatan Lebih Jarang Lapor Rawat Inap
Peluang Pulih dari Henti Jantung di Tokyo Berbeda Barat dan Timur