Man Walk Australia: Separuh Pria Peserta Jalan Kaki Kesepian

A A

Dua pria berjalan beriringan menyusuri jalur setapak di hutan pakis yang rimbun [Foto: Mas Anam/Pexels]

  • Namun, 54,2 persen dari mereka tergolong kesepian secara umum.
  • Kesepian jenis ini justru yang paling umum di antara peserta, yakni 52,2 persen atau 187 orang.
  • Dari 339 jawaban, 73,2 persen menyebut bersosialisasi sebagai alasan ikut atau manfaat yang dirasakan.
  • Naskah menegaskan datanya diambil pada satu waktu sehingga sebab akibat tidak bisa disimpulkan.
Daftar Isi
  1. Loneliness: sepi yang bukan berarti sendirian
  2. Emotional loneliness: kehilangan teman dekat
  3. Social loneliness: pergaulan yang menyempit
  4. Odds ratio: peluang, bukan kepastian
  5. Third place: ruang temu di luar klinik
  6. Strongly agreed: angka tanpa pertanyaan

Kesepian, dalam bahasa kesehatan masyarakat, adalah rasa bahwa hubungan yang dimiliki lebih sedikit atau kurang memuaskan daripada yang diinginkan. Maksudnya, yang diukur bukan berapa banyak orang di sekitar kita, melainkan seberapa cukup rasanya. Definisi itulah yang dipakai sekelompok peneliti Australia untuk membaca The Man Walk, gerakan jalan kaki berkelompok khusus pria yang berdiri pada 2018.

Hasilnya dimuat Nicole Snowdon, Kedir Y Ahmed, Hazel Dalton, M Mamun Huda, Subash Thapa, Mark Burns, dan Julaine Allan dalam A mixed methods snapshot of the Man Walk program: a community-based response to loneliness and health among older Australian men, BMC Public Health volume 26, tahun 2026. Sebagian besar penulis berasal dari Rural Health Research Institute dan School of Rural Medicine, Charles Sturt University, di Orange, New South Wales.

The Man Walk bekerja dengan cara sederhana. Pria dari segala usia cukup datang ke titik dan jam yang sudah ditentukan, tanpa biaya dan tanpa pendaftaran, lalu berjalan bersama. Penyelenggara di tiap lokasi disebut Manbassadors, yakni relawan yang menyambut dan mendampingi anggota baru. Menurut naskah, gerakan ini berjalan di lebih dari 80 lokasi dan mencatat lebih dari 135.000 peserta terdaftar.

Survei daring pada Maret dan Juli 2025 menjaring 377 pria peserta dari 121 kode pos. Rata-rata usia mereka 58,7 tahun, dan dua pertiganya berusia 55 tahun ke atas. Sebanyak 76,6 persen hidup berpasangan, 56,0 persen masih bekerja, dan 39,2 persen sudah pensiun. Mayoritas tinggal di kota besar, dengan New South Wales sebagai penyumbang peserta terbanyak.

Loneliness: sepi yang bukan berarti sendirian

Di sinilah istilah itu mulai bekerja. Tiga dari empat peserta punya pasangan, dan semuanya pernah ikut kelompok jalan kaki. Namun, 54,2 persen dari mereka tergolong kesepian secara umum. Bedanya begini, hidup bersama pasangan dan ikut kegiatan kelompok belum tentu membuat seseorang merasa hubungannya cukup.

Angka itu lebih tinggi daripada gambaran nasional yang dikutip naskah. Survei Household, Income and Labour Dynamics in Australia, atau HILDA, menemukan sekitar 27 persen orang dewasa Australia melaporkan kesepian. Para penulis menduga selisih itu datang dari dua arah, yakni peserta yang memilih sendiri untuk mengisi survei dan daya tarik program bagi pria yang memang sedang mencari teman.

Gambaran kesehatan jiwa mereka juga dicatat. Sebanyak 17,5 persen peserta menunjukkan gejala kecemasan dan 14,7 persen gejala depresi. Sebagai pembanding, naskah menyebut angka nasional kecemasan 11,3 persen pada pria usia 55 sampai 64 tahun dan 6,3 persen pada usia 65 sampai 74 tahun, sehingga angka peserta setara atau sedikit lebih tinggi.

Tidak semua gambaran suram. Peserta menilai kesehatan mereka sendiri pada skala 0 sampai 100 dengan nilai tengah 78 dan rata-rata 74,9, yang oleh para penulis dibaca sebagai persepsi kesehatan yang umumnya tinggi. Padahal 58,7 persen peserta melaporkan setidaknya satu penyakit kronis, dan 87 persen tergolong berat badan berlebih atau obesitas.

Baca juga Kunjungan ke Ruang Biru dan Kesehatan Mental Lansia Jepang

Emotional loneliness: kehilangan teman dekat

Emotional loneliness, atau kesepian emosional, adalah ketiadaan pendamping yang dekat dan intim. Maksudnya, yang terasa kurang adalah hubungan yang akrab, bukan jumlah kenalan. Kesepian jenis ini dialami 36,6 persen peserta Man Walk, atau 131 orang. Ia lebih sering muncul pada pria berusia 45 sampai 54 tahun dan pada yang tidak berpasangan.

Kesepian emosional punya pasangan yang khas, yaitu kecemasan. Peserta yang kesepian secara emosional punya peluang mengalami gejala kecemasan 4,65 kali lebih besar dibanding yang tidak. Kaitannya juga meluas ke penilaian kesehatan. Peserta yang kesepian secara emosional, sama seperti yang bergejala depresi, memberi nilai lebih rendah untuk kesehatannya sendiri.

Dua jenis kesepian pada peserta Man WalkDua jenis kesepian pada peserta Man WalkDua jenis kesepian pada peserta Man WalkDari 377 pria peserta The Man Walk, AustraliaKesepian emosionalKesepian sosial36,6%52,2%Persen peserta131187Jumlah pesertaCemasDepresiGejala yangmenyertai4,655,70Rasio peluanggejalaEmosional: tanpa pendamping dekat. Sosial: jaringan pergaulan sempit.
Sumber: Nicole Snowdon, Kedir Y Ahmed, Hazel Dalton, M Mamun Huda, Subash Thapa, Mark Burns, dan Julaine Allan, A mixed methods snapshot of the Man Walk program: a community-based response to loneliness and health among older Australian men, BMC Public Health, 26, 2026. Grafik: Cekricek.id

Pendidikan tampak menjadi penahan. Peserta berpendidikan tinggi lebih jarang mengalami kesepian emosional dan juga lebih jarang bergejala depresi. Para penulis membacanya sejalan dengan pola umum bahwa kesehatan dan kesejahteraan mengikuti tangga sosial. Sebaliknya, peserta yang tidak berpasangan lebih sering tergolong kesepian secara emosional.

Social loneliness: pergaulan yang menyempit

Social loneliness, atau kesepian sosial, lain lagi. Istilah ini menunjuk pada jaringan pergaulan yang sempit, bukan pada hilangnya satu orang terdekat. Maksudnya, yang terasa hilang adalah lingkaran pergaulan yang lebih luas. Kesepian jenis ini justru yang paling umum di antara peserta, yakni 52,2 persen atau 187 orang.

Pasangannya pun berbeda. Bila kesepian emosional berjalan bersama kecemasan, kesepian sosial berjalan bersama depresi, dengan peluang gejala depresi 5,70 kali lebih besar. Kaitan itu tercatat dari dua arah, karena peserta yang bergejala depresi juga lebih sering tergolong kesepian secara sosial. Jadi, dua jenis sepi ini tidak menempel pada gangguan yang sama.

Letak tempat tinggal ikut berbicara. Peserta di wilayah regional dalam, yakni golongan wilayah satu tingkat di bawah kota besar dalam klasifikasi keterpencilan Australia, lebih jarang kesepian secara sosial maupun umum dibanding peserta kota besar. Para penulis menilai program ini mungkin punya nilai khusus bagi komunitas regional, tempat peluang bertemu secara informal lebih terbatas.

Ada satu temuan yang terasa janggal. Peserta yang kesepian secara sosial justru lebih jarang tergolong peminum berisiko. Para penulis menduga sebagian peminum sosial mengurangi rasa sepinya lewat pergaulan yang melibatkan alkohol, dan mereka menyebut dinamika ini masih perlu ditelusuri. Seperti temuan lain dalam survei ini, kaitan itu hanya menunjukkan dua hal yang muncul bersama.

Baca juga Separuh Lansia Pusat Warga Emas Klang Valley Menua Sehat

Odds ratio: peluang, bukan kepastian

Odds ratio, atau rasio peluang, adalah angka yang membandingkan kemungkinan satu kelompok mengalami sesuatu dengan kelompok lain. Angka di bawah 1 berarti peluangnya lebih kecil. Peserta yang sudah ikut Man Walk tiga tahun atau lebih punya rasio peluang 0,30 untuk gejala depresi dibanding peserta yang lebih baru.

Temuan serupa muncul pada alkohol. Pria yang berjalan delapan kali atau lebih dalam sebulan punya rasio peluang 0,45 untuk tergolong peminum berisiko dibanding yang berjalan lebih jarang. Hanya 19,0 persen peserta yang masuk kelompok sering ini, sementara rata-rata jumlah jalan kaki dalam sebulan terakhir adalah 4,6 kali.

Bedanya begini, rasio peluang menunjukkan dua hal yang muncul bersama, bukan yang satu menyebabkan yang lain. Naskah menegaskan datanya diambil pada satu waktu sehingga sebab akibat tidak bisa disimpulkan. Para penulis menyebut survei ini tahap pertama dari evaluasi jangka panjang, dan penelitian lanjutan diperlukan untuk memperjelas mana yang datang lebih dulu.

Keterbatasan lain disebut para penulis sendiri. Data dilaporkan peserta sendiri, tidak ada kelompok pembanding dari pria yang tidak ikut, dan yang mengisi survei mungkin cenderung peserta yang lebih terlibat. Pria muda dan pria yang lebih tertinggal secara sosial ekonomi juga kurang terwakili, mungkin karena kebanyakan kelompok berjalan pukul 6.00 sampai 7.30 pagi atau pada akhir pekan.

Yang juga penting, lama ikut dan seringnya berjalan tidak berkaitan dengan kecemasan, ketiga ukuran kesepian, maupun penilaian kesehatan diri. Padahal naskah ini sendiri menyebut program itu sebagai tanggapan berbasis komunitas atas kesepian. Di sinilah para penulis memberi koreksi terhadap bacaan yang terlalu mudah.

“Temuan kuantitatif ini berlawanan dengan cerita kualitatif tentang membaiknya keterhubungan dan kesejahteraan, yang menunjukkan bahwa manfaat yang dirasakan mungkin tidak sepenuhnya tertangkap oleh ukuran yang dipakai atau mungkin mencerminkan mekanisme relasional yang lebih bernuansa,” tulis Snowdon dan rekan-rekannya dalam naskah yang aslinya berbahasa Inggris. Dengan kata lain, cerita peserta dan angka survei belum bertemu di titik yang sama.

Third place: ruang temu di luar klinik

Third place, atau ruang ketiga, adalah istilah naskah untuk lingkungan yang tidak klinis dan tidak memberi cap buruk, tempat orang bisa terhubung secara informal. Para penulis menilai The Man Walk bekerja sebagai ruang semacam itu. Pria bisa mendapat dukungan sosial dan emosional tanpa harus masuk ke layanan kesehatan jiwa yang formal.

Jawaban terbuka peserta menguatkan gambaran itu. Dari 339 jawaban, 73,2 persen menyebut bersosialisasi sebagai alasan ikut atau manfaat yang dirasakan. Kesehatan mental disebut 26,8 persen dan kesehatan fisik 26,5 persen. Sebanyak 10,0 persen justru menyebut kesempatan mendukung pria lain, misalnya dengan mendengarkan dan memberi saran kepada yang membutuhkan.

Manfaat Man Walk menurut pesertaBersosialisasi: Persen peserta +73,2%; Kesehatan mental: Persen peserta +26,8%; Kesehatan fisik: Persen peserta +26,5%; Mendukung orang lain: Persen peserta +10,0%.Manfaat Man Walk menurut pesertaPersen dari 339 jawaban terbuka peserta20%40%60%80%0Bersosialisasi73,2%Kesehatan mental26,8%Kesehatan fisik26,5%Mendukung orang lain10,0%Satu jawaban bisa masuk beberapa kategori.
Sumber: Nicole Snowdon, Kedir Y Ahmed, Hazel Dalton, M Mamun Huda, Subash Thapa, Mark Burns, dan Julaine Allan, A mixed methods snapshot of the Man Walk program: a community-based response to loneliness and health among older Australian men, BMC Public Health, 26, 2026. Grafik: Cekricek.id

Manfaat itu jarang datang sendirian. Sebanyak 214 peserta menyebut lebih dari satu manfaat sekaligus, dengan pasangan terbanyak kesehatan fisik dan bersosialisasi, lalu bersosialisasi dan kesehatan mental. Seorang peserta menulis bahwa ia berhenti bekerja ketika pandemi datang, mulai depresi, lalu merasa kelompok jalan kaki itu memberinya tujuan dan kawan.

Baca juga Warga Bangkok Membeli Alkohol di Minimarket, Tembakau di Warung

Strongly agreed: angka tanpa pertanyaan

Strongly agreed, atau sangat setuju, adalah pilihan jawaban dalam kuesioner berskala. Di bagian pembahasan, naskah menulis lebih dari tiga perempat peserta sangat setuju bahwa The Man Walk membantu mereka terhubung dengan orang lain, dan 70 persen sangat setuju program itu memperbaiki kesehatan fisik mereka. Kedua angka itu tidak punya pasangan di bagian lain naskah.

Bagian ukuran hanya menjelaskan empat alat ukur kesehatan, data diri dan keikutsertaan, serta dua pertanyaan terbuka, yakni alasan bergabung dan tambahan komentar. Tabel hasil juga tidak memuat pertanyaan setuju atau tidak setuju. Pembaca yang ingin memeriksa tidak akan menemukan dari mana tiga perempat dan 70 persen itu berasal di dalam naskah utama.

Beberapa kelalaian kecil lain juga bisa dicek. Rentang skor subskala kesepian tertulis sebagai minus 3, padahal skala itu berjalan dari 0. Tabel hasil menulis SUDIT-C untuk alat ukur alkohol AUDIT-C, dan kelompok usia di tabel peserta hanya berjumlah 353 dari 377 orang tanpa keterangan data yang hilang.

Naskah juga mencantumkan sendiri bahwa Mark Burns, salah satu penulis, adalah pendiri sekaligus kepala eksekutif The Man Walk. Menurut pernyataan konflik kepentingan, ia hanya membantu menyebarkan survei dan tidak terlibat dalam analisis, penafsiran, maupun penulisan hasil. Keterangan itu terbuka dan bisa dibaca siapa pun.

Kesepian, dalam naskah ini, akhirnya bukan satu kata tunggal. Ada sepi karena tidak punya teman dekat, ada sepi karena pergaulan menyempit, dan keduanya bisa hadir pada pria yang rutin berjalan bersama pria lain. Survei ini memotret keduanya dengan jelas, tetapi belum bisa memastikan apakah langkah bersama itu yang mengurangi sepi.

Bagikan

Baca Juga

Gejala Depresi Anak Muda Hong Kong Turun Setelah Berkebun
Lansia Sarang Kosong di Tiongkok Mengusir Sepi Lewat Chatbot AI
Program Ayah dan Anak Perempuan Australia Membekas 3-8 Tahun
Kelas Renang Bikin Mahasiswa Asing di Sydney Merasa Diterima
Koridor Hijau Bogotá: Warga Catat 702 Hambatan di 7th Street
Kunjungan Hipertensi Naik pada Hari Bursa Saham China Turun