Di Jepang, Tekanan Batin Tak Terkait Kebiasaan Minum Alkohol

A A

Ilustrasi seorang lelaki duduk membelakangi kamera di kedai izakaya berlampion di Tokyo [Foto: Iban Lopez Luna/Pexels]

  • Tekanan batin tidak terbukti berkaitan dengan siapa yang minum berat dan siapa yang tidak minum.
  • Peminum berat berjumlah 810 orang atau 20,6 persen.
  • Perempuan hanya 24,6 persen dari peminum berat, tetapi 66,1 persen dari bukan peminum.
  • Di kelompok peminum berat, 38,8 persen adalah perokok.
  • Di antara peminum berat, 4,6 persen bertekanan batin tinggi dan 26,0 persen bertekanan sedang.
Daftar Isi
  1. Dari ruang periksa dokter ke rumah tangga di seluruh Jepang
  2. Dua gou sehari dan enam pertanyaan tentang perasaan sebulan terakhir
  3. Ketika tekanan batin dibandingkan di tiga kelompok peminum
  4. Jenis kelamin, usia, dan rokok yang justru lebih banyak menjelaskan
  5. Yang belum bisa dijawab oleh satu potret dari tahun 2019

Dugaan itu terdengar masuk akal. Orang yang batinnya tertekan akan menuang lebih banyak alkohol ke gelasnya, entah untuk meredakan gelisah entah untuk mengundang tidur. Di Jepang, tempat acara minum sepulang kerja yang disebut nomikai lama menjadi bagian dari budaya sosial dan budaya kantor, dugaan tersebut diuji pada 3.935 orang dewasa usia kerja. Hasilnya tidak mengikuti dugaan. Tekanan batin tidak terbukti berkaitan dengan siapa yang minum berat dan siapa yang tidak minum.

Pengujian itu dikerjakan Shimpei Hanaoka, Shigeru Fujita, Takefumi Kitazawa, Kanako Seto, Kunichika Matsumoto, dan Tomonori Hasegawa dalam artikel Psychological distress and drinking patterns among working-age adults in Japan: a population-based analysis, yang terbit di BMC Public Health tahun 2026. Hanaoka, dokter dan penulis korespondensi naskah itu, bekerja di Department of Psychiatry, Chiba Emergency and Psychiatric Medical Center, Chiba, Jepang.

Dugaan yang mereka uji punya nama, yakni hipotesis pengobatan diri atau self-medication hypothesis. Isinya, orang dapat menambah pemakaian zat untuk meredakan tekanan batin. Para penulis mencatat bahwa pasien dengan suasana hati murung, cemas, sulit tidur, atau mudah tersinggung kerap melaporkan kebiasaan minum atau masalah terkait alkohol. Alkohol memang bisa memberi kelegaan sesaat. Seiring waktu, tulis mereka, ia dapat membuat gejala bertahan, memburuk, dan berkembang menjadi ketergantungan.

Dari ruang periksa dokter ke rumah tangga di seluruh Jepang

Persoalannya terletak pada siapa yang selama ini diamati. Sampel klinis, menurut para penulis, sejak awal condong pada orang yang sudah sampai ke layanan kesehatan atau memenuhi ambang diagnosis, sehingga kasus berat bisa terwakili berlebihan. Di tengah penduduk umum, tekanan batin tersebar seperti garis yang bersambung. Mereka yang tekanannya sedang berjumlah besar, walau banyak di antaranya tidak memenuhi kriteria diagnosis.

Karena itu keenam peneliti berpaling ke data resmi negara. Mereka memakai data anonim Comprehensive Survey of Living Conditions tahun 2019, survei nasional yang diselenggarakan Ministry of Health, Labour and Welfare Jepang. Kumpulan data itu memuat 4.470 rumah tangga dan 11.697 orang. Sebanyak 5.991 di antaranya berusia 20 sampai 64 tahun, dan 3.935 orang dengan jawaban lengkap menjadi bahan hitungan.

Batas usia itu punya alasan. Di bawah 20 tahun, minum alkohol dilarang oleh Minor Drinking Prohibition Act di Jepang. Usia 65 tahun ke atas lazim dipakai sebagai ambang usia lanjut dan menandai peralihan besar dalam pekerjaan serta peran sosial. Dari 3.935 orang tadi, 49,6 persen perempuan dan 50,4 persen laki-laki. Kelompok terbesar berusia 40 sampai 49 tahun, yakni 28,3 persen, disusul usia 50 sampai 59 tahun sebesar 26,5 persen.

Baca juga Warga Bangkok Membeli Alkohol di Minimarket, Tembakau di Warung

Dua gou sehari dan enam pertanyaan tentang perasaan sebulan terakhir

Takaran minum dalam survei itu dicatat dengan gou, satuan tradisional Jepang untuk alkohol. Satu gou kira-kira setara 22 gram etanol. Itu sama dengan sekitar 180 mililiter sake, 500 mililiter bir, atau 200 mililiter anggur. Seseorang digolongkan peminum berat bila rata-rata asupannya diperkirakan mencapai 44 gram etanol sehari atau lebih, alias dua gou. Ambang ini umum dipakai dalam studi di Jepang dan dikaitkan dengan naiknya risiko penyakit terkait gaya hidup.

Mereka yang menjawab jarang minum, sudah berhenti minum, atau tidak minum dimasukkan ke kelompok bukan peminum. Sisanya disebut peminum sedang. Hasil pemilahannya begini. Peminum berat berjumlah 810 orang atau 20,6 persen. Peminum sedang 1.527 orang atau 38,8 persen. Kelompok terbesar justru bukan peminum, 1.598 orang atau 40,6 persen.

Tekanan batin diukur dengan K6, skala enam butir versi bahasa Jepang. Enam butir itu menanyakan seberapa sering dalam 30 hari terakhir seseorang merasa gugup, putus asa, gelisah, begitu murung sampai tak ada yang bisa menghibur, merasa segala hal butuh usaha berat, dan merasa tidak berharga. Tiap butir bernilai nol sampai empat, sehingga skor totalnya nol sampai 24. Skor nol sampai empat disebut rendah, lima sampai 12 sedang, dan 13 ke atas tinggi.

Sebagian besar responden berada di tingkat rendah, yaitu 2.763 orang atau 70,2 persen. Tekanan sedang dialami 995 orang atau 25,3 persen. Tekanan tinggi hanya tercatat pada 177 orang. Itu 4,5 persen dari seluruh sampel.

Tekanan batin di tiga kelompok peminumPeminum berat (810 orang): Tekanan sedang (K6 5-12) +26,0%, Tekanan tinggi (K6 13 ke atas) +4,6%; Peminum sedang (1.527 orang): Tekanan sedang (K6 5-12) +24,2%, Tekanan tinggi (K6 13 ke atas) +4,1%; Bukan peminum (1.598 orang): Tekanan sedang (K6 5-12) +26,0%, Tekanan tinggi (K6 13 ke atas) +4,8%.Tekanan batin di tiga kelompok peminumPersen anggota tiap kelompok, 3.935 orang usia kerja di JepangTekanan sedang (K6 5-12)Tekanan tinggi (K6 13 ke atas)10%20%30%0Peminum berat (810 orang)26,0%4,6%Peminum sedang (1.527 orang)24,2%4,1%Bukan peminum (1.598 orang)26,0%4,8%Perbedaan antarkelompok tidak bermakna secara statistik (p=0,578).
Sumber: Shimpei Hanaoka, Shigeru Fujita, Takefumi Kitazawa, Kanako Seto, Kunichika Matsumoto, dan Tomonori Hasegawa, Psychological distress and drinking patterns among working-age adults in Japan: a population-based analysis, BMC Public Health, 2026. Grafik: Cekricek.id

Ketika tekanan batin dibandingkan di tiga kelompok peminum

Lalu dua pemilahan itu dipertemukan. Di antara peminum berat, 4,6 persen bertekanan batin tinggi dan 26,0 persen bertekanan sedang. Di antara peminum sedang, angkanya 4,1 persen dan 24,2 persen. Di antara bukan peminum, 4,8 persen dan 26,0 persen. Para penulis menyatakan tekanan batin tidak berhubungan bermakna dengan status minum pada tabulasi ini, dengan nilai p 0,578.

Hitungan berikutnya memperhitungkan sekaligus usia, jenis kelamin, susunan rumah tangga, pendidikan, pekerjaan, pendapatan, rokok, dan rawat jalan psikiatri. Hasilnya tetap. Dibanding orang bertekanan rendah, orang bertekanan sedang menunjukkan kecenderungan lebih besar menjadi peminum berat dengan rasio odds tersesuaikan 1,208, tetapi kecenderungan itu tidak bermakna secara statistik. Pada orang bertekanan tinggi rasionya 1,021. Para penulis menyebut tidak ada hubungan pada kelompok ini.

Di titik inilah keenam peneliti menuliskan pembacaan mereka. “Temuan kami menunjukkan bahwa, pada tingkat populasi, hubungan antara tekanan batin dan minum mungkin tidak muncul sebagai efek utama yang kokoh begitu faktor-faktor penentu kontekstual diperhitungkan secara menyeluruh,” tulis Hanaoka dan rekan-rekannya dalam naskah berbahasa Inggris itu. Arah sebaliknya pun sama. Baik tekanan sedang maupun tekanan tinggi tidak berbeda bermakna dari tekanan rendah dalam hal peluang menjadi bukan peminum.

Satu keberatan sudah mereka antisipasi. Kelompok bukan peminum mencakup orang yang berhenti minum, dan sebagian mungkin berhenti karena sakit. Maka 60 mantan peminum dikeluarkan, lalu hitungan diulang. Hubungan tekanan batin dengan status minum tidak berubah berarti. Rasio untuk tekanan sedang menjadi 1,209 dan tetap berada di batas, sedangkan untuk tekanan tinggi 1,010.

Baca juga Distres Psikologis Naikkan Peluang Sulit Bayar Tagihan

Jenis kelamin, usia, dan rokok yang justru lebih banyak menjelaskan

Yang berbicara lantang adalah hal-hal lain. Perempuan punya peluang jauh lebih kecil menjadi peminum berat dibanding laki-laki, dengan rasio odds tersesuaikan 0,480, dan peluang lebih besar menjadi bukan peminum, dengan rasio 2,089. Susunan kelompoknya memperlihatkan hal serupa. Perempuan hanya 24,6 persen dari peminum berat, tetapi 66,1 persen dari bukan peminum. Para penulis menduga ini mencerminkan beda kesempatan minum bersama, suasana minum di tempat kerja, dan tuntutan kerja serta keluarga.

Usia muda memberi gambaran yang terbelah. Kelompok 20 sampai 29 tahun dan 30 sampai 39 tahun punya peluang lebih tinggi menjadi peminum berat sekaligus lebih tinggi menjadi bukan peminum, dibanding usia 60 sampai 64 tahun. Hanaoka dan rekan-rekannya menyebutnya polarisasi perilaku minum pada awal masa dewasa. Menurut mereka, pola itu mungkin mencerminkan perubahan budaya minum antargenerasi di Jepang: sebagian orang muda minum intensif dalam pergaulan, sebagian lain makin menjauhi alkohol.

Rokok berjalan beriringan dengan gelas. Perokok punya peluang lebih besar menjadi peminum berat dibanding bukan perokok, dengan rasio odds tersesuaikan 1,917. Di kelompok peminum berat, 38,8 persen adalah perokok. Di kelompok peminum sedang angkanya 20,4 persen, dan di kelompok bukan peminum 16,3 persen. Para penulis menilai temuan itu sejalan dengan mengelompoknya perilaku berisiko bagi kesehatan.

Siapa yang ada di dua ujungSiapa yang ada di dua ujungSiapa yang ada di dua ujungPersen anggota tiap kelompok menurut ciriPeminum beratBukan peminum24,6%66,1%Perempuan75,4%33,9%Laki-laki38,8%16,3%Perokok9,1%14,9%Tiga generasiTiga generasi: tinggal di rumah tangga tiga generasi.
Sumber: Shimpei Hanaoka, Shigeru Fujita, Takefumi Kitazawa, Kanako Seto, Kunichika Matsumoto, dan Tomonori Hasegawa, Psychological distress and drinking patterns among working-age adults in Japan: a population-based analysis, BMC Public Health, 2026. Grafik: Cekricek.id

Rumah juga ikut menentukan. Dibanding orang yang tinggal sendiri, mereka yang tinggal di rumah tangga tiga generasi lebih kecil peluangnya menjadi peminum berat, dengan rasio 0,617, dan lebih besar peluangnya menjadi bukan peminum, dengan rasio 1,594. Pendidikan yang lebih rendah dari perguruan tinggi berkaitan dengan peluang lebih tinggi di kedua ujung, baik peminum berat maupun bukan peminum. Pendapatan rumah tangga berkaitan kuat dengan status bukan peminum, tetapi tidak dengan minum berat.

Rawat jalan psikiatri, yang dijalani 80 orang atau 2,0 persen sampel, tidak berkaitan bermakna dengan status minum. Dari deretan hasil itu para penulis menarik satu gambaran. “Kuatnya hubungan yang teramati pada kovariat menegaskan bahwa perilaku minum di Jepang tertanam dalam peran sosial, norma, dan kelompok perilaku,” tulis mereka, juga dalam bahasa Inggris.

Baca juga Kunjungan ke Ruang Biru dan Kesehatan Mental Lansia Jepang

Yang belum bisa dijawab oleh satu potret dari tahun 2019

Mengapa hubungan yang diduga itu tidak tampak? Para penulis menawarkan beberapa pertimbangan. Hipotesis pengobatan diri mengandaikan urutan waktu, yakni tekanan batin datang lebih dulu lalu minum bertambah. Urutan semacam itu tidak dapat ditetapkan dari data yang dikumpulkan pada satu waktu. Alkohol sendiri dapat memperburuk tidur, suasana hati, dan kecemasan, sehingga hubungan dua arah bisa melemahkan kaitan yang terlihat.

Pertimbangan lain menyangkut alat ukur dan pengelompokan. K6 menangkap tekanan batin yang tidak spesifik, dan ragam gejala yang berbeda bisa berkaitan dengan alkohol ke arah yang berlainan. Kelompok bukan peminum pun beragam. Di dalamnya ada orang yang seumur hidup tidak minum, mantan peminum yang berhenti karena masalah kesehatan, dan orang yang menghindari alkohol karena alasan sosial atau budaya.

Keterbatasan penelitian mereka sebutkan terang. Rancangan potong lintang tidak memungkinkan penarikan sebab-akibat. Asupan alkohol dan tekanan batin dilaporkan sendiri oleh responden, sehingga bisa salah golong atau dilaporkan lebih rendah. Faktor perancu yang tersisa tetap mungkin ada. Responden yang tidak mampu mengisi kuesioner boleh dibantu keluarga atau pengasuh, dan bantuan itu tidak dapat dikenali dalam data anonim.

Ada pula soal jumlah. Hanya 4,5 persen responden bertekanan batin tinggi, dan menurut para penulis kecilnya porsi itu mungkin membatasi daya statistik. Kecenderungan di batas pada tekanan sedang, dengan nilai p 0,073, mereka baca sebagai kemungkinan adanya hubungan yang lemah atau tidak lurus. Hal itu, tulis mereka, perlu diselidiki lebih lanjut pada sampel yang lebih besar atau yang diikuti dari waktu ke waktu.

Bagi kesehatan masyarakat, mereka menulis bahwa upaya mengurangi minum yang membahayakan mungkin perlu mengutamakan pengelompokan perilaku dan konteks sosial ekonomi, bukan semata beratnya tekanan batin. Riset berikutnya disarankan memeriksa perbedaan menurut jenis kelamin, usia, status merokok, dan pekerjaan. Memisahkan orang yang tidak pernah minum dari mantan peminum juga disebut akan memperjelas hasil.

Dugaan di awal tadi tidak gugur seluruhnya. Para penulis menegaskan bahwa pengobatan diri tetap merupakan mekanisme yang masuk akal pada subkelompok tertentu, dan ketiadaan efek utama di tingkat populasi tidak menutup kemungkinan itu pada kelompok rentan. Pada potret 3.935 orang usia kerja di Jepang, kaitan itu tidak muncul. Yang tampak pada gelas mereka adalah jenis kelamin, usia, pendidikan, susunan rumah tangga, pendapatan, rokok, dan status kerja.

Bagikan

Baca Juga

Kecelakaan Lalu Lintas Renggut Usia Muda di Azerbaijan Barat
Kontrasepsi Nonpermanen di India Lebih Banyak Dipakai Si Kaya
Menu Serba Nasi Remaja Korea Terkait Obesitas dan HDL Rendah
Kantor Jepang yang Tahu Edaran Lebih Sering Beri Tes Hepatitis
Orang Tua Palestina Paham Tidur Sehat Anak tapi Sulit Menjalankan
Hampir Seperlima Pengasuh Anak Cerebral Palsy Bermutu Hidup Buruk