- Sepanjang 2013 sampai 2024 tercatat 20.003 kematian akibat cedera di Provinsi Azerbaijan Barat, Iran.
- Kecelakaan lalu lintas tetap menjadi penyebab utama, dengan 830 kematian pada 2024.
- Seluruh kematian akibat cedera selama dua belas tahun itu setara dengan 473.700 tahun hidup yang hilang.
- Beban tahun hidup yang hilang paling tinggi berada pada kelompok usia 15 sampai 29 tahun.
- Untuk kecelakaan lalu lintas, laki-laki berusia 15 sampai 29 tahun menanggung bagian terbesar tahun hidup yang hilang.
Daftar Isi
- Sebelum Aghziarat: potret sesaat dan jalan raya saja
- Dari 2013 ke 2024: 1.389 kematian menjadi 1.916
- Taherian dan jalan raya yang kembali memakan korban
- Usia 15–29 tahun dan tahun hidup yang hilang
- Tiga tahun sesudah 2024: 120 sampai 182 kematian sebulan
- Usul sesudah 2024: jalan, layanan darurat, dan pencatatan
Kecelakaan lalu lintas dan cedera lain merenggut 473.700 tahun hidup warga Provinsi Azerbaijan Barat, Iran, sepanjang 2013 sampai 2024. Angka itu menakar kematian dini pada 20.003 orang yang meninggal oleh sebab dari luar tubuh, seperti tabrakan, jatuh, tenggelam, dan luka bakar. Jalan raya menjadi penyebab utamanya: kecelakaan lalu lintas mencakup 43,3 persen kematian akibat cedera pada 2024. Beban tahun hidup yang hilang paling tinggi berada pada usia 15 sampai 29 tahun.
Hitungan itu dilaporkan Najaf Ahmadi Aghziarat, Mojtaba Norouzi, Ehsan Rikhtegar, Fahim Bani, Keyvan Mollarahimi, Saeedeh Moharrek, dan Morad Ali Zareipour. Artikel mereka, Time series modeling to predict mortality rates and estimate years of life lost due to injuries in West Azerbaijan province, Iran, 2013–2024, dimuat jurnal BMC Public Health volume 26 tahun 2026. Para penulis bekerja di Urmia University of Medical Sciences, Shahrekord University of Medical Sciences, dan Khoy University of Medical Sciences.
Sebelum Aghziarat: potret sesaat dan jalan raya saja
Antara 2013 dan 2019, lebih dari 84.000 orang kehilangan nyawa dalam kecelakaan jalan raya di Iran. Dengan angka kematian lalu lintas 20 per 100.000 penduduk, negeri itu termasuk kelompok negara dengan tingkat kematian tertinggi di jalan. Kematian akibat cedera, tulis para penulis, sudah bertahun-tahun menjadi masalah kesehatan penting di sana. Namun pola cedera di tingkat provinsi dapat sangat berbeda, sebab geografi, iklim, keadaan angkutan, dan susunan penduduk tidak seragam di seluruh negeri.
Riset-riset Iran terdahulu, menurut para penulis, kebanyakan menggambarkan kematian akibat cedera sebagai potret pada satu waktu, atau membatasi diri pada kelompok tertentu seperti korban kecelakaan lalu lintas. Kajian semacam itu berguna, tetapi belum menjelaskan bagaimana kematian dan kematian dini berubah dari tahun ke tahun di tingkat provinsi. Bukti yang memadukan arah kematian akibat cedera dengan tahun hidup yang hilang dalam satu kerangka, tulis mereka, masih terbatas.
Azerbaijan Barat dipilih karena alasan yang mereka uraikan sendiri. Provinsi di barat laut Iran ini berbatasan dengan Turki, Armenia, Azerbaijan, dan Irak, beribu kota di Urmia, dan pada sensus 2016 berpenduduk 3.265.219 jiwa. Bentang alamnya bergunung-gunung dan iklimnya berganti menurut musim, sementara warganya terbagi antara kota dan desa. Semua itu, menurut para penulis, dapat memengaruhi seberapa sering cedera terjadi dan seberapa parah akibatnya.
Ukuran yang mereka pakai pun tidak berhenti pada jumlah jenazah. “Tahun hidup yang hilang menjadi sangat penting karena ukuran itu mencerminkan bukan hanya berapa banyak orang yang meninggal, tetapi juga seberapa dini mereka meninggal,” tulis Aghziarat, Zareipour, dan rekan-rekan dalam naskah yang aslinya berbahasa Inggris. Dua provinsi bisa mencatat jumlah kematian yang serupa, tambah mereka, tetapi provinsi dengan lebih banyak kematian di usia muda menanggung beban kematian dini yang jauh lebih besar.
Baca juga Chiang Mai Buang Tahun Pandemi, Ramalan Kecelakaan Malah Meleset
Dari 2013 ke 2024: 1.389 kematian menjadi 1.916
Sepanjang 2013 sampai 2024 tercatat 20.003 kematian akibat cedera di Provinsi Azerbaijan Barat, Iran. Sebagian besar korban adalah laki-laki, yakni 15.211 orang atau 76 persen, sedangkan perempuan berjumlah 4.792 orang. Sebanyak 59,7 persen kematian terjadi di kota dan 37,3 persen di desa, sementara pada 3 persen sisanya tempat kejadian tidak tercatat. Seluruhnya bersumber dari catatan kematian penduduk provinsi itu selama dua belas tahun.
Arah angkanya menanjak. Pada 2013 tercatat 1.389 kematian akibat cedera, dan pada 2024 jumlahnya menjadi 1.916, kenaikan 37,94 persen. Angka kematian yang sudah disesuaikan dengan susunan umur penduduk bergerak dari 6,0 pada 2013 ke puncak 8,3 pada 2023, lalu turun sedikit menjadi 7,8 pada 2024. Pada laki-laki angka itu naik dari 8,6 menjadi 11,5, sedangkan pada perempuan berayun antara 2,8 dan 4,0.
Jarak antara laki-laki dan perempuan terlihat pula pada angka kasarnya. Para penulis mencatat tujuh kematian per 10.000 laki-laki dan dua per 10.000 perempuan, dengan lima per 10.000 untuk seluruh penduduk. Usia rata-rata saat meninggal bergeser dari 36,9 tahun pada 2013 menjadi 39,0 tahun pada 2024. Pergeseran itu, menurut mereka, mungkin menandakan perubahan susunan penduduk atau membaiknya peluang bertahan hidup, tetapi beban utamanya tetap berada pada kaum muda.
Taherian dan jalan raya yang kembali memakan korban
Kecelakaan lalu lintas tetap menjadi penyebab utama, dengan 830 kematian pada 2024. Jumlah itu naik 21,35 persen dari 684 kematian pada 2013, walaupun porsinya di antara seluruh kematian akibat cedera menyusut dari 49,2 persen menjadi 43,3 persen. Kenaikan ini disandingkan para penulis dengan kajian nasional Taherian dan rekan, yang melaporkan bahwa sesudah satu dasawarsa menurun, angka kematian lalu lintas di Iran kembali naik sejak 2017 dan berlanjut sampai 2022.
Di balik angka jalan raya itu, susunan korbannya berubah. Kematian dalam kecelakaan mobil bertambah dari 512 menjadi 760, sehingga pada 2024 mencakup 91,6 persen kematian lalu lintas. Kematian dalam kecelakaan sepeda motor justru berkurang dari 145 menjadi 33. Korban kecelakaan sepeda tetap 24 orang pada kedua tahun itu, sedangkan pejalan kaki yang meninggal bertambah dari 3 menjadi 13 orang.
Para penulis juga menautkan temuan mereka dengan riset di luar Iran. Godthelp dan rekan, yang mereka kutip, menunjukkan bahwa angka kematian di jalan pada negara berpendapatan rendah dan menengah tiga kali lebih tinggi daripada di negara berpendapatan tinggi. Abbasi dan rekan, yang menelaah beban cedera angkutan di provinsi-provinsi barat Iran, melaporkan kenaikan yang berarti di Azerbaijan Barat. Bagi para penulis, kedua catatan itu sejalan dengan apa yang mereka temukan.
Kecelakaan di luar jalan raya ikut bertambah. Kematian karena jatuh dari ketinggian, paparan asap dan api, tenggelam, serta sentuhan dengan benda panas, yang dalam naskah itu digolongkan sebagai kecelakaan tak disengaja, naik dari 348 menjadi 547, atau 57,18 persen. Kematian karena pembunuhan relatif tetap, dari 95 menjadi 90. Kematian dalam kategori bunuh diri tercatat 147 pada 2013 dan 355 pada 2024, sedangkan kematian yang niat di baliknya tidak dapat ditentukan bertambah dari 58 menjadi 81.
Baca juga Suhu Ekstrem dan PM2.5 Naikkan Kematian di Tiongkok
Usia 15–29 tahun dan tahun hidup yang hilang
Bila setiap kematian ditimbang menurut usia korbannya, bebannya terbaca dalam satuan tahun. Seluruh kematian akibat cedera selama dua belas tahun itu setara dengan 473.700 tahun hidup yang hilang. Sebanyak 349.688 tahun berasal dari laki-laki dan 124.012 tahun dari perempuan. Per 1.000 penduduk, rata-ratanya 17 tahun pada laki-laki, 6 tahun pada perempuan, dan 12 tahun untuk keduanya, dengan puncak pada laki-laki sebesar 20 tahun pada 2023.
Beban tahun hidup yang hilang paling tinggi berada pada kelompok usia 15 sampai 29 tahun. Puncaknya terletak pada usia 15 sampai 19 tahun dan 20 sampai 24 tahun, dan pada hampir semua kelompok umur nilainya lebih tinggi pada laki-laki daripada perempuan. Untuk kecelakaan lalu lintas, laki-laki berusia 15 sampai 29 tahun menanggung bagian terbesar tahun hidup yang hilang. Sesudah itu bebannya menurun perlahan pada usia yang lebih tua. Pola umur pada perempuan serupa, tetapi dengan besaran yang lebih kecil.
Pola itu ditempatkan para penulis di samping kajian beban penyakit global oleh Kisa dan rekan, yang menegaskan bahwa cedera di jalan termasuk penyebab utama hilangnya tahun hidup di dunia dan terutama menimpa laki-laki muda. Menurut mereka, kecelakaan lalu lintas menyebabkan hilangnya tenaga kerja muda. Dampaknya lebih terasa di provinsi seperti Azerbaijan Barat, yang perekonomiannya bertumpu pada pertanian.
Satu kelompok lain muncul di luar rentang usia muda tadi. Para penulis menyebut tingginya jumlah kematian anak berusia 1 sampai 4 tahun, baik laki-laki maupun perempuan, sebagai temuan penting, dan sebagian besarnya disebabkan kecelakaan dan cedera tak disengaja. Bukti serupa yang mereka rujuk menunjukkan bahwa pada anak seusia itu cedera lalu lintas dan tenggelam adalah penyebab kematian terbanyak, disusul jatuh, luka bakar, dan keracunan.
Menurut mereka, beban yang tinggi itu mungkin mencerminkan kurangnya pengamanan anak di rumah dan di tempat umum, kurangnya kesadaran orang tua, serta terbatasnya pelaksanaan program pencegahan cedera. Karena kematian pada usia sedini itu menghilangkan banyak tahun hidup, para penulis menilai pencegahan pada masa kanak-kanak awal patut menjadi prioritas kesehatan masyarakat. Pendidikan bagi orang tua dan rumah yang lebih aman termasuk langkah yang mereka sebut.
Baca juga Kelambu Kamar Tidur dan Lansia Pesisir Surat Thani yang Jatuh
Tiga tahun sesudah 2024: 120 sampai 182 kematian sebulan
Dari deret angka bulanan itu para penulis lalu memperkirakan 36 bulan berikutnya. Jumlah kematian akibat cedera diperkirakan berkisar antara 120 dan 182 per bulan selama tiga tahun mendatang. Kematian dalam kecelakaan lalu lintas diperkirakan naik turun antara 43 dan 78 per bulan, bunuh diri antara 26 dan 35, dan kecelakaan tak disengaja antara 36 dan 49. Prakiraan itu, tulis mereka, menunjukkan perlunya langkah pencegahan.
Para penulis menyebut sendiri batas penelitian mereka. Data register kematian dapat terpengaruh oleh kurang lapor, catatan yang tidak lengkap, pendaftaran yang terlambat, atau salah penggolongan sebab kematian. Perubahan cara pengodean dan perbaikan sistem pencatatan dari waktu ke waktu juga mungkin memengaruhi sebagian arah yang teramati. Turunnya kematian oleh sebab luar lainnya dari 40 menjadi 5, misalnya, menurut mereka mungkin berkaitan dengan hal itu.
Register itu juga tidak memuat keterangan sosial ekonomi, psikologis, dan perilaku yang dapat menjelaskan kenaikan kematian itu. Karena penelitian dilakukan di satu provinsi, para penulis mengingatkan agar temuannya tidak begitu saja diberlakukan pada provinsi lain atau pada penduduk Iran secara keseluruhan. Dengan batas-batas itu, mereka menilai hasilnya tetap berguna bagi perencana kesehatan di Azerbaijan Barat.
Usul sesudah 2024: jalan, layanan darurat, dan pencatatan
Simpulan mereka menyebut kecelakaan lalu lintas tetap menjadi penyebab utama kematian akibat cedera, dan beban tahun hidup yang hilang terutama menimpa laki-laki muda. “Beban kematian dan tahun hidup yang hilang akibat kecelakaan dan cedera di Provinsi Azerbaijan Barat bukan hanya persoalan kesehatan masyarakat, melainkan juga tantangan pembangunan serius yang mengancam tenaga produktif masyarakat,” tulis mereka.
Usul yang mereka ajukan menyentuh beberapa bidang. Untuk jalan raya, mereka menyarankan perbaikan prasarana, penegakan hukum yang lebih ketat, dan kampanye pendidikan yang terarah. Untuk kesehatan jiwa, khususnya bagi perempuan dan kaum muda, mereka mengusulkan pusat konseling yang mudah dijangkau dan penapisan berkala. Di desa, mereka menyarankan pendidikan keselamatan di rumah dan akses layanan darurat yang lebih baik, disertai pembenahan sistem pencatatan kematian.
Para penulis juga mengusulkan penelitian jangka panjang dan kualitatif untuk mengenali faktor risiko setempat, serta kerja sama lintas lembaga untuk menyusun rencana pencegahan yang menyeluruh. Dengan pelaksanaan yang terpadu dan pemantauan terus-menerus, tulis mereka, arah yang sekarang dapat dibalik. Beban kematian dini dan tahun hidup yang hilang, menurut mereka, dapat dikurangi secara berarti.














