- Sebanyak 627 responden, atau 41,8 persen, pernah mendengar edaran pemerintah Jepang tentang tes hepatitis di tempat kerja.
- Dari 627 responden yang pernah mendengar edaran, 83,3 persen bekerja di perusahaan yang menyediakan tes hepatitis.
- Dari 873 responden yang belum pernah mendengar edaran, hanya 27,9 persen bekerja di perusahaan yang menyediakan tes.
- Kartu hasil negatif dikembangkan untuk mengurangi tes hepatitis yang berulang pada karyawan.
- Survei hanya memotret satu waktu, jadi tidak bisa menentukan sebab-akibat.
Daftar Isi
Insei-card, begitu orang Jepang menyebutnya, adalah kartu yang menyatakan pemegangnya sudah dites hepatitis B dan hepatitis C dan hasilnya negatif. Insei berarti negatif. Di kartu itu tertulis tanggal tes, hasil negatif, nama, lembaga, dan nama pemeriksa. Kartu ini dikembangkan untuk mengurangi tes yang berulang, sebab karyawan bisa dites berkali-kali ketika hasil sebelumnya tidak dikenali.
Kartu itu menjadi salah satu pokok artikel Association between awareness of government notification and ‘negative hepatitis virus test result card’ and implementation of hepatitis B and C screening in Japanese workplaces: a cross-sectional study yang ditulis Shoko Nakazawa, Kosuke Sakai, Kota Fukai, Yuko Furuya, Kei Sano, Masayuki Tatemichi, dan Masaaki Korenaga, terbit di BMC Public Health tahun 2026. Lima dari mereka bekerja di Tokai University School of Medicine di Isehara. Kei Sano dari The Jikei University School of Medicine di Tokyo, dan Masaaki Korenaga dari Hepatitis Information Center di Ichikawa.
Mereka bertanya kepada orang-orang yang menentukan urusan kesehatan di tempat kerja, yaitu eksekutif perusahaan dan staf personalia. Survei daring pada Maret 2024 itu menghasilkan 1.500 jawaban yang bisa dianalisis. Pertanyaan pokoknya sederhana: apakah orang yang pernah mendengar kartu itu, dan pernah mendengar sebuah edaran pemerintah, bekerja di perusahaan yang lebih sering menyediakan tes hepatitis.
Edaran, Permintaan Pemerintah Tanpa Sanksi
Edaran yang dimaksud terbit pada Maret 2023 dari Kementerian Kesehatan, Tenaga Kerja, dan Kesejahteraan Jepang. Judulnya, bila diterjemahkan, permintaan kerja sama untuk langkah melawan hepatitis virus di tempat kerja. Isinya meminta pemberi kerja membuka kesempatan tes hepatitis B dan C bagi karyawan. Para penulis mencatat satu hal penting tentang edaran ini: ia tidak memuat sanksi.
Edaran itu menyentuh lima hal. Karyawan diberi tahu arti penting tes hepatitis, kesempatan tes disediakan, privasi dijaga, keseimbangan antara pengobatan dan pekerjaan didukung, dan diskriminasi dicegah. Tempat kerja dipilih karena alasan praktis. Karyawan di Jepang wajib menjalani pemeriksaan kesehatan tahunan, sehingga ikut tes hepatitis di tempat kerja bisa terasa mudah bagi mereka.
Latarnya adalah sasaran Organisasi Kesehatan Dunia untuk menghapus hepatitis akibat virus hepatitis B dan C pada 2030. Para penulis mengutip perkiraan bahwa di seluruh dunia 89,7 persen infeksi hepatitis B dan 78,6 persen infeksi hepatitis C belum terdiagnosis. Di Jepang, angka kejadiannya menurun, tetapi jumlah orang yang terinfeksi pada 2015 diperkirakan 1,02 sampai 1,19 juta untuk hepatitis B dan 0,87 sampai 1,3 juta untuk hepatitis C.
Baca juga Penyakit Kerja Terduga Menumpuk di Tujuh Sektor Malaysia
Di sinilah kartu tadi masuk. Hasil tes memang diberikan kepada karyawan, tulis para penulis, tetapi mereka mungkin tidak menelaahnya dengan sungguh-sungguh atau tidak sepenuhnya mengenali status hepatitisnya. Akibatnya, sebagian orang dites lebih dari sekali. Penelitian yang mereka rujuk menunjukkan kira-kira 70 persen orang mungkin pernah dites berkali-kali, atau sekitar tujuh dari sepuluh.
Kesempatan untuk dites memang banyak. Di Jepang, tes hepatitis dilakukan sebagai bagian dari pemeriksaan kesehatan wajib, sebelum operasi, selama kehamilan untuk hepatitis B, dan saat penapisan donor darah untuk hepatitis C.
Para penulis memberi pembanding dari luar Jepang. Di New York City, biaya tes hepatitis C yang rangkap diperkirakan 1,4 miliar dolar tanpa memberi manfaat tambahan. Di Amerika Serikat, tes hepatitis B ulangan tidak dianjurkan kecuali bila risiko pribadi seseorang berubah. Kartu hasil negatif diterapkan di Jepang untuk membantu mengurangi beban tes yang berlebih itu.
Pernah Mendengar, Belum Tentu Paham Isinya
Para penulis memakai dua takaran pengetahuan. Yang pertama mereka sebut kesadaran akan kata, artinya sekadar pernah mendengar. Responden masuk golongan ini bila menjawab tahu dan paham isinya, atau pernah mendengar tetapi tidak tahu rinciannya. Yang kedua pengetahuan rinci, hanya untuk mereka yang menjawab tahu dan paham isinya.
Bedanya begini. Sebanyak 627 responden, atau 41,8 persen, pernah mendengar edaran. Untuk kartu hasil negatif, jumlahnya 570 orang atau 38 persen. Tetapi yang paham rincian edaran hanya 190 orang, 12,6 persen, dan yang paham rincian kartu 182 orang, 12,1 persen.
Siapa yang pernah mendengar? Kebanyakan staf personalia. Dari kelompok yang pernah mendengar edaran, 70,3 persen adalah staf personalia. Pada kelompok yang pernah mendengar kartu, porsinya 71,4 persen. Sebaliknya, kelompok yang belum pernah mendengar edaran sebagian besar diisi eksekutif, yakni 69,8 persen.
Ukuran perusahaan juga berbeda di kedua kelompok. Di antara yang pernah mendengar edaran, 28,4 persen bekerja di perusahaan dengan 1.000 karyawan atau lebih, sedangkan pada kelompok yang belum pernah mendengar hanya 9,6 persen. Perusahaan dengan karyawan di bawah sepuluh orang memperlihatkan gambaran terbalik: 11,5 persen pada kelompok pertama dan 41,6 persen pada kelompok kedua.
Jenis asuransi kesehatan ikut membedakan. Responden yang perusahaannya punya perkumpulan asuransi kesehatan sendiri mencapai 34,6 persen pada kelompok yang pernah mendengar edaran dan 15,5 persen pada kelompok yang belum. Peserta Japan Health Insurance Association, yang dikenal sebagai Kyokai-kempo, justru lebih banyak di kelompok yang belum pernah mendengar: 55,1 persen berbanding 34,8 persen.
Baca juga Perempuan Malaysia dan Jarak Menuju Skrining Payudara
Kesempatan Tes, Pemeriksaan yang Disediakan Perusahaan
Kesempatan tes dalam penelitian ini berarti perusahaan menyelenggarakan tes virus hepatitis B dan C bagi karyawannya dalam bentuk apa pun. Bentuknya beragam. Ada yang mengetes semua karyawan bersamaan dengan pemeriksaan kesehatan rutin, ada yang hanya kelompok usia tertentu seperti 40-an tahun ke atas, ada yang hanya bagi karyawan yang meminta, dan ada yang saat pemeriksaan kesehatan awal ketika diterima bekerja.
Angkanya terpaut jauh. Dari 627 responden yang pernah mendengar edaran, 522 orang atau 83,3 persen bekerja di perusahaan yang menyediakan tes hepatitis. Dari 873 responden yang belum pernah mendengar, hanya 244 orang atau 27,9 persen.
Setelah jabatan responden dan ukuran perusahaan ikut diperhitungkan, hubungan itu tetap kuat. Peluang menyediakan tes pada mereka yang pernah mendengar edaran 9,63 kali peluang mereka yang belum. Untuk kartu hasil negatif, angkanya 10,8 kali. Di antara responden yang pernah mendengar kartu, 490 orang menyediakan tes dan 80 tidak. Di antara yang belum pernah mendengar, 276 menyediakan dan 654 tidak.
Pengetahuan rinci memberi angka yang lebih besar lagi. Responden yang paham isi edaran berpeluang 26,6 kali lebih besar menyediakan kesempatan tes dibanding yang tidak paham rinciannya. Untuk yang paham isi kartu, peluangnya 24,4 kali. Para penulis menyebut hasil pemeriksaan tambahan ini sejalan dengan hasil utama mereka.
Arah hubungan itu tidak mereka kunci. Menyediakan kesempatan tes, tulis mereka, mungkin menaikkan pengenalan terhadap edaran dan kartu, dan begitu pula sebaliknya. Karena survei ini hanya memotret satu waktu, hubungan sebab-akibat di antara keduanya tidak dapat mereka tentukan.
Kuis Hepatitis, Tiga Soal Pengetahuan Dasar
Responden juga diberi kuis tiga soal. Soal pertama menanyakan apakah hepatitis virus bisa terdeteksi lewat pemeriksaan kesehatan rutin, dan jawaban benarnya hampir tidak pernah. Soal kedua tentang pengobatan hepatitis C: hampir semua, lebih dari 95 persen, bisa diobati dengan obat minum. Soal ketiga menanyakan peluang tertular bila makan dari satu panci besar bersama orang dengan hepatitis C. Jawabannya nol persen.
Di kelompok yang pernah mendengar edaran, 382 orang menjawab benar setidaknya satu soal dan 245 tidak satu pun. Di kelompok yang belum pernah mendengar, 402 benar setidaknya satu dan 471 tidak satu pun. Peluang menjawab benar setidaknya satu soal pada kelompok pertama 1,87 kali kelompok kedua. Untuk kartu hasil negatif, angkanya 1,45 kali.
Soal demi soal, hasilnya tidak seragam. Pada soal pengobatan hepatitis C, peluang menjawab benar 2,54 kali pada yang pernah mendengar edaran dan 2,33 kali pada yang pernah mendengar kartu. Soal panci bersama juga lebih sering dijawab benar oleh kedua kelompok itu. Soal pemeriksaan rutin berbeda: kelompok yang pernah mendengar kartu justru berpeluang lebih rendah menjawab benar, sedangkan untuk edaran hubungannya tidak bermakna.
Soal panci itu dimaksudkan menakar prasangka. Para penulis merujuk penelitian tahun 2011 yang menunjukkan sekitar 35 persen pekerja cemas tertular dari rekan kerja yang mengidap hepatitis. Menurut mereka, edaran dan kartu bisa membantu memperbaiki pengetahuan masyarakat dan mengurangi prasangka terhadap infeksi hepatitis B dan C, dengan menyebarkan informasi yang akurat dan mendorong tes.
Baca juga Kembali ke Kantor di Taipei, Nyeri Otot dan Cemas Pekerja Naik
Karyawan dengan Hepatitis, Rekan Kerja yang Sudah Diketahui
Ada satu pertanyaan lagi: apakah di perusahaan responden ada karyawan yang punya riwayat infeksi hepatitis B atau C, atau yang bekerja sambil menjalani pengobatan. Pada kelompok yang pernah mendengar edaran, 41,1 persen menjawab ada. Pada kelompok yang belum pernah mendengar, hanya 6,3 persen.
Maksudnya, responden yang tahu ada rekan kerja dengan hepatitis lebih mungkin pernah mendengar edaran, dengan peluang 6,42 kali dibanding responden di perusahaan tanpa karyawan semacam itu. Untuk kartu hasil negatif, peluangnya 4,9 kali. Para penulis menduga pemangku kepentingan di perusahaan seperti ini mungkin mengumpulkan informasi tentang hepatitis dan prasangka.
Mereka juga memasang pagar. Privasi pekerja harus dilindungi, dan karyawan semestinya berhak menolak membagikan hasil tesnya kepada pemberi kerja. Para penulis menyarankan pekerja didorong membawa kartu hasil negatif bersama buku catatan obat mereka. Membiasakan hal itu, tulis mereka, mungkin menurunkan hambatan psikologis untuk dites, sambil mendorong pekerja yang hasilnya positif mencari pengobatan.
Batas Temuan, Tahu Status Belum Berarti Berobat
“Hepatitis adalah penyakit yang menular lewat darah, dan mengetahui status penyakit sendiri tidak sama dengan menjalani pengobatan,” tulis Shoko Nakazawa dan rekan-rekannya dalam naskah yang aslinya berbahasa Inggris. Jalan dari tes di tempat kerja menuju diagnosis klinis dan pengobatan, menurut mereka, belum jelas.
Karena itu mereka menulis bahwa tempat kerja perlu menjalankan program tindak lanjut yang aktif, agar tes benar-benar berujung pada pengobatan dan pencegahan yang tepat. Sebagian pemerintah kota di Jepang, catat mereka, sudah mengikuti janji temu dan status pengobatan warganya.
Para penulis menyebut sendiri keterbatasan penelitiannya. Survei dilakukan daring, sehingga latar responden bisa bias dan temuannya sulit diberlakukan untuk semua perusahaan Jepang. Survei juga hanya memotret satu waktu, jadi tidak bisa menentukan sebab-akibat atau perubahan dari waktu ke waktu. Mungkin pula ada faktor lain yang tidak terukur.
Simpulan mereka berhenti pada hubungan. Eksekutif dan staf personalia yang pernah mendengar edaran atau kartu hasil negatif memberi karyawannya lebih banyak kesempatan tes hepatitis. Temuan itu, tulis mereka, dapat mendukung upaya mengenalkan edaran dan kartu tersebut kepada eksekutif dan staf personalia. Penelitian lanjutan tentang hambatan pemakaiannya di tempat kerja masih diperlukan.















