- Orang tua Palestina tahu cara menidurkan anak dengan sehat.
- Hanya 42,7 persen anak yang sering atau selalu punya rutinitas tetap menjelang tidur.
- Dari 394 anak dengan data yang sah, 240 anak atau 60,9 persen memenuhi anjuran 9 sampai 11 jam.
- Hampir separuh keluarga, 47,7 persen, melaporkan keadaan menekan yang baru terjadi dan memengaruhi tidur anak.
Daftar Isi
Orang tua Palestina tahu cara menidurkan anak dengan sehat. Skor pengetahuan mereka rata-rata 12,14 dari 15. Namun, pengetahuan itu tidak selalu sampai ke kamar tidur: skor kebiasaan sehari-hari mereka rata-rata 54,88 dari 75.
Temuan itu ditulis Malak Eleiwi, Aiman Daifallah, Lana Malhis, Dima Malhis, Ruba Omar, Noora Saayda, Enas Saayda, dan Haya Adel Jaradat dalam artikel Parental knowledge, attitudes, and practices regarding healthy sleep hygiene among children in Palestine. Artikel itu terbit di jurnal BMC Public Health tahun 2026. Kedelapan penulis berasal dari An-Najah National University di Nablus, Palestina.
Mereka menghimpun jawaban 459 orang tua dan pengasuh, terutama dari Tepi Barat. Hampir semuanya ibu, yakni 444 orang atau 96,7 persen, sehingga para penulis menyebut sampel ini terutama mewakili ibu. Usia anak yang mereka ceritakan rata-rata 7,30 tahun, dan usia orang tua rata-rata 34,83 tahun.
Yang Sudah Dipahami
Sebagian besar prinsip tidur sehat dijawab benar. Sebanyak 93,7 persen orang tua tahu kurang tidur bisa membuat anak lebih mudah marah dan sulit memusatkan perhatian pada siang hari. Persentase yang sama tahu kamar yang tenang dan gelap membantu anak tidur lebih baik.
Tidur siang yang panjang pada sore hari juga dipahami. Sebanyak 92,8 persen tahu kebiasaan itu bisa membuat anak lebih sulit terlelap pada malam hari. Lalu 91,1 persen tahu kantuk di sekolah bisa berasal dari kurang tidur malam.
Kebutuhan jam tidur pun dikenal. Sebanyak 87,8 persen menjawab benar bahwa kebanyakan anak usia sekolah perlu sekitar 9 sampai 11 jam tidur semalam. Soal layar, 77,3 persen tahu televisi atau ponsel sebelum tidur membuat anak lebih sulit terlelap.
Tiga Salah Paham
Tiga pernyataan paling sering dijawab keliru. Hanya 58,0 persen yang tahu jam tidur yang berubah-ubah tiap malam tetap menjadi masalah, walau jumlah tidurnya cukup. Hanya 59,9 persen yang tahu dengkuran keras pada anak bukan hal yang normal.
Pernyataan ketiga menyangkut lamanya anak terlelap. Hanya 59,3 persen yang tahu bahwa butuh lebih dari satu jam untuk tertidur setiap malam bukan hal yang normal. Para penulis menolak menganggap ketiganya salah paham yang sepele.
Alasannya mereka tulis ringkas. Jam tidur yang tidak teratur mengganggu kestabilan irama sirkadian. Dengkuran keras bisa menandakan gangguan napas saat tidur, dan lama terlelap yang berulang bisa menandakan masalah tidur yang terkait perilaku atau lingkungan.
Baca juga Layar Sebelum Usia Dua Tahun Terkait Skor Kembang Rendah
Kamar Terjaga, Rutinitas Longgar
Kebiasaan sehari-hari memberi gambar yang berbeda. Yang paling terjaga adalah keadaan kamar. Sebanyak 79,5 persen orang tua sering atau selalu menjaga suhu kamar cocok untuk tidur, dan 74,9 persen menjaga kamar gelap atau redup.
Jam bangun juga cukup teratur. Sebanyak 73,4 persen anak sering atau selalu bangun pada jam yang kurang lebih sama di hari sekolah. Untuk jam tidur yang kurang lebih sama pada malam sekolah, angkanya 58,8 persen. Tidur siang panjang menjelang sore sering atau selalu dihindari 68,6 persen anak.
Titik terlemah ada pada rutinitas sebelum tidur. Hanya 42,7 persen anak yang sering atau selalu punya rutinitas tetap menjelang tidur. Sebanyak 13,7 persen orang tua menjawab tidak pernah, dan 14,6 persen menjawab jarang.
Urusan makan menyusul di belakangnya. Hanya 47,3 persen anak yang sering atau selalu tidak menyantap makanan berat tepat sebelum tidur. Teh atau minuman bersoda pada malam hari sering atau selalu dihindari 59,9 persen anak.
Para penulis menarik satu garis dari angka-angka itu. Menurut mereka, celah utama dalam penerapan terletak pada rutinitas perilaku, bukan pada keadaan lingkungan kamar. Hasil kebiasaan ini mereka sebut lebih mengkhawatirkan.
Layar Sebelum Tidur
Layar mendapat sorotan tersendiri. Hanya 50,3 persen anak yang sering atau selalu tidak memakai ponsel atau televisi dalam satu jam sebelum tidur. Artinya, tulis para penulis, hanya separuh orang tua yang konsisten membatasinya.
Di tempat tidur, angkanya lebih tinggi. Sebanyak 62,5 persen anak sering atau selalu tidak memakai layar di kasur sampai terlelap. Ketika anak tidak bisa tidur, 64,9 persen orang tua sering atau selalu tidak mengizinkan televisi atau ponsel.
Orang tua sendiri mengakui kesulitannya. Sebanyak 46,0 persen setuju bahwa pemakaian layar anak pada malam hari sulit dikendalikan. Para penulis menyebut kebiasaan ini bisa diubah dan perlu dibahas tuntas bersama orang tua.
Jam Tidur Anak
Lama tidur anak ikut dicatat dari jam tidur dan jam bangun yang dilaporkan orang tua. Pada malam sekolah rata-ratanya 9,27 jam. Pada akhir pekan rata-ratanya 10,37 jam.
Dari 394 anak dengan data yang sah, 240 anak atau 60,9 persen memenuhi anjuran 9 sampai 11 jam. Para penulis membacanya dari sisi sebaliknya: hampir dua dari lima anak tidur lebih sedikit pada malam sekolah. Mereka menyebutnya persoalan serius.
Lama tidur itu berkaitan dengan kebiasaan orang tua. Makin baik skor kebiasaan, makin panjang tidur anak pada malam sekolah. Kaitan antara skor pengetahuan dan skor kebiasaan lemah, walau bermakna secara statistik.
Bagi para penulis, lemahnya kaitan yang kedua itu lebih dari sekadar angka statistik. Mereka menyebutnya mungkin temuan yang paling penting secara klinis dari seluruh kajian. Tahu tentang tidur sehat, menurut mereka, tidak sama dengan mampu menjalankannya.
Baca juga Ibu Anak Tidak Stunting di Bandung Justru Lebih Lelah Mengasuh
Rumah yang Tertekan
Hampir separuh keluarga, 47,7 persen, melaporkan keadaan menekan yang baru terjadi dan memengaruhi tidur anak. Yang paling sering disebut adalah pertengkaran antara orang tua, paparan konflik bersenjata dan serbuan, penyakit, serta tekanan ujian sekolah.
Jejaknya tampak pada skor kebiasaan. Keluarga yang melaporkan tekanan punya nilai tengah 55, sedangkan yang tidak melaporkannya 58. Setelah faktor lain diperhitungkan, tekanan keluarga tetap terkait dengan skor kebiasaan yang lebih rendah.
Kesulitan tidur anak juga dicatat. Sebanyak 11,8 persen orang tua melaporkan anaknya sulit tidur karena takut, menangis, atau cemas. Sebanyak 15,5 persen lain menyebut hal itu kadang-kadang terjadi, sedangkan 62,5 persen melaporkan anaknya tidak terbangun pada malam hari selama dua pekan terakhir.
Tempat tidur anak jarang sepi. Sebanyak 57,5 persen anak tidur sekamar dengan saudaranya, dan 12,9 persen tidur di ranjang orang tua. Yang tidur di kamar sendiri 23,5 persen, sementara 61,2 persen berbagi ruangan dengan dua orang atau lebih.
Orang tua membaca keadaan itu dengan cara serupa. Sebanyak 66,2 persen setuju bahwa keadaan keluarga membuat jam tidur yang tetap sulit dijaga. Padahal, 98,9 persen setuju tidur sama pentingnya dengan gizi dan pendidikan anak.
Ijazah dan Penghasilan
Pendidikan orang tua berjalan seiring dengan pengetahuan. Orang tua berpendidikan dasar atau lebih rendah punya nilai tengah pengetahuan 9. Pada lulusan sarjana dan pascasarjana, nilai tengahnya 13.
Penghasilan berjalan seiring dengan kebiasaan. Keluarga berpenghasilan rendah, di bawah 2.000 shekel sebulan, punya nilai tengah kebiasaan 52. Keluarga berpenghasilan menengah, yang mencakup 63,0 persen peserta, mencatat nilai tengah 58.
Penghasilan rendah juga terkait dengan skor pengetahuan yang lebih rendah. Sebaliknya, orang tua yang pernah menerima informasi tentang tidur punya skor pengetahuan dan kebiasaan yang lebih tinggi. Skor kebiasaan juga lebih tinggi pada keluarga di desa atau kamp dibandingkan di kota kecil, dan lebih rendah pada orang tua yang lebih tua.
Dokter menjadi sumber informasi yang paling banyak dipercaya. Jejaring keluarga dan internet juga mendapat kepercayaan yang relatif tinggi. Karena itu, para penulis menilai dokter anak, dokter keluarga, layanan kesehatan sekolah, dan program pendidikan masyarakat sebagai saluran yang praktis.
Bukan Sekadar Kurang Tahu
Simpulan para penulis bertumpu pada jarak antara tahu dan menjalankan. “Kesenjangan ini tampaknya tidak terutama didorong oleh kekurangan informasi, melainkan oleh kendala struktural dan kontekstual —tekanan ekonomi, kepadatan rumah, dan tekanan psikososial— yang membentuk banyak lingkungan keluarga Palestina,” tulis Malak Eleiwi dan tujuh rekannya dari An-Najah National University dalam naskah yang aslinya berbahasa Inggris.
Dari sana lahir saran mereka. Perbaikan tidur anak, menurut mereka, membutuhkan lebih dari kampanye penyadaran. Yang diperlukan adalah panduan praktis yang disesuaikan dengan budaya dan cocok dengan keadaan rumah yang padat atau sedang tertekan.
Pendidikan tentang tidur bagi orang tua tetap mereka anggap berguna. Sasarannya terutama keluarga berpenghasilan rendah dan keluarga yang baru mengalami tekanan. Konten digital berbahasa Arab yang sederhana dan praktis juga mereka sarankan.
Baca juga Tekanan Akademik Halangi Gaya Hidup Sehat Remaja Karnataka
Kajian ini punya batas yang diakui penulisnya. Pesertanya dijaring dari orang yang mudah dijangkau, sehingga ibu, orang tua berpendidikan lebih tinggi, dan keluarga yang punya akses internet bisa terwakili berlebihan. Hasilnya terutama mencerminkan sudut pandang ibu dan tidak bisa diberlakukan untuk ayah.
Semua data berasal dari laporan orang tua. Lama tidur dihitung dari jam tidur dan jam bangun yang mereka tuliskan, tanpa alat ukur objektif. Kajian ini juga memotret satu waktu saja, sehingga tidak bisa menetapkan sebab dan akibat.
Kesehatan jiwa orang tua tidak diukur. Para penulis menduga penghasilan rendah dan tekanan menahun bisa mengganggu kesejahteraan batin orang tua, lalu mengurangi kemampuan mereka menjaga rutinitas tidur anak. Dugaan itu mereka serahkan kepada kajian berikutnya.
Orang tua Palestina dalam kajian ini tahu apa yang membuat anak tidur nyenyak. Yang belum selalu ada, menurut para penulis, adalah keadaan rumah yang memungkinkan pengetahuan itu dijalankan setiap hari.















