- Emergency Lawyers mencatat lebih dari 100 orang tewas dan 113 terluka akibat serangan drone di Nyala.
- Saksi menyebut drone menghantam pasar yang ramai dikunjungi petempur RSF sekitar pukul 20.00.
- MSF menyebut rumah sakit yang didukungnya menerima 36 jenazah, 21 di antaranya berpakaian sipil.
- PBB menyebut serangan drone menjadi penyebab utama kematian warga sipil di Sudan.
Cekricek.id — Serangan drone militer di sebuah pasar ramai di Nyala, Darfur, Sudan barat daya, pada Senin menewaskan lebih dari 100 orang, sebagian besar perempuan dan anak-anak, menurut kelompok hak asasi Emergency Lawyers.
Kelompok yang memantau kekerasan itu mencatat lebih dari 100 korban tewas dan 113 orang terluka, sebagaimana diberitakan Al Jazeera, Kamis (29/10/2026). Nyala, kota di Darfur Selatan, merupakan ibu kota de facto pasukan paramiliter Rapid Support Forces (RSF), yang berperang melawan militer Sudan sejak lebih dari tiga tahun lalu.
Seorang pedagang rokok mengatakan kepada kantor berita AP bahwa ratusan petempur RSF berkumpul di pasar itu pada malam serangan. Menurut dia, sebuah drone menghantam sekitar pukul 20.00 dan menewaskan puluhan petempur serta perempuan penjual makanan. Saksi lain memperkirakan sekitar 14 warga sipil, termasuk perempuan dan anak-anak, ikut tewas.
Pekerja kemanusiaan di Darfur Mubarak Bekheit mengatakan banyak orang masih hilang dan sebagian jenazah belum dievakuasi dari rumah-rumah di sekitar lokasi. “Saya pribadi tahu bahwa perang tidak punya moral, tetapi kenyataan yang kami saksikan setiap hari adalah warga sipil yang membayar harga paling mahal,” ujarnya.
“Mereka kehilangan nyawa, orang-orang tercinta, dan rumah mereka, sembari hidup dalam ketakutan terus-menerus akan pengeboman berikutnya,” kata Bekheit.
Juru bicara resmi Pasukan Operasi Khusus yang berperang bersama militer, Mohamed Didan, menulis di Facebook bahwa lebih dari “150 rekrutan milisi” tewas di kamp Dumaya, sebelah barat Nyala, dalam apa yang ia sebut “serangan udara yang presisi dan terarah”. Jumlah korban belum dapat diverifikasi secara independen, dan Sudan Doctors Network melaporkan secara awal 21 orang tewas.
Dokter Lintas Batas (MSF) menyebut serangan kedua menghantam permukiman warga setelah serangan di pasar. Rumah sakit yang didukung MSF di Nyala menerima 36 jenazah, 21 di antaranya berpakaian sipil, dan timnya menangani lebih dari 150 korban luka. “Pasar, rumah, dan infrastruktur sipil utama bukan sasaran,” bunyi pernyataan MSF.
PBB menyebut serangan drone kini menjadi penyebab utama kematian warga sipil dalam perang Sudan, yang telah mendorong sebagian wilayah negara itu ke jurang kelaparan. Di Nyala, proporsi anak yang dirawat karena gizi buruk akut berat naik dari 5 persen menjadi 11 persen antara Januari dan Agustus.














