Cekricek.id — Angkatan bersenjata Sudan menemukan sedikitnya 25 jenazah dalam sebuah kuburan massal di Kota Kurmuk, Negara Bagian Nil Biru, di tenggara negara itu. Pejabat setempat menuding pasukan paramiliter Rapid Support Forces (RSF) sebagai pelaku pembunuhan tersebut.
Dikutip dari Al Jazeera, Selasa (11/8/2026), kuburan itu ditemukan sebulan setelah tentara Sudan merebut kembali kawasan tersebut lewat pertempuran berminggu-minggu. Komisaris Kurmuk, Abdel Aty Mohamed al-Faki, mengumumkan penemuan itu pada Minggu (9/8/2026) sebagaimana dilaporkan The Sudan Tribune, dan menyebut liang itu ditemukan saat pasukan menyisir bagian timur laut kota.
Jenazah yang tertimbun di dalamnya mencakup anak-anak, perempuan, dan tenaga rumah sakit. Al-Faki menyatakan para korban dieksekusi di dekat Jebel Fankat, posisi di puncak bukit yang dipakai RSF untuk melancarkan serangan drone selama menggempur kawasan itu. Tidak ada tanggapan dari RSF atas tuduhan tersebut.
Temuan yang Disebut Mengganggu
Wartawan Al Jazeera Almigdad al-Ruhaid, yang melaporkan dari Khartoum, menyebut temuan di Kurmuk itu “penting sekaligus mengganggu”.
“Otoritas setempat menuduh Rapid Support Forces mengeksekusi mereka selama pendudukannya atas Kota Kurmuk,” kata al-Ruhaid. Ia menambahkan temuan itu muncul ketika serangan RSF di Negara Bagian Nil Biru justru masih berlangsung.
“Di Kota Kurmuk, Rapid Support Forces melancarkan serangan drone berbahan peledak untuk hari kedua berturut-turut,” ujarnya. Karena itu, meski peta penguasaan wilayah antara kedua belah pihak berubah-ubah, pertempuran tetap berjalan dan terus menimbulkan pengungsian besar-besaran.
Pertempuran sengit juga berlanjut di Darfur Barat, wilayah yang menjadi basis utama RSF. Menurut al-Ruhaid, tentara Sudan disebut berhasil memukul mundur serangan pasukan paramiliter itu di Bir Saliba, sekitar 40 kilometer dari Kota el-Geneina.
Pola Tuduhan yang Berulang
RSF sudah bertempur melawan tentara Sudan sejak April 2023. Sepanjang perang itu, kelompok tersebut berulang kali dituding melakukan pembunuhan massal, antara lain di ibu kota Khartoum, di Kota el-Fasher, dan di Negara Bagian Gezeira di wilayah tengah.
Penemuan kuburan massal umumnya baru terjadi setelah sebuah wilayah berpindah tangan, ketika pasukan yang masuk mulai menyisir permukiman yang ditinggalkan. Karena itu pula gambaran soal apa yang terjadi selama pendudukan hampir selalu datang terlambat, ketika para saksi sudah tersebar sebagai pengungsi dan jasad korban sudah lama terkubur. Pola korban sipil dari kalangan anak-anak dan perempuan sudah tercatat sejak tahun-tahun awal konflik ini.
Perang yang Menggusur 14 Juta Orang
Organisasi Kesehatan Dunia memperkirakan konflik Sudan telah menewaskan sekitar 40.000 orang dan memaksa lebih dari 14 juta penduduk meninggalkan rumah mereka. Angka itu menempatkan Sudan sebagai salah satu krisis pengungsian terbesar yang sedang berlangsung di dunia, meski perhatian internasional terhadapnya jauh lebih kecil dibanding konflik lain.
Di sisi politik, panglima militer Sudan Abdel Fattah al-Burhan sedang menjajaki jalan keluar lewat pembicaraan tertutup. Ia menggelar pertemuan yang tidak diumumkan sebelumnya untuk merintis dialog nasional, sementara di lapangan drone RSF masih beterbangan di atas Nil Biru dan pertempuran berlanjut di Darfur.
Jarak antara meja perundingan dan medan tempur itulah yang membuat temuan seperti di Kurmuk terus berulang. Selama garis depan bergeser tanpa kesepakatan yang mengikat kedua pihak, setiap kota yang berpindah tangan berpotensi menyimpan catatan serupa yang baru terbuka setelah pasukan lawan pergi.
Baca juga: Milisi ADF Terafiliasi ISIS Serang Desa di Kongo, 13 Warga Tewas




















