Ancaman Spionase Jadi Dalih Iran Tekan Kelompok Pembangkang

A A

Dok. Kendaraan melintas di dekat instalasi kupu-kupu yang membentuk bendera Iran di Teheran, 21 Oktober 2026. [Foto: Atta Kenare/AFP via Al Jazeera]

  • Analis menilai Iran menghadapi ancaman spionase nyata sekaligus memakainya untuk menekan pembangkang.
  • Mantan Kepala Mossad David Barnea mengaku memasukkan puluhan agen ke Iran sebelum perang Juni 2025.
  • Juru bicara kehakiman Iran menyebut sedikitnya 1.895 orang terjerat perkara kerja sama dengan Israel.
  • Iran Human Rights mencatat sedikitnya 604 eksekusi hingga awal Oktober 2026.

Cekricek.id — Iran menghadapi ancaman spionase nyata setelah dua perang yang dilancarkan Amerika Serikat dan Israel, tetapi juga memakai ancaman itu untuk menekan perbedaan pendapat, menurut sejumlah analis.

Profesor madya ilmu politik University of Tennessee at Chattanooga Saeid Golkar menyebut ancaman itu tergambar dari tewasnya tokoh-tokoh tingkat tinggi, termasuk mantan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei, pada hari pertama serangan Israel dan AS pada 28 Februari, sebagaimana diberitakan Al Jazeera, Rabu (28/10/2026).

“Pada saat yang sama, rezim secara historis menggunakan ancaman keamanan yang nyata atau, kebanyakan, yang dipersepsikan untuk membenarkan represi politik dan memperluas aparat koersifnya,” kata Golkar. “Penindakan saat ini tampaknya mencerminkan kekhawatiran kontraintelijen yang sah sekaligus upaya rezim menekan perbedaan pendapat dan mengintimidasi masyarakat.”

Mantan Kepala Mossad David Barnea baru-baru ini mengaku telah menyetujui masuknya puluhan agen ke Iran beberapa pekan sebelum perang 12 hari pada Juni 2025. “Saya tidak bisa mengatakan mereka ada di sini bersama kami. Tetapi mereka ada di Teheran, menjalani hidup mereka,” katanya dalam sebuah konferensi di Israel pada 22 Oktober.

Peneliti senior Center for International Policy Negar Mortazavi menilai ancaman spionase terhadap Iran sangat nyata. “Tetapi ada perbedaan mendasar antara spionase dan perbedaan pendapat,” ujarnya. “Mengkritik pemerintah, melaporkan kegagalannya, berhubungan dengan media asing, atau menantang narasi resmi pada dasarnya bukan spionase.”

Juru bicara kehakiman Iran Ali Kazemi menyebut sedikitnya 1.895 orang, termasuk 94 pekerja media, tengah menghadapi perkara aktif atas tuduhan bekerja sama dengan Israel atau negara musuh lain. Polisi mengumumkan sedikitnya 21.000 penangkapan setelah perang Juni 2025, sementara sedikitnya 50.000 orang ditahan terkait protes nasional Januari 2026.

Iran Human Rights, lembaga nirlaba berbasis di Oslo, mencatat 16 terdakwa spionase dieksekusi antara Januari dan September 2026, bersama 33 pengunjuk rasa, dengan total sedikitnya 604 eksekusi hingga awal Oktober.

Bagikan

Baca Juga

Penutupan Hebron Masuki Hari Keenam, UNRWA Peringatkan Pengusiran
Pengadilan Rumania Perpanjang Penahanan Calin Georgescu 30 Hari
Pakar PBB Kecam Kekerasan Aparat Prancis terhadap Demo Pelajar
The Fed Tahan Suku Bunga Jelang Pemilu Sela AS Meski Inflasi Naik
Stunting di Kampung Tambang Zambia Lebih Tinggi Tanpa Akses Pasar
Kremlin: Eropa Tak Ikut Perundingan Ukraina di Abu Dhabi