- Dengan lebih dari 84 persen suara dihitung, blok Netanyahu diproyeksikan meraih 54 kursi dan aliansi Eisenkot 49 kursi.
- Likud diperkirakan meraih 27 kursi, unggul atas 21 kursi Partai Yashar.
- Netanyahu menegaskan tidak dapat mengandalkan koalisi dengan partai Arab.
- Analis Marwan Bishara menyebut perolehan Likud terendah sejak 2009.
Cekricek.id — Partai Likud pimpinan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu diproyeksikan menjadi partai terbesar dalam pemilu Israel, sementara Netanyahu menegaskan pemerintahan sayap kanan harus dibentuk dan tidak dapat bergantung pada koalisi dengan partai Arab “yang menentang keberadaan kami”.
Dengan lebih dari 84 persen suara dihitung, The Times of Israel memproyeksikan blok Netanyahu meraih 54 kursi dan aliansi Gadi Eisenkot 49 kursi, sebagaimana diberitakan Al Jazeera, Rabu (28/10/2026). Tidak satu pun tampaknya memiliki jalan jelas menuju mayoritas 61 kursi di Knesset.
Menurut proyeksi Channel 12 dan 13, Likud meraih sekitar 27 kursi, unggul atas 21 kursi Partai Yashar pimpinan Eisenkot. Proyeksi ini berbeda dari hasil exit poll awal yang menunjukkan kedua blok imbang. Netanyahu menyebut “hasil sesungguhnya” baru akan diketahui satu atau dua hari lagi.
Di markas Likud di Yerusalem Barat, Netanyahu memaparkan capaiannya. “Kami membuat keajaiban yang mengubah wajah Timur Tengah. Kami melenyapkan Deif, Haniyeh, Sinwar, Nasrallah, Khamenei,” katanya. “Iran lebih lemah dari sebelumnya; Israel lebih kuat dari sebelumnya.”
Ia juga menyebut Israel memiliki “kesempatan bersejarah” bersama Presiden AS Donald Trump “untuk menyingkirkan ancaman eksistensial Iran untuk selamanya”.
Analis politik senior Al Jazeera Marwan Bishara menilai Netanyahu berusaha tampil percaya diri. “Jelas ia mencoba memproyeksikan kesuksesan yang tidak layak ia dapatkan. Pertama, karena ia tidak bisa membentuk koalisi, dan kedua, gagasan bahwa ia partai terbesar di Israel menutupi fakta bahwa ini perolehan terendah Likud sejak 2009,” katanya.
Mantan Duta Besar Israel Alon Pinkas mengatakan partai peraih kursi terbanyak mungkin harus menempuh kesepakatan koalisi yang tidak nyaman untuk bisa memerintah. Pemilu ini mencatat partisipasi pemilih tertinggi sejak 1999.















