- Sepanjang 2008 sampai 2021 tercatat 5.942 kasus tifus semak di Ganzhou, dan 65,1 persen pasiennya perempuan.
- Petani mencatat 5.537 kasus, jauh di atas pensiunan dengan 112 kasus dan pelajar dengan 111 kasus.
- Hari puncak penyakit jatuh pada 7 Agustus, dengan masa wabah dari 13 Juni sampai 2 Oktober.
- Bagian selatan Ganzhou mencatat angka yang nyata lebih tinggi daripada bagian utara.
- Kasus diperoleh secara pasif sehingga tingkat kejadian tifus semak mungkin ditaksir terlalu rendah.
Daftar Isi
- Penyakit dari Gigitan Larva Tungau yang Kasusnya Terus Menanjak di China
- Petani, Perempuan, dan Usia Lima Puluhan Menjadi Wajah Kasus di Ganzhou
- Musim Sakit yang Dibuka pada Pertengahan Juni dan Baru Mereda Awal Oktober
- Dari Barat Kota, Penyakit Itu Merambat lalu Mengendap di Belahan Selatan
- Puncak pada 2018, Turun Saat Pandemi, dan Ramalan yang Menebak Musim dengan Benar
Tujuh Agustus. Pada tanggal itulah, menurut hitungan para peneliti, tifus semak mencapai hari puncaknya di Ganzhou City, kota di selatan Provinsi Jiangxi, China. Ladang sedang ramai, udara hangat, dan larva tungau pembawa penyakit menunggu di semak dan rumput. Yang paling sering digigit bukan sembarang orang: petani, dan di antara mereka terutama perempuan berusia 51 sampai 60 tahun.
Gambaran itu disusun Kailun Pan, Renfa Huang, Hua Xue, Qingfeng Cai, Xiao Chen, dan Fen Lin dalam artikel Time trend prediction and spatial–temporal aggregation analysis of scrub typhus in Ganzhou City, China, during 2008–2021. Artikel tersebut terbit di BMC Public Health tahun 2026. Para penulisnya berasal dari Gannan Medical University dan Ganzhou Center for Disease Control and Prevention, keduanya di Ganzhou.
Bahan mereka adalah seluruh kasus tifus semak yang dilaporkan di kota itu sepanjang 2008 sampai 2021, yang didiagnosis secara klinis atau dipastikan laboratorium. Jumlahnya 5.942 kasus. Dari tumpukan laporan itu muncul tiga jawaban sekaligus: siapa yang sakit, kapan mereka sakit, dan di bagian kota mana penyakit itu berkumpul.
Penyakit dari Gigitan Larva Tungau yang Kasusnya Terus Menanjak di China
Tifus semak, tulis Pan dan rekan-rekannya, adalah penyakit demam akut yang disebabkan Orientia tsutsugamushi. Hewan pengerat menjadi sumber infeksinya. Penularan terjadi lewat gigitan larva tungau. Gejala utamanya demam, keropeng, dan pembengkakan kelenjar getah bening.
Penyakit ini tidak ringan. Pasien yang tidak segera diobati berisiko mengalami komplikasi seperti radang otot jantung dan radang selaput otak, bahkan kematian. Menurut rujukan yang dikutip para penulis, angka kematian pada pasien yang tidak diobati berkisar 0 sampai 70 persen dengan nilai tengah 6 persen. Dengan pengobatan pun angkanya masih bisa mencapai 1,4 persen.
Di China, kejadiannya menanjak tajam. Para penulis mencatat angka tahunan naik dari 0,09 per 100.000 penduduk pada 2006 menjadi 2,37 per 100.000 pada 2023. Ganzhou sendiri baru melaporkan kasus pertamanya pada 2006. Sesudah itu kota tersebut muncul sebagai daerah dengan kejadian tifus semak tertinggi di Provinsi Jiangxi. Ganzhou berada di wilayah perbukitan dan pegunungan subtropis dengan iklim muson yang lembap. Hujan turun terpusat pada musim semi dan musim panas, dan secara keseluruhan curahnya berlimpah.
Baca juga Risiko Relatif dan Jebakan Dua Kali Lipat Demam Skarlet
Petani, Perempuan, dan Usia Lima Puluhan Menjadi Wajah Kasus di Ganzhou
Dari 5.942 kasus, 3.868 dialami perempuan dan 2.074 dialami laki-laki. Artinya 65,1 persen pasien adalah perempuan. Para peneliti merumuskannya sebagai perbandingan laki-laki dan perempuan 1 banding 1,86. Pada 2008, tahun pertama yang dianalisis, tercatat 10 kasus laki-laki dan 14 kasus perempuan.
Semua kelompok umur bisa terkena. Namun kasus paling banyak menumpuk pada usia 51 sampai 60 tahun, yang menyumbang 30,06 persen dari seluruh kasus. Pekerjaan memberi garis yang lebih tegas lagi. Petani mencatat 5.537 kasus, jauh di atas pensiunan dengan 112 kasus dan pelajar dengan 111 kasus.
Mengapa petani? Mereka bekerja di lapangan, tulis para peneliti, sehingga lebih mungkin bertemu hewan pengerat dan tungau yang hidup di rerumputan liar dibanding kelompok pekerjaan lain. Orang yang bertani juga kerap tidak memakai pelindung yang layak. Pemahaman mereka tentang pentingnya perlindungan lemah.
Mengapa perempuan berusia lima puluhan? Jawaban para penulis ada pada siapa yang kini tinggal di ladang. Jumlah anak muda yang bertani turun tajam, sehingga orang paruh baya dan lanjut usia mengambil alih sebagian besar pekerjaan pertanian. Laki-laki usia kerja sering bekerja di luar sektor pertanian. Yang tertinggal memikul beban tambahan itu adalah orang tua dan perempuan.
Kesimpulan mereka lugas. “Temuan ini mengungkap tingginya kejadian tifus semak pada perempuan berusia 51 sampai 60 tahun yang bekerja di bidang pertanian di Ganzhou City,” tulis Pan dan rekan-rekannya dalam naskah yang aslinya berbahasa Inggris. Untuk pensiunan, mereka menduga waktu luang yang lebih banyak untuk bepergian atau berjalan-jalan di taman memperbesar peluang bersentuhan dengan penyakit ini.
Musim Sakit yang Dibuka pada Pertengahan Juni dan Baru Mereda Awal Oktober
Kasus dilaporkan setiap tahun tanpa putus sepanjang empat belas tahun itu, dan bulan Juni sampai Oktober selalu relatif tinggi. Hitungan para peneliti menaruh hari puncak pada 7 Agustus. Masa wabahnya membentang dari 13 Juni sampai 2 Oktober.
Seberapa kuat pola musim itu, mereka menakarnya dengan satu angka bernama nilai M. Angka 1 berarti seluruh kasus jatuh pada satu bulan, angka 0 berarti kasus tersebar rata sepanjang dua belas bulan. Untuk Ganzhou nilainya 0,634, masuk rentang yang mereka sebut musiman kuat. Pada setiap tahun, nilainya selalu di atas 0,5.
Di dalam musim itu ada dua gelombang. Puncak pertama datang pada Juni dan Juli, puncak kedua pada September dan Oktober. Para penulis mengaitkannya dengan tungau L. deliense, pembawa utama penyakit di wilayah selatan, yang dapat berkembang biak dua generasi dalam setahun, tepat pada dua rentang bulan tersebut. Hewan inangnya yang dominan di sana adalah R. losea.
Para peneliti juga menunjuk kalender kerja petani. Juni sampai Oktober adalah musim sibuk pertanian setempat, saat petani bekerja di ladang dan lebih sering bersentuhan dengan tungau. Iklim hangat dan penyinaran matahari yang panjang pada musim yang sama, tulis mereka, menciptakan kondisi terbaik bagi tumbuh kembang tungau.
Baca juga Suhu Panas Ikut Mendorong Naiknya Kasus Flu di China
Dari Barat Kota, Penyakit Itu Merambat lalu Mengendap di Belahan Selatan
Peta memperlihatkan arah yang jelas. Rata-rata kejadian tahunan naik perlahan dari utara ke selatan Ganzhou. Dari tahun ke tahun, bagian selatan kota mencatat angka yang nyata lebih tinggi daripada bagian utara. Pada arah timur ke barat, polanya menyerupai huruf U terbalik yang landai.
Para peneliti juga merunut perjalanannya. Daerah terdampak mula-mula berpusat di Hengshui dan Guobu di barat Ganzhou. Kemudian ia meluas ke Zhengping dan Xiaohe di barat daya. Sesudah itu giliran Sanbiao dan Chengjiang di tenggara, serta Nanheng, Wudang, dan Jiehu di barat daya.
Analisis sebaran menguatkan gambaran itu. Kecuali pada 2008 sampai 2012, kasus setiap tahun terbukti mengumpul di wilayah tertentu, paling kuat pada 2020 dan paling lemah pada 2018. Antara 2013 dan 2021 tercatat 132 titik rawan, yakni wilayah berangka tinggi yang dikelilingi wilayah berangka tinggi pula. Sebagian besar ada di tenggara dan barat daya.
Nama-namanya disebut. Titik rawan itu berada di bagian utara Xunwu County, termasuk Sanshou dan Chengjiang, di bagian tengah Anyuan County yang mencakup Fengshan dan Zhengang, serta di bagian selatan Longnan seperti Nanheng dan Wudang. Kawasan pengelompokan terbesar berpusat di Egong dan meliputi 53 wilayah setingkat kecamatan dan kelurahan selama 2015 sampai 2021.
Penjelasan para penulis kembali ke tanah dan tanaman. Iklim yang hangat, lembap, dan kaya hujan menumbuhkan vegetasi lebat, lingkungan ideal bagi tungau dan bagi hewan pengerat untuk berbiak. Selain itu, jeruk navel ditanam dalam jumlah besar di kawasan tersebut. Petani pun lebih berisiko bertemu tungau saat menanam dan memanen.
Puncak pada 2018, Turun Saat Pandemi, dan Ramalan yang Menebak Musim dengan Benar
Sepanjang empat belas tahun, jumlah kasus mula-mula naik lalu menurun. Tahun 2018 mencatat angka tahunan tertinggi, dengan 331 kasus laki-laki dan 514 kasus perempuan. Para penulis menautkannya dengan suhu. Mengutip World Meteorological Organization, mereka menyebut 2015 sampai 2018 sebagai rentang empat tahun terpanas sejak pencatatan suhu dimulai, dan suhu tinggi memudahkan tifus semak terjadi.
Lalu pandemi COVID-19 datang. Kasus tifus semak di Ganzhou menurun, tetapi tetap bertahan pada tingkat yang tinggi. Menurut para peneliti, pembatasan ketat atas pergerakan penduduk mungkin mengurangi jumlah orang yang terinfeksi. Hanya saja pembatasan itu terutama menyasar kegiatan sosial. Petani tetap pergi ke ladang dan hutan, dan di sana larva tungau tetap menunggu.
Baca juga Suhu Ekstrem dan PM2.5 Naikkan Kematian di Tiongkok
Bisakah musim sakit berikutnya ditebak? Para peneliti menguji tiga model peramal untuk menebak jumlah kasus bulanan sepanjang 2019. Model bernama SARIMA, yang dirancang untuk data berpola musiman, memberi galat terkecil, yakni rata-rata galat mutlak 10,590. Model gabungan mencatat 13,776 dan model jaringan saraf 22,251. Ketiganya sama-sama menaruh kasus terbanyak pada Juni sampai Oktober, sesuai kenyataan.
Kelemahan dua model lain, menurut para penulis, mungkin berkaitan dengan sedikitnya data dan variabel yang tersedia untuk dipelajari. Mereka juga mencatat batas penelitiannya sendiri. “Kasus diperoleh secara pasif, yang mungkin membuat tingkat kejadian tifus semak ditaksir terlalu rendah,” tulis Pan dan rekan-rekannya. Kemauan warga berobat, mutu diagnosis, dan kesadaran melapor bisa memengaruhinya.
Batas lain menyangkut ramalan itu. Kondisi lingkungan alam dan indeks vegetasi turut memengaruhi munculnya tifus semak, tetapi tidak dimasukkan ke dalam model. Data yang dipakai pun hanya angka kasus yang dilaporkan, yang mungkin tidak sepenuhnya mewakili keadaan sebenarnya. Karena itu, tulis mereka, data tentang faktor-faktor yang mungkin berpengaruh perlu dikumpulkan dan dimasukkan ke dalam model agar ramalannya lebih tepat.
Para peneliti menutup naskahnya dengan dua pesan. Bagian selatan Ganzhou, tempat kejadian tertinggi, memerlukan pencegahan dan pengendalian yang diperkuat. Model SARIMA yang mereka bangun dapat dipakai untuk prakiraan dan peringatan dini. Tanggalnya sudah mereka tandai: musim itu dibuka 13 Juni, memuncak 7 Agustus, dan berakhir 2 Oktober.














