- Para pengasuh di Korail sudah tahu dan sudah mau menjaga kebersihan makanan anak, tetapi sarananya kurang.
- Dari 32 rumah yang diamati, delapan memanaskan ulang makanan dan lima di antaranya hanya menghangatkannya.
- Tabel ringkasan para peneliti mencatat 71 persen makanan simpanan tercemar.
- Pengasuh menilai aman dari isyarat indra seperti tampak bersih, bukan dari risiko kuman yang tidak terlihat.
- Kajian ini berlangsung di satu permukiman di Dhaka sehingga temuannya belum tentu berlaku di tempat lain.
Daftar Isi
- Kapabilitas Psikologis, atau Tahu Apa yang Seharusnya
- Peluang Fisik, atau Gas, Dapur, dan Keran Bersama
- Motivasi Reflektif, atau Niat Menjaga Anak Tetap Sehat
- Motivasi Otomatis, atau Kebiasaan dan Ukuran Mata
- Patogen, atau Kuman yang Terukur di Makanan
- Intervensi Terpadu, atau Sarana Bersama Kebiasaan
Tahu caranya, punya sarananya, dan mau melakukannya: tiga syarat itulah yang dalam ilmu perilaku diringkas menjadi COM-B, dan ketiganya harus hadir bersama sebelum seorang ibu memanaskan lagi makanan anaknya. Di Korail, permukiman kumuh terbesar di Dhaka, Bangladesh, para pengasuh sudah tahu dan sudah mau. Yang kurang adalah sarananya, yaitu gas, dapur, tempat menyimpan, dan tempat mencuci tangan.
Gambaran itu disusun Rehnuma S Haque, Syeda Nurunnahar, Mahbubur Rahman, Nazrin Akhter, Musarrat Jabeen Rahman, Tarique Md. Nurul Huda, Robert Dreibelbis, dan Peter J. Winch dalam artikel Why food stays contaminated: a COM-B framework analysis of child feeding practices in Dhaka’s informal settlements, yang dimuat jurnal BMC Public Health pada 2026. Haque dan sebagian rekannya bekerja di icddr,b, lembaga riset penyakit diare yang berkantor di Dhaka.
COM-B adalah singkatan dari Capability, Opportunity, Motivation, Behaviour, atau kemampuan, peluang, motivasi, dan perilaku. Menurut kerangka ini, perilaku muncul dari pertemuan ketiga unsur pertama, bukan dari pengaruh yang berdiri sendiri-sendiri. Para peneliti memakainya untuk membaca kebersihan makanan pendamping, yakni makanan setengah padat dan padat yang mulai diberikan ketika anak beralih dari ASI eksklusif.
Korail dihuni sekitar 60.000 orang, banyak di antaranya hidup di bawah garis kemiskinan, dan warganya berbagi sarana air serta sanitasi. Di sana tim mengamati 32 pasangan pengasuh dan anak berusia 6 sampai 24 bulan, mewawancarai 16 pengasuh, dan menggelar tiga diskusi kelompok. Sebagian besar pengasuh adalah ibu, dan tim juga melibatkan pengasuh senior seperti nenek.
Kapabilitas Psikologis, atau Tahu Apa yang Seharusnya
Kapabilitas psikologis, dalam naskah ini, berarti pengetahuan dan pemahaman pengasuh tentang cara menjaga makanan tetap aman. Unsur ini ternyata kuat. Para pengasuh mengakui pentingnya memanaskan ulang makanan untuk mencegah penyakit dan mencegah makanan basi, terutama pada musim panas.
Mereka juga mengenal cara menyimpan yang ideal. Makanan mentah dan matang dipisahkan, lalu disimpan di kulkas atau di meatsafe, sebutan setempat untuk lemari makanan berventilasi yang dindingnya tertutup kasa. Sebagian besar ibu tahu dari petugas kesehatan bahwa botol susu anak perlu direbus.
Soal cuci tangan, separuh pengasuh mempelajarinya di sekolah, dan sebagian menyebut pesan-pesan pada masa COVID-19. Mereka bisa menyebut saat-saat penting memakai sabun: sesudah dari toilet, sebelum menyuapi, sesudah menyuapi, dan sesudah anak buang air besar. Seorang ibu berusia 35 tahun menjelaskan bahwa tangan mengandung kuman dan anak bisa sakit bila disuapi dengan tangan yang tidak bersih.
Dari sana para peneliti menarik simpulan. “Secara keseluruhan, temuan ini menunjukkan bahwa pengetahuan saja tidak cukup untuk mengubah perilaku di lingkungan perkotaan yang minim sumber daya,” tulis Haque dan rekan-rekannya dalam naskah yang aslinya berbahasa Inggris. Menurut mereka, celah praktik terutama digerakkan oleh dua unsur lain.
Baca juga Pola Musiman Diare Akut di Fiji Memuncak Tiap Awal Tahun
Peluang Fisik, atau Gas, Dapur, dan Keran Bersama
Peluang fisik adalah kondisi di luar diri pengasuh: tersedianya sabun, bahan bakar, tempat menyimpan, dan prasarana. Maksudnya begini. Makanan anak di Korail biasanya dimasak sekali sehari lalu disuapkan sepanjang hari. Dari 32 rumah yang diamati, delapan memanaskan ulang makanan, dan lima di antaranya hanya menghangatkannya. Selama delapan jam pengamatan di tiap rumah, tim tidak melihat satu pun pemanasan ulang yang memadai.
Seorang ibu berusia 22 tahun menuturkan sebabnya. Gas tidak ada, tungku kayu memenuhi rumah dengan asap, dan dapurnya hanya beratap tanpa dinding sehingga orang yang memasak basah kuyup ketika hujan. Seorang peserta diskusi berusia 29 tahun bercerita bahwa enam anggota keluarganya berbagi dua kompor gas di dapur yang sempit. Tabel pengamatan mencatat 24 dari 32 rumah memasak di dapur bersama.
Penyimpanan bernasib serupa. Mayoritas pengasuh menyimpan masakan lebih dari empat jam, dan banyak yang menyisakannya untuk esok hari. Makanan dan alat makan kerap ditaruh di kolong tempat tidur, di lantai, atau di dalam meatsafe yang rusak. Lemari itu jarang dipakai karena dimasuki hama atau rusak, dan sebagian keluarga memakainya untuk barang lain.
Hama ada hampir di setiap rumah, terutama kecoak dan tikus, di ruangan tempat makanan disimpan. Seorang ibu berusia 35 tahun mengaku punya meatsafe, kulkas, dan tutup untuk semua wadah. Persoalannya, tikus tetap masuk ke makanan bila tutupnya tidak ditindih benda berat. Semua jenis makanan pun disimpan di kamar tidur karena ruang memasak sempit atau setengah terbuka.
Mencuci alat makan menuntut perjalanan. Kebanyakan rumah di Korail berupa satu ruangan serbaguna untuk tidur, memasak, dan menyimpan makanan. Tempat cuci piring berada di ruang bersama dekat toilet, bukan dekat tempat memasak, dan kerannya dipakai ramai-ramai serta sering mati. Alat makan kotor dibawa dalam baskom ke sana, lalu pulang dalam wadah yang sama.
Tempat khusus mencuci tangan tidak tersedia. Di sebagian tempat ada sabun bersama di luar kamar mandi, di tempat lain sabun disimpan di kamar, dan biasanya batang sabun yang sama dipakai untuk mandi dan keperluan lain. Seorang ibu berusia 26 tahun menjelaskan bahwa sabun tidak mungkin ditaruh dekat toilet karena tempat itu ramai dan sabun sering hilang. Akibatnya, ada kalanya ia tidak mencuci tangan sama sekali atau hanya membilasnya dengan air.
Motivasi Reflektif, atau Niat Menjaga Anak Tetap Sehat
Motivasi reflektif adalah dorongan yang disadari, berupa keyakinan dan niat. Unsur ini juga kuat. Para pengasuh sangat ingin menjaga kebersihan tempat anak bermain karena percaya kebersihan mencegah penyakit. Mereka menekankan pentingnya mengepel setiap hari, dan sebagian merasa perlu melakukannya dua atau tiga kali sehari karena anak sering bermain di lantai.
Seorang ibu berusia 23 tahun tahu bahwa cairan pembersih lantai lebih baik. Ia mempelajarinya di rumah tempat ia bekerja. Di rumah sendiri ia hanya memakai air dan sehelai kain untuk segala keperluan, dan mengaku tidak punya cukup tenaga atau waktu untuk mengepel tiap hari. Ia tetap berusaha karena bayinya bermain di lantai itu dan ia tidak ingin anaknya sakit.
Niat itu naik turun mengikuti keadaan. Seorang peserta diskusi berusia 24 tahun memakai air matang untuk segalanya, termasuk membersihkan botol, ketika bayinya sakit. Pada hari biasa ia memakai air keran, sebab merebus setiap kali menghabiskan waktu dan bahan bakar. Banyak pengasuh juga menumpuk alat makan kotor dalam satu ember, dengan alasan kurang semangat, waktu terbatas, dan pekerjaan rumah lain. Kebiasaan menumpuk itu tercatat di 27 dari 32 rumah.
Air minum memperlihatkan pola yang sama. Hanya sedikit pengasuh yang mengakui pentingnya mengolah air karena risiko kuman, sementara banyak yang merasa tidak pernah sakit akibat air yang tidak diolah. Kebanyakan menyebut pasokan gas yang tidak teratur sebagai penghalang merebus air. Yang lain mengatakan saringan air tidak terjangkau.
Baca juga Ibu Anak Tidak Stunting di Bandung Justru Lebih Lelah Mengasuh
Motivasi Otomatis, atau Kebiasaan dan Ukuran Mata
Motivasi otomatis adalah dorongan yang bekerja tanpa dipikirkan: kebiasaan dan tanggapan spontan yang dibentuk harapan budaya serta norma pengasuhan. Bedanya begini. Pengasuh menilai aman atau tidaknya sesuatu dari isyarat indra, seperti tampak bersih dan tidak ada lalat, bukan dari risiko kuman yang tidak terlihat.
Alat masak dianggap bersih bila mengilap. Sebagian besar pengasuh mencuci dengan sabun dan sabut gosok, tetapi sebagian, terutama para nenek, lebih suka abu karena hasilnya dianggap lebih baik. Seorang ibu berusia 29 tahun memakai sabun batang, lalu deterjen bubuk bila sabun habis, lalu abu bila keduanya habis. Menurut dia, panci yang digosok abu dan dibilas air menjadi berkilau.
Kebiasaan keluarga ikut menentukan. Ikan atau daging yang dimasak untuk orang dewasa dibilas dengan air keran supaya bumbunya hilang sebelum disuapkan kepada anak, dan seorang ibu menyebut cara itu sudah selalu mereka lakukan. Sebagian pengasuh percaya makanan panas yang ditutup akan basi. Karena itu mereka memakai tutup berlubang atau membiarkan makanan terbuka sampai dingin.
Tangan diperlakukan dengan ukuran serupa. Sebagian pengasuh merasa air saja cukup sebelum menyuapi selama tangan tidak tampak kotor. Sabun dipakai untuk menghilangkan bau sesudah memotong ikan atau daging dan sesudah dari toilet, sehingga pemakaiannya terbatas pada keadaan yang berbau. Ketika anak buang air besar berkali-kali dalam sehari, pengasuh cenderung hanya membilas tangan dengan air.
Lantai pun dibersihkan menurut kebiasaan. Banyak pengasuh hanya punya sehelai kain pel yang dipakai untuk lantai, tangan anak, tumpahan air kencing, bahkan sebagai popok. Mengepel umumnya dilakukan sekali sehari dengan air saja. Lantai rumah di Korail kebanyakan berupa tanah yang dipadatkan atau papan kayu, dan anak-anak bermain di atasnya.
Patogen, atau Kuman yang Terukur di Makanan
Patogen adalah kuman penyebab penyakit, dan tim mencarinya di makanan, air minum, serta permukaan rumah. Hasilnya, makanan memuat konsentrasi patogen tertinggi, disusul permukaan rumah, sedangkan pencemaran air minum minimal. Para peneliti menyebut makanan sebagai tempat berkumpul utama kuman. Tabel ringkasan mereka mencatat 71 persen makanan simpanan tercemar.
Satu atau lebih patogen ditemukan pada 53 persen sampel makanan yang dipanaskan ulang. Pada usapan permukaan rumah, bakteri V. cholerae ditemukan di 58 persen sampel dan B. cereus di 55 persen sampel. Dua kuman lain yang dicari, E. coli O157 dan Salmonella, tidak terdeteksi di sampel mana pun.
Pengamatan dan hasil laboratorium itulah yang mengantar tim pada lima perilaku prioritas: memanaskan ulang makanan, menyimpan makanan dan air, mencuci alat makan, membersihkan permukaan rumah, dan mencuci tangan. Usapan tangan dan alat makan sendiri tidak diuji di laboratorium.
Naskah ini juga menyinggung uji acak terkendali yang lebih dulu dikerjakan kelompok yang sama di Korail. Pembagian meatsafe memperbaiki cara menutup dan menyimpan makanan. Namun, lemari itu tidak menurunkan pencemaran E. coli maupun diare yang dilaporkan pengasuh.
Baca juga Balochistan dan Gilgit-Baltistan, Dua Wajah Gizi Pakistan
Intervensi Terpadu, atau Sarana Bersama Kebiasaan
Intervensi terpadu berarti upaya yang menggabungkan perbaikan sarana dengan strategi perilaku, melampaui penyuluhan kesehatan semata. Pesan kepada pengasuh, menurut para peneliti, sebaiknya menerjemahkan pengetahuan yang sudah ada menjadi rutinitas: memanaskan makanan sampai mengepul, menutupnya segera sesudah dimasak, memakai kain khusus, dan mencuci kedua tangan dengan sabun.
Pengingat kecil bisa membantu, misalnya stiker dekat tempat memasak dan menyuapi, tempat simpan khusus, alat pembersih berkode warna, dan tempat cuci tangan yang mudah dijangkau. Para peneliti juga meminta nenek dan pengasuh senior dilibatkan karena nasihat mereka sangat membentuk cara keluarga memberi makan. Keengganan anggota keluarga yang lebih tua menerima cara baru mereka catat sebagai temuan penting.
Perbaikan yang bertahan, tulis mereka, menuntut kerja sama dengan pemerintah kota dan penyedia layanan setempat. Daftarnya mencakup pasokan air yang andal, prasarana dapur bersama, pengelolaan sampah, pengendalian hama, dan bahan bakar memasak yang bersih serta terjangkau. Mereka juga mengusulkan teknologi hemat energi seperti ketel surya untuk memanaskan porsi kecil tanpa mengantre kompor.
Ada batas yang diakui para peneliti. Kajian ini berlangsung di satu permukiman di Dhaka, sehingga temuannya belum tentu berlaku di tempat lain. Jumlah sampel lingkungan relatif kecil, masa pengumpulan data terbatas dan mungkin tidak menangkap perbedaan antarmusim, pengasuh laki-laki kurang terwakili, dan peserta bisa saja mengubah perilaku ketika diamati.
COM-B di Korail menunjukkan bahwa kemampuan dan motivasi saja tidak cukup menghasilkan kebersihan makanan yang konsisten bila peluang fisiknya tidak ada. Para peneliti menyimpulkan bahwa akses bahan bakar, penyimpanan yang aman, tempat cuci piring, dan sarana cuci tangan harus mendahului perbaikan kebiasaan. Mereka sendiri menyatakan belum dapat menyajikan bukti pasti untuk tiap unsur paket yang diusulkan.














