- Tundu Lissu mengakhiri mogok makan setelah otoritas penjara mengizinkannya bertemu pengacara secara pribadi.
- Layanan penjara Tanzania membantah Lissu melakukan mogok makan.
- Lissu didakwa makar dan putusan atas perkaranya dijadwalkan pada 6 November.
- Penyelidikan bentukan pemerintah menemukan sedikitnya 518 orang tewas dalam kekerasan setelah pemilu 29 Oktober 2025.
Cekricek.id — Pemimpin oposisi Tanzania yang dipenjara, Tundu Lissu, mengakhiri mogok makan singkatnya setelah otoritas penjara mengizinkannya bertemu pengacaranya secara pribadi, menurut pengacaranya.
Lissu, pemimpin Partai Demokrasi dan Kemajuan (CHADEMA) yang menempati posisi kedua dalam pemilu presiden 2020, mulai menolak makan setelah pengacaranya dilarang masuk ke penjara tempatnya ditahan, tulis juru bicara partai Brenda Rupia di X, sebagaimana diberitakan Al Jazeera, Selasa (27/10/2026).
“Lissu tidak meminum tehnya, tidak menyantap sarapan maupun makan siangnya,” kata pengacaranya, Rugemeleza Nshala, kepada kantor berita AP pada Selasa. Menurut Nshala, Lissu mengakhiri aksinya setelah makan siang, menyusul pertemuan dengan saudaranya. Nshala sebelumnya mengkhawatirkan kesehatan Lissu yang bergantung pada obat-obatan.
Keterangan soal aksi itu berbeda-beda. Rupia menyebut Lissu mulai menolak makan pada Senin, sementara Nshala mengatakan mogok makan dimulai Selasa pagi setelah konsultasi pribadi yang dijanjikan tidak terlaksana. Layanan penjara Tanzania membantah dan menyebut Lissu dalam keadaan aman serta tidak sedang mogok makan.
Penahanan Lissu, bersama dugaan penculikan para pengkritik pemerintah, membuat catatan hak asasi manusia Presiden Samia Suluhu Hassan, pemenang pemilu 2025, menjadi sorotan. Pemerintah menolak tuduhan pelanggaran yang meluas dan menyatakan berkomitmen menghormati hak asasi.
Lissu selamat setelah ditembak 16 kali dalam upaya pembunuhan pada 2017. Ia ditangkap pada April 2025 setelah berpidato dalam unjuk rasa yang menuntut reformasi pemilu, lalu didakwa makar karena pidato yang menurut jaksa menghasut publik untuk memberontak. Ia mengaku tidak bersalah, dan putusan dijadwalkan pada 6 November.
CHADEMA mengumumkan tujuh hari berkabung mulai Kamis hingga 4 November untuk memperingati setahun pemilu 29 Oktober di Tanzania. Penyelidikan bentukan pemerintah menemukan sedikitnya 518 orang tewas dalam kekerasan setelah pemilu itu, sedangkan CHADEMA menyebut korban sekitar 2.000 orang, angka yang menurut PBB tidak dapat diverifikasi.















