- Exit poll memproyeksikan blok Netanyahu dan blok Gadi Eisenkot sama-sama meraih 51 kursi Knesset.
- Kedua kubu membutuhkan 61 kursi untuk membentuk pemerintahan mayoritas.
- Partai-partai Arab diproyeksikan meraih 18 kursi, jumlah tertinggi yang pernah mereka pegang.
- Partisipasi pemilih mencapai 77,7 persen, tertinggi dalam pemilu Knesset sejak 1999.
Cekricek.id — Hasil exit poll pemilu Israel pada Selasa (27/10/2026) menunjukkan tidak ada pemenang yang jelas, dengan blok Perdana Menteri Benjamin Netanyahu maupun blok rival utamanya, Gadi Eisenkot, belum memiliki jalan pasti menuju mayoritas.
Exit poll terbaru memproyeksikan blok Partai Yashar pimpinan Eisenkot, mantan kepala staf militer, meraih 51 kursi dari 120 kursi Knesset, sama dengan blok pendukung Netanyahu, sebagaimana diberitakan Al Jazeera, Rabu (28/10/2026). Kedua kubu membutuhkan 61 kursi untuk membentuk pemerintahan mayoritas.
Partai-partai Arab, yakni Daftar Gabungan dan Ra’am, diproyeksikan meraih 18 kursi, jumlah tertinggi yang pernah mereka pegang, yang bisa memberi mereka daya tawar besar dalam pembentukan pemerintahan. Exit poll dari jaringan televisi besar Israel itu masih mungkin meleset, dan hasil sementara diperkirakan keluar dalam beberapa jam.
Eisenkot menyebut exit poll itu menunjukkan “kurangnya kepercayaan” terhadap perdana menteri. Pemimpin oposisi Yair Lapid sependapat. “Jangan biarkan siapa pun membingungkan kalian,” katanya. “Blok Netanyahu menderita kekalahan telak. Ini keruntuhan total, dan publik sudah menyuruh mereka pulang.”
Namun, Menteri Luar Negeri Israel Gideon Saar dari Partai Likud menilai perayaan oposisi terlalu dini. “Likud adalah partai terbesar di Israel. Selalu baik untuk belajar sesuatu dari masa lalu,” tulisnya di media sosial. Netanyahu, 77 tahun, telah menjabat perdana menteri hampir 19 dari 30 tahun terakhir.
Pemimpin Daftar Gabungan Yousef Jabareen menyebut pemilu itu “hari bersejarah”. “Kami telah membuktikan bahwa kami adalah kekuatan politik yang tidak bisa diabaikan,” katanya. Pemimpin Ra’am Mansour Abbas mengatakan kepada Channel 12, “Dengan angka yang kita punya sekarang, tidak ada pemerintahan.” Netanyahu dan Eisenkot sama-sama menolak bermitra dengan partai Arab.
Analis politik Palestina Ehab Jabareen mengatakan kepada Al Jazeera bahwa exit poll menunjukkan “pelemahan jelas blok Netanyahu”. “Jika tidak ada pihak yang mampu membentuk pemerintahan, Netanyahu bisa tetap menjabat sebagai pelaksana tugas selama negosiasi berlangsung,” ujarnya.
Komite Pemilihan Pusat menyebut partisipasi pemilih mencapai 77,7 persen, atau lebih dari 5,69 juta dari sekitar 7,33 juta pemilih, tertinggi sejak 1999. Pemilu ini dipandang sebagai referendum atas cara Netanyahu menangani serangan 7 Oktober 2023 dan perang yang menyusul.















