- Korban tewas serangan bandit di Desa Binnari, Negara Bagian Taraba, naik menjadi sedikitnya 62 orang.
- Ribuan warga mengungsi setelah rumah, toko, dan persediaan pangan dibakar.
- Polisi Taraba memperingatkan jumlah korban masih bisa bertambah.
- Amnesty International Nigeria menilai perlindungan otoritas terhadap warga sipil tidak memadai.
Cekricek.id — Korban tewas serangan bandit bersenjata di sebuah desa terpencil di Nigeria timur laut naik menjadi sedikitnya 62 orang, menurut badan penanggulangan darurat nasional negara itu.
Kepala Badan Penanggulangan Darurat Nasional (NEMA) di Negara Bagian Taraba, Ladan Ayuba, mengatakan pada Selasa bahwa ribuan orang mengungsi akibat serangan itu, sebagaimana diberitakan Al Jazeera, Selasa (27/10/2026).
Menurut Amnesty International cabang Nigeria, para bandit menyerang Desa Binnari di Taraba pada Jumat dan membakar rumah, toko, persediaan pangan, serta sepeda motor. Polisi memperingatkan jumlah korban masih bisa bertambah.
“Kami masih punya personel di lapangan, dan semakin banyak jenazah yang kami temukan, akan kami masukkan dalam hitungan,” kata juru bicara Kepolisian Taraba Victor Mshelizah kepada kantor berita AP.
Nigeria tengah dilanda krisis keamanan yang bermula lebih dari 15 tahun lalu ketika kelompok bersenjata Boko Haram memberontak melawan pemerintah. Warga sipil di utara negara itu kerap diserang dan diculik untuk tebusan oleh kelompok bandit.
Dalam pernyataannya, Amnesty International Nigeria menilai upaya otoritas melindungi warga sipil tidak memadai. “Otoritas Nigeria terus membiarkan komunitas pedesaan di sebagian wilayah utara berada di bawah belas kasihan orang-orang bersenjata yang berulang kali melakukan kekejaman tanpa dihukum,” bunyi pernyataan itu.
“Serangan ini harus diselidiki secara imparsial, dan para penyintas harus mendapat reparasi yang memadai. Dari sisi otoritas, mengeluarkan pernyataan hambar yang mengecam serangan mengerikan ini tidak cukup,” lanjut Amnesty.
Banyak kelompok bersenjata di Nigeria menguasai lokasi tambang ilegal. Keuntungan dari tambang itu memperkuat mereka untuk membeli lebih banyak senjata dan merekrut anggota, yang menurut Institute for Security Studies memicu peningkatan penyelundupan senjata dan kekerasan di Nigeria dan kawasan Sahel.















