Cekricek.id — Kelompok bersenjata Lakurawa menyerbu sebuah masjid dan tiga permukiman di Distrik Dekara, Wilayah Pemerintahan Lokal Borgu, Negara Bagian Niger, Nigeria, tepat seusai salat Jumat. Warga setempat menyebut lebih dari 60 jemaah dibawa pergi para penyerang, menurut laporan Al Jazeera, Sabtu (22/08/2026).
Serangan itu berlangsung pada Jumat (21/08/2026) siang, sekitar pukul 14.00 GMT. Sasarannya adalah Desa Gidan-Zana, Desa Kpenya, dan Masjid Kpenya. Borgu berada di ujung barat Negara Bagian Niger, berbatasan dengan Negara Bagian Kebbi dan Kwara serta negara tetangga Benin.
Diserbu Tepat Seusai Salat Jumat
Salah seorang penyintas, Jibril Ahmad, menuturkan penyerang datang dalam jumlah sangat besar dan langsung mengamuk begitu jemaah bubar dari saf. Ia menyebut pelaku menuduh warga setempat tidak menjalankan ajaran agama secara benar.
“Tak lama setelah menyelesaikan salat Jumat seperti biasa, kelompok bersenjata Lakurawa, dalam jumlah ratusan, membawa senjata api, pisau, dan parang, mulai menyerang kami,” ujar Jibril, menurut laporan AFP, Sabtu (22/08/2026). “Mereka membantai sebagian orang kami, sambil mengatakan kami tidak menjalankan ajaran Islam yang benar.”
Baca juga Utusan AS Sebut Serangan Israel di Suriah Pancing Turki
Warga menyebut jumlah orang yang digiring pergi melampaui 60 jiwa. Di antara mereka terdapat para pemuda, sejumlah kepala keluarga, seorang imam besar, serta seorang kepala kampung yang baru saja dibebaskan dari penculikan sebelumnya. Jumlah pasti korban tewas maupun korban culik belum dapat dipastikan hingga Sabtu.
Polisi Kerahkan Detasemen Gabungan
Juru Bicara Kepolisian Negara Bagian Niger Wasiu Abiodun membenarkan adanya penculikan tersebut, tetapi menyatakan pihaknya belum menerima laporan resmi soal korban jiwa. Kepolisian juga belum dapat memastikan berapa persis warga yang hilang.
“Satu detasemen keamanan gabungan telah dikerahkan ke wilayah itu untuk penilaian dan operasi penyelamatan,” kata Wasiu. Ia menambahkan aparat masih berupaya membebaskan para jemaah yang disandera dan memburu pelaku.
Baca juga Serangan Pedang di Sekolah Swedia Tewaskan Siswi 17 Tahun
Borgu selama ini dikenal sebagai kawasan bermedan hutan luas dengan jalur perbatasan yang lemah pengawasannya. Kondisi itu membuat kelompok bersenjata leluasa keluar-masuk dari arah Sahel tanpa terdeteksi. Wilayah itu bertetangga langsung dengan Negara Bagian Kebbi, yang lebih dulu menjadi basis pergerakan Lakurawa.
Dua Kelompok Bersenjata Saling Bentrok
Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Federal Nigeria Jafaru Mohammed menyebut sebagian tawanan justru berhasil meloloskan diri karena kelompok bersenjata saingan bernama Mahmuda menyerang Lakurawa di tengah operasi penculikan.
“Sebagian anggota kelompok Mahmuda menentang doktrin Lakurawa, dan ketika mereka mendengar apa yang sedang dilakukan Lakurawa, mereka memerangi kelompok itu,” jelas Jafaru. Bentrokan antarkedua kelompok itu membuka celah bagi warga untuk kabur ke arah desa terdekat.
Baca juga Serangan Udara Myanmar di Biara Buddha Tewaskan 14 Orang
Lakurawa mulai terlihat di kawasan barat laut Nigeria sekitar 2017 dan ditetapkan sebagai organisasi teroris oleh otoritas Nigeria pada akhir 2024. Kelompok itu diduga terhubung dengan jaringan Provinsi Sahel Negara Islam yang bergerak di Burkina Faso, Mali, dan Niger.
Ranjau Darat dan Warga yang Ketakutan
Kekerasan berlanjut pada Sabtu. Warga bernama Abdullahi Ahmad mengatakan kelompok bersenjata kembali mendatangi permukiman, menyeret lebih banyak orang untuk dijadikan alat tawar-menawar, lalu menanam ranjau darat di jalur keluar desa. Sejumlah warga yang berupaya menyelamatkan diri dilaporkan tewas.
Nigeria telah bergulat dengan pemberontakan bersenjata berlatar agama selama 17 tahun. Dalam beberapa tahun terakhir, pusat kekerasan bergeser dari timur laut ke arah barat, mendekati perbatasan dengan negara-negara Sahel yang dikuasai junta militer. Pergeseran itu memunculkan kelompok-kelompok baru yang lebih kecil, lebih cair, dan sulit dipetakan aparat.
Penculikan massal berubah menjadi industri bernilai jutaan dolar di kawasan barat laut dan tengah Nigeria. Pelakunya bercampur antara kelompok berlatar ideologi dan geng kriminal murni yang memburu uang tebusan dari keluarga korban.
















