Zelensky Tolak Pemilu Perang, Sebut Bisa Belah Ukraina

A A

Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky berbicara di hadapan mikrofon wartawan di Kyiv. [Foto: Valentyn Ogirenko/Reuters]

Cekricek.id — Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky menolak seruan menggelar pemilihan umum selama perang dengan Rusia masih berlangsung. Ia menyebut agenda itu sebagai risiko besar yang berpotensi memecah negaranya justru ketika pertahanan Ukraina sedang ditekan dari berbagai arah.

Penolakan itu disampaikan dalam pertemuan dengan wartawan yang berlangsung sekitar dua jam pada Sabtu (22/08/2026) di Kyiv. Isi pernyataannya baru dirilis sehari kemudian, menurut laporan Al Jazeera, Minggu (23/08/2026).

“Pemilu saat ini adalah tsunami bagi negara yang akan memecah belah Ukraina,” tegas Zelensky.

Ia menambahkan, “Kalau kita ingin menghancurkan negara ini, maka kita bisa bergerak ke arah pemilu pada masa perang seperti sekarang.”

Seruan Mantan Menteri Pertahanan

Undang-undang Ukraina melarang pemilu selama darurat militer, status yang berlaku sejak invasi Rusia pada Februari 2022. Larangan itu nyaris tak pernah digugat sampai mantan Menteri Pertahanan Ukraina Mykhailo Fedorov melontarkan tuntutan publik pertama untuk menggelar pemungutan suara pekan ini.

Baca juga Rusia Siap Dengar Ide Baru Akhiri Perang Ukraina

Fedorov, 35 tahun, hanya menjabat enam bulan sebelum dicopot Zelensky pada Juli. Pemecatan itu memicu gelombang unjuk rasa di sejumlah kota. Pada Selasa (18/08/2026), ia mengunggah video berdurasi sembilan menit di YouTube yang menyoal masa depan demokrasi negaranya.

“Apakah Rusia benar-benar berhak menentukan kapan rakyat Ukraina bisa memilih pemimpin mereka berikutnya?” kata Fedorov dalam video itu. Ia menyatakan demokrasi Ukraina tidak boleh disandera Rusia dan menuding pemerintahan saat ini menghadapi krisis tata kelola yang sistemik.

Retak dengan Panglima Militer

Untuk pertama kalinya Zelensky membeberkan akar perselisihannya dengan Fedorov. Menurut dia, ketegangan serius muncul antara sang menteri dan Panglima Angkatan Bersenjata Ukraina Oleksandr Syrskyi soal batas kewenangan Kementerian Pertahanan dan komando militer, menurut laporan Kyiv Independent, Minggu (23/08/2026).

Keduanya disebut berhenti berkomunikasi langsung dan menolak dipertemukan meski presiden berusaha menjadi penengah. Zelensky mengaku sempat menawarkan empat posisi lain di pemerintahan kepada Fedorov, namun semuanya ditolak.

Baca juga Serangan Drone Ganda Rusia Tewaskan 14 di Ukraina

“Saya benar-benar memiliki, dan masih memiliki, sikap yang sangat positif terhadap Mykhailo. Kami sudah melewati banyak hal bersama. Tetapi saya percaya dia sendiri melangkah, atau didorong, ke arah yang keliru,” ujar Zelensky.

Presiden juga memaparkan hambatan teknis pemilu di masa perang. Pemungutan suara harus mengakomodasi prajurit di garis depan, warga di wilayah yang terus dibombardir, serta jutaan pengungsi di luar negeri, sekaligus melindungi pemilih dari serangan Rusia. “Namun belum ada yang mengajukan usulan konkret,” sebut dia.

“Strategi saya adalah membawa negara ini sampai ke akhir perang dan mempertahankan negara yang merdeka dan berdaulat,” tutur Zelensky.

Serangan Baru dan Celah Anggaran

Pernyataan itu keluar saat serangan Rusia kembali menelan korban. Serangan semalam di wilayah Donetsk, Ukraina timur, menewaskan dua orang dan melukai dua lainnya pada Minggu, dengan sedikitnya 141 rumah warga rusak.

Baca juga Rusia Tembakkan 376 Rudal, Ukraina Kehabisan Pencegat

Delapan orang, termasuk seorang anak, terluka dalam serangan drone di Kharkiv yang membakar dua bangunan permukiman. Sebuah drone Rusia juga menghantam kereta penumpang rute Zhytomyr–Odesa, meski tidak ada korban jiwa yang dilaporkan.

Zelensky menyebut Ukraina kini memusatkan serangan pada peluncur rudal balistik Rusia seiring meningkatnya penggunaan rudal oleh Moskow. Pasokan rudal Patriot untuk Kyiv terus menyusut: 264 unit sepanjang 2026, turun dari 364 unit pada 2025 dan 675 unit pada 2023.

Ukraina juga menghadapi celah pendanaan pertahanan sebesar 27 miliar dolar AS tahun ini. Kyiv membutuhkan setidaknya 8 miliar dolar AS agar bisa memulai 2027 secara normal, ditambah sekitar 20 miliar dolar AS untuk gaji prajurit dan santunan keluarga.

Sejumlah komitmen baru sudah dikantongi. Prancis sepakat memasok sedikitnya satu sistem pertahanan udara SAMP/T tahun ini, sementara Jerman menjanjikan sekitar 600 pencegat PAC-2 dan PAC-3 hingga 2028. Norwegia mengumumkan bantuan 85 miliar kroner atau sekitar 9,2 miliar dolar AS untuk Kyiv pada 2027.

Bagikan

Baca Juga

Trump Sebut Ukraina Perlu Presiden Baru yang Mau Akhiri Perang
Putin: Perundingan Damai dengan Ukraina Sulit Segera Dilanjutkan
Serangan Rusia Tewaskan 15 Orang di Zaporizhzhia, Ukraina
Trump Umumkan Rusia Pasok 300.000 Ton Solar ke Pasar Global
Trump Nyatakan AS Siap Bantu Rusia Tangani Wabah Pes di Siberia
Zelenskyy: Drone Rusia Tenggelamkan Kapal di Perairan Rumania